Recognize You

Recognize You
13. Hancur, Lebur




...Recognize You by VizcaVida...


...Happy reading...


...[•]...


Satu minggu, dua minggu, tiga minggu berlalu begitu saja, hingga semuanya telah lewat satu setengah bulan. Refana menunggu dan selalu berusaha untuk meminta kepada Ade agar dipertemukan dengan Erika. Dia ingin memohon ampun dan meminta pemberian maaf untuk kesalahan besar yang telah dia buat bersama suami wanita tersebut, yang merupakan kekasihnya.


Untuk saat ini, tidak ada yang tau hubungannya dengan sang atasan karena keduanya selalu berhasil mendapatkan celah untuk bertemu di jam-jam tertentu. Satu jam setelah pulang kerja misalnya.


Ade pun demikian. Dirumah, dia sudah berusaha meyakinkan Erika agar mau bicara dan bertatap muka dengannya. Tapi nahas, dengan keras Erika menolak. Dia sama sekali tidak mempedulikan Ade yang memohon belas kasih padanya. Erika sudah membunuh rasa cinta dalam hatinya untuk Ade.


Dan ujungnya malam ini, Ade dan Refana kembali bertemu seperti pasangan tidak tau diri. Keduanya masih diam dengan kecamuk isi kepala masing-masing di dalam mobil yang sengaja berhenti di tepian taman yang masih sepi. Tak lama berselang, Ade mengembuskan napasnya cukup besar dan meremas surai hitamnya yang masih rapi. Sedangkan Refana, tertunduk menatap jarinya yang sibuk meremat satu sama lain. Pupilnya berkabut tebal hendak runtuh saat mengetahui kenyataan yang ia dan sang kekasih, beberapa saat lalu.


“Sudah berapa usianya?” tanya Ade pada Refana yang masih setia menunduk. Mereka baru saja mendatangi salah satu klinik salah satu dokter kandungan untuk memeriksakan dan memastikan jika apa yang diduga Refana, tidak lah salah. Dan ternyata, dia memang ada. Dia memang hadir.


“Ti-tiga minggu,”


Ade meremat kuat kemudi mobil hingga jarinya memutih. Dia tidak akan sanggup memberitahukan hal ini kepada Erika. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Di satu sisi, jiwa prianya bahagia karena pada akhirnya, dia akan menjadi seorang ayah. Tapi, disisi lain, jiwa seorang suaminya memaki betapa pengecut dirinya sendiri karena berbuat curang hingga janin itu muncul di rahim wanita lain yang bukan istrinya.


“Ck!!” Ade mendecak, kesal pada dirinya sendiri.


“Sa-saya ingin memberitahukan ini kepada mbak Erika.” kata Refana terbata. Ia benar-benar merasa berlumur dosa telah mengkhianati perempuan itu.


“Dia tidak mau bicara dengan siapapun, Ref.” tegas Ade dengan nada sedikit meninggi. Tidak bermaksud meneriaki Refana, tapi lebih marah pada dirinya nya sendiri karena tidak juga menemukan jalan keluar untuk masalah seserius ini. Sudah sejauh ini dia bersembunyi dari orang tua Erika juga orang tuanya sendiri.


“Lalu bagaimana, pak. Saya juga tidak mau terus merasa bersalah dan berdosa sama istri bapak.” sahut Refana dengan nada tak kalah tinggi. Jalan pikirannya buntu, tidak ada jalan lain selain membuat pengakuan dosa didepan Erika, dan tentu saja Tuhan. “Pertemukan kami, bagaimanapun caranya.”


Ade menatap nyalang pada Refana. “Baiklah. Ayo kerumah. Kita bicarakan semuanya.” kata Ade dengan raut datar sarat putus asa. “Kita bicarakan tentang kedepannya, termasuk tanggung jawabku atas kehamilan kamu.”


Refana menitihkan air mata. Sumpah demi Tuhan, dia tidak menginginkan sampai sejauh ini, apalagi sampai mengorbankan kebahagiaan orang lain. Tapi semuanya sudah terlanjur, tidak bisa lagi dihentikan kecuali ...


Ah, dihentikan. Kenapa tidak kepikiran sejak tadi?


“Apa kita hentikan saja kehamilan saya? Mungkin semuanya bisa—” kata Refana yang langsung disambar oleh Ade.


“Di hentikan? Apa kamu gila? Pikirkan baik-baik ucapanmu, sebelum kamu bicara ngawur begitu!” bentak Ade membuat Refana tersentak kaget dengan raut ketakutan. Memang, dia hanya bicara asal, namun tidak ada pilihan lain dalam benaknya. Refana seperti ingin gila.


“Lalu bagaimana?” sahut Refana disusul isakan tangis yang mulai terdengar memenuhi kabin mobil.


Ade tidak sampai hati melihat Refana menangis. Jika bukan karena dirinya, semua tidak akan serunyam ini. Jika dia tidak membuka celah untuk menjalin hubungan bersama Refa, gadis itu tidak akan ikut terseret masalah rumah tangganya.


Lengan Ade terulur mengusap puncak kepala Refana. Matanya ikut berkabut. Bagaimanapun, janin yang ada dalam rahim perempuan itu adalah anaknya.


“Baiklah. Mari kita bertemu Erika, malam ini.”


***


Refana meremat baju yang ia kenakan. Ade tidak kunjung kembali ke ruang tamu. Ia bahkan bisa mendengar sayup-sayup suara Ade menyebut nama Erika. Bibir bawahnya ia gigit kuat saat menunggu semuanya akan diungkapkan hari ini. Seperti seseorang yang sedang menunggu di eksekusi, Refana pasrah. Ia akan menerima apapun keputusan yang akan diberikan padanya, nanti.


“Er, ku mohon. Ayo kita bicara. Refa menunggumu di ruang tamu.” bujuk Ade untuk kesekian kali. Sudah hampir satu jam dia berdiri di depan pintu kamar yang ditempati oleh Erika setelah pertengkaran malam itu. Erika bersungguh-sungguh dengan ucapannya, tentang menolak sentuhan Ade.


“Aku ... akan menjadi seorang ayah.”


Tidak ada jalan lain. Terpaksa Ade mengatakan itu agar Erika membuka pintu. Dan, berhasil.


Ade bisa menangkap dengan begitu jelas wajah Erika yang terlihat kacau. Airmata perempuan itu jatuh dari kedua pelupuk matanya. Puncak hidungnya memerah, dan bibirnya bergetar seperti ingin bicara.


“Mengapa kamu mengatakan itu kepadaku? Apa kamu ingin mengolok aku, suamiku tersayang?”


Bagai dihantam gada, hati Ade terasa begitu sakit saat Erika menggunakan kalimat sarkas dengan sebutan sayang padanya. Ia akui, sudah salah bicara.


“Tidak. Aku tidak ada tujuan seperti itu. Aku hanya ingin bicara banyak denganmu, dan juga ... Refana.”


Erika membuang muka ke samping. Airmatanya kembali jatuh. Oke, terkabul.


Erika melepas tautan pintu, lantas melewati Ade begitu saja dan berjalan menuju ruang tamu, dimana orang ketiga berada.


Hatinya kembali disambangi denyut nyeri luar biasa saat matanya bertemu dengan mata milik gadis muda yang kata Ade tadi, sedang mengandung anaknya.


Duduk perlahan di seberang arah berlawanan, Erika memposisikan dirinya dengan tenang meskipun mata dan hidungnya memerah sehabis tangis. Menyorot orang ketiga dan sang suami secara bergantian. Kini terlihat jelas, bak dua orang pendosa yang sedang menunggu putusan keadilan atas dosa mereka.


Tidak ada yang bersuara, hanya desir halus pendingin ruangan yang terdengar untuk beberapa saat. Kemudian, Ade mulai menginterupsi dengan kalimat yang mampu membuat Erika berkunang. Pria itu berkata,


“Refana hamil, Er. Aku adalah ayah dari bakal janin yang ada dalam kandungannya.”


Erika meneteskan airmata. Tidak taukah dua orang didepannya itu, sesakit apa jiwa dan raganya saat ini? Ah, lebih tepatnya setelah tau jika hubungan gelap mereka membuahkan hasil?


Sialan!!


Dengan cepat, Erika mengesat airmatanya yang jatuh entah untuk beberapa kali. Matanya berkedip cepat diantara tatapan datar dan kosong matanya.


“Maafkan kami, Er.”


Semudah itukah? Lalu, apa Erika juga harus dengan mudah memaafkan?


Erika mulai membuka bibir. Bukan untuk bicara, bukan. Tapi untuk tertawa sambil menangis seperti orang gila yang tersesat dan tidak tau arah kembali. Semenyedihkan itu dirinya. Bila perlu, Erika ingin bertanya, mengapa dia diciptakan untuk mengemban kenyataan sepahit ini? Jika bukan karena ingin bertahan, Erika sudah pasti memilih kembali pada sang pemilik hidup.


Suara tawa yang begitu pilu dan menyayat hati itu menjadi alasan Refana tertunduk dan menangis tersedu.


“Lalu, sekarang aku harus bagaimana, De? Aku harus ngapain?” tanya Erika diantara kehancuran yang mengungkungnya hingga terasa seperti akan mati. “Menerima wanita yang kamu hamili ini? Lalu, mengakui anak kalian sebagai anakku?”


Refana tidak berhenti meremas ujung dress selututnya.


“Jangan bercanda.” lanjut Erika yang masih tetap dengan janjinya di awal, berkeras hati untuk menolak Refana dan juga ... anak sang suami yang ada di dalam rahim wanita itu. “Kalian berdua benar-benar membuatku ingin tertawa sampai mati. Lucu sekali.”


“Aku sudah membicarakan dengan Refa, Er. Kita bisa—”


“Menjadikan dia bagian dari pernikahan kita?” sahut Erika memotong ucapan Ade. “Tidak. Itu tidak akan terjadi. Anak itu, tidak akan pernah memiliki hak apapun disini.”


“Tapi dia anakku, Er—”


“Tapi dia bukan anakku!” lagi-lagi Erika menyahut cepat. Mengungkapkan kalimat yang membuat Ade tidak bisa berkutik. “Kalau kamu ingin mencampur adukkan yang benar dan salah, itu mustahil, De. Selamanya, anak itu tidak akan pernah menjadi anakku.”


Ade menyugar dan meremas surai bagian belakangnya. Erika sangat keras kepala dan Ade tidak bisa mengubah apalagi meluluhkan hati teguh wanita yang masih ia cintai itu.


“Tolong, terima dia dan anak kami, Er.”


Erika tertawa kejam disudut bibir. Dia merasa menang sekarang. “Tidak. Tidak akan pernah. Sampai kapanpun.”


Ade mendecak sebal dengan kedua telapak tangan mengepal. Sedangkan Refana, kini berjalan cepat, kemudian bersimpuh di kedua kaki Erika. “Tolong maafkan saya, mbak. Tolong ampuni kesalahan saya.” mohon Redana berderai air mata. Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain meminta maaf kepada Erika yang telah ia sakiti. “Saya mohon, maafkan saya, mbak.”


Erika mengepal kuat, jari-jari tangannya memutih. Ia berkali-kali membuang muka untuk membuktikan jika dia tidak mau memberi maaf atas kecurangan keduanya, atas kecurangan suami dan perempuan dihadapannya ini.


Tapi mau bagaimana lagi?


Nasi sudah menjadi bubur.


Hancur, lebur.


Perempuan muda dan cantik inilah yang sudah berhasil memberikan keturunan kepada suaminya. Maka, dengan berat hati Erika berkata,


“Menikahlah dengan ... ” Erika menjeda kalimatnya, ia tidak sanggup menyebut nama sang suami. Ia pun tersedu hingga kedua bahunya bergetar. Erika mencoba meyakinkan dirinya sendiri, jika dia harus kuat. Jika dia harus bisa menerima keadaan karena, ini semua bermula dari keinginannya yang tidak masuk di akal.


Sumpah demi Tuhan, Erika berusaha ikhlas untuk keduanya. Namun entah mengapa begitu berat dan menjadi beban yang begitu menyiksa batinnya.


“Menikahlah dengan pria yang aku cintai selama ini. Jadilah ibu dari anak-anaknya. Ku mohon, cintai dia, seperti aku mencintainya.” []


...Bersambung...


...🌼🌼🌼...