
Kepulangan William akhirnya ditunda untuk beberapa hari kedepan. Dia memutuskan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada beberapa tahun silam. Tahun dimana William harus kehilangan segalanya di saat dia baru mulai melangkahkan kakinya dalam pendidikan militer. Tahun yang benar benar berat bagi seorang William Daniel Davidson. Tahun dimana dia kehilangan kedua orangtuanya dan juga... cintanya.
Saat ini William masih berada di Newyork untuk menyelidiki kasus yang sudah sangat lama dia selidiki, namun masih menjadi teka teki sampai sekarang. Tapi beberapa bukti memang sudah mengarah pada pelaku yang William curigai. Dan kali ini, kapten Stone berniat membantunya.
Ya, William ingin mencari tahu dalang dibalik kematian ibunya. Meskipun saat terjadi bentrokan itu William sedang berada di asrama, namun setelah ditelusuri beberapa waktu terakhir, dia memang menemukan sebuah kejanggalan. Ayah William adalah salah satu agen terbaik yang sudah pasti akan menjaga keluarganya dengan baik. William tahu jika ayahnya sudah memiliki tempat persembunyian bagi seluruh keluarganya jika dia sedang menjalankan misi. Ibunya seorang dokter disalah satu rumah sakit, sudah jelas jika dia tidak bisa melindungi dirinya sendiri. Maka dari itu, setiap kali bertugas ayah William pasti mengungsikan dia dan ibunya di tempat yang aman. Sebuah Villa yang tidak diketahui oleh siapapun, kecuali oleh para rekan agen tertentu.
William curiga, jika penculikan ibunya adalah karena sebuah pengkhianatan dari salah satu rekan ayahnya. Hal itulah yang sedang diselidiki oleh William.
Kecurigaannya mengarah pada satu orang agen, namun dia belum memiliki bukti yang kuat.
Tapi jika benar itu terjadi, maka William akan semakin membenci wanita itu.
...
Sementara di tempat lain...
Joanna dan juga Audrey saat ini sedang berada di perjalanan menuju ke sebuah lembaga permasyarakatan yang ada di kota itu. Mereka pergi bersama pengawal Audrey yang lain. Ini adalah kegiatan yang sering Audrey lakukan setiap bulan. Mengunjungi beberapa tempat untuk dia melakukan bakti sosial, tidak terkecuali di lembaga pemasyarakatan yang menampung ribuan narapidana.
Sebagai putri seorang jenderal terbaik yang dimiliki oleh negara, Audrey tidak bisa diam di rumah hanya karena alasan sakit yang dia derita. Untuk mengisi waktu luang, Audrey memang menyempatkan diri untuk melakukan kegiatan yang berguna seperti ini.
"Silahkan nona." Joanna membukakan pintu mobil untuk Audrey. Mereka sudah tiba di depan gedung lapas.
"Terimakasih, Anna." Ucap Audrey, dia turun dari mobil dan langsung berjalan ke dalam gedung. Sementara Joanna mengikutinya dari belakang.
Gedung ini cukup besar dan luas, ini adalah kali pertama Joanna bisa melihat dan datang ke tempat ini. Mereka langsung di sambut oleh beberapa anggota polisi disana.
Joanna hanya diam, memandang Audrey yang terlihat begitu ramah berbincang dengan mereka.
Tidak ada yang bisa ditanyakan sekarang, meski ada beribu pertanyaan tentang penjara ini di otaknya. Namun Audrey sempat berkata jika ada ratusan narapidana yang sudah lansia disini. Mereka semua membutuhkan uluran tangan setidaknya untuk masalah kesehatan yang kurang diperhatikan.
Semakin kesini, Joanna semakin tahu. Jika William, memang tidak salah dalam memilih pendamping hidup. Sangat berbeda jauh dengan Joanna yang tidak bisa berbuat kebaikan lebih dari ini.
"Anna, ayo." Tiba tiba suara Audrey mengejutkan Joanna yang sedang melamun. Dia mengangguk dan kembali berjalan mengikuti Audrey yang sudah berjalan lebih dulu bersama seorang polisi. Mungkin dia kepala polisi disini.
Mereka berjalan lebih ke dalam gedung, namun bukan ke ruang tahanan melainkan kearah aula dimana para narapidana sedang berkumpul disana. Mungkin mereka sedang berjemur atau melakukan kegiatan lain.
Benar saja, bisa Joanna lihat jika ada ratusan narapidana lansia yang berkumpul disini. Mungkin mereka di satukan dalam satu tempat untuk memudahkan para penjaga memeriksa dan mengontrol mereka. Tapi seperti yang dikatakan oleh Audrey, kondisi mereka semua terlihat begitu menyedihkan. Bahkan Joanna benar benar teriris melihat pemandangan ini.
Audrey bersama kepala polisi berjalan ke tengah orang orang yang sedang duduk di atas lantai tanpa atap itu. Wajah mereka terlihat kusut dan renta. Semua hanya di huni oleh lansia wanita, entah kemana yang pria. Mungkin saja ada di bagian lain.
Joanna memperhatikan sekeliling di saat Audrey sedang memberikan pengarahan dan kata katanya untuk mereka semua. Dia melihat satu persatu wajah wajah renta itu dengan pandangan yang mengiba.
Namun tiba tiba, hati Joanna terasa tersentak saat melihat seorang narapidana yang dia kenal. Ya, di antara ratusan orang kenapa Joanna bisa mengenali orang itu?
"Nyonya Grace."Gumam Joanna.
Bisa dia lihat jika ibu mertuanya itu duduk di paling sudut sembari memeluk lututnya sendiri. Wajahnya terlihat tua dan kurus, sangat jauh berbeda saat terakhir kali mereka bertemu.
Tanpa perduli apapun lagi, Joanna langsung berjalan ke arah nyonya Grace. Wanita tua yang cukup baik pada Joanna selama ini. Ternyata William menempatkan nyonya Grace di penjara ini. Entah harus senang atau sedih sekarang, apalagi saat melihat keadaan nyonya Grace yang seperti ini.
"Mommy!" Panggil Joanna. Bahkan dia langsung berlari mendapati nyonya Grace.
Nyonya Grace tersentak saat menyadari ada yang memanggilnya. Dia mendongak dan begitu terkejut saat melihat Joanna yang sudah ada di hadapannya saat ini.
"Anna." Gumamnya yang langsung berdiri dan memandang Joanna dengan pandangan tidak percaya.
"Mommy, astaga. Akhirnya aku bisa bertemu lagi denganmu." Ucap Joanna begitu haru.
"Anna, akhirnya aku bisa bertemu lagi denganmu." Ucap Nyonya Grace yang masih memeluk tubuh Joanna.
"Mommy, kau baik baik saja kan?" Tanya Joanna. Dia melepaskan pelukannya dan memandangi wajah renta itu.
"Aku baik baik saja, Anna. Setidaknya aku belum mati disini." Jawab nyonya Grace.
Joanna menggeleng pelan, dia tersenyum haru saat Nyonya Grace mengusap wajahnya dengan lembut.
"Aku kira kau juga ditangkap oleh orang orang itu. Tapi ternyata kau malah menjadi seorang pengawal." Ucap Nyonya Grace, dia memandangi penampilan Joanna yang memang memakai pakaian pengawal.
"Aku memang ditangkap oleh mereka mom. Tapi ceritanya cukup panjang." Ungkap Joanna.
"Kau baik baik saja bukan. kenapa kau terlihat kurus dan pucat. Kau tidak meminum obatmu?" Tanya nyonya Grace begitu cepat.
Joanna tersenyum tipis dan menggeleng pelan.
"Aku hanya kelelahan, mom." Kilah Joanna. Jangankan untuk meminum obat, ada yang memberikan tempat dan makanan saja itu sudah begitu baik untuknya. Obat yang di konsumsi oleh Joanna cukup mahal, dan tidak akan mungkin bisa dia dapatkan lagi.
"Anna, kau tidak boleh meninggalkan obatmu. Pengobatan mu satu tahun lagi. Jangan buat semua sia sia." Ujar nyonya Grace.
"Aku tahu, mom. Lalu, bagaimana dengan mu? Apa disini kau juga mengkonsumsi obatmu?" Tanya Joanna pula.
"Ya, aku di izinkan membawa stok obat obatan ku dari rumah." Jawab nyonya Grace.
Joanna menghela nafas lega dan mengangguk pelan. Dia menoleh sejenak kearah Audrey yang ternyata masih fokus pada pembicaraan nya di depan sana.
"Mom, untuk Charles. Aku...." Perkataan Joanna langsung terhenti saat nyonya Grace menggenggam tangannya.
"Tidak apa apa, Anna. Ini kesalahan Charles dan kau tahu itu. Dia memang harus mendapatkan hukuman nya." Sahut nyonya Grace.
"Tapi kau juga harus berada di tempat ini, mom." Sesal Joanna. Dia benar benar tidak tega melihat wanita tua ini. Nyonya Grace pasti begitu kehilangan akan sosok Charles, yang meski tempramen, namun dia adalah sosok yang begitu perduli.
"Tidak apa apa, Anna. Aku sudah tua dan aku pasrah. Semua karena kesalahan suamiku, dan kini putraku. Aku memang harus menanggung hukuman ini, yang terpenting, kau sudah bisa lepas dari Charles dan bisa hidup dengan baik." Kata nyonya Grace.
Namun Joanna langsung tertunduk perih. Dia memang sudah lepas dari Charles, namun sayang dia tidak akan pernah bisa lepas dari bayang bayang cinta William.
"Anna... Teruslah hidup. Aku yakin kau menjadi pengawal pasti karena letnan William, mantan kekasihmu itu bukan." Perkataan nyonya Grace membuat Joanna tertegun sejenak.
"Jika dia tahu yang sebenarnya, dia pasti akan menerimamu kembali." tambah nya lagi.
Joanna menggeleng pelan.
"Tidak mungkin, mom. Semua sudah mustahil. Aku tidak lagi mengharapkan hal itu." Jawab Joanna.
"Kenapa? Bukankah sekarang kau sudah mempunyai kesempatan itu?" Tanya nyonya Grace begitu heran. Dia tahu semua tentang Joanna. Apapun, bahkan tentang masa lalu Joanna bersama William.
"Dia sudah memiliki kekasih, mom." Ucap Joanna.
"Benarkah?" nyonya Grace sedikit terkejut mendengar itu. Dia memandang iba pada Joanna.
Hingga beberapa saat kemudian,
"Anna!" seruan Audrey membuat percakapan mereka langsung terhenti.