
...Recognize You by VizcaVida...
...Happy reading...
...🌼🌼🌼...
PS: Baca bab ini dengan cermat. Ada flashback yang author buat dengan gaya author sendiri, yang berbeda dengan flashback pada umumnya ya ☺️
Terima kasih
Sudah hampir dua Minggu, sikap Erika masih saja terlihat acuh. Padahal Ade sudah mencoba banyak cara, memutar otak untuk meluluhkan hati sang istri. Tapi nihil, Erika seperti mengunci hatinya hanya karena salah faham yang tidak memiliki saksi untuk menjelaskan bentuk kesalahpahaman yang terjadi.
Setelah menghabiskan satu kaleng soda dingin di dapur, Ade kembali ke kamar dan mendapati Erika yang tidur membelakanginya. Selimut menutup separuh tubuh perempuan itu, dan Ade tidak berniat untuk mengganggu Erika dan memberinya waktu lebih lama untuk paham dan mau menerima penjelasannya.
“Kamu udah tidur sayang?” tanya Ade pelan, berharap Erika menjawab namun tidak ia dapatkan. Ade mengalihkan tatapan matanya ke arah langit-langit kamar yang sekarang terasa begitu hampa. “Kamu udah minum obat?” lanjut Ade meskipun tidak didengar. “Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan ke kamu. Tapi sepertinya kamu belum mau aku ganggu ya?”
Ade sudah ada diujung rasa putus asa merayu dan mencoba meyakinkan Erika, namun sama sekali tak ada yang berhasil.
“Selamat malam, ya. Mimpi indah.” bisik Ade pelan sembari menatap punggung Erika, lantas bergerak sangat pelan untuk ikut mengarahkan tubuhnya menghadap ke arah berlawanan. Hubungan keduanya berubah dingin, dan hal itu dipicu oleh sikap Erika yang tidak mau mencoba luluh.
Mata Erika terbuka. Sebenarnya sejak tadi dia belum terlelap, hanya mencoba mengelabui Ade agar tidak mengganggunya dulu. Dia perlu menata hatinya yang sedang kacau akibat aroma vanilla yang tertinggal di kabin mobil suaminya saat itu.
Jemari Erika meremas kain selimut yang membebat tubuhnya. Wajahnya terlihat datar dengan sorot kosong. Tidak ada yang mau Erika bicarakan dengan sang suami sampai pria itu sampai nanti kenyataan yang akan menjawab, siapa pemilik aroma parfum itu.
Beberapa bulan lagi, Erika akan pergi jauh dari Ade karena proyek film dari salah satu novelnya akan di garap. Sutradara dan produser film itu meminta Erika untuk ikut karena butuh referensi bagus jika nanti ada scene yang butuh di revisi atau sensor.
Erika memejam, berharap besok lebih baik dari hari ini.
***
Tapi ternyata, harapannya semu.
Tiga bulan berlalu tanpa terasa. Baik Ade dan Erika sudah mulai terbiasa dengan hubungan mereka yang kini berubah dingin. Jarang ada percakapan, tidak saling terbuka, dan tentu saja tidak ada adegan ranjang sebagai pemersatu raga keduanya kala saling berseteru.
Ade sudah berusaha, dan Erika terkesan menyerah. Hubungan keduanya rasanya benar-benar mati. Tidak ada komunikasi berarti selain ungkapan tersembunyi yang diucapkan saat mata terlelap.
Melihat Erika mengemas pakaian kedalam koper, Ade membolakan mata. Bagaimana tidak? Tubuhnya yang lelah setelah bergelut dengan pekerjaan, tak disambut dengan pemandangan menyenangkan, melainkan sesuatu yang tidak pernah ia duga dan harapkan. Memang, tidak ada percakapan apapun akhir-akhir ini, dan Ade sangat terkejut melihat Erika berkemas hendak pergi tanpa sepengetahuan dan izin darinya.
“Mau kemana kamu?” tanya Ade panik, menarik satu lengan Erika hingga memaksa pekerjaan wanita itu terjeda.
“Semarang.” jawab Erika singkat.
Ade yang tidak diajak bicara dan tidak tau apa-apa, semakin mengerutkan kening. Mengapa Erika berubah drastis seperti ini? Usaha Ade untuk berbaikan seperti sia-sia. Dia seperti tidak dianggap dan tidak dihargai sebagai seorang kepala rumah tangga.
“Kamu harusnya ngomong ke aku, rundingin ini sama aku, Er.” kata Ade sedikit keras. Ia tidak suka dengan perilaku dan sikap Erika sebulanan ini.
“Untuk apa?”
“Er, aku ini suami kamu lho?!” tegasnya. Ade tidak ingin rumah tangganya hancur berantakan hanya karena sebuah kesalahpahaman yang seharusnya bisa terselesaikan tanpa harus berseteru. “Kalau kamu kayak gini, aku—”
“Aku sudah tanda tangan kontrak. Kalau aku mundur, aku harus bayar uang pinalti yang cukup besar—”
Bagi Ade, bukan masalah uang. Tapi tentang sebuah kepercayaan dan kejujuran yang sepertinya sudah luntur antara mereka.
“Makanya! Kenapa kamu nggak bicarain ini sama aku lebih dulu? Aku bisa kasih pendapat ke kamu untuk masalah seperti ini. Bukan malah pergi diam-diam tanpa izin dari aku, Er?!” sentak Ade yang kini membuat Erika mengangkat wajah. Tatapan mata Erika benar-benar kosong tanpa harapan. Dia putus asa.
“Percuma, sayang.” kata Erika mencoba melunak, namun tidak dengan hatinya yang terlanjur batu. Ia berdiri dan membelakangi Ade, lalu kembali bicara. “Kalau selama aku pergi, kamu ketemu sama perempuan yang bisa sayang sama kamu, dan bisa ngasih kamu anak, aku nggak apa-apa kok. Cukup bicara baik-baik ke aku, itu saja yang aku minta ke kamu.”
Sumpah demi Tuhan, Ade ingin sekali menampar mulut Erika karena sudah berbicara seperti itu. Dia pikir, Ade ini apa? Seenaknya tidur bersama wanita lain, begitu? Erika ingin Ade mewujudkan ucapannya dengan tidur dengan wanita lain, begitu? Atau ... Erika ingin dimadu?
“Kamu ngomong apa, sih?!” seru Ade dengan nada rendah hampir tak bersuara, karena sama sekali tidak percaya dengan apa yang diucapkan wanita yang ia cintai itu. Ya, dia sama sekali tidak percaya jika Erika akan membuat rumah tangga yang selama ini damai, menjadi kacau balau seperti sekarang.
Erika membungkuk lima belas derajat guna menutup koper dan menghindari tatapan mata Ade yang terlihat diselimuti kabut emosi. Ia lantas berjalan menuju meja rias dan memasukkan beberapa kebutuhan merias diri kedalam tas kecil khusus make-up.
“Aku minta sama kamu, jangan pergi.” tekan Ade, kini berhasil membuat Erika sedikit gentar karena nada suaranya yang terdengar dingin dan mengintimidasi. Seumur-umur, tidak pernah Erika mendengar suara Ade yang seperti ini.
Ade meraih salah satu botol parfum miliknya dari meja dengan gerakan sangat cepat, lalu melemparnya kuat-kuat disudut ruangan. Emosinya memuncak ketika Erika tidak mau mendengar ucapannya sama sekali dan memilih egois. Sedangkan Erika sendiri yang melihat itu cukup terkejut hingga kedua kakinya terpaku, tubuhnya bergetar takut melihat kemarahan Ade.
“Terserah!” teriak Ade sangat keras. “Terserah apa mau kamu sekarang! Jangan pernah salahkan aku kalau aku berbuat nekat, Er.”
Tidak ada maksud apapun dalam ucapan Ade. Hanya sebuah ancaman tak berarti, sebab dia hanya terjebak emosi karena takut Erika meninggalkannya. Ia tidak akan bisa melewati kesendirian yang nanti akan menderanya, seorang diri.
Sudah kepalang emosi, Ade meninggalkan kamar dan membanting pintu agar tertutup, hingga tubuh Erika terjingkat kaget. Seolah kesadarannya kembali, Erika menatap pintu yang sudah terkatup rapat itu, lantas mendengar deru mesin mobil Ade meninggalkan area rumah. Pria itu marah karenanya.
Memilih meneguhkan hati, Erika melanjutkan apa yang sempat terjeda dengan airmata yang sudah berlinang. Ia tau, semuanya bisa saja akan hancur setelah ia nekat pergi besok pagi, tapi tidak ada jalan lain ketika Erika ingat saat mendatangi kantor tempat Ade bekerja, hari itu.
“Anak emasnya pak Ade tuh.”
Erika ingat betul ucapan salah satu pegawai disana yang sedang membicarakan Ade. Ia sedang berada di lobby bawah, menunggu lift untuk membawa dirinya menuju lantai atas demi mengantar bekal milik Ade yang ia buat spesial, karena hari ini, pria itu berulang tahun yang ke 33 tahun. Erika ingin berbaikan. Bahkan dia juga membawa kado yang sengaja ia beli diam-diam tanpa sepengetahuan dari sang suami.
Masih bersama dua pegawai yang membicarakan kedekatan Ade dengan seorang pegawai di sini, Erika hanya diam memperhatikan tanpa berniat membuka masker agar identitasnya tidak di ketahui oleh dua orang didepannya.
“Dia pernah semobil sama pak Ade juga, loh.”
“Eum, gue juga denger berita itu. Apa dia nggak tau pak Ade udah punya bini? Atau memang sengaja pura-pura nggak tau ya? Secara pak Ade kan tampan dan mapan? Siapa sih yang enggak tertarik sama pria modelan begitu?”
Dua orang itu lantas cekikikan. Tapi tidak dengan Erika yang kini, meremas tali tas berisi makan siang untuk Ade.
“Ya, mungkin pak Ade jenuh kali sama istrinya. Orang nggak bisa ngasih anak. Sayang dong cantik-cantik tapi enggak bisa kasih anak ke suaminya yang ganteng gitu.”
Erika masih tetap diam. Hatinya teriris saat tau dirinya juga dibicarakan orang lain, yang bahkan sama sekali tidak dia kenal.
“Secara, si Refa itu juga cantik banget. Seksih lagi.”
“Gue iri pingin jadi Refa.”
“Jadi nama perempuan itu Refa?” batin Erika sendu. Mati-matian dia menahan tangisnya seorang diri. Rasa percaya dirinya kandas. Dia bukan orang yang pantas untuk Ade.
Dua orang yang asyik bergosip itu turun di lantai dua, sedangkan Erika, sudah terlanjur menekan tombol untuk lantai tiga ke tempat Ade berada.
Karena merasa moodnya hancur, Erika hanya berencana sampai disana saat lift membawanya, lantas turun kembali dan membawa pulang bekal makan siang Ade. Atau ... membuangnya saja? Percuma, perutnya sudah kehilangan nafsu makan setelah mendengar pembicaraan dua orang tadi.
Angka tiga muncul pada layar pemberitahuan berjenis dua dimensi pada sisi atas pintu lift. Pintu terbuka, dan aroma yang sama persis dengan yang ada di kabin mobil Ade saat itu, terhirup oleh Erika. Dadanya sesak mendapati sosok gadis muda berparas cantik dan bertubuh sintal, sedang menatapnya sejenak kemudian masuk kedalam lift yang sama dengannya. Saat pintu lift hendak tertutup, gadis yang membuat telapak tangan Erika bergetar itu, menekan tombol hold dan bertanya, “Mbak tidak turun disini?”
Erika tertegun mendengar suara lembut dan manis mendayu perempuan itu. Kelebat pikiran negatif berkecamuk. Salah satunya adalah, apa perempuan ini yang bernama Refa? Yang dibicarakan dia orang tadi, yang dekat dengan suaminya?
Erika tergugup saat mendengar perempuan muda itu kembali menegurnya dengan sebuah senyuman manis saat memanggil dirinya dengan kata ‘Mbak’.
“Ah tidak. Aku salah tekan tadi.”
Refa mengangguk dan melepas jari lentiknya dari sana, dan pintu lift tertutup sempurna.
Pantulan wajah dan tubuh gadis dihadapannya itu terus ia sorot. Erika seperti ingin pingsan mendapati kenyataan jika aroma di dalam kabin mobil suaminya itu, nyata adanya. Dan gadis cantik inilah pemiliknya.
Mungkinkah dugaan Erika tidak salah?
Sejenak, Erika menurunkan pandangan menatap jari kakinya yang memakai wedges hitam itu terasa begitu dingin. Lalu, dia memberanikan diri mengangkat wajah dan bertanya, “Eum, apa kamu yang bernama Refa?”
Erika menepuk dadanya yang terasa begitu sakit. Mengingat jawaban gadis itu, saat itu, sangat menyakitkan hingga rasanya tidak pernah mau pergi dari dirinya. Erika jatuh terduduk diatas ranjang. Ingatan bagaimana sikap manis sang suami padanya, terasa menyesakkan. Selama ini Ade meratukan dirinya, tapi takdir seperti sedang menguji keduanya yang membuat Erika menyerah pada kenyataan. Ia harap, dia tidak akan menyesal jika suatu saat nanti, Ade akan benar-benar meninggalkannya demi perempuan itu. Dia hanya ingin, Ade mendapatkan apa yang tidak bisa ia berikan. Karena Erika menganggap, jika Ade juga berhak bahagia. []
...Bersambung...
...🌼🌼🌼...
###
Ternyata oh ternyata ... 😂
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya ...