
...Recognize You by VizcaVida...
...Happy reading...
...🌼🌼🌼...
“Gue udah coba jelasin ke dia, Gi. Tapi kayaknya dia nggak mau dengerin gue. Milih diemin gue.”
“Mau datang bulan kali, De.” kelakar Gio yang pada detik itu juga mendapat jotosan di lengan kirinya.
Mereka sedang berada di sebuah angkringan tepi jalan yang menjadi langganan sejak mereka berdua duduk si bangku SMA.
Bicara tentang pertemanan mereka, keduanya cukup lama berteman. Terhitung sejak Ade dan Gio bertemu saat usia remaja Sekolah Menengah Pertama. Ade saat itu menjadi murid pindahan dari kota Surabaya karena ayahnya yang seorang tentara dipindah tugaskan ke ibu kota. Ngomong-ngomong, Ade ini kelahiran kota Dewata, Bali. Ibunya asli orang sana, namun harus pindah ke Surabaya karena mengikuti jejak sang ayah yang asli dari kota pahlawan itu. Agak membingungkan memang. Lahir di Bali, tumbuh menjadi anak-anak di Surabaya, dan besar di ibu kota. Sedangkan untuk Gio, sudah hidup di ibu kota, karena ibu dan ayahnya memang tinggal di pusat kota—yang tak pernah tidur ini—sejak lahir.
Kembali ke masa kini.
“Enggak. Gue hafal tanggalnya, Gi.” sahut Ade cepat. Dia jujur saat memberitahu sahabatnya, jika dirinya tau tentang tanggal datang bulan Erika.
“Lha terus apa dong? Nggak mungkin 'kan dia marah-marah kalau nggak ada sebab. Erika itu orangnya tenang banget lho, De. Beda sama istri gue yang kalau nggak cocok, langsung cospleng aja didepan gue enggak pake lama.”
Sebenarnya, justru sifat yang seperti itu yang Ade harapkan ada pada diri Erika. Sebab, semua masalah akan clear, dan tidak ada hal yang perlu dipendam hingga berakhir Ade yang kelimpungan sendiri menerka-nerka sebab dirinya didiamkan tanpa diajak bicara.
Jika sudah seperti itu, Ade akan mencari Gio,—teman kentalnya—untuk sedikit berbagi keresahan. Gio ini selalu menjadi wadah keluh kesah seorang Made Pratama. Pria 33 tahun itu memang selalu asik jika di ajak ngobrol tentang masalah pribadi, apalagi jika ada keluh kesah dalam rumah tangga. Pria satu anak itu pasti akan memberi solusi atau saran tanpa diminta yang menurut Ade, selalu masuk akal dan membantu sekali menemukan solusi.
Sekarang, bolehkah Ade mengatakan sebabnya? Tapi kalau nanti Gio ikut menyerangnya, pasti otaknya tambah stress. Ah, masa bodo. Dia butuh teman cerita.
“Erika salah faham.” kata Ade, pelan sekali nyaris tak terdengar oleh telinga Gio.
“Kenapa? Lo selingkuh?” pekik Gio menarik perhatian beberapa pengunjung yang duduk tidak jauh dari mereka. Dua pria tampan, duduk tanpa pasangan dan membicarakan perselingkuhan, membuat keduanya disorot tajam oleh para pasangan di sekeliling mereka. Gio celingukan dan berakhir menggaruk pelipisnya, lantas berdehem sebagai pengalihan rasa malunya yang tidak terukur. Salahnya sendiri sih bicara nggak diukur dulu. Hingga pada saat bersamaan, Ade menepuk keras punggung sahabatnya itu hingga berbunyi bugh cukup keras.
“Lu ngomong jangan sembarangan, napa?”
“Sorry, refleks doang itu.”
Dengan hati sedikit dongkol, Ade melanjutkan berbicara. “Ya enggak lah, ngapain gue selingkuh. Kurang kerjaan apa?”
“Awas jangan sumbar kalau ngomong. Ntar kejadian baru tau rasa lu!”
Ade semakin kesal saja karena ulah Gio. “Ngapain coba? Istri gue cantik dan ngerawat gue dengan baik—”
“Gua tau, be-go. Tapi orang selingkuh bukan karena itu. Tapi karena banyak faktor yang sebenernya, gue tebak ada dua yang paling fatal. Pertama jenuh, atau yang kedua ya dasar matanya aja yang enggak bisa lihat rumput tetangga warnanya lebih ijo.” celetuk Gio sedikit bercanda namun berhasil menarik perhatian Ade.
Jenuh? Ade tidak jenuh. Tapi jujur, dia hanya merasakan sedikit sama dengan apa yang dirasakan Erika. Dia sedikit lelah. Apalagi akhir-akhir ini Erika sering menuduhkan yang tidak-tidak padanya. Hal itu sedikit banyak mengganggu kenyamanan Ade saat berada dirumah. Ade jadi merasa, jika atmosfer rumah sangat berbeda jauh dengan dulu.
“Gue nggak membenarkan selingkuh, tapi gue nggak munafik karena gue juga punya anak bini. Gue suka kesel kalau bini gue diemin gue. Makanya gue sering tiba-tiba ngajak lu ngopi, kayak sekarang ini biar stressnya nggak keterlaluan.”
Percakapan bapak-bapak yang sebenarnya tidak boleh di bicarakan di area bebas dengar. Bisa-bisa nanti jadi fitnah.
Ade tertunduk dengan senyuman masam. Dia berani bersumpah jika sebelumnya, dia tidak pernah merasakan lelah atau bahkan jenuh pada hubungannya dengan Erika. Tapi tidak tau kenapa justru akhir-akhir ini, rasa tidak nyaman itu perlahan ada dan sangat mengganggu, membuat ucapan Gio tadi sedikit di benarkan oleh kinerja otaknya.
“Gue nggak selingkuh dan nggak kepikiran sama sekali buay ngelakuin itu, Gi.” terangnya kepada si sahabat agar tidak semakin salah faham dan berakhir runyam. “Beberapa hari lalu, gue nggak sengaja ngajak anak magang tempat kerja gue, bareng sama gue. Lu ingat waktu macet parah karena kontainer pecah ban tempo hari kan?”
Gio mengangguk.
“Erika salah paham karena waktu itu, kabin mobil gue masih kecium bau parfum si anak magang.” Ade meraih cangkir kopi dan menyesapnya perlahan. “Dia kira gue bawa cewek tanpa sepengetahuan dia, dengan kata lain gue di tuduh selingkuh.”
“Tapi kenapa juga lu bawa cewek yang bahkan enggak lu kenal deket? Baru kali ini gue denger lu baik sama stranger!”
Nah, ini juga yang menjadi pertanyaan untuk diri Ade sendiri. Dia juga tidak tau mengapa kepikiran mengajak Refa bersamanya saat itu.
“Itu ... karena gue kasihan aja sama dia. Enggak ada angkot pagi itu, Gi. Dan gue cuma bermaksud nolongin dia.” kilahnya agar tidak semakin ditelisik oleh Gio. Sebenarnya, Ade sendiri sadar akan perbuatannya yang diluar kendalinya itu. Tapi ... ah sudahlah. Yang penting dia tidak selingkuh seperti yang sudah diduga oleh Erika.
“Lu juga harus hati-hati sendiri sama tindakan Lu, bro. Karena perhatian lu itu juga bisa bikin cewek itu salah faham.”
“Cewek itu udah nikah?”
“Baru lulus kuliah tahun ini. Kayaknya belum, setau gue di CV nya.” sahut Ade cepat, menjelaskan.
“Nah, bahaya kan? Gue saranin, lu nggak usah deket-deket lagi sama dia.”
“Gue cuma nebengin dia doang bro, nggak lebih. Kok lu juga jadi salah faham ke gue yak?”
Gio menghela nafas besar. “Sekarang gue tanya, apa lu ngerasa nyaman sama cewek itu?”
Ade diam tidak menjawab.
“Gue rasa diam itu jawaban ‘ya’ dari lu. Kalau begitu, lu mending jauhin dia sebelum terlambat, bro. Kebakaran nggak akan terjadi kalau nggak ada yang menyulut api.”
***
Ade sampai di kantor pukul setengah delapan pagi. Hari ini dia tetap terlihat berwibawa didepan para pegawai yang menyapanya di lobby masuk kantor. Dia memutuskan untuk lewat lobby depan daripada lift di basement yang langsung menuju ruangannya, karena ingin menemui salah satu staff bagian pelaksanaan kegiatan operasional yang ada di lantai dasar ini.
Di kejauhan, dia dapat melihat dengan jelas meja resepsionis yang mengingatkan dia kepada seseorang, yakni Refana. Ah, perempuan itu ya?
Ade menatap satu presensi yang duduk rapi menatap layar komputer dihadapannya. Ada yang berbeda dengan gadis itu. Ade mengerutkan kening, mencoba mencari sumber perbedaan yang tidak ia lihat beberapa waktu lalu saat berada dalam satu kabin bersamanya.
Penampilan gadis itu masih tetap sama, formal dan rapi. Rambut juga ditata rapi dengan satu ikatan di bagian belakang kepala, dan make-up? Oh ya, make-up. Refana memoles wajahnya dengan make-up tipis yang membuat wajahnya terlihat semakin cantik.
Astaga!
Ade mencoba mengingatkan dirinya sendiri dengan kata-kata yang sehari lalu disampaikan oleh Gio. Kalau tidak segera menarik diri dari sini, sama saja ‘nyari penyakit’.
Langkah Ade semakin lebar agar meja resepsionis beserta presensi yang ada disana itu, cepat ia lewati. Dia ingin menghindari Refa, seperti kata Gio yang menyarankannya untuk tidak lagi berupaya menghadirkan Refa dalam penglihatannya. Namun ...
“Selamat pagi, pak.” sapa suara lembut yang tidak asing lagi, yang memaksa langkahnya berhenti. Aroma vanilla manis yang masih sama, terhirup begitu saja tanpa Ade minta.
Ia pun menoleh, memperhatikan wajah Refa yang sekarang dihiasi senyuman manis dengan lesung pipit timbul di kedua sisi pipinya yang tirus.
“Oh, selamat pagi, Ref.”
Sialan! Kenapa sebut nama segala? Untuk belum ada orang lain, atau jika tidak, apa yang baru saja dia lakukan akan menjadi berita besar yang menggemparkan seisi kantor. Pasalnya, selama bertahun-tahun bekerja disini, Ade tidak pernah menghafal nama staff-staff nya, kecuali staff yang memiliki jabatan penting yang harus ia temui setiap waktu.
“Baru sampai, pak?” tanya Refa semakin melebar dengan rona di wajahnya.
“Ya. Ada orang bagian pelaksanaan yang ingin aku temui.” jawab Ade jujur.
“Pak Rusel?”
Ade mengangguk sembari menyuguhkan senyuman yang membuat Refa seketika itu juga menyentuh poninya yang jatuh didepan wajah, untuk diselipkan di belakang telinga.
“Beliau baru saja datang. Pasti ada di ruangannya sekarang.”
“Ah, baiklah. Sampai nanti, Ref.”
Sampai nanti untuk apa, De? Kamu akan benar-benar menyulut api jika sampai ucapan ‘Sampai Nanti’ mu itu terwujud. []
...Bersambung...
...🌼🌼🌼...
###
Kuy lah, dukungan kalian adalah motifasi terbesar author untuk terus berkarya ☺️
See you ...