
Malam ini di kediaman Jenderal Frederick tengah di adakan jamuan makan makan malam bersama dengan para rekan rekannya. Terlihat para jenderal dan orang orang kepercayaan mereka sudah berkumpul di dalam ruang makan ini sembari berbincang hangat membahas tentang pekerjaan mereka masing masing dan juga beberapa hal lain.
Jika sudah begini, Joanna jadi merindukan kedua orang tuanya. Meski berbeda profesi namun kehangatan seperti ini sangat Joanna rindukan. Kehangatan yang mungkin tidak akan pernah bisa lagi Joanna rasakan.
Joanna berdiri di belakang Audrey dan hanya bisa memandangi mereka semua. Dia memandangi kursi kosong yang ada di sebelah Audrey. Mungkin mereka sedang menunggu seseorang saat ini, ya siapa lagi jika bukan tunangan gadis itu, William.
Joanna menghela nafas panjang dan hanya bisa menahan perasaan karena pembahasan malam ini lagi lagi hanya seputar hubungan William dan juga Audrey.
Benar saja, tidak lama kemudian mereka semua langsung beralih ke pintu masuk saat mendengar derap langkah sepatu terdengar dari sana.
Seorang pria gagah berwibawa masuk dengan aura nya yang sangat kuat.
William... Dia berjalan masuk diikuti oleh Gresham dan juga letnan Jorge. Mereka bahkan masih memakai pakaian dinas mereka masing masing. Sungguh, William benar benar tampan dan begitu gagah berkharisma. Joanna hanya bisa melirik sekilas pada lelaki itu.
Jantungnya benar benar tidak bisa di kendalikan jika sudah melihat mantan kekasih yang semakin hari semakin mempesona dengan wajah dinginnya itu.
"Oh... letnan, akhirnya kalian tiba juga." Ucap salah satu jenderal.
William dan yang lain langsung memasang sikap hormat mereka.
"Maaf jenderal, ada sedikit kendala di perjalanan." Jawab William.
"Ya, tidak masalah. Duduklah." Ujar jenderal Frederick seraya menunjuk kursi di samping Audrey. Letnan Jorge duduk di kursinya, sedangkan Gresham berdiri di samping Joanna, dia melirik kearah Joanna sekilas dan bersikap tegap kembali.
"Bagaimana misi mu bersama kapten Stone?" Tanya jenderal Frederick.
"Semua aman kapten. Mungkin dua hari lagi saya akan pergi bertugas." Jawab William seraya duduk di samping Audrey. Gadis itu tersenyum memandang William. Sudah hampir seminggu tidak bertemu dan kini rasa rindunya benar benar sudah membuncah. Namun Audrey tetap harus bisa menjaga sikapnya saat ini.
"Bagus, aku harap kau kembali dengan selamat." Harap jenderal Frederick.
"Saya pasti kembali dengan selamat, kapten." Jawab William dengan begitu yakin.
"Hmm... baiklah, sekarang kita mulai saja makan malam kita." Ujar jenderal Fredrick.
Semua orang langsung mengangguk setuju dan memulai makan malam mereka. Para pelayan dengan sigap langsung melayani mereka satu persatu, namun ketika tiba pada William, Audrey langsung menghalangi pelayan yang ingin melayani pria itu.
"Biar aku saja." Ujar Audrey.
Pelayan itu mengangguk patuh dan langsung mundur ke belakang. Membuat Audrey langsung melayani William dengan lembut dan begitu telaten.
"Apa ini cukup?" Tanya Audrey.
"Ya, terimakasih." Jawab William.
Audrey tersenyum hangat seraya mengangguk pelan dan setelah itu dia fokus pada makanan nya sendiri.
Jenderal Frederick hanya memandang mereka sekilas dan kembali melanjutkan makan malamnya begitu pula dengan yang lain.
Sedangkan Joanna, hanya bisa menahan perasaan yang lagi lagi terasa tidak menentu. Melayani William adalah impian nya sejak dulu. Menjadi suami dan berada di samping pria itu. Namun yang terjadi malah sebaliknya, dia harus bisa menahan hati saat William bersama dengan wanita lain.
Ya, apalagi yang di harapkan. Jika semua sudah berubah. William bukan lagi miliknya dan Joanna tentu harus bisa merelakan hal itu.
Sakit.... sakit sekali. Tapi apa boleh buat.
Benar yang di katakan William, jika di penjara lebih baik dari pada berada di samping pria ini dan menyaksikannya bahagia dengan wanita lain.
Sungguh, ini benar benar bisa membunuh hati dan perasaan Joanna perlahan lahan.
"Sepertinya kalian memang harus mempercepat pernikahan kalian letnan." Ucap salah seorang jenderal.
"Benar, tidak ada lagi yang di tunggu." Sahut yang lain pula.
William tersenyum tipis dan mengangguk pelan.
"Itu pasti." Jawab William
"Sebentar lagi kau pasti akan di angkat menjadi seorang jenderal, dan alangkah baiknya jika saat masa pengangkatan jabatan itu kau sudah menikah." Ungkap jenderal yang lain.
Audrey langsung tertunduk malu mendengar itu.
"Aku sedang ingin menyiapkan sesuatu yang besar untuk seseorang yang spesial, jenderal." Ucap William
"Wow... sepertinya tidak main main." Sahut mereka.
"Tentu saja, siapapun yang bisa menjadi pendampingku akan aku berikan sesuatu yang luar biasa." Jawab William seraya dia yang menoleh pada Audrey.
"Benarkan sayang." Ucap William seraya tangannya terjulur dan mengusap sudut bibir Audrey dengan lembut. Membuat semua oang yang ada di sana langsung tersenyum dan menggelengkan kepala mereka melihat kemesraan yang di tunjukkan oleh William.
Namun tidak untuk Joanna, dia menarik nafas dalam dalam dan langsung tertunduk perih.
Kenapa sakit sekali???
...
Cukup lama mereka makan malam bersama sembari mengobrol ringan. Hingga di saat acara sudah selesai, mereka semua pindah ke ruang tamu yang memang sudah di siapkan untuk mereka saling bertukar fikiran. Semua orang berkumpul disana namun tanpa pengawal.
Oleh sebab itu Joanna memilih untuk berada di ruang belakang bersama pengawal yang lain, terutama Gresham.
Mereka duduk di meja makan sembari menikmati makan malam mereka. Namun Joanna hanya diam dan menatap makanan di hadapannya. Pandangan nya lebih banyak kosong dan nampak melamun. Hal itu benar benar membuat Gresham heran.
"Nona Ann, kau tidak makan???" Tanya Gresham.
Joanna menggeleng pelan.
"Aku masih kenyang, makanlah." Jawab Joanna.
"Lebih enak jika kita makan bersama, Anna." Ujar yang lain pula. Mereka begitu baik dan perhatian pada Joanna. Namun ketika melihat makanan yang ada di hadapan nya ini, Joanna jadi ragu. Ini bukan makanannya, makanan sehat namun sedikit berminyak dan penuh dengan penyedap dan berbagai bumbu lain. Joanna tidak bisa memakan itu. Itu sama saja seperti racun untuknya.
"Ya, aku tidak pernah melihatmu makan selama kau bekerja disini. Apa kau tidak menyukai makanan yang ada disini?" Tanya pengawal yang lain.
"Bahkan aku pernah melihat dia hanya memakan sayuran mentah atau hanya sekedar di rebus saja." Sahut pengawal yang lain.
Joanna langsung tersenyum getir mendengar itu.
"Nona Ann, jangan bilang jika kau tidak di beri makan disini?" Tanya Gresham sedikit berbisik.
Joanna langsung menggeleng cepat.
"Tidak, tidak. Bukan begitu, aku..."
"Untuk apa kalian mempermasalahkan hal itu?" Tiba tiba suara seseorang membuat mereka semua terkejut dan terhenyak kaget.
Mereka semua langsung menoleh keasal suara, dan setelah mengetahui siapa yang datang mereka langsung berdiri tegak dan memasang sikap hormat. Begitu pula dengan Joanna.
"Pergi." Ujar William
Mereka saling pandang bingung, namun ketika William melirik kearah Gresham mereka langsung mengerti dan mengambil langkah untuk keluar dari ruang makan itu.
Begitu pula dengan Joanna, dia yang merasa bingung juga ingin melangkahkan kakinya, namun seruan William membuat Joanna mematung di tempat.
"Tidak ada yang menyuruhmu pergi dari sini." Ucap William.
Joanna tertegun, dia memandang William dengan ragu.
dan
deg
Jantungnya serasa berhenti berdetak saat melihat William memandangnya dengan pandangan begitu dingin dan terasa menghunus. Penuh dendam dan kebencian yang begitu mendalam.
Ada apa dengan pria ini????