
...Recognize You by VizcaVida...
...Happy reading...
...[•]...
Menikah,
Menikah,
“Ayo kita menikah.”
Erika ingat betul saat ajakan itu pertama kali dilontarkan oleh Ade, untuknya. Dia bahkan tidak enak makan, tidak enak tidur, dan bekerjapun, tidak jenak saat memikirkan ajakan pria yang ia cintai itu, enam tahun silam.
Dulu, menikah bukan prioritas utama dari Erika dan Ade meskipun mereka sudah lama menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Namun keduanya berkomitmen untuk setia dan mencintai dalam waktu yang lama, atau bahkan selamanya.
Ya. Itu dulu. Perlu dicatat, jika itu adalah dulu. Berbeda dengan sekarang.
Jika pernikahan adalah bukti cinta, apa perpisahan itu bukti sebuah kebencian? Tentu tidak bukan? Tidak semua orang berakhir berpisah dengan alasan benci. Toh, mereka dulu pernah saling mencintai.
Seminggu setelah kedatangan Refana kerumah, beban di pundak Erika sedikit terangkat. Setidaknya, sekarang Ade sudah menjadi calon ayah yang tentu saja, tidak dapat ia wujudkan sejak mereka membangun bidak rumah tangga.
Erika bahkan sempat down selama tiga hari. Asam lambungnya naik hingga dia tidak mau memakan apapun karena merasa tidak nyaman saat melihat atau menelan makanan. Ditambah lagi memikirkan jika Ade—suaminya—akan menjadi milik orang lain, dalam waktu dekat.
Berat memang, tapi Erika akan tetap menjadi kuat karena sejak awal, memang ini adalah kesalahannya. Jika dia mau sedikit saja bersabar dan mau menunggu, pasti tidak akan terjadi kisah pilu dan membuat malu seperti ini.
Tatapan mata Erika teralihkan oleh sosok Ade yang baru saja keluar dari kamar utama, dan berjalan mendekat padanya yang sedang sibuk mengaduk susu di dapur.
Dokter menyarankan agar Erika rajin meminum susu sebagai tambahan nutrisi tubuhnya yang tidak terpenuhi saat sakit seperti ini. Selain itu, dokter juga menghimbau agar Erika tidak terlalu banyak pikiran sehingga menimbulkan stress berlebih yang memicu asam lambungnya semakin parah. Tapi, Erika tidak begitu peduli akan hal itu. Kenyataan sangat sulit di padukan dengan sebuah himbauan.
“Sudah selesai?” tanya Ade, lembut sambil membawa dompet dan kunci mobil.
“Eumm.” Erika mengangguk dan bergegas meneguk susu hangatnya hingga tandas.
Mereka berdua berencana datang ke rumah kedua orang tua Ade. Erika dan juga Ade akan memberitahu orang tua masing-masing, jika Ade akan menikahi perempuan lain yang kini, sedang mengandung anaknya.
Hati Erika terlampau lelah untuk marah. Dia memutuskan untuk pasrah dan terima saja, Asala semua berjalan baik dan terpenuhi. Erika mencoba membunuh semua perasaan cinta yang dulu ia serahkan hanya untuk Ade. Dia tidak ingin sakit terlalu jauh sendirian.
“Kamu sudah minum obat?” tanya Ade lagi, penuh perhatian. Erika tau, Ade memang tipikal pria yang selalu perhatian terhadap pasangannya. Erika juga bisa menabrak, pasti Refana juga mendapatkan hal yang sama seperti dirinya, sekarang.
“Nanti aja, pulang dari rumah mama.”
Setelah itu, Erika kembali menghindari Ade dan berjalan mendahului pria itu menuju pintu keluar. Sesak dan canggung menjadi situasi hati Erika saat melihat sosok Ade. Pria itu terasa begitu asing sekarang.
Erika yang sudah sampai diluar, bergegas masuk kedalam mobil milik Ade. Disusul Ade yang setelah itu duduk di balik kemudi, menyalakan mesin, dan tentu saja pendingin kabin.
“Maaf, tidak bisa menjaga hati untuk kamu, Er.”
Erika yang mendengar itu pun menoleh dengan amat sangat terpaksa. Wajahnya datar saat mendapati pupil mata Ade yang juga sedang menatap ke arahnya.
“Jangan buat aku berubah pikiran, De. Cepat bawa aku kerumah mama, dan tolong jangan ajak aku bicara apapun selama perjalanan.” kata Erika, menyamankan posisi duduk lantas memasang seatbelt tanpa kesulitan sedikitpun. “Kamu itu calon ayah dari anak yang ada dalam rahim wanita itu. Jadi, jangan pernah lagi mengatakan sesuatu yang membuatku harus mengubah arah hati dan berakhir buruk untuk perempuan itu dan anaknya.”
Kalimat yang dikatakan Erika bukan sebuah ancaman. Dia hanya ingin membangun benteng tinggi yang mungkin tidak akan bisa digapai atau dihancurkan orang. Khususnya, Ade.
“Gugat saja aku—”
“Jalan. Jangan banyak bicara!” ketus Erika dengan nada dingin, yang langsung dilakukan oleh Ade. Mobil hitam mengkilat itu melesat membelah jalanan, menuju tempat tujuan.
Mereka punya sebuah berkas yang keduanya buat sebelum memutuskan untuk hidup bersama. Perjanjian hitam diatas putih yang tidak akan merugikan satu sama lain ketika memutuskan untuk berpisah. Perjanjian pra nikah. Mereka membuat itu hanya sebagai antisipasi, bukan negoisasi.
“Jangan salahkan dirimu, didepan mama dan papaku. Tolong dengarkan aku kali ini.”
Ungkapan itu adalah bukti, jika masih ada secerca cinta dari Ade, untuk Erika.
***
“Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Papa nggak ngerti?!” jawab Gumilang Pratama— ayah dari Made Pratama—tegas menanggapi ucapan putranya yang tanpa ada angin tanpa ada hujan, meminta restu dan izin untuk meminang perempuan lain didepan mata istri yang sudah menemaninya sejak masih menjadi seorang mahasiswa. “Kamu gila ya?!” oloknya terang-terangan kepada Ade.
Gumilang adalah sosok mertua yang sayang pada menantu, karena Erika adalah menantu satu-satunya yang sudah ia anggap seperti anak sendiri. Tak hanya Gumilang, Swastari juga sangat menyayangi Erika lebih dari menyayangi putranya sendiri, Made Pratama.
“Kamu jangan ngomong aneh-aneh deh, De.” sambung Tari untuk si tunggal yang selama ini ia sayangi. Mendengar putranya ingin menikah lagi dengan wanita lain, Tari merasa sakit hati. “Mama nggak pernah ngajarin kamu jadi pengecut lho, ya? Tolong jaga nama baik papa dan mama! Jangan bikin malu papa dan mama didepan Erika, dan kesatuan!”
Ade tau, jabatan yang diemban papa nya itu tidak bisa di buat bercanda. Namun seperti kata pepatah, semuanya sudah terlanjur terjadi, bak nasi yang menjadi bubur. Ade harus bersikap sebagimana seorang laki-laki yang harus bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan.
“Kamu nggak mikir, bagaimana perasaan Erika saat meminta izin menikah lagi padanya? Jangan ngaco deh kamu, De.” kata Tari tak ingin dibantah, namun tak mendapat jawaban dari Ade.
“Saya tidak apa-apa, mam.” sahut Erika menyela.
“Mama lebih tau bagaimana perasaan kamu sekarang, Er. Jangan melindungi suamimu jika dia tidak benar hanya untuk menutupi, bagaimana perasaanmu saat ini, nak.” sahut Tari setelah mendengar Erika yang melakukan pembelaan kepada Ade. “Apa yang kamu lakukan sampai kamu harus meminta Erika rela di madu?” ketus Tari dengan wajah yang sudah tidak bersahabat saat melontarkan pertanyaan tersebut kepada putranya sendiri.
Mendengar pertanyaan tersebut, Ade langsung diam dan tertunduk. Dosa yang ia lakukan ya? Sepertinya teramat besar, hingga dia tidak berani untuk mengatakannya secara gamblang.
Erika mencoba meraih dan merengkuh mama mertuanya kedalam pelukan. Sebisa mungkin dia tidak akan memperlihatkan kesedihan dan rasa sakit hatinya didepan sang ibu mertua yang sudah seperti ibu sendiri itu. “Mam, percaya sama Erika. Mas Ade—”
“Mama cuma nggak pingin lihat kamu sedih, Er.”
Erika menatap lembut sosok Tari, lalu setetes airmata jatuh membasahi pipinya. “Mama sebentar lagi,” Erika menjeda. Ia menunduk untuk menguatkan hati. “Mama sebentar lagi menjadi nenek.”
Tidak hanya tari, Gumilang pun ikut terkejut dan mendelik lebar menatap Erika, satu-satunya suara yang terdengar memenuhi ruangan saat ini. “Mas Ade, akan menjadi seorang ayah.”
Tari menoleh kasar ke arah Ade yang masih tertunduk. “Bajingan!” umpatnya kepada Ade yang masih bergeming. Dengan gerakan cepat, Tari melesat mendekati Ade dan mendaratkan satu tamparan keras di wajahnya. “Darimana kamu belajar menjadi pria tidak bermoral begitu, hah?!” teriak tari membumbung. Ia tidak habis pikir jika Ade sampai melakukan hal memalukan seperti itu saat Erika berjuang, mengusahakan agar mereka segera diberi keturunan.
“Mam,” pekik Erika yang sontak berlari mendekat untuk membawa Ade kedalam pelukan, meski sesungguhnya ia enggan. Akan tetapi sisi lain dirinya, tidak bisa melihat orang yang pernah sangat ia sayangi itu, mendapat perlakuan kasar seperti yang baru saja ia lihat. “Erika yang min—”
“Maafkan Ade, mam. Ade salah.” sahut Ade sebelum Erika menyelesaikan kalimatnya. Lalu tiba-tiba tubuh Ade terhuyung ke belakang, dan satu tamparan lain yang lebih terasa menyakitkan, mendarat di wajahnya. Papanya yang melakukannya, kali ini.
“Papa tidak akan sudi menerima perempuan ja-lang dan anaknya.”
“Papa,” panggil Erika lembut dengan derai tangis yang pecah mendera jiwa. “Tolong, jangan sakiti mas Ade. Ini salah Erika. Erika—”
“Ade salah, pa.” sahut Ade lagi. Ia benar-benar tidak ingin Erika mengatakan sumber dari masalah yang terjadi. Pilihan terakhir Ade untuk menyayangi Erika adalah, melindunginya dari kebencian yang akan timbul dari kedua orang tuanya itu, kepada wanita yang ada dihadapannya saat ini. “Untuk itu, Ade ingin bertanggung jawab.”
“Brengsek!”
Seumur-umur, baru hari ini Ade melihat papanya mengumpat. Dan ini membuatnya begitu rendah. Ia seperti tidak berharga.
“Biarkan Ade bertanggung jawab atas apa yang sudah Ade lakukan, mam, pa. Karena Ade, tidak ingin menelantarkan darah daging Ade.”[]
...Bersambung...
...🌼🌼🌼...
###
Maaf telat update, baru nyampe rumah habis luar kota 😁
Happy reading semua. Konflik semakin hooooot ye kan? Hehehe