Recognize You

Recognize You
11. Kejutan Yang Menyakitkan




...Recognize You by VizcaVida...


...Happy reading...


...[•]...


Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan dari Semarang ke Jakarta, Erika menyempatkan diri untuk berhenti di salah satu supermarket yang biasa ia kunjungi untuk berbelanja. Dia ingin memasak makanan kesukaan Ade untuk malam ini.


Semua pekerjaan di Semarang telah rampung dan Erika kembali dengan hati tenang dan lega karena telah berhasil berdamai dengan perasaannya sendiri. Selain itu, dia juga ingin meminta maaf kepada Ade, berjanji akan terus berusaha dan percaya, optimis jika dia bersama Ade akan memiliki anak.


Pagi tadi, Ade bilang jika pria itu akan sampai rumah tepat waktu. Erika tidak memberitahukan jika dia akan kembali hari ini. Dia ingin memberi kejutan untuk sang suami.


Ah, Erika ingin mengubah arah tujuannya sebentar sebelum pulang. Rasa rindunya kepada sang suami tiba-tiba saja muncul tanpa ia minta


“Apa aku ke kantornya sebentar ya?” gumamnya setelah taksi yang ia tumpangi berhasil membawa Erika keluar dari area bandara. Dia meminta sopir taksi untuk membawanya menuju kantor Ade berada.


Bayangan membahagiakan sudah menari di pelupuk mata Erika. Rentetan rencana pun mulai ia susun di dalam kepala, mengingat sebulanan ini dia tidak bertemu dengan sang suami pujaan hati. Jujur, Erika tidak pernah menginginkan ucapannya yang mengatakan tentang Ade harus mempunyai seorang anak dengan wanita lain. Hanya saja, Erika merasa bersalah jika nanti, suatu hari yang akan datang, Ade harus merasakan sebuah penyesalan karena kekurangan yang ada pada dirinya.


“Nanti mbak nya saya tunggu sebentar atau bagaimana?”


Erika cukup terkesiap mendengar suara pak supir yang usianya terlihat lebih dari setengah abad itu. Lantas, sebelum menjawab pertanyaan si supir, Erika melirik jam yang melilit pergelangan tangannya. Sudah hampir pukul empat sore yang artinya Ade pasti akan segera pulang.


“Nanti bapak turunkan saya didepan saja. Jam kerja suami saya juga sebentar lagi selesai.”


Pria di balik kemudi itu mengangguk paham dan tersenyum hangat ke arah Erika. “Mbak kerjanya memang sering luar kota begini ya?” tanya pak supir karena penasaran.


“Tidak pak. Keluar kota kalau ada proyek saja. Selain itu, saya kerjanya di rumah.”


“Biasanya, berapa lama kalau keluar kota?”


Mobil melambat, gedung kantor tempat kerja Ade sudah terlihat. “Paling lama, sebulanan pak.”


Supir taksi itu kembali tersenyum. Erika bisa melihatnya dari kaca spion yang ada di atas dashboard mobil. “Bapak sih cuma bisa berpesan, sering-sering ajak suaminya ngobrol mbak. Saling jujur, terbuka,” pria itu menjeda karena mobil sudah berhenti di area depan kantor keuangan yang dituju oleh Erika, penumpangnya. “Karena kunci awetnya pernikahan itu ya saling jujur, mbak. Saya sama istri tiga puluh tahun menikah, sampai sekarang punya cucu empat, juga masih selalu luangin waktu buat ngobrol berdua. Sharing tentang bagaimana hari ini, tentang besok, dan apa saja yang harus kita lakukan kedepannya. Ya, itung-itung perencanaan saat nanti sudah renta.”


Erika tersenyum sembari menyodorkan selembar uang ratusan ribu pada si sopir. “Semoga saya bisa seperti bapak sama ibu ya, pak. Do'akan saya—” suara Erika terhenti saat itu juga. Manik matanya terbuka lebar menatap mobil yang baru saja keluar dari pintu keluar gedung. Bukan tentang mobilnya, tapi pada dua orang yang ada didalam sana.


Apa dia sudah melewatkan banyak hal selama meninggalkan Ade untuk bekerja di Semarang?


Ah, tidak. Itu pasti cuma halusinasi dan matanya yang sedang salah lihat.


“Suami mbak pasti senang didatangi istrinya—”


“Pak, bisa tolong ikuti mobil Pajero hitam didepan itu?”


Supir taksi yang tadi sempat bicara bijak itu kini menerka, jika tujuan penumpang cantiknya datang kesini bukan karena baik-baik saja. Tapi karena memiliki firasat yang tidak baik tentang hubungannya bersama sang suami. Percaya atau tidak, istri itu sangat perasa. Nalurinya peka.


Tidak seperti sebelumnya yang selalu tersenyum dengan hati berbunga-bunga, sekarang tubuh Erika bergetar disertai amarah yang membuat desiran panas menjalar ke hatinya. Rasa cemburu tidak lagi bisa ia rasakan kecuali kebencian yang mendalam.


Memang, Erika pernah meminta kepada Ade untuk memiliki wanita lain sebagai ibu dari anak-anaknya. Tapi tidak dengan cara diam-diam seperti sekarang. Tidak secara curang seperti sekarang, padahal tadi pagi pria itu berkata jika dia mencintai Erika. Lalu disaat seperti ini, apa isi pesan yang dibacanya tadi masih berlaku?


Pak supir berusaha mengimbangi laju kendaraan mahal yang ditunjuk penumpangnya tadi, dengan jarak aman. Tidak ada percakapan apapun selain suasana yang canggung dan mendebarkan. Ini pertama kalinya pak supir melihat kasus perselingkuhan seperti ini, ada didepan matanya.


“Pak, tolong jangan ceritakan ini kepada istri bapak, ya?” kata Erika sendu yang membuat hati bapak pengemudi taksi itu ikut tersayat. “Saya sempat berharap bisa hidup seperti bapak dan ibu yang saling mencintai sampai sekarang. Tapi ... sepertinya mustahil.”


“Maafkan saya sudah—”


“Justru saya berterima kasih kepada bapak, karena bapak sudah membantu saya.”


Hingga mobil Ade berhenti di sebuah gang dengan durasi yang cukup lama. Lalu seorang perempuan yang sudah tidak asing dimata Erika keluar dari pintu depan mobil milik Ade, dimana tempat itu seharusnya adalah tempat miliknya. Perempuan muda nan cantik itu tersenyum begitu manis dengan rona di wajahnya yang terlihat jelas meskipun dilihat dari jarak yang cukup jauh. Hati Erika seperti dicabik dan ditarik paksa hingga terlepas dari tempatnya. Benar-benar menyakitkan sampai telapak tangannya tanpa sadar meremas ujung pakaian yang ia kenakan, bersama tubuhnya yang lemas seperti hendak kehilangan kesadaran.


“Tu-tunggu saya sebentar ya, pak.” pinta Erika yang sekarang menarik pengait pintu taksi untuk keluar, setelah melihat mobil Ade pergi meninggalkan perempuan yang setau Erika, bernama Refa.


Kedua kaki jenjang Erika berlari menuju Refana. Dia menyusul dengan cepat, lalu menemukan sosok itu. Sosok yang ia kejar.


“Tunggu!” teriak Erika menyita perhatian Refana. Gadis muda itu memutar tubuh dan sedikit terkejut saat mendapati sosok Erika bersamanya.


Refana ingat betul, bagaimana fitur wajah cantik Erika. Ia melihat foto istri kekasihnya itu dirumah yang beberapa waktu lalu, ia datangi atas permintaan Ade, pria yang ia cintai.


Erika menahan mati-matian air matanya saat melihat Refana dari jarak yang begitu dekat. Manik mata mereka beradu, hingga akhirnya Refa tertunduk karena merasa bersalah dan malu.


“Kamu, bersama suamiku kan?”


Pertanyaan yang sulit sekali di jawab. Refana mendadak bisu karena tidak ada hal yang bisa ia katakan sebab Erika pasti sudah melihat semuanya.


“Tolong, jawab aku.” pinta Erika lembut, walaupun sebenarnya dia ingin sekali melayangkan satu pukulan keras di pipi mulus perempuan dihadapannya ini.


“Kenapa tidak menjawab? Kamu malu?”


Mendengar itu, Refana sempatkan mengangkat wajahnya sejenak untuk melihat ekspresi wajah yang sedang di pasang Erika.


Bungkam. Refana hanya diam tak berani menyuarakan jawaban meskipun cuma sepatah kata.


“Ade pasti sudah menceritakan banyak hal ke kamu, kan? Jadi, tidak ada alasan bagiku untuk menutupi apa yang buruk dan menjadi kekurangan dalam diriku.”


Erika benar-benar putus asa. Karena apa yang ditakutkannya, telah terjadi. Ade mungkin akan berpaling dan menambatkan hatinya pada wanita lain karena ketidaksempurnaan dirinya yang tentu saja, tidak bisa diperbaiki dengan mudah.


“Aku pernah berkata kepada suamiku, untuk mencari wanita baik-baik dan membawanya ke hadapanku, jika memang dia ingin memiliki seorang anak.” kata Erika, dengan hati yang sudah hancur tak berbentuk. Ia berusaha lepas dan ikhlas jika memang harus seperti ini. Tapi bukan berarti dia akan diam, jika hubungan tersebut, adalah sebuah kecurangan. Yakni, sebuah perselingkuhan.


“Aku sudah memberikan kesempatan besar dan tak terhingga kepada suamiku, untuk mencintai wanita lain. Tapi tidak dengan cara diam-diam seperti ini.”


Refana tertunduk dan tidak sanggup lagi menatap pada sosok Erika.


“Kamu tau bagaimana perasaan ku sekarang, Refana?”


Bahkan Refana begitu terkejut saat mengetahui Erika menyebut namanya. “Aku ... ingin membunuh seseorang.”


Refana terkejut bukan main hingga langkah kakinya mundur beberapa langkah tanpa diminta. “Tapi tidak perlu takut. Aku tidak akan melakukannya. Aku tidak akan merusak kebahagiaan baru yang dimiliki Ade. Aku tidak akan melakukan itu kepada orang yang sangat aku cintai.”


Refana bergetar. Bukan takut yang ia rasakan saat ini, melainkan rasa bersalah yang sangat besar karena telah menjadi orang yang menghancurkan kebahagiaan orang lain.


“Maafkan saya, mbak Er—”


Erika mengangkat lengannya. Ia membuka telapak tangannya didepan Refana sebagai tanda agar Refana berhenti. “Jangan pernah sebut namaku.”


“Tapi—”


“Kamu sadar sudah menghancurkan harapan yang selama ini berusaha aku bangun, Ref?”


Erika tau, dialah yang bersalah disini. Tapi dia juga tidak ingin menyerahkan Ade begitu saja karena dia telah dicurangi.


“Sejak kapan kalian memiliki hubungan?”


Refana tertunduk pilu. Pertanyaan dan ucapan Erika terlampau menyudutkan. Refana tidak mempunyai jawabannya. Namun pada kenyataannya bibirnya bergerak untuk bicara,


“Du-dua minggu.”


Nafas Erika tercekat. Ia kembali meremas ujung tepian baju yang ia gunakan “Apa saja yang sudah kalian lakukan sejauh ini?”


Refana tidak bisa menjawabnya dengan kalimat apapun. Yang mereka lakukan, terlalu jauh. Erika dapat menebak jawabannya dari diamnya Refana.


Airmata kecewanya jatuh. Apa memang seharusnya sejauh itu?


“Dimana kalian melakukannya?”


***


Erika kembali masuk kedalam taksi dengan keadaan yang sangat berantakan. Ia hancur lebur hari ini. Kejutan yang ia dapatkan, begitu menyakitkan.


“Tolong antar saya pulang ke alamat awal yang saya berikan, pak.” kata Erika dengan tatapan kosong. Supir taksi itu nyaris bertanya, namun Erika mendahului dengan berkata, “Saya baik-baik saja kok, pak.” dengan rentetan air mata yang jatuh. Erika menangis bersama roda mobil yang menggesa jalanan ibu kota untuk menuju rumah. Rumah yang mungkin tidak akan pernah lagi ia rasakan seperti rumah. Apalagi harus melihat Ade.


Pria itu seperti menjadi ketakutan untuk Erika saat ini.


Sesampainya di depan rumah. Erika berjalan dengan tatapan kosong sambil menarik kopernya masuk ke area teras. Isi kepalanya benar-benar tidak jernih. Atau, lebih tepatnya kosong. Blank.


Mungkin, jika sejak awal Ade tidak menolak permintaannya dan tidak mengatakan mencintainya, pasti rasanya tidak akan sesakit ini.


Jika sejak awal, Ade mengakui hubungannya dengan Refana, pasti rasanya tidak akan sesesak ini.


Refana menghentikan langkah saat senja sudah separuh menghilang. Ia meremas dadanya yang sakit, berusaha menerima dengan lapang itu ternyata begitu menyakitkan. Menerima dengan lapang itu, nyaris terdengar mustahil. Apalagi merelakan. Erika tidak ingin melakukan itu.


Airmatanya kembali tumpah saat matanya melihat pintu rumahnya terayun terbuka dan Ade muncul dengan langkah lebar mendekat menyambut kedatangannya.


Jika ini dulu, pasti Erika akan melompat dan berlari girang, lantas memeluk posesif tubuh kekar dan tinggi milik Ade. Tapi entah mengapa sekarang melihatnya saja, Erika merasa muak? Atau ... mual?


Ya. Sepertinya dia ingin muntah melihat Ade dan aroma tubuh pria itu yang mulai terhirup oleh hidungnya. Kepala Erika mendadak pusing dan berdenging.


Mungkin efek jetlag kah?


Tidak-tidak. Erika tau betul bagaimana rasanya nyeri kepala akibat jetlag.


Erika menggeleng samar saat Ade semakin dekat. Mual di perutnya semakin menjadi saat membayangkan tubuh pria yang ia cintai itu, mengungkung wanita lain.


“Sayang—” sapa Ade yang terhenti begitu saja saat melihat bagaimana pucatnya wajah Erika. Wanita itu kini bahkan menutup mulutnya rapat-rapat. Ia menghindari Ade dan berlari ke dalam rumah, meninggalkan kopernya di depan begitu saja. Dia ingin pingsan namun tetap ia pertahankan agar mata dan kesadarannya bisa melihat wajah Ade yang ternyata, terasa asing dan berbeda.


Senyum Ade terlihat palsu. Erika tau. []


...Bersambung...


...🌼🌼🌼...