Recognize You

Recognize You
12. Puncak Emosi Yang Meledak




...Recognize You by VizcaVida...


...Happy reading...


...[•]...


“Jangan sentuh aku!” pinta Erika dengan nafas terengah setelah menguras habis isi perutnya. Sejak terbang dari Semarang tadi siang, dia bahkan belum memasukkan sesuap nasi kedalam perutnya, dan alhasil, setelah isi perut itu tidak lagi bersisa selain rasa pahit, tubuhnya berubah bergetar ingin luruh dan jatuh ke lantai.


“Biar aku bantu berbaring di ka—”


Erika meremas tepian westafel, kemudian mengangkat wajahnya yang kacau menatap kaca di depannya. Matanya yang merah oleh airmata, surai dan wajahnya yang basah akibat keringat dingin, membuat Erika menertawakan dirinya sendiri saat manik matanya bersitatap dengan presensi Ade yang menunggu suaranya.


Miris, menyedihkan.


“Kamu saja yang tidur disana. Aku tidak sudi lagi menempati kamar itu.” kata Erika dengan nada dingin dan sangat rendah yang bahkan tidak pernah ia perdengarkan kepada siapapun bahkan ketika marah, sehingga membuat Ade terpaku menatap bayangan wajah Erika dan dirinya yang terbentuk dari bias pada cermin yang bersih.


“Er—”


“Kalau perlu, panggil dan minta dia untuk menempati kamar dan ranjang itu. Aku nggak butuh.”


Meskipun menyakitkan, Erika tidak ingin diam saja. Dia akan bicara banyak hari ini. Khususnya malam ini. Kekecewaan memenuhi setiap inci hati kecilnya yang sekarang sedang terluka.


Bagaimana tidak kecewa, tempat itu adalah saksi bagaimana dirinya dan Ade memadu kasih, melepas penat saat lelah dari bekerja, dan tentu saja menjadi tempat meluapkan perasaan cinta yang ada pada mereka berdua selama ini.


Tapi sekarang tidak seperti itu. Tidak setelah Erika tau, jika ranjang dan kamar itu pula lah, yang menjadi tempat Ade memadu kasih dengan wanita lain.


“Kami melakukannya dirumah kalian, mbak. Maafkan saya.”


Erika tertawa sarkas mengingat penuturan Refana, yang belum satu jam lalu ia dengar.


“Apa maksud kamu, Er?”


“Aku sudah tidak sudi menempati kamar itu karena kamu, menjadikan ranjang itu sebagai tempat untuk menyentuh wanita lain, selain aku.”


Ade terbelalak. Jantungnya serasa dihantam gada hingga berdentum cukup keras. “Er—”


“Dengerin aku! Jangan menyela!!” tegur Erika masih dengan nada dan ekspresi yang sama. Datar. Kosong, dan hancur. Sedangkan Ade memilih diam, menahan semua kalimat yang ingin ia sampaikan, di tenggorokannya.


“Seharusnya semua tidak akan apa-apa kalau kamu mau jujur dan mengatakan semuanya padaku, De. Bukankah aku sudah memberikan peluang untukmu bicara, jika kamu ingin memiliki orang kedua dalam rumah tangga kita?”


“Er ... ” panggil Ade sendu. Ia tau akan seperti ini akhirnya. Sepandai-pandainya dia menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium juga. Ibaratnya seperti itu.


“Aku sudah meminta kepadamu dengan baik-baik, De. Tapi kamu membuatnya jadi seperti ini.” lanjut Erika tidak mau disela. “Kamu membuatku kecewa, De.”


Ade mengarahkan wajahnya ke lain tempat. Ia bahkan menyugar dan meremas surai karena kesal pada keputusan yang ia ambil untuk menjadikan Refana miliknya, beberapa waktu lalu.


“Ya. Aku salah.” akunya tidak menutupi apapun yang justru, membuat hati Erika tidak lagi bersedih, melainkan berubah keras dalam sebuah kebencian. Airmata yang semula mengucur, kini menghilang dan rasanya tidak ingin lagi keluar didepan Ade.


“Bukankah sudah aku bilang, aku akan melepaskan mu jika kamu ingin menikah dengan orang lain, secara baik-baik?” kata Erika, lalu melanjutkan dengan suara pelan nyaris berbisik, begitu pilu. “ Bukan dengan cara curang seperti ini, De.”


“Aku—”


“Sekarang, dosa baru telah kamu ciptakan diantara ikatan suci pernikahan kita, De. Aku, tidak akan pernah mau menerima dia. Dan hal itu juga sekaligus menjadi bukti, bahwa aku, menyerah.” sergah Erika membuat Ade bungkam dan menatap tak kalah kosong pada wajah Erika yang pucat dan berantakan. Kali ini dia tidak akan lagi berfikir panjang. Dia juga tidak akan plin-plan dan bingung hingga pusing tujuh keliling saat memikirkan ucapan orang-orang yang bertanya tentang kehamilan yang belum juga ia dapatkan di usia pernikahan mereka yang hampir menyentuh angka enam tahun. Erika akan mundur karena tempatnya mungkin sudah terisi oleh kehadiran orang lain yang akan membuat Ade jauh lebih bahagia dan merasa sempurna.


“Er, maafin aku.”


Erika melihat Ade yang berjalan mendekat, lalu memintanya untuk berhenti saat itu juga dengan telapaknya yang terangkat di depan tubuhnya sendiri. “Jangan pernah mendekat apalagi kamu nyentuh aku, De. Kasih aku waktu sebentar buat bisa nerima semuanya. Semua kenyataan memuakkan ini.”


“Er—”


Tidak ada kesempatan untuk Ade berbicara. “Dan harus kamu tau, aku yang akan menentukan, pernikahan ini akan tetap berlanjut atau ... berakhir.” akhirnya, ledakan emosi itu sampai pada puncaknya.


Mendengar itu, Ade memucat. Erika masih menjadi bagian dari hatinya, meskipun sekarang sudah tidak sepenuhnya.


“Egois.” tuturnya sarkas.


“Ya. Aku akan menjadi orang yang egois. Karena memang ini yang kamu harapkan, bukan?”


Erika tercengang karena kini Ade membalik keadaan. Memang ini, keinginannya. Tapi tidak begini caranya. “Jadi kamu sekarang menyalahkan aku?” celetuk Erika dengan suara serak menahan tangis. “Kamu lupa, aku pernah bilang apa, De? Dan aku, tidak akan pernah sudi apalagi nerima dia.”


Ulu hati Erika terasa perih. Mual datang sekali lagi, dan berakhir menguras isi perutnya, satu kali lagi.


Ade dengan sigap memijat tengkuk leher Erika meskipun wanita itu meronta untuk menolak bantuan yang diberikan oleh Ade. “Kamu sakit. Ayo ke dokter.”


Erika yang sudah lemas, hanya bisa tertunduk menatap kucuran air yang jatuh dari kran air. Peduli apa pria itu tentang dia? Tentang kesehatannya?


“Tidak. Aku bisa sendiri! Jangan pernah mengetuk pintu kamar yang aku tempati.” pinta Erika yang membuat Ade diam seribu bahasa.


Setelah mengucapkan itu, Erika menyahut tas selempang yang ada di meja marmer dekat westafel dan berlari meninggalkan Ade yang masih berdiri di tempatnya dengan sisa tenaga yang ia punya. Ia lantas menuju salah satu kamar yang tidak pernah mereka tempati sebelumnya. Seperti yang ia ucapkan, Erika tidak akan lagi sudi menempati kamar yang ternoda oleh pengkhianatan suaminya sendiri.


Didalam sana, Erika menangis sejadi-jadinya karena ternyata kenyataan sangatlah pahit. Dan ditengah tangisan yang belum mau mereda, ponsel Erika bergetar. Nama Elis muncul pada display lebar ponsel miliknya.


“Eum.” sapa Erika mencoba sembunyi, tapi Elis tau jika wanita yang sedang berbicara dengannya itu sedang menangis.


“Kenapa Lo nangis?” kata Elis, diseberang.


“Siapa yang nangis sih?” celetuk Erika mencoba bersikap tenang. Ia bahkan mencoba menjawab dengan suara jenaka agar Elis tau jika dirinya tidak sedang bermuram hati.


“Udah, nggak usah bohongi gue. Ada apa? Lo ditinggal kawin lagi sama suami Lo waktu masih di Semarang?” kelakar Elis diselingi cekikikan yang membuat Erika mendapatkan pukulan telak yang membuat nyeri sekujur tubuh.


“Lebih menyakitkan dari pada itu, Lis.”


“Maksud Lo?” tanya Elis ragu.


“Suami gue selingkuh.”


***


Ini adalah akhir pekan. Dan sudah dua hari Ade tidak melihat presensi Erika keluar dari kamarnya.


Beberapa kali Ade memastikan keadaan Erika dengan mengetuk pintu kamar setiap ada kesempatan. Namun nihil, Erika hanya memintanya pergi dan jangan mengganggu lagi


Ade masuk ke dalam kamar yang kini terasa begitu hampa. Ia ingat beberapa hari yang lalu, dia meniduri wanita lain di ranjang yang selama ini menjadi tempatnya bersama Erika berbagi peluh saat memadu kasih.


Ia duduk di tepian ranjang, menatap tepat pada bagian tengah ranjang, dimana dia dan Refana hari itu melakukan dosa besar dalam hubungan terlarang mereka. Ia tidak ingat siapa yang memulai, tapi ia tau betul jika baik Refana maupun dirinya saat itu terjerumus terlalu jauh.


Malam itu, suara rin-tihan Refana begitu memuja hingga dia lupa segalanya. Dan sekarang Ade tau konsekuensi dari semua itu. meskipun malam itu, baik Ade dan Refana sudah berusaha menghapus semua bukti perselingkuhan. Termasuk darah segar yang menetes membasahi alas berbaring mereka, menjadi saksi malam penyatuan yang seharusnya tidak mereka lakukan.


Malam itu, untuk pertama kalinya Ade membawa Refana kerumah setelah hampir satu Minggu menjalin kasih. Sebenarnya Ade hanya ingin mampir sebentar ke rumah untuk mengambil salah satu file yang akan ia titipkan kepada Refana untuk ia serahkan kepada salah satu kepala divisi bernama Heri.


Entah setan dari mana datangnya, Keduanya duduk di satu sofa yang sama, diruang tengah.


Haruskah ia menyesal dengan semuanya?


Ya. Ade menyesali semuanya, karena sudah membuat apa yang sudah menghadapi jurang kehancuran, semakin lebur. Erika pasti tidak akan mau memaafkan, apalagi percaya kepadanya.


“Astaga. Apa yang sudah aku lakukan?”


Ade meraup wajahnya dengan gerakan cukup kasar. Matanya pun kini berkaca-kaca, ini adalah pertama kalinya dia menangisi seseorang yang ia sakiti, orang yang seharusnya ia cintai tanpa adanya orang lain dalam hatinya. Erika.


Ada emosi yang terpatik dalam benak Ade saat tau kebodohannya sendiri. “Sial!”[]


...Bersambung...


...🌼🌼🌼...