
...Recognize You by VizcaVida...
...Happy reading...
...[•]...
Tidak ada kata yang lebih mengejutkan dari apa yang dikatakan Erika malam ini. Tidak ada sesuatu yang lebih membuatnya hancur, selain apa yang baru saja didengarnya dari bibir cinta pertamanya itu, malam ini. Dan tidak ada yang lebih membuat Ade putus asa, selain keputusan yang diambil Erika untuk hubungan mereka yang sudah lebih dari beberapa tahun lewat.
“Kita berpisah.”
Tidak. Ade tidak menginginkan ini. Mengapa sekarang justru Erika yang mundur?
“Ini, surat gugatan yang aku dapatkan dari pengadilan agama. Tandatangani saja agar kita tidak lagi memiliki beban satu sama lain.”
Beban? Mengapa Erika menyimpan ini darinya? Sebuah beban yang ... bahkan tidak pernah wanita itu ungkapkan kepadanya.
“Tidak!” putus Ade keras. “Aku tidak akan mau menandatangi surat itu—”
“Please, De. Aku tidak akan menuntut apapun padamu. Apa yang aku miliki dari hasil kerja kerasku, adalah milikku. Tidak dengan yang lain. Apalagi harta yang kamu punya, aku sama sekali tidak akan memintanya darimu. Aku hanya akan menggunakan apa yang aku miliki dari kerja kerasku.”
Bukan masalah uang atau harta gono-gini yang membuat Ade menolak keras permohonan cerai Erika. Ade berani bersumpah, ia tidak akan mempermasalahkan tentang harta atau apapun itu. Dia hanya tidak ingin melepaskan Erika, orang yang sudah menemaninya sejak awal menitih karir. Orang yang untuk pertama kali memikat hatinya, membuatnya jatuh dalam pusaran cinta yang terlalu dalam.
“Tidak.”
Erika tidak terlalu terkejut. Dia bahkan sudah menduga jika Ade akan menolak keinginannya untuk berpisah. Namun, Erika juga sudah mempersiapkan berbagai macam opsi untuk menghadapi itu.
“De, ku mohon. Setelah ini, aku akan pergi. Aku janji tidak akan muncul dihadapanmu lagi, dan kalian bisa hidup bahagia disini—”
“Tidak! Apa kamu tidak mendengarnya?” sahut Ade membuat Erika terdiam dengan tatapan nyaris tidak terbaca. “Aku memang mengacaukan semuanya, tapi tidak akan pernah membiarkan—”
“Aku akan baik-baik saja, De. Tolong lepaskan aku. Agar semuanya lebih mudah.”
Ade tersenyum masam. “Jadi tujuanmu meminta datang kesini, hanya untuk memintaku berpisah denganmu?”
“Astaga Er,” keluh Ade sembari meremas surainya, putus asa. “Aku pikir, semua sudah selesai. Aku pikir, kamu sudah berdamai. Aku pikir, semua akan baik-baik saja setelah—”
“Karena aku tidak ingin membuatmu kecewa, De. Untuk itu aku diam dan mencoba berdamai.” sela Erika pelan. Ia tau, keputusannya kali ini akan membuat banyak pihak kecewa berat kepada dirinya. Termasuk kedua mertua yang masih menyayanginya. “Tapi, semuanya ternyata berat, De. Sangat berat hingga aku merasa, aku harus menyerah dan mundur.”
Biarkan saja jika di cap sebagai pecundang. Erika hanya ingin menyelamatkan apa yang menurutnya, harus ia lindungi. Yakni, anak yang ada dalam kandungannya. Jika sampai Ade tau, ada masalah lain yang akan timbul.
“Kamu kenapa kayak gini sih, Er? Sebenernya, mau kamu itu apa?” tanya Ade yang sudah mulai di rundung gelisah. Dia tidak tau harus berbuat sejauh apa lagi. Tidak akan ada yang diuntungkan juga jika sampai hubungannya dengan Erika berakhir, karena sampai detik ini pun, Refana masih menghargai Erika sebagai istri pertamanya. Refana bahkan sudah berbaik hati hendak menyerahkan anaknya kelak kepada mereka jika sudah lahir. Lalu apa yang diinginkan Erika dari perpisahan ini?
“Aku—”
“Oke!” sahut Ade cepat saat Erika belum sempat bicara. Dia harus tegas dan mengambil sikap untuk urusan pengajuan gugatan cerai yang dilayangkan Erika kepadanya. “Aku mau dengar alasan spesifik kamu dulu, kenapa kamu minta berpisah dariku? Jika alasan itu masuk akal dan bisa diterima, aku kabulkan.”
Erika diam sejenak.
“Memangnya, jawaban apalagi yang ingin kamu dengar, De? Bukankah sudah aku katakan di awal tadi, kalau aku hanya ingin bebas dan tidak terbebani lagi untuk urusan rumah tangga kita yang seperti ini.”
Ade menggeleng. Senyuman dibibirnya berubah sinis. “Cuma itu? Tidak adakah yang lebih meyakinkan, agar aku bisa langsung mengabulkan permintaanmu tanpa berfikir ulang?”
Meremas jemari tangannya sendiri, Erika mulai ragu untuk bisa meyakinkan Ade. Atau ia pilih opsi kedua saja?
Ya, opsi kedua yang terdengar lebih memungkinkan untuk sekarang.
Lari.
Erika akan melarikan diri dan membawa sebagian dari diri Ade yang ada pada dirinya.
Dan semoga saja, keputusannya kali ini tepat.[]
Bersambung
🌼🌼🌼