Recognize You

Recognize You
20. Terkabul




...Recognize You by VizcaVida...


...Happy reading...


...[•]...


Siapa sih yang tidak ingin hidupnya selalu bahagia dan sempurna setiap saat tanpa ada celah untuk sebuah rintangan? Semua pasti berharap seperti itu. Tapi ada satu hal yang bisa dipetik dari sebuah rasa yang ‘tidak’ kita harapkan, yakni pelajaran hidup yang akan membawa kita menuju dewasa. Ya, dewasa dalam hal apapun, termasuk saat mengambil sebuah keputusan.


Namun kali ini kasus Erika dan Ade, berbeda. Erika yang awalnya hanya putus asa karena lelah, lalu mencoba meyakinkan diri untuk kembali bangkit lagi dan berjuang, terpaksa harus kecewa karena ucapannya berubah menjadi sebuah do'a yang ternyata begitu menyakitkan untuknya. Ade, memiliki hubungan dengan perempuan lain hingga perempuan itu mengandung benih dari sang suami yang amat dicintainya.


Demi Tuhan, Erika tidak pernah ingin membuat hubungannya bersama Ade menjadi sehancur ini, menjadi semenyedihkan ini. Ia hanya bermaksud memberikan apa yang mungkin diinginkan Ade darinya, namun tidak sanggup pria itu ungkapkan dengan gamblang kepadanya. Hanya itu, dengan cara baik-baik. Akan tetapi tidak seperti yang ia duga, semuanya terjadi. Perlahan membuat jiwa dan raga Erika tersiksa.


Sekarang, semua semakin rumit saat Ade menolak untuk berpisah dengannya dengan dalih tidak mendapatkan alasan yang bisa membuatnya mengabulkan gugatan Erika.


Lebih menyedihkan lagi untuk Erika, kini Ade memperketat pengawasan dengan cara sering pulang ke rumah lama, dan membawa Refana untuk tinggal bersama.


Awalnya, Erika juga yang meminta dan tidak keberatan jika Refana tinggal bersama mereka. Tapi kenyataannya, terasa begitu berbeda dan membuat Erika diliputi rasa iri, dengki, bahkan putus asa saat Ade memberikan perhatiannya kepada Refana.


Jika Refana bisa dengan terang-terangan meminta sesuatu yang ia inginkan karena ingin, Erika harus menyembunyikan semuanya untuk dirinya sendiri. Ia akan mewujudkan dan memenuhi keinginannya seorang diri, dengan caranya sendiri.


Seperti malam ini, dia tiba-tiba saja menginginkan martabak manis tengah malam. Suasana rumah sudah sepi. Lampu ruang tengah juga sudah dimatikan. Pintu kamar utama yang ditempati Ade dan Refana juga tertutup rapat. Ada rasa nyeri yang menyerbu hati Erika saat mendapati kenyataan jika Ade, tidur bersama wanita lain.


Seulas senyum getir terbit di bibir Erika. “Menyesalkan sekarang kamu, Er? Ini pelajaran buat kamu, karena sok jadi pahlawan.” gumamnya pada dirinya sendiri. Ia melanjutkan perjalanan menuju dapur, dan mencari beberapa bahan untuk membuat telur dadar. Tidak mungkin dia membuat adonan martabak manis di tengah malam, untuk itu ia mengalihkannya dengan telur dadar. Ya, seperti itulah caranya agar semua rasa inginnya terpenuhi tanpa harus menyusahkan orang lain.


Ia mulai mencampurkan bawang dan potongan ayam ukep yang tadi pagi ia buat. Ah, ayam ukep memang selalu tersedia di dalam lemari pendingin untuk berjaga-jaga jika tiba-tiba Erika menginginkan sesuatu tengah malam. Dan makanan yang masih mau diterima lambung dan jabang bayi di dalam perutnya, adalah olahan ayam.


Aroma sedang mulai menguar ke seluruh sudut dapur. Liur Erika seakan ingin menetes saat membayangkan betapa nikmatnya makanan tersebut. Senyuman tulus terulas hanya karena sebuah makanan.


“Bikin apa? Kenapa nggak tidur?”


Erika terkejut bukan main. Ia menoleh dan mendapati Ade berdiri diambang pintu penghubung dengan kedua lengan dilipat di depan dada.


“Kamu kenapa nggak tidur?” Erika menjawab dengan cara membalik pertanyaan kepada Ade. Tanpa sepengetahuan Erika, ternyata Ade tidur diruang tengah.


“Udah tadi. Tapi denger kamu sibuk di dapur, aku jadi kebangun.”


Erika kembali memutar kepala menatap wajan dan spatulanya. Dia melanjutkan pekerjaannya membuat telur dadar. “Ya udah. Kamu balik sana, tidur lagi.” titahnya pada Ade yang justru tidak dipenuhi. Ade justru memangkas jarak dan berdiri tidak jauh dari Erika berada.


“Kenapa malam-malam begini bikin telur dadar?”


Erika hanya diam. Ia mengambil saringan aluminium untuk meniruskan telur dadar miliknya. “Lagi pingin aja.” jawabnya singkat.


“Ada nasi nggak? Aku juga pingin bikin. Ikutan laper.” kata Ade yang sudah berjalan menuju rice cooker untuk mengecek sisa nasi yang ada disana. “Ah, masih.” gumamnya lantas berjalan menuju lemari pendingin dan menuju meja tempat kompor berada. Ia mulai mempersiapkan bahan untuk membuat telur dadar seperti Erika.


“Sana duduk aja. Aku bikinin.”


Menurut, Erika duduk tenang dan mulai menikmati telur dadar yang ia buat sambil memperhatikan Ade yang sedang berkutat di dapur membuat telur dadarnya. Setelah matang, Ade duduk berseberangan dengan Erika dan mulai melahap makanan yang tersaji di depannya.


“Tumbenan makan malem begini? Biasanya males?”


Harus memberikan jawaban apa? Tidak ada yang perlu di jawab bukan?


Erika hanya diam tak mengindahkan. Ia mencoba abai pada keingintahuan Ade pada kegiatan makan tengah malamnya. Erika rasa, dia harus bisa terus menutup kenyataan sampai hari itu tiba.


“Pingin aja.”


Ade menyorot Erika dengan mata sedikit menelisik. “Udah berubah pikiran?” tanyanya menginterupsi Erika.


“Engga. Nunggu kamu yang berubah pikiran.” jawab Erika santai yang justru membuat rasa lega yang sempat menyambangi Ade, memudar. Ternyata Erika diam karena menunggu keputusan atas penolakannya tempo hari, bukan karena sudah berubah pikiran.


“Er—”


“Aku serius, De. Aku pingin pisah.”


Tiba-tiba saja nafsu makan Ade menghilang, berganti mual hingga ingin muntah.


“Jadi, kamu sudah memutuskan itu? Mengambil langkah untuk pisah sama aku?”


Tidak ada jawaban sama sekali dari bibir Erika, namun Ade tau betul jawabannya. Tersenyum getir, Ade mengembuskan nafasnya yang terasa begitu menyakitkan. Dia tidak ingin melihat dan membuat Erika semakin tersakiti oleh nya. Untuk itu dia mengangguk pelan dan berkata, “Baiklah. Mari kita berpisah, jika itu mau mu, Er. Aku tidak akan mencegah keinginanmu.”


Air mata Erika tumpah. Ia tidak tau harus bahagia atau justru bersedih dan menyesali keputusan yang diambil Ade untuknya.


“Terima kasih. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu hari ini, De.” []


...Bersambung...


...🌼🌼🌼...


###


Kebaikan ya Er? Kenapa tidak terus terang saja sih? 😌


*Plakkk


Erika: Kan elu yang bikin ceritanya, Gobl*k!


Vi's: Eh, iya. Sorry Er. 😩


Pala Author kena geplak sama Erika teman-teman.