
...Recognize You by VizcaVida...
...Happy reading...
...[•]...
Tujuh bulan berlalu begitu saja. Setiap detik yang terasa berat, sudah lewat. Setiap kenangan yang mencekik, kini terlepas dan Erika bisa bernafas lega karena tidak lagi berada dalam lingkaran ikatan yang menyakitkan.
Dan kali ini, dunianya telah kembali. Hanya saja, dia harus rela kehilangan cinta terakhirnya, yakni Made Pratama. Orang yang seharusnya ada untuk menamainya saat ini. Ayah dari bayinya yang akan hadir ke dunia.
Sama seperti Erika, pria itu mungkin sedang menunggu kelahiran bayinya disana, sekarang. Usia kehamilan Erika dan Refana tidak terpaut jauh. Hanya kisaran satu sampai dua minggu saja yang artinya, Refana juga akan segera melahirkan.
Erika tersenyum. Dia bisa melihat betapa menyenangkannya menjadi seorang ibu. Ada janin yang bergerak-gerak menendang, memberikan respon didalam perutnya saat ia berbicara. Lalu, ia akan mengusapnya lembut penuh perhatian, lantas kembali tersenyum dan mulai mengajaknya bicara lagi.
“Seandainya papa tau kamu ada, pasti kamu juga akan merasakan bagaimana telapak tangan papa ngusap kamu kayak gini.” bisiknya pelan pada sang buah hati di dalam sana yang sejenak berhenti bergerak. Mungkin, dia sedang mendengarkan suara sang ibu yang sedang mengajaknya berbicara. “Maafkan mama sudah membuat keputusan seperti ini, sayang. Maafkan mama sudah memisahkan kamu dengan papamu.” bisiknya lagi, kali ini dengan suara sumbang sedikit bergetar, getir.
Satu tendangan lembut menyapa dinding perut Erika seolah memberikan jawaban yang membuat hati wanita itu terenyuh. Menangis bukanlah opsi karena semuanya sudah berjalan tujuh bulan yang lalu. Matanya sudah lelah meneteskan air mata.Ia hanya perlu bahagia, karena bayi didalam perutnya akan segera melihat kelap-kelip dunia, akan ikut merasakan bagaimana cara kerja dunia pada seorang anak manusia. Dan ya, Erika hanya bisa berharap, semoga saja kelak nasib anaknya jauh lebih baik dari dirinya. Dia tak pernah lelah melantunkan do'a ke langit. Berharap sampai, dan didengar oleh sang Kuasa pemilik hidup umat manusia.
“Tapi kamu harus tau, papa kamu itu orangnya baik. Sayang sama mama yang tentunya pasti juga sayang sama kamu, kalau dia tau kamu ada di dalam perut mama.” ucapnya sambil membuat usapan melingkar diperutnya yang sudah sangat besar. Perceraiannya dengan Ade tujuh bulan yang lalu, selalu menjadikan sebuah motifasi bagi Erika untuk terus memperbaiki diri. Terutama saat mengambil sebuah keputusan untuk masa depan yang tidak bisa ia abaikan.
“Mama sudah mempersiapkan banyak hal untuk masa depan kamu sayang. Mama harap, nanti kamu jadi anak yang baik seperti papa, ya?”
Erika mengubah posisi duduknya jadi berbaring miring. Ia siap mengarungi alam mimpi bersama calon buah hatinya yang sudah tidak sabar ingin segera ia timang. Akan tetapi, entah mengapa tingkah janin dalam perutnya begitu agresif malam ini. Sampai-sampai Erika sulit menutup mata.
“Sayang, bobo yuk. Mama udah ngantuk.” bisiknya sambil lagi-lagi, mengusap perutnya yang masih bergerak karena tendangan dan tinjuan dari si penghuni didalam sana. “Oke, besok kita jalan-jalan keliling kompleks. Tapi untuk malam ini, bobo dulu yah sayang. Badan mama capek.”
Erika tidak berbohong soal kondisinya yang memang sedang lelah. Sejak pagi, dia menghadiri salah satu acara fan meeting sebuah buku miliknya yang baru saja diluncurkan oleh salah satu penerbit bergengsi yang sudah langganan menerbitkan karya memukau buatannya. Lalu siang harinya, Erika harus menyetir seorang diri untuk sampai rumah, lalu berlanjut bebersih rumah sampai waktu menunjuk angka lima. Belum berakhir disitu, dia juga harus memasak untuk makan malam sembari mengecek ulang naskah buku baru yang sedang on progres. Dan baru pukul sembilan malam lah, Erika bisa merebahkan badan dan punggungnya diatas kasur.
Label wanita pekerja keras, selalu mendorong Erika untuk bergerak. Tidak peduli meskipun perutnya sudah membesar, dan gerakannya terbatas. Dia tidak ingin bermalas-malasan saat dunia menuntutnya untuk kembali mencari penghidupan. Tidak ada yang berusaha ia mintai bantuan, dengan dalih tidak ingin merepotkan. Semua sudah ia susun secara terperinci, termasuk bagaimana cara anak dalam kandungannya nanti lahir. Erika memilih metode caesar untuk kelahiran bayinya. Karena dia harus mengurus semuanya seorang diri, jadi dia tidak ingin jika tiba-tiba mengalami kontraksi yang akan membuatnya kesulitan pergi kerumah sakit. Dia sudah menentukan tanggalnya bisa melihat sang buah hati. Minggu depan. Ya, Minggu depan. Hari yang sama dengan hari Ade terlahir ke dunia.
Entah mengapa, dia tidak ingin menghapus sosok Ade dari calon bayi yang sedang ada dalam kandungannya. Dia ingin dunia tau jika bayinya memiliki seorang ayah.
“Nanti, kalau kamu udah bisa nemeni mama di kamar ini, kamu jadi anak yang baik ya? Mama akan ngurus kamu sebisa mama, sebaik mungkin.” gumamnya sambil memejamkan mata dan mengusap perutnya yang sekarang lebih tenang. “Oke sayang, mama bobo dulu ya? Mama sayang kamu.”
Interaksi seperti itu, selalu Erika lakukan agar yang ada didalam sana, juga merasa disayang. Kata dokter, hal ini berdampak cukup baik kedepannya ketika bayi sudah lahir ke dunia. Dia akan mengenali jenis suara yang sering mengajaknya berinteraksi, dan bisa jadi ikatan emosional mereka juga akan lebih kuat.
“Mama akan berusaha untuk membuat kamu, merasa disayangi penuh, tanpa kekurangan sedikitpun.” Erika tersenyum getir menyadari kenyataan jika anaknylah yang harus menanggung semua akibat dari pilihannya ini. “Cuma itu, janji kecil mama buat kamu, nak.” []
...Bersambung...
...🌼🌼🌼...