
...Recognize You by VizcaVida...
...Happy reading...
...[•]...
“Tau tidak, aku sudah menyusun rencana kalau nanti kamu hamil dan kita punya anak.”
“Apa itu?”
“Eummm rahasia.”
“Kenapa pake di rahasiakan segala sih?”
“Ya biar surprise aja nanti kalau beneran kamu hamil.”
“Nggak ah. Kalau begitu, aku tunda aja. Lima tahun, biar kamu bosan nunggu.”
“Hei. Itu curang.”
Erika tertawa menyadari jika ucapan penuh kelakarnya saat itu, adalah do'a yang membawanya dalam lingkaran menyedihkan seperti sekarang. Semua kegetiran mencuat ke permukaan saat mengingat hari itu, hari dimana saat mereka sedang berbulan madu dan bercanda tentang sebuah surprise, yang ternyata berubah menjadi petaka untuk rumah tangga keduanya. Bukan tentang takdir, tapi mungkin tentang sebuah ego.
Benarkah ego?
Lima tahun Erika mencoba menghadirkan sosok kecil menggemaskan yang disebut anak. Namun ujian mulai datang saat dia mulai merasa lelah dan ingin menyerah. Erika sadar jika dirinya hanya memiliki kemungkinan kecil untuk memberikan Ade keturunan. Namun apa? Lihatlah sekarang? Bukankah Tuhan itu Maha Adil? Dia telah menjawab semua do'a dan usaha Erika juga Ade, dengan sesuatu yang sangat berharga, yang tidak dapat mereka tukar dengan apapun.
Tapi, semuanya berubah bak sebuah ujian lain, saat rumah tangga Erika dan Ade sedang goyah. Erika memilih menyembunyikan kehamilannya dalam diam, untuk dirinya sendiri.
Sadar sudah terjerembab jauh dalam lamunan, Erika menarik dan mengembuskan nafasnya panjang. Ia menantikan kedatangan Ade. Pria itu akan datang berkunjung sepulang kerja sesuai kemauan Erika. Makan malam juga sudah dihidangkan oleh Erika di atas meja makan.
Tak lama kemudian, suara deru mobil Ade terdengar. Erika memperbaiki posisi duduknya, lantas menunggu Ade memasuki rumah.
Jantungnya berdebar kencang karena takut keinginannya untuk berpisah dari pria itu gagal karena Ade tidak mengabulkan. Ya, dia takut Ade tidak mau melepas dirinya dan membuat kehamilannya akan diketahui pria itu. Namun Erika telah memiliki beberapa opsi jika sampai Ade menolak gugatan cerainya. Yakni terus melanjutkan gugatan tersebut sendirian, atau bila gugatan tersebut juga tidak dikabulkan oleh pengadilan, dia memutuskan akan melarikan diri sejauh mungkin, bersembunyi agar Ade tidak dapat menemukan dirinya yang tengah mengandung anak mereka.
Pintu didorong terbuka dan Ade muncul dengan sebuah senyum sapa yang dirindukan Erika. Sudah hampir satu minggu Erika tidak melihat Ade dirumah.
“Hai, De.” sapa Erika menyambut.
“Hai.” balas Ade dengan senyuman lelah yang terlihat begitu jelas. Tanpa Erika tau, Ade sedikit kecewa dengan panggilan yang dibuat Erika untuknya. Karena telinga Ade, sudah terbiasa dengan panggilan lama yang dulu selalu wanita itu ucapkan untuknya. “Nungguin aku?”
“Eumm.” angguk Erika mengiyakan. Ia tidak mau munafik atau menghindari sesuatu yang sudah seharusnya ia hadapi.
Ya, sudah beberapa hari Erika menahan keinginan Ade untuk pulang kerumah ini dengan alasan yang masih sama, harus menemani Refana agar wanita itu tidak kesepian dan sendirian karena sedang mengandung. Padahal, Erika sedang berfikir dan meyakinkan diri untuk mengambil keputusan berat dalam hidupnya. Yakni membatalkan gugatan, atau tetap melanjutkan langkahnya untuk berpisah dengan pria yang selama ini ia cintai.
“Gimana kabar Refa?” tanya Erika basa-basi agar tidak ada kecurigaan tentang tujuannya meminta Ade pulang secara tiba-tiba.
“Baik. Udah mau makan juga. Kemarin-kemarin kalau makan muntah terus.”
Erika tersenyum getir. Pasti senang rasanya diperhatikan dan di pantau terus seperti itu. Tapi sekali lagi ia menyadarkan dirinya sendiri, jika tidak seharusnya iri. Sudah menjadi keputusannya untuk bersembunyi. Mau tidak mau dia harus melewati seorang diri.
“Syukurlah.” bisiknya pelan, berdamai dengan perasaannya yang meronta ingin hal sama didapatkan Refa dari Ade.
Mungkin seluruh dunia akan meneriakinya bodoh karena tidak mau berterus terang. Tapi ini sudah mutlak menjadi keputusan Erika. Dia tidak ingin semuanya semakin runyam karena keterusterangannya kepada Ade.
Terbesit kembali kenangan yang ia ingat beberapa saat yang lalu. Erika pun menatap Ade dengan seulas senyum kecil di bibirnya, lantas bertanya, “Aku masih penasaran tentang saat itu.” katanya. Tidak peduli jika Ade telah lupa. Erika hanya ingin mengingatnya.
“Tentang apa?” tanya Ade sambil menoleh, mata mereka bertemu.
Dan ternyata, Ade memang kemungkinan besar tidak mengingatnya karena sudah terlalu lama.
“Ah, tidak. Lupakan. Aku hanya sedang melantur.” jawab Erika mengalihkan topik. Pasti akan ada penyesalan lain yang mereka rasakan jika sampai membahas masa lalu.
“Apa Er?”
“Tidak, tidak. Lupakan.”
Tatapan Ade berubah sendu. Ia pun memberanikan diri mengusap wajah tirus Erika. Rasa campur aduk menyambangi benaknya.
“Tolong, katakan saja, Er. Aku tidak keberatan.”
Erika mengerjap cepat, lantas mencari-cari alasan lain yang bisa membuat perhatian Ade teralihkan. Ia tidak ingin kembali tenggelam pada masalalu dan berakhir terbelenggu. Untuk itu, apa ini saatnya? Apa harus sekarang Erika mengutarakan maksud dan tujuannya memanggil Ade untuk datang?
Ditengah kecamuk riuh didalam kepalanya, Erika tiba-tiba dikejutkan oleh bibirnya yang bersatu dengan milik Ade. Nafasnya berubah berat dengan jantung berdegup lambat hingga matanya berkunang. Telapak tangannya mengepal erat disisi tubuh agar semuanya terkontrol. Hingga akhirnya mata Erika menangkap iris mata Ade yang perlahan tertutup oleh kelopak matanya. Erika turut memejam dan memberanikan diri untuk menyentuh satu sisi lengan Ade.
Erika anggap, ini adalah ciuman terakhir mereka.
Sebuah ciuman perpisahan. []
...Bersambung...
...🌼🌼🌼...