
Tolong, teruntuk siapapun yang menemukan dan membaca cerita ini, tinggalkan Like agar authornya semangat update. 🥰
Terima kasih.
...Recognize You by VizcaVida...
...Happy reading...
...[•]...
Suasana rumah sudah sangat berbeda. Tidak lagi hangat dan nyaman seperti dulu.
Ade kembali kerumah saat jarum jam menunjuk angka satu malam. Dia tidak masuk ke kamar lantaran masih marah besar kepada Erika. Ia mencuci kaki, tangan dan wajah di kamar mandi utama. Lalu memilih menyalakan televisi di ruang tengah, berharap tertidur setelah ini dengan isi kepala yang nyaris membuat pecah.
Penampilannya berantakan, bahkan dasi sudah tidak di tempat semestinya. Dan ya, dia masih mengenakan setelan kerjanya. Dan dia baru saja kembali dari ... entahlah, dia memutari ibu kota hingga kaki dan tangannya kebas mengimbangi laju mobilnya yang terkadang cepat, dan terkadang tidak bergerak sama sekali karena terjebak macet beberapa kali. Tidak ada tempat dan arah yang dia tuju. Hanya ingin meluapkan kemarahan dan emosi yang terlalu mendera batinnya atas ucapan juga tindakan Erika yang berubah drastis dari beberapa tahun mereka lewati berdua.
Di antara gelapnya ruangan yang sunyi, Ade menerawang jauh saat matanya mendapati langit-langit rumah. Semua kenangan terputar di kepalanya, tak terkecuali pertemuannya dengan Refana.
Ya, Refana.
Mungkin, gadis itu muncul dalam benaknya hanya karena otaknya sedang eror bekerja saja. Perlu digaris bawahi sendiri oleh Ade, jika Refa, bukan apa-apa untuknya. Tapi entah mengapa, bayangannya kadang muncul tanpa diminta. Apalagi di saat Erika membuatnya kesal.
Nafas berembus keras dari hidung Ade, dan sayup-sayup ia mendengar langkah kaki. Ia tau, itu pasti Erika yang datang mendekatinya saat tau dia sudah sampai dirumah.
Beruntung mata Ade tertutup Lengannya sendiri, jadi dia dapat melihat bagaimana wajah Erika diantara temaram lampu ruangan. Wajah yang sangat ia rindukan, wajah yang sangat ia kagumi sejak lama. Wajah yang ...
“Aku tau, kamu marah ke aku, De.” kata Erika menghentikan narasi panjang Ade saat mendeskripsikan betapa ia menyukai Erika hingga saat ini. “Kalau kamu masih belum tidur, ayo kita bicara.”
Tidak mungkin Ade berpura-pura tidur lelap, padahal belum sepuluh menit dia ada dirumah.
Perlahan, ia menurunkan lengannya dari wajah hingga kini, dia bisa menatap penuh wajah istrinya yang mengagumkan itu. Erika tersenyum masam, kemudian mengambil duduk di kursi yang berseberangan dengan Ade.
Saat posisi duduk Ade sudah benar, Erika kembali menyorot wajah tampan dan pupil mata berwarna coklat milik sang suami.
“Kamu pasti kecewa mendapati sikap aku yang kayak gini kan, De?”
Ade tidak memberikan jawaban selain membalas tatapan mata Erika.
“Maaf, tapi aku hanya tidak ingin membuat diriku terlihat semakin menyedihkan di hadapanmu.” seru Erika yang justru membuat Ade semakin tajam menatap wajah perempuan yang ia cintai bertahun-tahun itu.
“Aku tidak pernah menganggap dan melihat dirimu seperti itu.” jawab Ade yang membuat Erika tertunduk dengan hati tercabik perih. “Kalau masalah kita karena anak, kita masih punya kesempatan untuk mendapatkannya. Dan tolong, jangan membuat keberadaan ku sebagai kepala keluarga seperti tidak berguna.” lanjut Ade berbicara gamblang. Ia hanya ingin berkata jujur tanpa harus ada yang ditutupi. Terlalu menyakitkan saat menerima kenyataan jika akhir-akhir ini hubungan mereka berubah drastis menuju kehancuran. Padahal, sebelumnya mereka selalu harmonis tanpa terbebani omongan orang.
“Aku nggak bermaksud demikian,”
“Lalu apa?” sahut Ade cepat tanpa memberi kesempatan untuk Erika berbicara banyak demi keinginan wanita itu yang terlampau menyakitkan. “Beri aku alasan, mengapa kamu selalu memintaku untuk bersama perempuan lain, sedangkan aku punya kamu.”
“Kamu berhak mendapatkan apa yang seharusnya kamu punya, yang tidak kamu dapat dariku—”
“Tapi itu bukan berarti kamu dengan seenak hati memintaku tidur dengan perempuan lain, Er!” jawab Ade mulai tersulut kembali. Tensinya bahkan terasa naik karena kepalanya mendadak pusing. Mengapa Erika ini ngotot sekali dengan pendapatnya yang tidak benar itu? Sedangkan Ade, sama sekali tidak ingin ada orang lain dalam rumah tangga mereka. “Sudahlah, Er. Jangan punya pikiran macam-macam. Kita jalani saja berdua, merelakan apa yang belum kita dapatkan, dan percaya jika suatu hari nanti, Tuhan akan berbaik hati memberikan kepada kita—”
“Refana. Aku sendiri yang akan memintanya menjadi ibu dari anak-anakmu, kalau kamu bersedia.”
Ade terpaku tidak bisa bicara, bibir dan lidahnya kelu saat mengetahui kenyataan jika Refana, sedikit banyak hadir dalam benaknya. Lantas dia mendecak dan membuang wajahnya ke samping. Senyuman miris terbit, dan suaranya berkata pelan, nyaris seperti sebuah bisikan. “Gila!”
***
“Sial!” umpatnya pelan sembari menutup matanya dengan lengan tangan, membawa punggungnya bersandar pada sandaran kursi kerja.
Hari ini, Erika berangkat ke Semarang. Wanita itu sudah berpamitan, semalam, dan dia juga sempat memasak untuk sarapan berdua tadi meskipun, suasana canggung dan dingin masih menjadi teman keduanya.
Ade mendecak untuk kesekian kali saat mengingat Erika yang tidak akan pulang dalam waktu dekat. Wanita yang masih berstatus istrinya itu memang sudah terikat kontrak dan tidak bisa mengambil keputusan sepihak yang akan merugikan banyak pihak juga. Lalu, ditengah situasi otaknya yang kacau balau, pintu ruangannya di ketuk seseorang. Kepala dan punggung ia bawa tegak kembali. Matanya yang sedari tadi ia pejamkan, kini terjaga. “Masuk.”
Pintu terbuka dan Yuni masuk ke dalam membawa berkas penetapan pegawai magang yang telah berhasil melewati masa training.
“Bapak sakit?” tanya Yuni setelah berhasil berdiri tidak jauh dari sosok Ade. Wajah pria itu terlihat lelah dan sedikit pucat.
“Oh, enggak. Cuma sedikit pusing aja kok.”
“Apa perlu saya meminta OB membawa minuman hangat dan obat untuk anda?”
“Tidak. Aku turun sendiri aja sambil ke tempat pak Heri, mau ngecek validasi.” tolak Ade dengan ucapan yang tidak menyinggung sama sekali untuk kebaikan yang ditawarkan oleh Yuni. “Sebentar lagi juga baik kok.”
Ade membawa tubuh kekarnya berdiri. Membuat kopi atau teh hangat mungkin akan sedikit membuat kepala pusingnya reda.
Tiga orang menyapa Ade saat pintu lift terbuka. Mereka kemudian keluar dan Ade berjalan masuk, lalu menakan tombol dua untuk menemui pak Heri terlebih dahulu, kemudian turun ke ground untuk membuat kopi panas di kitchen kantor. Ah, dia memutuskan untuk membuat kopi saja dari pada teh. Toh sama-sama mengandung kafein.
Denting terdengar dan pintu lift terbuka. Ade bergegas keluar dengan sambutan beberapa orang yang menyapa sedang menunggu lift datang. Membalas sapaan dengan anggukan, Ade pun bergegas menuju tempat pak Heri dan melakukan peninjauan dan validasi beberapa syarat dan program yang akan dilakukan untuk tahun mendatang. Karena butuh perencanaan matang dan persetujuan pihak pusat untuk memberlakukan sistem dan peraturan baru.
Tiga puluh menit berlalu, Ade kembali menaiki lift untuk melanjutkan tujuannya yakni, membuat segelas kopi hitam panas di kitchen kantor. Sebenarnya, bisa saja dia menghubungi pihak OB agar membawakan minuman untuknya. Tapi Ade ingin melakukan pendinginan otak, dan membuat minumannya sendiri kali ini.
Sesampainya di lantai dasar, Ade bergegas menuju tempat tujuan dengan langkah lebar-lebar. Dan saat pintu ruangan itu terbuka, beberapa pasang mata menyorot kehadirannya.
“Pak Ade kenapa tidak menghubungi saya saja?” seru Ridwan, salah satu petugas OB yang selama ini membersihkan ruangan dan membuatkannya minuman.
“Ah, saya ingin membuat minuman saya sendiri, pak.” jawab Ade lantas memasuki ruangan, membaur bersama beberapa orang lainnya yang juga sedang membuat minuman, termasuk si pemilik aroma Vanilla, Refana. “Saya juga jenuh di ruangan saya, pak. Saya ingin menghirup udara segar.” kelakar Ade yang langsung saja ditanggapi oleh Ridwan dengan satu tawa cukup renyah.
“Ya sudah kalau demikian. Saya tinggal melanjutkan pekerjaan saya dulu, pak.”
Ade mengangguk, dan berjalan menuju pantry untuk mengambil cangkir, kopi bubuk hitam, dan juga gula.
Tidak ada percakapan apapun antara orang-orang disana. Diam, sunyi mungkin karena juga segan terhadap keberadaan Ade yang notabenenya adalah atasan mereka.
Satu persatu pegawai yang sudah selesai dengan urusannya pun meninggalkan ruangan setelah berpamitan kepada Ade. Tinggal Refana bersama Ade yang memang datang terakhir dan menunggu giliran untuk mendapatkan air panas.
Refana yang sedikit gugup, gemetar saat mengaduk teh panasnya. Teringat kejadian memalukan hari itu, selalu berhasil membuat Refana berdebar saat berada disekitar Ade.
“Bagaimana kerjaan hari ini, Ref?” tanya Ade sambil menyandarkan pinggangnya di meja kitchen yang ukurannya memang sedikit tinggi.
“Ah, lancar dan baik, pak.” sahut Refana dengan suara sedikit terbata karena tidak pernah menduga jika akan berbicara berdua bersama Ade.
Pria itu mengangguk mendengar jawaban Refa. Namun isi kepalanya kembali memutar rekaman pembicaraannya bersama Erika, semalam.
Refana. Aku sendiri yang akan memintanya menjadi ibu dari anak-anakmu, kalau kamu bersedia.
Ia memijat perpotongan hidungnya karena rasa nyeri semakin membuat kepalanya berat.
“Bapak sakit?” tanya Refana sedikit khawatir dengan raut panik. Ia belum pernah melihat keadaan Ade yang seperti sekarang ia lihat. Biasanya pria ini terlihat gagah dengan wajah berwibawa. Tapi sekarang? Mengapa terlihat begitu lelah dan tidak baik-baik saja?
“Eumm, kepalaku sedikit pusing.” jawab Ade terus terang.
“Mau saya ambilkan obat?” tawar Refana dengan gelagat khawatir.
Ade menggeleng, lantas tersenyum manis kepada Refana. “Terima kasih atas kebaikanmu, tapi aku pasti akan kembali sehat setelah minum kopi—”
“Kalau kurang sehat, lebih baik jangan mengkonsumsi kopi terlebih dahulu, Pak. Kopi mengandung kafein yang tidak baik dikonsumsi saat kondisi tubuh kurang fit.”
Ade mengangkat wajah guna memperhatikan Refana yang sedang khawatir kepadanya. Ida tidak menduga jika Refana akan se-peduli itu padanya.
“Ah, baiklah—”
“Ini. Bapak minum punya saya saja. Nanti saya bisa membuatnya lagi.” kata Refana sambil menyodorkan gelas besar berisi teh hangat didepan Ade yang tak memutus pandangan matanya pada pupil mata coklat dan bening milik Refana.
“Tidak. Kamu minum sendiri saja. Aku—”
Refana meraih telapak tangan Ade dan meletakkan gelas tersebut agar digenggam. Ia lantas tersenyum manis hingga lesung pipitnya terlihat jelas dan mempercantik wajah ayu nya.
“Semoga lekas membaik ya, pak. Jangan lupa mengambil obat pereda nyeri di kotak P3.” sahut Refana, menatap dalam pupil mata Ade dengan tulus.
Maka, tidak ada alasan Ade untuk menolak. Ia membalas kebaikan Refana dengan sebuah senyuman dan ucapan yang membuat kedua pipi gadis itu merona. “Terima kasih ya.” katanya yang mendapat anggukan lembut dari Refa. ”Ternyata, perbuatan kamu secantik wajah kamu.” lanjutnya yang membuat Refana harus menundukkan kepala karena malu. Gadis cantik itu bahkan menyelipkan anakan rambutnya dibalik telinga sebagai pengalihan rasa gugup.
Setan dalam hati Ade mulai membisikkan suatu kecurangan di telinganya,
Apa seharusnya dia menuruti usul Erika?
Benar-benar tidak pernah ia duga, pikiran ini akan muncul disaat hatinya sedang kacau dan hubungannya dengan Erika yang merenggang. []
...Bersambung...
...🌼🌼🌼...
###
Gimana ya? 🙄