Recognize You

Recognize You
22. Welcome to the world, My World




...Recognize You by VizcaVida...


...Happy reading...


...[•]...


“Ibu tidak bisa membantu apa-apa buat kamu, Er. Ibu hanya bisa berdo'a supaya apa yang kamu ambil sebagai keputusan, akan berakhir baik sebagai imbalan atas kesabaranmu, kelak.”


Erika ingat betul, bagaimana sang ibu berkata saat dirinya mengutarakan maksudnya untuk berpisah dari Ade. Sejak awal, ibunya juga sudah tidak setuju ketika tau Erika di duakan dengan cara curang. Ibunya bahkan berkeras hati untuk tidak datang ke pernikahan Ade bersama wanita lain.


Hari ini, Erika sudah duduk menunggu dokter melakukan anestesi untuk prosedur operasi yang akan ia lakukan.


Ya, hari ini adalah hari dimana sang buah hati akan menyapa dunia. Dan hari ini juga, adalah hari yang sama dengan hari jadi seseorang yang sampai detik ini masih sering mengganggu benaknya, ayah dari calon anaknya, Made Pratama.


Mencoba mengalihkan kusutnya isi kepala, Erika kembali fokus pada tempatnya berada. Sebuah rumah sakit besar ternama, khusus persalinan. Tadi, Erika datang dengan taksi online bersama beberapa perlengkapan pasca persalinan yang ia bawa dari rumah. Baju dan perlengkapan bayi, serta baju ganti dan perlengkapan pribadi yang pastinya ia perlukan, dan sudah ia persiapkan jauh-jauh hari.


Pintu ruangan berderit lembut, dan satu dokter anestesi beserta perawat pendamping muncul dengan senyuman ramah menyapa. “Selamat pagi, Er.”


Erika tersenyum lembut sebagai jawaban atas sapaan pria didepannya. Dokter itu adalah teman semasa SMA nya dulu. “Pagi juga, Yu.”


Namanya Wahyu, dan usia mereka sama. Wahyu juga mengenal Ade karena mereka berada di sekolah yang sama.


“Sudah siap menyambut kehadirannya pagi ini?” sapanya lagi mengajak bicara sembari memakai sarung tangan karet khusus medis pada kedua telapak tangannya.


“Eumm. Siap. Aku sudah tidak sabar melihat dan menggendongnya, dok.” jawab Erika, membuat seulas senyum manis di wajah pria matang itu muncul.


Wahyu mendekat bersama perawat yang membawa injeksi, beberapa ampul obat, dan juga infus di atas nampan. “Dokter Alan sebentar lagi sampai disini. Berbaringlah.” kata Wahyu mengajak bicara dan mempersilahkan Erika untuk memposisikan diri di ranjang operasi yang sebentar lagi akan menjadi saksi perjalanannya menjadi seorang ibu yang menghadirkan seorang bayi ke dunia. Sedangkan perawat cantik disamping pria dokter itu, mulai melakukan tugasnya. Yakni bersiap memasang infus di lengan kanan Erika.


Tak banyak bicara, Erika yang sudah kepayahan dengan perut besarnya, menurut. Ia berjalan dan merebahkan diri diatas ranjang dengan bantuan si perawat. Obrolan berlanjut bersamaan dengan datangnya dua dokter lain yang akan menangani pembedahan, dan beberapa asisten dokter dengan pakaian yang sama. Semua menyapa dengan ramah tamah.


“Sudah di suntik Bu Erika nya, dok Wahyu?” tanya dokter Alan yang kini memakai sarung tangan medisnya.


Setelah sekitar satu menit, Wahyu berkata. “Masih kerasa apa enggak?” tanya Wahyu yang mengetuk lutut Erika.


“Engga.”


“Kalau begini?”


Erika menggeleng. “Engga.”


Wahyu tersenyum dan mempersilahkan dokter Alan untuk memulai pekerjaannya. Kain hijau di pasang membentang tepat dibagian dada Erika sebagai pembatas agar tidak mengganggu Erika saat dilakukannya tindakan. Lampu juga sudah menyala beberapa saat yang lalu, dokter Alan meminta izin, dan operasi pun dilakukan tanpa membuang-buang waktu.


Perasaan Erika campur aduk, antara senang, sedih, dan khawatir. Ia tidak tau harus bagaimana caranya menyambut kehadiran si buah hati. Menangiskah? Tertawa kah? Atau keduanya di padukan, menangis dan tertawa secara bersamaan?


Hingga akhirnya, suara tangis itu melengking memekakkan telinga. Semua yang ada didalam sana mengucap syukur, tak terkecuali Erika. Ia kini resmi menjadi seorang ibu. Ibu yang akan berjuang sendirian untuk sebuah kehidupan baru yang sudah ia nantikan. Air matanya jatuh tak terbendung.


“Selamat, nyonya Erika. Bayinya sangat tampan.” kata sang dokter memberitahu sembari mengangkat bayi mungil yang menangis keras hingga kedua tangan mungil itu terentang ke udara. Melihat itu, Erika semakin tersedu. Pada siapa dia harus mengungkapkan kebahagiaannya ini? Dia sendirian, tanpa siapapun.


Pada akhirnya, pandangannya berlabuh pada sosok Wahyu yang masih berada di ruangan yang sama dengannya. Pria itu tersenyum, memberinya ucapan selamat tanpa suara, lantas mengacungkan ibu jarinya sebagai ungkapan bangga atas perjuangan Erika yang telah rela mempertaruhkan nyawa demi kehadiran sang buah hati ke dunia. Tentu saja, bagaimanapun cara seseorang ketika menghadirkan kehidupan baru di dunia, adalah perjuangan yang sama-sama berharga. Mereka adalah pahlawan yang jasanya akan dikenang sampai nanti, anak yang ia lahirkan telah tumbuh menjadi pribadi dewasa.


Erika tersenyum lembut. Lalu bibirnya bergerak tanpa suara untuk mengucapkan terima kasih, kepada Wahyu. Sedikit banyak, pria itu juga yang telah ikut andil membantunya selama proses kehamilan yang dilalui Erika. Lalu, Erika kembali memperhatikan bayi merah yang masih menangis keras di dalam inkubator.


“Terima kasih, Tuhan.” []


...Bersambung...


...🌼🌼🌼...


###


Besok nyate ya man-teman 😁