
...Recognize You by VizcaVida...
...Happy reading...
...[•]...
Bisakah Erika pergi saja dari muka Bumi ini daripada harus melihat pemandangan yang tidak ia inginkan ini, hari ini?
Setelah membicarakan kenyataan pada kedua orang tua mereka, hari ini pernikahan itu digelar, meski penuh drama tangis dari ibu Erika yang tidak pernah menduga akan jadi begini akhir dari nasib pernikahan putri yang ia sayangi itu. Ayah Erika telah berpulang kepada sang pencipta enam bulan yang lalu, dan hal itu pulalah yang menjadi pukulan terberat untuk Erika dan sang ibu.
Pernikahan ini digelar secara tertutup dan dihadiri oleh Erika dan kedua orang tua Ade—atas permohonan Erika. Tanpa kehadiran kedua orang tua Refana, karena mereka menolak hadir dengan alasan malu. Tidak ada pesta meriah ataupun tamu undangan yang datang, hanya suara mengucap syukur karena tidak ada kendala saat prosesi pengucapan janji terjadi.
“Perlu kamu catat.” kata Gumilang memperingatkan didepan Ade, Erika, dan juga Refana. “Jangan pernah datang menginjakkan kaki di rumahku. Aku tidak sudi.” tegasnya seperti memberi perintah pada anak buahnya di kantor kesatuan. “Papa tidak ingin menerima orang yang sudah merusak nama baik papa dan mama, kecuali Erika. Kami akan selalu menerima dia dengan tangan terbuka.”
Gumilang terlanjur malu saat berita itu tersebar seantero kesatuan tempatnya menjabat. Entah siapa yang tau, Gumilang hanya tiba-tiba mendengarnya dari sang ajudan, bahwa berita itu sudah menyebar. Semua tau, tanpa terkecuali.
“Dan buat kamu, hei, perempuan tidak tau diri.”
Refana tertunduk. Ia sangat malu mendengar sebutan baru yang disematkan kepada dirinya.
“Jangan pernah besar kepala. Kamu hanya perempuan jahat yang tega menjadi orang ketiga dan merusak kebahagiaan perempuan lain.”
***
Tidak ada percakapan lebih. Erika menuju kamar yang ia tempati akhir-akhir ini, sedangkan Ade masih berdiri memaku menatap kepergian istri pertamanya.
Wanita itu bilang, dia tidak keberatan jika Ade membawa Refana untuk pulang dan tinggal satu atap bersamanya. Tapi Ade tidak melakukan itu karena tau, Erika berbicara seperti itu karena terluka parah akan kenyataan yang sedang ada didepan mata.
Pada akhirnya, Ade memutuskan untuk membeli sebuah unit perumahan kelas menengah. Malam ini, Ade akan pulang ke rumah Refana untuk membantu istri mudanya itu menata dan membereskan beberapa perabot dan pakaian yang perlu ditata agar rapi. Mengingat Refana yang sedang mengandung dan tidak diperkenankan oleh dokter untuk melakukan pekerjaan terlalu berat, Ade berinisiatif membantu agar tidak membebani Refana.
Ia berjalan mendekati pintu kamar Erika, dan mengetuk sebanyak dua kali kemudian berkata, “Kunci pintunya. Jangan buka untuk siapapun yang datang berkunjung setelah aku pergi. Besok sore aku pulang kesini.”
Tidak ada jawaban, tapi Ade yakin Erika mendengarnya. Jadi dia melanjutkan, “Aku pergi dulu, Er.”
Ade benar-benar pergi meninggalkan Erika yang menahan air matanya agar tidak jatuh. Bayangan bagaimana Ade akan melewati malam ini bersama wanita lain, begitu menyiksa Erika hingga setengah mati dia mencoba bertahan untuk tidak terlihat menyedihkan, apalagi mengharap belas kasih agar Ade tidak pergi meninggalkannya.
“Oke, Er. Kamu hebat karena nggak nangis seharian ini.” bisiknya menguatkan diri sendiri.
***
“Lho, mas udah nyampe? Mbak Erika bagaimana? Refa nggak apa-apa kok kalau malam ini, mas Ade pingin sama mbak Erika.” kata Refana saat menyambut kedatangan Ade. Ia tengah menyapu lantai teras yang berdebu.
“Erika yang minta aku buat kesini bantuin kamu.” jawab Ade sambil melepas jaket Jeansnya, lalu mulai membantu Refana membawa koper dan tas tenteng yang masih ada di ruang tamu untuk masuk ke dalam kamar utama.
Setelah menutup pintu, Refana ikut masuk ke dalam rumah. Suasananya canggung bukan main. Rasa bersalah kembali menjadi buntut dari kegelisahan Refana saat berada satu udara yang sama dengan Ade, pria yang kini juga menjadi suaminya, ayah dari janin yang sedang ia kandung.
“Ini baju kamu dipindahin ke dalam lemari?” tanya Ade mulai mengangkat koper ke atas kasur, hendak memulai pekerjaan agar waktu tidak terbuang sia-sia.
Ade tersenyum dan mengusap puncak kepala Refana. “Aku istirahat kalau udah beres semuanya.”
Refana yang diperlakukan seperti itu, merona. Ia tertunduk lalu mengangguk.
“Oke. Sekarang jangan canggung lagi, kita sudah menikah dan akan jadi ayah dan ibu. Kamu juga jangan ragu untuk bilang ke aku kalau pingin sesuatu.”
Lagi-lagi Refana mengangguk. Dan satu kecupan mendarat mulus di bibir Refana. Mata mereka bertemu setelah ciuman itu berakhir. “Tolong, berhenti bekerja. Biar aku saja yang bekerja. Ini demi kebaikanmu dan bayi kita.”
Refana tersenyum kaku. Mungkin, setelah ini, masa depannya tidak akan bisa ia prediksi. Masihkah tetap sama seperti saat ini? Atau justru sebaliknya.
“Eumm.” jawab Refana lembut, menyambut telapak tangan Ade yang bersarang di pipinya. “Demi calon anak kita, Refa akan berhenti kerja, mas.”
Ade menghembuskan nafas lega mendengar Refa yang tidak keras kepala dan mudah di tata. “Tapi, bolehkah Refa meminta sesuatu pada mas Ade?”
Menganggukkan kepala, Ade mengusap pipi halus Refana yang sedikit tirus. “Katakan.”
Ade pikir, Refana akan meminta makanan atau sesuatu yang kebanyakan di inginkan wanita hamil pada umumnya. Namun permintaan yang diutarakan bibir manis perempuan itu, menarik atensi penuh Ade untuk menatap intens pada sosok tersebut.
“Refa ingin, anak ini nanti menjadi anak mas Ade dan mbak Erika.”
Alis dan kening Ade tertarik maju saat mengerut. Ia tidak mengerti apa yang sedang dikatakan Refana padanya. “Apa maksud kamu, Ref?”
Refana membawa telapak tangan Ade untuk menyentuh permukaan perutnya yang rata, lantas membuat pola melingkar bersama. Refana tersenyum karena hal seperti ini terasa sangat menyenangkan. Lantas, Refa mengangkat kembali wajahnya dan tatapan keduanya beradu. “Tidak seharusnya, Refa ada diantara mas Ade dan mbak Erika.”
Refana menjeda ucapannya, lalu melepas telapak tangannya dan mengusap pipi Ade pelan penuh kasih sayang. “Kita berpisah setelah anak ini lahir—”
“Apa maksudmu?” sahut Ade cepat.
Kalimat Ade terhenti karena Refana menyentuh bibir pria yang menjadi suaminya itu agar ia dapat melanjutkan ucapannya yang terhenti. “Cuma ini yang bisa Refa lakukan untuk menebus kesalahan Refa pada mbak Erika, mas.”
“Jangan bicara aneh-aneh, Ref. Kita akan tetap hidup bersama—”
“Dan akhirnya, akan banyak hati yang terluka, mas.”
Ade diam. Dia menatap sendu pada fitur wajah cantik Refana yang sedang tersenyum tulus. “Tolong terima kesepakatan ini, mas. Refa hanya tidak ingin menjadi orang jahat seumur hidup.” bisiknya.
Ade kembali membawa Refana kedalam pelukan. Ia mengecup singkat puncak kepala Refana lalu berkata, “Terima kasih atas kebaikanmu, tapi aku tidak akan melepas siapapun. Kamu maupun Erika, akan menjadi ibu dari anak ini.” []
...Bersambung...
...🌼🌼🌼...
###
Maaf telat-telat update nya 🙏
Semoga kalau urusan sudah selesai, bisa update normal lagi ya ☺️