
...Recognize You by VizcaVida...
...Happy reading...
...[•]...
“Bagaimana keadaan kamu, Er? Udah mendingan?” tanya Wahyu memastikan. Dia datang sebagai seorang teman ke ruangan tempat Erika dirawat. Jadwal prakteknya sudah selesai, dan sekarang dia tidak lagi mengenakan snelli putih di badannya. Hanya kemeja abu-abu yang lengannya di lipat sebatas siku, dan celana bahan berwarna hitam yang masih terlihat rapi. Ditangan kanannya, dia membawa parsel untuk si kecil.
Erika tersenyum. “Udah mendingan kok. Nggak sakit sama sekali malahan.” jawabnya lembut. Erika sendirian disini. Bayinya masih ada di ruang perawatan yang berbeda dengannya. Jika waktunya memberi ASI, perawat akan datang membawa bayi tampan yang diberi nama ‘Arjuna Dewangga’ kepada sang mama.
“ASI lancar?”
Agak canggung bagi Erika, tapi yang mengajaknya bicara adalah seorang dokter. Jadi, Erika mencoba biasa saja saat menjawab, “Iya. Sudah mulai keluar banyak ASI nya.”
“Syukurlah. Banyak yang ngeluh ASI susah keluar setelah metode Caesar. Tapi ya tergantung orangnya juga, sih. Kalau mau bersabar, pasti berhasil.” tutur Wahyu sembari meletakkan sebuket parsel yang ia bawa, dia atas meja.
“Aduh, merepotkan saja, Yu. Ngapain bawa hamper bayi segala sih?”
Wahyu tertawa kecil. “Masa iya jenguk bayi bawa cincin kawin, Er?” kelakarnya yang diimbuhi tawa jenaka oleh Erika.
Mereka memang sudah dekat. Sedangkan bersama Made, Erika, Wahyu, dan satu orang lagi yang sekarang bekerja di luar negeri. Wahyu selalu baik dan memperlakukan Erika seperti adik perempuan. Dia melindungi dan menjaga Erika dengan baik saat mereka masih duduk di bangku sekolah.
“Ya barang kali, mau ngelamar janda anak satu ini, yakan?”
Sekali lagi, mereka tertawa bersama. Hanya sebuah candaan, dan Erika yakin Wahyu juga tidak akan keberatan mendengarnya.
“Memangnya mau sama bujang lapuk macam saya?”
Merasa pembicaraan sudah melenceng jauh, Erika menutupnya dengan sebuah cengiran yang membuat Wahyu kembali mengulas senyum.
“Kalau bukan aku, pasti udah salah paham tuh yang dengerin gombalan kamu, udah gede kepala, dok Wahyu.” kata Erika, berharap candaan segera berakhir karena mungkin, Wahyu akan kesulitan menemukan jawaban. Tapi, semuanya diluar dugaan. Wahyu justru memberikan jawaban yang tidak Erika prediksi.
“Ya dibikin serius lah. Mana ada dalam kamus ku bikin baper anak orang? Kalau beneran baper, ya di ajak nikah.”
Satu tawa kembali lolos dari kerongkongan Erika yang tiba-tiba terasa kering. “Oke lah. Boleh lah jawabannya. Bertanggung jawab gitu ya, istilahnya?”
“Iya dong.” sahut Wahyu bangga setengah mati.
Tatapan mereka teralihkan pada pintu ruangan yang dibuka seseorang. Dan wanita berseragam hijau pastel memasuki ruangan dengan senyuman hangat di wajah ayunya datang mendekat sambil membawa bayi dalam gendongannya.
“Waktunya ASI, bunda.” kata si perawat yang memperpendek jarak. Ia lantas menyapa Wahyu dengan sebuah anggukan kepala sopan. Wahyu memperhatikan, dan tersenyum manis pada perawat bernama Anita itu.
“Ah, ya.” kata Erika tenang, kemudian berusaha bangkit dan memposisikan dirinya untuk duduk agar mudah dan nyaman ketika memberi ASI kepada si bayi.
“Hari ini, baby Juna sudah pup ya bunda.” kata perawat Anita memberitahu sembari membantu meletakkan bayi bernama Arjuna itu di pangkuan sang mama.
“Iya. Makasih buat hamper nya ya, dok.”
Wahyu tersenyum dengan sebuah anggukan dikepala. Ia lantas menatap perawat yang membantu Erika, dan berpamitan. “Saya tinggal sus Anita.”
“Ah, iya dok Wahyu.”
Melihat interaksi canggung dua orang didepannya, Erika bisa menebak ada apa dengan keduanya. Bibir Erika kembali melengkungkan senyuman. “Sudah lama kerja disini, sus Anita?”
“Sudah tiga tahun, bunda.”
“Ah~” jawab Erika, menerima bayi tampan dari uluran tangan Anita. “Itu tadi teman saya, sus.” lanjut Erika memancing pembicaraan. Erika penasaran, apa yang sebenarnya terjalin diantara mereka berdua.
“Oh, dok Wahyu?”
Erika mengangguk.
“Permisi ya, bunda.” ucap Anita yang kini membantu Erika memposisikan mulut baby Juna pada ****** susu milik mamanya. “Diusahakan, mulut dan dagu baby Juna menempel dengan baik di payu-dara ya bunda.” Anita memberitahu. “Lalu, area areola mamae nya eumm ... bagian yang coklat bulat di sekitar pu-ting itu lho bunda, tertutup mulut bayi, ya. Tujuannya agar pu-ting tidak lecet nantinya.”
Erika mengerti. Dia sudah pernah mempelajarinya jauh hari. “Iya.”
Bayi yang sepertinya sedang lapar itu langsung menghisapnya tanpa membuang waktu. Erika yang baru pertama kali melakukan ini, meringis geli. Namun juga merasa bahagia karena sekarang, Juna sudah ada dalam pelukannya. Bisa memandang dan menimangnya dengan nyata.
Tidak banyak bicara, Anita hanya memperhatikan dan sesekali membantu jika dirasa kurang nyaman. “Ah, iya. Kalau misalkan air susunya terlalu cepat keluar, bunda bisa menahannya dengan cara membuat jari telunjuk dan jari tengah menyerupai gunting, lalu menahannya di area areola mamae yang terdekat dengan pu-ting.”
Erika mengangguk paham. Ia lantas tersenyum saat melihat bayinya itu menyusu dengan baik.
“Wah, baby Juna pinter ya.” puji Anita kagum, karena tidak semua bayi bisa dengan mudah melakukannya. Apalagi jika pu-ting susu milik si ibu yang ukurannya pendek, pasti akan menangis karena kesulitan menemukan sumber kehidupannya.
“Eumm.”
Kegiatan itu masih berlangsung saat pintu ruangan kembali terbuka. Sosok yang hadir disana membuat senyuman Erika sirna sepenuhnya. Wajahnya mendadak pucat, dan telapak tangannya yang memeluk sang bayi, semakin erat.
Presensi tersebut datang mendekat dengan ekspresi kosong. Fokusnya terpatri menatap dua orang yang berada diatas ranjang rumah sakit. Matanya bergetar menahan airmata.
Sedangkan Erika, merasa semakin kalut. Darimana dia tau?
“Apa yang kamu lakukan disini, De?” []
...Bersambung...
...🌼🌼🌼...
###
Bapaknya si bocil datang beb 😜