Recognize You

Recognize You
25. Akhir Cerita




...Recognize You by VizcaVida...


...Happy reading...


...[•]...


Semua sudah lewat tiga hari. Erika pun sudah diperbolehkan untuk pulang kerumah sebab kondisinya sudah benar-benar membaik. Ada ibu yang datang untuk menemaninya beberapa hari disini sampai dia membaik nanti. Tidak lupa hari ini, dia diantar bapak dari Juna, pasti taulah. Yup, Ade.


Sebenarnya, Erika menolak namun tidak diindahkan dan Ade tetap memaksa untuk mengantar Erika dan bayi mereka pulang. Erika sedikit geram karena secara tidak langsung, Ade akan mengetahui tempat tinggal barunya yang selama beberapa ini, dia sembunyikan dari pria tersebut.


Sia-sia.


“Aku tidak akan mengganggu kamu, Er. Aku hanya akan bertanggung jawab atas Juna untuk kedepannya.”


Alasan.


“Kalau kamu benci sama aku, nggak apa-apa. Benci saja. Tapi Juna tetap anak ku juga. Aku akan menafkahinya.”


Erika mencebik. “Terserah.” jawabnya putus asa. Perjuangannya untuk bersembunyi, sia-sia saja. “Yang terpenting, jangan lagi ikut campur urusan kehidupanku.”


Terdengar amat sangat egois, namun Erika bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Ia masih belum bisa melupakan masa lalunya yang terasa masih meremas hati. Dia tidak ingin Ade, kembali masuk kedalam kehidupannya.


“Siapa yang kasih tau kamu?”


Pertanyaan yang sudah Ade perhitungkan. Erika pasti akan menanyakan hal itu padanya. “Aku tidak akan memberitahu kamu, Er. Aku tau kamu orangnya kayak apa. Jadi kamu cukup tau, kalau aku sekarang sudah tau jika aku memiliki anak darimu. Itu saja sudah membuat satu beban dalam hidupku, seperti terangkat.” Ade melirik Erika sejenak. “Dan aku, akan menebusnya sekarang. Sedikit demi sedikit.”


Erika yang semula merasa dongkol, mulai luluh. Ia kembali disadarkan oleh kenyataan bahwa bayi yang ada dalam gendongannya saat ini, juga butuh pengakuan dari sang ayah. Juna berhak mendapatkan haknya, terlepas dari ego yang ia pasang tinggi-tinggi.


“Dan perlu kamu catat, De. Aku tidak akan bertanggung jawab atau disalahkan, jika rumah tangga kamu dan Refana berantakan, seperti apa yang pernah kita alami dulu. Aku tidak ingin menjadi orang yang menghancurkan kebahagiaan orang lain.”


“Tapi kamu sudah melakukan itu, Er. Kamu sudah melakukan itu, sejak lama. Tapi aku berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja.” sahut Ade cepat. Ia hanya ingin bersikap adil. Tidak ada tujuan lain. Dan untuk masalah kebahagiaan yang dikatakan Erika, Ade tidak berbohong. Dirinya sempat putus asa hingga menyerah. “Tapi aku, tidak akan memaksa apalagi meminta kamu untuk kembali padaku.”


Keduanya terdiam sejenak saat bayi Juna menggeliat hampir menangis mendengar suara Ade dan Erika yang sudah mulai meninggi bersitegang. Bayi mungil itu seolah mengingatkan keduanya agar tidak saling menekankan ego, dan meminta agar mereka berdamai.


“Maaf sayang. Juna kaget sama suara papa ya?” celetuk Ade dengan senyuman miris yang tidak bisa dia sembunyikan. Dia teramat menyesal tidak ikut memperhatikan pertumbuhan bayi itu didalam perut sang mama. “Papa minta maaf ya, sayang.”


Erika hampir menangis mendengar itu.


“Aku mohon sekali lagi sama kamu, Er. Jangan ambil semua tanggung jawab untuk Juna, sendirian. Libatkan aku, karena bagaimanapun aku adalah ayahnya. Dan kita, adalah orang tuanya.”


“Kita besarkan bersama, meskipun aku ... tidak bersama kalian setiap waktu.” lanjut Ade dengan suara lemah lembut. “Setidaknya, biarkan dia tau jika aku adalah ayahnya, terlepas bagaimana dia sendiri yang akan menilainya nanti, jika sudah dewasa. Biarkan dia sendiri yang memutuskan untuk tetap mau menerima aku, atau tidak.”


Mendadak, satu sisi dalam diri Erika tersentil kembali.


“Tolong biarkan aku ikut memberikan kelayakan finansial, saat kamu mengajarkannya kebaikan dan attitude sebagai seorang pria sejati ”


Tatapan Erika jatuh pada wajah tampan Juna yang hampir didominasi oleh gen Ade. Bayi kecil itu seperti menunjukkan dan ingin diakui, jika dia memang anak dari seorang Made Pratama.


“Dan perlu kamu tau juga. Aku tidak pernah menuntut apapun atas apa yang aku lakukan.”


Kali ini, mata Erika mulai berkaca-kaca. Dia mengangkat pandangannya dan membawa pupil matanya untuk menaruh atensi pada sosok pria yang kini tidak ada lagi ikatan apapun dengannya.


“Aku tidak pernah menyesal telah bertemu denganmu. Sedikitpun tidak.”


Senyuman kecil terbentang di bibir Ade. Lantas, kalimat selanjutnya membuat air mata Erika sepenuhnya tumpah.


“Sebut saja aku pria bodoh yang beruntung karena pernah memiliki wanita hebat seperti kamu. Katakan saja aku pria tidak tau diri yang beruntung sebab menemukan wanita seperti dirimu.”


Tatapan mata keduanya terkunci, dan senyuman manis yang dirindukan Erika, kini telah ia lihat. “Terima kasih untuk semuanya, Er. Pada akhirnya, kita hanya saling menemui, tidak untuk kembali bersama. Terima kasih sudah menghadirkan Juna, untukku. I'm lucky to have you, to ... recognize you.” []


...—Fin End—...


###


Terima kasih untuk semua dukungan kalian untuk cerita ini, ya kakbeb


Semoga semua kebaikan yang kalian berikan kepada Author, kembali kepada kalian. Semoga dilancarkan semua urusan kakak-kakak baik hati sekalian, ya ...


Sampai jumpa di cerita baru Othor, judulnya Face to Face. Silahkan mampir, ramaikan, dan berikan dukungan jika berkenan.


Sekali lagi, Othor Vi's ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya ya ...


See you


❤️❤️❤️