Recognize You

Recognize You
09. Terbiasa Melihatmu




...Recognize You by VizcaVida...


...Happy reading...


...[•]...


“Kalau menurut gue sih, mending Lo tarik ucapan Lo deh, Er. Daripada nanti Lo nyesel sendiri.”


Erika terlihat berfikir. Dia memang tidak pernah ada maksud untuk melepas Ade untuk orang lain. Erika hanya memberikan pria itu izin untuk memiliki anak dari wanita yang memang di kehendaki suami dan dirinya, atas sebuah ikatan.


“Gue cuma mau ngasih suami kesempatan untuk punya anak, Lis. Gue nggak pingin egois—”


“Itu bukan egois namanya, Er.” sahut Elis cepat, memotong kalimat Erika yang belum rampung diucapkan. “Menurut gue, yang pantas disebut egois itu, saat Lo maksa suami Lo buat punya anak dari wanita lain, sedangkan dia nggak mau.” lanjutnya membuat Erika terpaku dalam tunduk, memperhatikan ujung pantofel hitam yang ia kenakan. “Kalau Lo memang niat ngasih dia izin buat poligami,” Elis menjeda ucapannya demi meraih telapak tangan Erika dalam genggaman tangannya. Sebagai teman yang merangkap sebagai editor sekaligus manager Erika, Elis selalu memberikan Erika jawaban yang membuat wanita itu berfikir jernih untuk mengambil sebuah keputusan. “Lo harus siap dengan konsekuensinya suatu hari nanti, jika memang Ade bakalan berpaling dari elo, lebih mencintai dan menyayangi keluarga baru yang bisa membuatnya merasa sempurna.”


Mata Erika mulai berembun. Inilah yang selalu menjadi ganjalan dalam hati dan juga kepalanya saat memutuskan untuk meminta Ade mencari wanita lain yang bisa memberinya keturunan. Erika takut kehilangan pria yang selama ini ia cintai tanpa ujung.


“Sekarang, mending Lo bicarain lagi baik-baik sama Ade. Bilang kalau Lo nyesel bicara begitu, dan akan bangkit lagi buat berusaha mendapatkan momongan.” kata Elis yang justru membuat airmata Erika berlinang. Tidak ada lagi yang bisa ia tahan, terutama tangisan yang berusaha untuk ia sembunyikan selama ini saat sadar, dirinya tidaklah sempurna. Rasanya, badannya lemas tidak punya tenaga setelah sadar, kebodohan lain yang ia perbuat hanya karena keegoisan yang ingin dia bangun agar harga dirinya tidak jatuh.


“Kalau memang kalian ingin punya anak, sebaiknya kalian adopsi saja. Itu yang bisa aku saranin buat kebaikan hubungan kamu sama Ade, Er. Daripada nanti, sesuatu yang ngga kamu pingin terjadi. Maaf.”


***


Hujan turun teramat deras tanpa disangka-sangka. Ade yang memang baru saja merampungkan pekerjaan, terpaksa harus pulang ditengah guyuran hujan yang disertai petir menyambar cukup keras.


Ia turun ke basement menuju parkir area dimana mobilnya berada. Rasa lelahnya cukup mendera hari ini. Pulangpun, tidak akan mengubah kusutnya raga karena tak ada yang menyambutnya. Tak ada makanan juga, dan dia harus mampir sebentar untuk mencari pengganjal perut.


Suasana kantor memang sepi karena hampir seluruh karyawan sudah pulang sejak sekitar sejam yang lalu. Ade menghela nafas saat sudah duduk dan mengenakan sabuk pengaman dibalik kemudi mobil. Ia memutar kunci untuk menyalakan mesin beberapa saat agar mesin panas. Setelah itu, mobil melaju perlahan menuju batas luar basement yang membuat mobil kembali berhenti.


Ade melongok, mencondongkan badannya sedikit kedepan untuk melihat situasi hujan dari langit yang terlihat gelap karena mendung. Bahkan beberapa lampu depan kantor sudah dinyalakan lebih cepat dari biasanya. “Deres banget, tumben?”


Tak berselang lama, mobil Ade melaju perlahan dan berhenti sekali lagi sebab matanya menangkap sosok Refana yang duduk termenung menatap hujan yang turun deras mengguyur bumi. Mata Ade menatap sekitar, yang ternyata memang benar-benar sudah sepi. Ia pun memutuskan untuk menginjak pedal gas dan memutar kemudi ke arah kiri, lalu berhenti tepat di lobby masuk kantor. Ade menurunkan kaca jendela mobilnya. Tatapan yang sudah tidak asing dan mulai terbiasa di matanya itu, bertemu begitu saja.


Tak jauh berbeda dengan Ade yang mulai terbiasa, Refana pun demikian. Sosok Ade perlahan menjadi sebuah presensi yang begitu familiar dan mudah ia tebak.


“Pak Ade?” gumamnya pelan, lantas berdiri dan berjalan mendekat. Takutnya ada pesan atau sesuatu yang hendak disampaikan pria itu padanya, sebagai pegawai di divisi resepsionis. Perlu dicatat agar nanti tidak terjadi salah faham, Redana hanya ingin bersikap profesional sebagai atasan dan bawahan di kantor. “Ada apa, pak?” tanya Refa sedikit berteriak karena suaranya teredam hujan yang menghantam atap lobby dan jatuh ke permukaan tanah yang berbunyi cukup berisik.


“Belum pulang?” tanya Ade tak kalah berteriak.


“Ah, ini nanti saja kalau hujannya sudah sedikit reda, pak.”


Refana sedikit sungkan karena ternyata Ade tidak mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan. Dia segera ingin undur diri agar tidak dianggap berharap mendapatkan tumpangan. Tapi ...


“Bareng saya saja. Langitnya masih gelap. Sepertinya hujan nggak akan reda dalam waktu dekat.”


Sebenarnya, tawaran yang diberikan Ade cukup bermanfaat buat anak kos macam Refana. Selain hemat ongkos, dia juga tidak akan kehujanan apalagi berdesakan bersama orang yang tidak ia kenal. Namun dia tetap sadar diri, tau posisi jika yang ada didepan matanya, adalah orang yang harus ia hargai dan hormati.


“Lho, pak Ade baru pulang?” ini suara satpam yang sedang berjaga sore hingga malam nanti. Namanya pak Agus.


Ade hanya tersenyum dan kembali berteriak untuk Refana. “Ayo enggak apa-apa. Sekalian, kan satu arah sama rumah.”


Pak Agus menoleh pada Refana yang saat ini memberikan cengiran tidak enak hati. Terlalu malu kalau menerima terang-terangan didepan orang lain seperti ini. Tapi entah mengapa, pak Agus justru memberikan dukungan untuk sikap Ade yang dinilai Refana cukup membuatnya gemetar karena gugup dan takut. “Ndak apa-apa mbak. Dari pada nunggu hujan. Kayaknya masih lama lho ini.” kata pak Agus sambil melihat langit.


Refana menggaruk ujung alisnya sedikit canggung, lalu mengangguk dan melewati pak Agus demi menuju mobil milik Ade.


Setelah berhasil naik dan memasang seatbelt sendiri, Ade berpamitan dan menaikkan kembali kaca mobilnya, lantas menggesa jalanan menerjang hujan untuk mengantar Refana pulang terlebih dahulu.


“Saya merasa tidak enak, karena sering merepotkan pak Ade seperti ini.” celetuk Refana memecah hening.


Berbeda dengan Refana yang terlihat malu-malu, Ade terlihat tenang. Kepribadian pria itu memang selalu berhasil membuat suasana yang terlalu tegang menjadi sedikit santai. “Nggak apa-apa. Searah kok. Jadi kamu nggak merepotkan sama sekali.”


Ada setitik rasa nyaman dan bahagia di dalam hati Refana, saat bersama Ade. Namun kenyataan kembali harus memukulnya mundur dan membatasi diri. “Saya tidak enak kalau istri bapak melihat saya semobil dengan bapak. Takut jadi salah paham.”


Ade menoleh sebentar ke arah Refa berada, lantas tersenyum dan kembali melihat jalanan yang sedikit tenggelam didepan sana. “Tidak. Kamu tidak perlu khawatir.”


Terlalu jahat jika Ade menceritakan apa yang diinginkan Erika kepada Refa. Tapi mungkin, terbiasa melihat perempuan disampingnya itu, membuat Ade tidak lagi memikirkan masalah yang menderanya.


“Saya juga merasa tidak enak, pak. Karena bapak adalah atasan tempat saya bekerja.”


Benar kata pepatah, witing tresno jalaran soko kulino yang menjadi alibi. Ade sudah mulai terbiasa dengan Refana yang terlihat malu-malu ketika bersamanya.


Lagi-lagi Ade tersenyum, kali ini lebih hangat dan manis. Lantas, dia berkata. “Biasa saja, Ref. Anggap saja saya orang biasa saat diluar jam kerja kantor.”


Refana bergerak gusar menyelipkan rambut di balik telinga. “Sa-saya—”


“Temani saya makan malam, ya?”


Refana benar-benar tidak mengerti mengapa Ade bisa sesantai ini dengannya, hingga Refana tidak bisa menolak ajakan tersebut dan berakhir mengangguk mengiyakan.


“Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu.” katanya menginterupsi perhatian Refana yang sudah tidak lagi bisa fokus dengan debaran jantungnya sendiri.


“Bicara tentang apa, pak?”


Ade menatap sekilas wajah ayu Refana yang sekarang terlihat merona. “Tentang sesuatu yang aku rasakan, setelah terbiasa melihatmu.”[]


Bersambung


🌼🌼🌼


###


Apa yang akan terjadi selanjutnya?