Recognize You

Recognize You
16. Bertemu dalam belenggu




...Recognize You by VizcaVida...


...Happy reading...


...[•]...


“Nanti pulang kerja, aku mau kerumah lama sebentar, mau bicara sama Erika. Pintu rumah kamu kunci dan jangan terima tamu siapapun, kecuali aku udah pulang.” pesan Ade saat makan pagi bersama Refana di meja makan, sebelum berangkat bekerja.


“Iya, mas.” jawab Refana tenang. Rambutnya masih setengah basah akibat semalam, Ade menyentuhnya. Ya, tentu saja malam pengantin. Memangnya apalagi?


Mungkin terdengar aneh dan tidak tau diuntung, tapi percayalah jika laki-laki itu memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi oleh pasangannya. Contohnya, pergulatan diatas ranjang.


Acara berberes semalam tertunda, karena tiba-tiba saja Refana terlihat menggoda Dimata Ade hingga sisi laki-lakinya menguasai dan malam terlewati dengan peluh dan bunyi pertemuan kulit dua insan yang sudah terikat pernikahan.


“Nanti aku kabari lagi.”


Refana mengangguk dan menyuapkan bubur kedalam mulutnya. Pagi ini, dia secara mendadak ingin memakan bubur. Dan beruntung, bahan-bahan untuk membuatnya pun tersedia.


“Hati-hati ya, Mas. Sampaikan salam Refa ke mbak Erika.”


Ade tersenyum. Dia menyambut telapak tangan Refana yang terulur, lantas mengacak penuh perhatian puncak kepala Refana yang masih sedikit basah. “Jangan kerjain apapun yang termasuk berat. Biar aku saja.”


Refana mengangguk setuju. Dia melambai sebagai salam perpisahan dengan sang suami.


***


Hari sudah hampir gelap. Ade sampai dirumah yang ditempati Erika, dan bergegas mengetuk lantai rumah dengan sepatunya. Pintu tidak di kunci, dan Ade dengan mudah menemukan keberadaan Erika. Wanita itu sedang berada di dapur dan membuat makan malam.


Ade berjalan mendekat dan tersenyum saat Erika tidak menyadari keberadaannya disini.


“Ekhmm, sibuk sekali?”


Erika terjingkat dan menoleh sejenak sebelum kembali mengarahkan pandangan matanya pada penggorengan yang sedang menumis kangkung. Tidak memberikan jawaban, Erika diam tanpa suara sembari melanjutkan pekerjaan. Ia memasak dua porsi untuk berjaga-jaga saja. Dan ternyata tebakannya tidak salah, Ade datang.


Seperti tidak peduli, Erika berjalan melewati Ade begitu saja menuju meja makan. Ia lantas duduk dan membuka piring, mengisinya dengan nasi, lalu menyendok tumis kangkung dan memakannya. “Kamu udah makan?” tanya Erika membuka pembicaraan bersama Ade.


“Belum.”


Tanpa diminta, Erika bangkit dan mengambilkan Ade menu yang sama dengan miliknya. Ini adalah layanan pertama Erika setelah beberapa bulan tidak saling sapa. Senyuman tersungging di bibir Ade. Ia meraih sendok dan mulai menikmati makanan buatan Erika.


“Makasih.” ucapnya saat piring itu sudah terhidang di depan mata.


“Kamu sudah pamit sama Refa?” tanya Erika mencoba untuk berdamai. Ia mencoba membunuh semua rasa yang ada dirinya. Erika ingin tidak peduli lagi pada apapun, termasuk hubungannya dengan Ade, hubungan Ade dengan Refana, hubungannya dengan Refana, dan masih banyak yang lainnya, yang terasa menyiksa jika di rasakan.


“Udah.” jawab Ade sambil mengunyah makanannya.


“Gimana keadaan kandungan Refa?”


“Masih kerja?”


“Udah aku suruh resign.”


Erika mengangguk paham. Erika juga memahami perasaan Ade. Suaminya itu pasti tidak ingin terjadi pada anaknya. Anak mereka, Ade dan Refana.


“Baguslah. Demi kebaikan dia dan calon anak kalian.”


Ade menghentikan semua kegiatan makannya, lalu menatap sendu pada Erika. “Er, itu bakalan jadi anak kamu juga. Anak kita.”


Erika menggeleng. Selamanya, anak itu tidak akan pernah menjadi anaknya. Karena Erika tidak pernah melahirkan anak tersebut. “Tidak De. Aku tidak melahirkan dia. Jadi, aku tidak patut mengakui anak kalian, sebagai anakku juga.”


Ade meraih kembali sendoknya, lalu tertunduk dengan senyuman pilu. “Maaf, sudah bikin keadaan jadi kayak begini, Er.”


“Aku udah bisa nerima semuanya, De. Jadi bilang ke Refana, nggak perlu sungkan atau malu datang kesini sama kamu.” sahut Erika sembari menyematkan senyuman. Sudah benar begitu kan? Mengikhlaskan akan menjadi ringan, mengangkat beban. Begitu kan?


“Dan aku minta ke kamu, jaga dia. Jangan bikin dia sedih.” lanjut Erika, menusuk nasi dipiring hingga membuat Ade tak kuasa ingin memeluk wanita yang sudah rela membagi hati untuk Refana. “Aku memang nggak pernah hamil, tapi aku pernah denger dari teman-teman, kalau orang hamil itu nggak boleh stress. Bisa pengaruh ke janin.”


Ade tak sanggup berkata-kata. Ia hanya memperhatikan bagaimana Erika berbicara. Menyimpan setiap kata yang terucap, dalam memorinya agar ia tetap mencintai wanita itu seperti dulu.


“Refa minta pisah setelah anak itu lahir.”


Kalimat tersebut sontak membuat Erika terkejut dan memusatkan atensinya pada si pemilik suara. Erika mengerjap tak percaya.


“Ia bahkan berkata jika akan memberikan anak itu kepada kita.”


Erika masih tidak percaya.


“Dia ingin menebus kesalahannya, dan merelakan bayinya untuk kita.”[]


...Bersambung...


...🌼🌼🌼...


###


Halo kakak sekalian. Cerita ini udah mau tamat loh 😁. Sengaja nggak dibikin panjang karena konfliknya udah jelas. Tinggal ekse-kusi endingnya aja.


Tapi jangan khawatir, author punya cerita baru kok, judulnya “Hey You! Marry Me!” 👇



Kalau berkenan, silahkan mampir baca. Beri dukungan dengan cara Like, komentar, serta subscribe, vote dan berikan hadiah jika berkenan.


Untuk lebih jelasnya, klik profil Othor aja. Ceritanya ada di kolom on Going.


Terima kasih, sampai jumpa di bab selanjutnya ☺️