
...Recognize You by VizcaVida...
...Happy reading...
...[•]...
“Apa yang kamu lakukan disini, De?”
Pertanyaan yang disorongkan sang mantan istri, tak membuat Ade menghentikan langkahnya begitu saja. Dia semakin bergerak mendekat hingga atmosfer ruangan berubah kelam. Anita yang semula berdiri di sisi Anita, mundur menjauh.
Tatapan mata Ade yang buram, terkunci pada sosok mungil yang sedang mengisi perut kecilnya dengan air susu dalam dekapan Erika, lantas pupil mata itu naik menatap perempuan yang kini wajahnya terlihat pucat.
“Kenapa kamu sembunyikan ini dari aku, Er?”
Tak memberikan jawaban, Erika menarik Juna menjauh darinya, lantas meminta perawatan Anita untuk membawa bayi mungil nan tampan itu keluar dari ruangan dan kembali ke ruang dimana bayi itu akan di rawat.
Seperginya Anita, tatapan Erika tertumbuk pada Made Pratama, ayah dari bayi yang ia beri nama Arjuna Dewangga itu.
“Memangnya kenapa?”
“Er, kamu nggak bisa bikin aku putus asa kayak gini. Dia juga anak aku, Er.”
Erika tersenyum getir. Ini memang salahnya karena sudah menyembunyikan kehamilannya dari Ade.
“Tidak apa-apa. Aku bisa melewati ini sendiri—”
Tanpa Erika minta, Ade membawanya kedalam pelukan. Pria itu tergugu di bahu Erika.
“Sebenci itukah kamu padaku, sampai kamu tega memisahkan bayi itu dariku?”
Tidak mendapatkan jawaban di kepalanya, Erika berusaha mengendalikan diri agar tidak mendorong Ade, kemudian mencaci maki habis-habisan pria ini. Jawaban apa yang sebenarnya diinginkan pria itu?
“Jika memang karena kamu membenciku, seharusnya kamu hanya membenciku saja. Jangan menyembunyikan keberadaannya yang sudah kita tunggu selama bertahun-tahun itu, dariku.”
“Ini memang salahku. Tapi aku tidak ingin kembali membuat kesalahan. Aku tidak ingin membuat Refana terluka seperti yang aku rasakan.”
“Setidaknya, jangan membuat dirimu semakin terluka dan kesulitan seperti ini, Er.” sahut Ade cepat. Selama ini, dia terus mencari informasi tentang keberadaan Erika. Sulit sekali hingga dia putus asa dan datang menemui keluarga Erika untuk menanyakan kabar tentang wanita yang dicintainya ini. Dan apa yang dia dengar, sungguh membuatnya merasa tidak berguna. Ia baru tau, jika Erika mengandung anaknya. “Aku pasti akan—”
“Aku hanya tidak ingin membuat Refana terluka. Aku rasa alasanku sudah jelas, De. Jadi, tidak perlu lagi menyusun kepingan yang sudah hancur.”
Mendengar kalimat Erika, Ade menarik diri. Ia menjauhkan dirinya dari Erika yang terlihat meringis menahan sakit.
“Lalu, sekarang aku harus bagaimana, Er? Kita harus bagaimana?”
Erika diam tertunduk. Dia juga tidak tau. Yang ada dalam rencananya hanya, dia yang akan membesarkan anak itu sendirian. Erika tidak pernah memperhitungkan jika Ade akan datang kembali secepat ini.
“Coba beritahu aku. Sekarang aku harus bagaimana? Apa yang akan kita lakukan sekarang? Semua sudah terlanjur berantakan seperti ini?”
“Cukup kita jalani hidup masing-masing saja.” sahut Erika cukup mengejutkan. Ia bahkan memberanikan dirinya untuk menjawab seperti ini, karena dia tau, dia yang salah. “Semua sudah terlanjur. Kita hanya perlu hidup seperti sebelumnya. Aku, kamu, dan semua kenangan masalalu, tidak perlu kita rajut kembali. Cukup hidup masing-masing saja.”
Ade tertegun. Ia menancapkan sorot sendu pada pupil mata Erika, lantas tertunduk sambil memijat tulang hidungnya yang terasa berat.
“Kamu dan Refana juga akan memiliki bayi. Jadi aku mohon jangan kecewakan dia, De. Cintai yang ada. Cintai mereka berdua yang sekarang, bagian dari hidup kamu.”
Ade menggeleng tidak terima. Bagaimanapun juga, Erika dan bayi laki-laki yang baru dilahirkannya itu, seharusnya berhak bahagia. Berhak mendapatkan perhatian dan kasih sayangnya juga.
“Lalu bagaimana dengan kamu dan anak kita? Astaga Er ... ” Ade mendongak menatap langit-langit ruangan tempat Erika dirawat, dan berakhir mende-sah putus asa. Tidak ada jalan keluar lain, memang. Selain menjalani apa yang sudah menjadi pilihan mereka.
“Jangan lihat masalalu sebagai jalan yang akan kamu pilih, De. Lihat kedepan. Jalani masa depan.”
Ade kembali menjatuhkan tatapan matanya pada sang mantan istri. Erika tidak salah. Tapi rasa bersalah kembali bercokol di benak Ade.
“Aku akan memberitahu tentang kamu ke Refana.”
“Tidak. Jangan katakan apapun padanya.”
“Dia harus tau, Er.”
“Kamu akan menghancurkan hatinya jika melakukan itu, De.”
Semua sudah berada diujung jurang. Tidak ada jalan pintas, apalagi jalan kebebasan. Terpaksa, mereka harus sekali lagi terjun untuk tetap bertahan. Atau lebih tepatnya, untuk kembali hancur bersama.
“Er ... ”
“De, tolong jangan memaksakan kemauannya yang berujung pada ego.”
Ade diam menatap lurus Erika yang kini, menitihkan air mata.
“Namanya ... Juna. Arjuna Dewangga. Jika kamu bertanya kita harus apa sekarang,” Erika menjeda untuk meraup udara agar paru-parunya tidak terasa sesak. “Kita akan tetap seperti sekarang. Hidup masing-masing dan tidak lagi mencampuri urusan satu sama lain.”
Senyuman getir terulas lebar di bibir Ade. Bahkan, dia tidak diperkenankan untuk sekedar menyelipkan namanya untuk sang putra, yang baru sekarang ia ketahui kehadirannya. Ade merasa tidak berguna sama sekali.
“Kamu tetap papanya meskipun kita tidak bersama. Jadi—” Erika menelan ludahnya susah payah. Ternyata membicarakan soal anak, tidak semudah yang ia pikirkan. “ ... kunjungi dia jika memang kamu ingin bertemu. Aku tidak akan melarang kamu bertemu dengannya.”
Dengan berat hati, Erika mengubah sendiri keteguhan hatinya. Ia memikirkan nasib Juna kedepannya, jika nanti bayi mungil itu telah dewasa, dan menanyakan keberadaan sang papa.
“Tapi tolong, jangan pernah memaksanya untuk ikut bersamamu. Karena hanya dia yang aku miliki sekarang dan selamanya.”
Ade mengusap pipi Erika yang basah oleh air mata. “Baiklah. Aku akan melakukan apapun yang kamu katakan.”
“Terima kasih.” jawab Erika dengan suara parau karena menahan tangis yang begitu mencekik kerongkongan.
Pelukan kembali ia berikan kepada Erika. Keduanya menangis, meratapi nasib pernikahan mereka yang telah kandas dan hancur beberapa bulan lalu. Rasa bersalah juga menggeluti hati mereka masing-masing.
“Aku yang seharusnya berterima kasih padamu, Er. Kamu adalah wanita hebat yang pernah aku kenali.” []
Bersambung
🌼🌼🌼
###
Yuhuuuuuu....
Mampir juga yuk kakak ke cerita baru Othor Vi's. Nggak kalah seru Lho. 👇
Ini penggalan isi ceritanya 👇
...🌻🌻🌻...
Untuk cerita lebih lengkap, silahkan mampir dan baca ya kakbeb. Klik profil Vi's, ceritanya ada di box On Going. Jangan lupa tinggalkan jejaknya dengan cara berikan like, komen, dan subscribe, serta vote dan hadiah jika berkenan ☺️
Btw, ceritanya masih suepiiiii sekali kakbeb. Silahkan diramaikan 🥰
Terima kasih