Recognize You

Recognize You
05. Kacau




...Recognize You by VizcaVida...


...Happy reading...


...🌼🌼🌼...


Insiden kancing baju membuat Refa tidak sanggup mengangkat pandangannya kepada Ade. Sepanjang bekerja di meja resepsionis, dia selalu was-was akan bertemu tatap dengan pria yang menolongnya tadi. Rasanya tidak punya muka jika sampai melihat Ade hari ini. Terlalu malu karena pria itulah yang pertama kali melihat satu bagian penting tubuhnya.


Wajah Refa merona tanpa sebab, hingga seniornya tiba-tiba menegur, “Lagi jatuh cinta ya? Kok dari tadi merona melulu?”


Mata Refa terbelalak. Dia juga tidak ingin merona, tapi wajah malu-malu dan merona milik Ade terus membayangi isi kepalanya. Bagaimana menjawabnya?


“Ti-tidak kok mbak.” jawab Refa kelabakan.


“Demam barangkali?” sahut satu resepsionis lain yang merupakan senior Refa. Wanita yang sedang hamil besar itu meraba kening Refana tanpa permisi terlebih dahulu. “Enggak juga Hen.” sahutnya dengan wajah lucu. “Kamu lagi mikirin apa hayo?” goda Ita, si senior yang bedaknya setebal tembok kos-kosan tempat Refa tinggal.


“Udah, jangan di godain anak orang.” kata Heni yang ada disisi kanan tempat duduk Refa.


Pembicaraan mereka teralihkan oleh topik yang dibawa Heni. “Nanti, setelah makan siang, aku dandanin wajah kamu, ya? Bu Yuni bilang kalau aku harus bimbing kamu agar bisa berpenampilan lebih menarik, meskipun kamu udah cantik natural tanpa polesan.”


Refa mengangguk lugu. Ia akan menuruti apa kata senior dan belajar berdandan jika sudah mulai terjun di dunia kerja seperti ini.


“Aku masih nggak percaya sama cerita kamu tadi, Ref. Beneran kah pak Ade itu orangnya humble?”


Lagi-lagi kepala Refa mengangguk lugu. “Iya, mbak. Terus, kalau tadi pagi saya tidak di tolong sama pak Ade, mungkin saya dapat surat drop out besok pagi, mbak.”


“Tapi kenapa kalau di kantor kayak dingin gitu ya?”


“Wibawa Hen, Wibawa. Orang atasan kalau slengehan di didepan anak buahnya, nanti malah nggak di hargai.”


“Masuk akal juga sih jawaban kamu.”


Ketiganya kembali bekerja, namun tiba-tiba Heni kembali bersuara. “Istrinya pak Ade itu cantik benget lho. Aku pernah ketemu satu kali di fanmeet bukunya.”


Refa diam memperhatikan. Diam-diam dia juga ingin tau tentang kehidupan pria baik itu.


“Eh iya, cantik banget lho. Dia penulis terkenal. Tapi sayang banget ya, pasangan sempurna kayak mereka, belum juga dikasih anak.”


Refa tertunduk dengan sisa senyuman kecil di bibirnya.


“Ya memang belum di kasih, aja kali. Atau memang sengaja nggak di jadiin dulu, ditunda. Kan dua-duanya punya karir mentereng, sayang kalau dilepas gitu aja, mungkin lho ya, hanya mungkin. Belum berarti bener.”


“May be, yes. Tapi denger-denger juga nih, mereka udah usaha, berobat kesana-kemari buat dapetin anak.”


“Enggak tau deh yang mana yang bener. Udah lah, nggak usah ikut campur urusan rumah tangga orang. Positif thinking aja.”


Percakapan ditutup oleh sebuah petuah bijak, positif thinking.


***


“Resep yang saya beri ini masih sama dengan yang bulan lalu, ya Nyonya Made. Diharapkan rutin mengkonsumsi buah, kacang-kacangan, dan jangan sampai stress ya. Karena pikiran juga sedikit banyak berpengaruh untuk hormon anda.” terang sang dokter berpesan.


Erika mengangguk, sedangkan Ade tersenyum sambil mengusap surai hitam dan lembut milik sang istri. Tidak ada yang salah dengan ucapan dokter senior yang sudah membantunya berusaha selama setahun belakangan ini. Tapi hari ini, untuk pertama kalinya dia ingin menyerah. Erika ingin mundur dari perjuangannya selama ini. Rasa lelahnya, lebih parah dari apapun. Jiwa dan raganya benar-benar diuji hingga kini, sudah ada di titik terendah kesabarannya.


“Dok,” panggil Erika serak, memancing reaksi sang dokter, Ade, dan satu perawat pendamping dokter yang ada di ruangan itu, menoleh menatap Erika.


“Ya, nyonya. Ada yang ingin anda tanyakan?”


Erika meremas jemarinya sendiri. Ia ragu, tapi dia tidak lagi ingin memaksa apa yang sebetulnya, tidak memperlihatkan hasil. Lalu, ia menoleh demi melihat presensi Ade di sampingnya, lantas berkata. “Apa terapi ini akan berhasil, mengingat hanya kemungkinan kecil yang saya miliki untuk—”


“Sayang ... ”


Erika kembali tertunduk, ia bahkan tidak bisa lagi menyembunyikan air matanya. Melihat itu, Ade pun bergegas membawa istrinya ke dalam pelukan, sedangkan dokter Alan mencoba mengembalikan rasa percaya diri Erika yang sepertinya sudah hampir sirna.


“Nyonya Made, percaya sama Tuhan. Jika waktu itu tiba, Anda akan membuktikan kepada semua orang atau bahkan dunia, jika keajaiban itu memang ada. Tolong, jangan berputus asa, berjuanglah bersama saya terlebih dahulu.” kata dokter Alan menenangkan Erika yang terisak tanpa suara didada sang suami.


“Sudahlah sayang.” tutur Ade sembari mengusap punggung Erika yang bergetar menahan suara tangisannya.


“Tolong, jangan menyerah dan perbanyak do'a. Saya yakin ada jalan keluar untuk semua ujian ini, nyonya. Percayalah.”


Ade mengecup puncak kepala Erika. Suasana yang semula tenang kini berubah sendu. Dokter Alan dan sang perawat pendamping pun tak kuasa membendung kesedihan hingga ikut meneteskan air mata.


“Tolong abaikan semua ucapan orang tentang kamu. Kita fokus pada tujuan kita, oke.” Ade bersuara, mencoba menenangkan suasana hati Erika yang terlihat berantakan dan rapuh akhir-akhir ini. Mungkin ini juga salahnya yang beberapa hari lalu tiba-tiba menanyakan jadwal periksa ke dokter Alan hingga membuat Erika salah faham. Dan, aroma parfum lain di mobilnya yang sempat memicu perdebatan susulan hari itu juga. Erika salah faham tentang hal itu. Dan Ade pun sudah berusaha untuk memberitahu Erika, jika apa yang sedang difikirkan Erika saat itu, tidaklah benar. “Aku—”


Erika menarik dirinya menjauh dan mengesat air matanya, lantas tersenyum. “Maafkan saya, dok. Akhir-akhir ini, saya memang sedang kecewa pada diri saya hingga menyusahkan banyak pihak, termasuk dokter Alan.”


“Tidak, tidak. Anda sama sekali tidak membuat saya kesusahan. Jadi tolong, bersabarlah sebentar saja, nyonya.”


Erika menganggukkan kepala, namun tidak menatap sang dokter, melainkan telapak tangannya sendiri yang sakit tertutup di atas pangkuannya. “Baiklah, saya akan bersabar sedikit lagi. Saya akan memberitahu a jika nanti saya menyerah, dokter Alan. Terima kasih atas kebaikan anda karena telah bersabar dan mau membantu saya.”


***


“Sayang ... ” panggil Ade kepada Eropa yang masuk kedalam rumah begitu saja setelah melewati pintu utama. Istrinya itu terlihat murung, bahkan diam saja meskipun Ade mencoba mengajaknya bicara untuk mengalihkan apapun beban yang sedang ada dipikiran Erika.


Tak tinggal diam, Ade bergegas mengunci pintu dan menyusul Erika yang sudah terlebih dahulu masuk kedalam kamar dan mengganti pakaiannya dengan baju tidur.


“Er, kamu kenapa seperti ini? Tolong bicara denganku. Katakan apa yang menjadi beban dalam hati dan fikiranmu. Aku akan berusaha untuk melakukan yang terbaik untukmu. Please, jangan seperti ini, sayang.” kata Ade begitu lembut. “Ayo kita bicara.”


Erika diam tidak memberi jawaban. Dia bahkan acuh, merangkak naik ke atas ranjang dan menaikkan selimut sembari memunggungi keberadaan Ade.


Tidak tau lagi apa yang harus dilakukan, Ade menghela nafas dan menatap layu punggung sempit sang istri. “Maaf kalau aku punya salah sama kamu, Er. Tapi aku tidak pernah menduakan kamu. Aku hanya menolong seseorang yang tanpa sengaja hari itu—”


“Tolong tinggalkan aku sendiri.”


Tidak dapat berbuat banyak, Ade mundur beberapa langkah dan keluar dari kamar untuk menuju dapur. Ia butuh minuman dingin agar otaknya yang sejak tadi terasa panas itu, sedikit relax.


“Ya Tuhan.” de-sahnya putus asa melihat kenyataan bahwa dirinya telah membuat Erika kecewa. Tau begini akhirnya, dia tidak akan memberikan kebaikan pada Refana.


Ah, gadis itu. Sejak hari itu, Ade memang tidak pernah lagi bertemu dengannya. Lalu, apa hal itu bisa membuat Erika melunak? Apa bisa dia mengungkapkan kebenaran, jika memang tidak ada apapun yang terjadi antara mereka?


Ditengah rasa lelah dan penuhnya isi kepala, ponsel Ade bergetar. Sahabatnya sedang tersambung dengannya.


“Ada apa, Gi?”


“Lo nganggur nggak bro?”


“Enggak juga sih, kenapa?”


“Ngopi bentar yuk?! Pusing pala gua.”


Ade juga sama. Nyatanya menjadi seorang suami itu memang butuh tenaga dan kesabaran ekstra. “Dimana?”


“Di tempat biasa.”


“Oke. Gue pamit Erika dulu. Ntar gue kabari.” []


Bersambung


🌼🌼🌼


###


Yuk ngopi yuk, ☕☕☕