
Mau take down udah terlanjur jauh part yang di up. Ya sudah lah, lanjut saja sampai tamat. Silahkan beri like dan komentar jika berkenan.
Oh ya, BTW cerita ini dibuat hanya untuk hiburan suntuk semata ya, dilarang terlalu baper atau di kait-kaitkan apalagi dibawa ke dunia nyata, karena ini hanya cerita fiksi. Tidak ada tujuan untuk memberi pesan ataupun kesan buruk kepada pembaca. Tolong diambil positifnya saja, dan buang yang negatif yess
Terima kasih
...Recognize You by VizcaVida...
...Happy reading...
...[•]...
Beberapa hari belakangan, suasana kantor memang sedikit riuh oleh berita tidak mengenakkan yang beredar dari mulut ke mulut, yang membicarakan tentang hubungan antara Ade dan Refana di kantor.
Tidak sedikit yang menganggap, Refana adalah orang yang berusaha membuat Ade tertarik dan terpesona padanya. Hingga mereka pun sampai membawa-bawa kehidupan pribadi Ade, dan tentu saja membawa-bawa serta keluarga Refana.
Berita mereka berselingkuh membuat Ade yang secara tidak sengaja mendengar nya pun, merasa tidak nyaman dan menahan amarah. Pekerjaan juga menjadi berantakan karena beban pikiran yang membuat carut marut bersama isi hatinya yang terlanjur tersulut emosi.
Dan ujungnya adalah malam ini, Ade ingin bicara banyak dengan Refana.
Salah satu restoran bergaya western menjadi tujuan Ade dan Refana. Beberapa menu yang tersedia pun begitu kental dengan nuansa ke eropa-an. Tidak hanya itu, tempat yang disediakan pun cukup bisa di jadikan tempat untuk membicarakan hal rahasia karena jaraknya yang cukup jauh dari satu meja ke meja yang lainnya.
Ade menerima buku menu dari sang pramusaji. Dia mendengar rekomendasi yang diberitahukan oleh wanita muda di sampingnya, lalu memutuskan memesan beef steak untuk dirinya. Sedangkan Refana lebih memilih menu yang dibuat dengan bahan dasar ayam karena dirinya tidak begitu menyukai daging. Refana memesan herb roasted chicken untuk menu makan malamnya.
Tatapan mereka bertemu untuk beberapa detik, hingga Refana memilih untuk membuang muka dan menatap hujan yang masih belum mau reda di luar sana.
“Aku, ingin memberitahumu sesuatu, Ref.”
Refana menoleh dan kembali menaruh atensinya pada Ade.
“Silahkan, pak.”
Ade tersenyum mendengar suara halus Refana saat berbicara padanya.
“Tolong jangan salah sangka lebih dulu sama sikap aku ini, ya.”
Refana menatap dalam, pria dihadapannya itu.
“Aku, sedang ada masalah dirumah, lebih tepatnya sama istri yang salahpaham sama kamu.” katanya berlanjut. Ia tidak ingin menambah kesalahpahaman pada orang lain.
“S-saya tidak mengerti maksud bapak.” sela Refana menjawab.
“Istri saya marah saat pertama kali saya bertemu dan menawari kamu tumpangan, hari itu.”
Refana terlonjak kaget, bertanya-tanya dengan air mukanya yang terlihat sedikit mengerut. Apa ada seseorang yang mengadu?
“Parfum kamu,” Ade menjeda kalimatnya, kemudian menunduk sebentar sebelum kembali menatap Refana dengan tatapan intens. “—masih tersisa saat istri saya dan saya menggunakan mobil untuk pergi.”
Refana meremas jemarinya karena takut. “Ma-maafkan saya, pak.”
Mendengar perkataan Ade, perasaan tidak enak muncul begitu saja dalam benak Refana. Dia tidak menduga jika buntut dari meng-iyakan ajakan Ade, menjadi problem dalam rumah tangga pria tersebut. Lalu, bagaimana dengan hari ini?
“Kamu tidak perlu merasa bersalah karena itu memang bukan salah kamu.” kata Ade mencoba meyakinkan agar Refana yang terlihat khawatir itu, tidak semakin tersudut. “Aku berkata seperti ini, karena aku hanya ingin berkata jujur. Hanya ingin memberitahu kamu agar kamu tidak menyalahkan dirimu sendiri saat mendengar orang-orang membicarakan kita.”
Refana sendiri bingung, seharusnya dengan berita yang tersebar seperti itu, dia harus menghindari Ade, menjauh sejauh-jauhnya agar berita tidak enak tersebut segera sirna. Tapi entah mengapa, setiap melihat Ade, ia justru tunduk dan seperti terkena hipnotis oleh persona pria tersebut.
“Saya tidak apa-apa dengan berita di kantor kok, pak.”
Ade tau, Refana berkata seperti itu hanya untuk menutupi rasa tidak nyamannya. “Saya juga tau, kamu pasti tidak nyaman dengan berita-berita yang sedang beredar di kantor.”
“Saya yang tidak enak sama bapak, dan juga tentu saja istri bapak jika nanti berita itu melebar keluar.” Kata Refa, sengaja ia jeda untuk menata hati untuk kalimat berikutnya yang akan ia sampaikan. “Atau jika perlu, saya resign saja dari kantor.”
Tentu saja Refana harus berkata demikian. Itu bukan karena semata dia ingin menjaga nama baik dirinya sendiri, melainkan juga citra Ade dan perusahaan.
“Tidak. Jangan lakukan itu. Cukup abaikan saja semua hal yang coba mereka katakan. Aku rasa, ini bukan alasan yang tepat buat kamu keluar dari kantor. Kamu sudah berjuang untuk sampai di titik ini, jadi jangan menyerah begitu saja, Ref.”
Tidak masuk akal memang. Namun Ade juga tidak ingin melepas pegawai se-aktif Refana. Gadis ini, meskipun terhitung pegawai baru, namun sudah berhasil menunjukkan kinerjanya yang patut diacungi jempol.
“Saya merasa bersalah, pak.”
Akhir-akhir ini, berita tentang mereka berdua memang sedang di goreng oleh beberapa orang yang suka membuat gosip.
“Tidak. Ini bukan salah kamu. Ini salahku yang memaksa kamu ikut malam itu.”
“S-saya, takut bapak terkena masalah di kantor, karena saya.”
Ade meraih telapak tangan Refana dan menggenggamnya. Dia hanya bermaksud untuk menenangkan gadis itu agar tidak perlu terlalu khawatir dengan dirinya yang sudah biasa diterpa berita tidak mengenakkan seperti ini. Ya, Ade juga pernah mengalami hal yang sama saat masih baru menjabat sebagai kepala kantor. Tapi semuanya berlalu setelah dia tidak terbukti melakukan tuduhan yang ditujukan padanya, oleh hampir seluruh isi kantor.
Tapi kali ini berbeda. Banyak yang melihat Refana bersamanya hari itu, dan jujur Ade juga sedikit skeptis akan lolos dari masalah ini.
Refana mengangkat sorot matanya ke arah Ade. Kedua pipinya mendadak menghangat saat merasakan rengkuhan telapak tangan besar milik Ade yang menangkup telapak tangannya yang kecil. Dan yang membuat Refana semakin terkejut kaget adalah,
“Aku juga ingin berkata jujur, tidak ingin menutupi perasaanku sendiri.”
Refana tidak berhenti meneliti setiap jengkal wajah tampan pria bernama Made Pratama di hadapannya. Pria yang seharusnya ia hormati dan segani itu, selalu berhasil membuatnya berdebar dan merona. Refa tau, ini salah. Sangat salah. Tapi rasa bahagia ketika berada di samping Ade, tidak dapat ia sangkal sedikitpun.
“Aku tidak berharap kamu memiliki perasaan yang sama dengan yang aku rasakan.” lanjut Ade yang kini, merasa berdebar. “Tapi aku harap, kamu tidak keberatan mendengarnya.”
Atensi Refa terkunci pada dua pupil mata Ade yang menawan hatinya. Tatapan itu seolah menawarkan sebuah kebahagiaan yang didamba setiap wanita.
“Apa kamu keberatan, jika aku memiliki perasaan suka, ke kamu?”
Ada rasa tak terhingga yang membuat perut Refana terasa mual. Rasa membuncah yang membuatnya ingin menari di awan, dan seperti di jatuhkan dengan hempasan paling kuat dan menyakitkan oleh sebuah kenyataan. “Pria ini telah berkeluarga. Dia telah memiliki istri, Ref. Jangan pernah kamu coba-coba untuk masuk kedalam kehidupan bahagia mereka.” bisik hati kecilnya mengingatkan agar dirinya tidak menjadi orang ketiga yang akan merampas kebahagiaan orang lain demi kebahagiaannya sendiri. Refa tidak pernah diajarkan seperti itu oleh kedua orang tuanya. Dia tidak pernah di ajari untuk merampas dan merebut, apa yang bukan miliknya. Dia selalu memegang teguh untuk prinsip tersebut. Tapi kenapa tidak untuk kali ini? Refa ingin memilikinya juga. Ingin merasakan kebahagiaan yang seharusnya, tidak dia inginkan dari seorang pria yang telah beristri.
Refa menarik perlahan telapak tangannya agar dirinya kembali sadar atas keinginannya yang mustahil. Namun Refa bisa merasakan, jika Ade menahannya.
“Jika memang kamu keberatan, aku akan menjaga jarak dan berusaha menghindarimu.”
Benar-benar definisi mencari masalah. Ade tidak mengerti mengapa bisa senekat ini dengan mengungkapkan perasaannya secara gamblang pada gadis yang seharusnya tidak ada dalam hatinya.
“Sa-saya tidak ... keberatan, pak.” sahut Refana gusar.
Telapak tangan Ade yang semula begitu dingin, perlahan terasa menghangat diatas permukaan kulit halus Refana.
Tidak. Seharusnya ini tidak boleh terjadi. Seharusnya hatinya hanya untuk Erika. Seharusnya ...
“Terima kasih sudah membalasnya, Refa. Jika kamu berkenan, aku akan bersikap adil padamu, seperti yang kulakukan selama ini kepada ... ”
Erika. Mengapa nama itu begitu sakit dan sulit saat hendak ia sebut? Hati Ade ingin memaki mulutnya saat berkata demikian. Akan tetapi, lagi-lagi dia sudah terjebak dalam sebuah perangkap manis yang ia temukan selama melewati rintangan terjal, yang berusaha ia lalui dan hadapi selama ini.
Dia kembali mengulangi kalimatnya. “ ... seperti yang kulakukan selama ini kepada istriku.” []
...Bersambung...
...🌼🌼🌼...
###
Hadeh 😌