Recognize You

Recognize You
17. Eksistensi Nyata




...Recognize You by VizcaVida...


...Happy reading...


...[•]...


Erika duduk di tepian ranjang dengan tatapan kosong. Beberapa menit lalu, dia memaksa Ade untuk segera pulang agar menemani Refana di atap lainnya. Sumpah, dia tidak sakit hati sekarang. Hanya saja, masih ada sisa rindu saat Ade jauh darinya. Kenangan saat bersama tak bisa menghilang begitu saja. Apalagi rumah yang ia tempati ini, begitu banyak menyimpan kebahagiaan yang dulu pernah mereka lukis bersama di bawah satu atap.


Erika termenung, lampu utama kamar baru saja ia ganti dengan lampu tidur, karena dia memang hendak berangkat menuju alam mimpi. Tapi, Erika mengingat sesuatu yang tadi, hendak ia berikan kepada Ade namun urung.


Ya, sesuatu.


Sesuatu yang akan membuat Ade tidak lagi terbebani oleh hidupnya. Sesuatu yang akan membuat semuanya, menjadi mudah.


Erika kembali berjalan menuju saklar lampu, dan menekan tombol on agar ruangan kembali terang. Lantas, ia kembali duduk pada tepian ranjang, melirik ke arah laci nakas, dimana tempat sesuatu itu berada.


Lengannya yang masih terbungkus sweater terulur untuk menarik handle berupa bulatan kecil pada laci hingga ruang berbentuk persegi panjang itu muncul dan terlihat. Ada selembar map berwarna hijau pudar berlogo Pengadilan Agama tercetak tebal dan jelas, didalam sana. Perlahan, telapaknya meraih map tersebut. Ada perasaan menyengat yang menyakitkan menyambangi benak Erika saat mengingat isi dari map tersebut.


Map itu, berisi surat gugatan cerainya terhadap Ade tanpa sepengetahuan pria itu.


Semua harus selesai.


Tuntas, tanpa ada dendam.


Erika meyakinkan dirinya untuk tidak meletakkan dendam kepada Ade, yang akan menjadi mantan suaminya.


Segaris senyum tercetak di bibir Erika. Pilu kembali menyambangi, dan kabut kembali datang menyapa pelupuk matanya. Dialihkannya tatapan pada sebuah bingkai foto, dimana disana ada dirinya bersama Ade yang saling menatap satu sama lain. Terlihat bahagia, tanpa beban masalah.


“Itu dulu, Er.” gumamnya pada diri sendiri. “Itu dulu, sebelum kamu menciptakan takdir mengerikan seperti sekarang.” lanjutnya kembali tenggelam dalam masa lalu, dimana hari itu, dia meminta Ade untuk mencari pengganti dirinya agar dapat memiliki seorang anak.


“Ini salahku, bukan salahmu atau pun Refana yang sekarang tengah mengandung benih cinta terlarang kalian.”


Erika meringis tipis saat bergerak meraih bingkai foto bahagianya bersama sang suami. Ia ingat dimana foto itu diambil. Saat itu, mereka di sebuah pantai di Bali, pengantin baru, bulan madu. Ya, itu fotonya lima tahun yang lalu dan satu-satunya yang ia simpan setelah tau perselingkuhan Ade dengan Refana.


“Sakit, De. Tapi aku akan terus dan terus berusaha menerima dengan lapang dada.”


Senyuman lebar terbentang di bibir pucat Erika. Mual itu datang kembali, dan Erika harus kembali berlari ke kamar mandi. Di muntahkannya seluruh isi perut yang baru saja ia telan beberapa saat lalu. Tubuhnya lemas, dan bibirnya bergetar.


“Ya Tuhan ... ” de-sahnya pilu. Sampai kapan dia harus menyimpannya?


Apa semua akan baik-baik saja jika dia sendiri yang akan melewati perjuangan ini sendirian?


Erika meremas tepian westafel yang masih berisik oleh gemericik air tergelincir yang ia nyalakan dari kran air. Tatapannya nyalang dan kosong, hingga mual itu kembali menyerang.


Setelah cairan pahit keluar dari mulutnya, Erika memutar tubuhnya untuk bersandar pada dinding kamar mandi. Matanya terpejam, dan perlahan telapaknya merambat mengusap perutnya yang rata. Bobot tubuhnya merosot drastis karena naf-su makannya menghilang. Tubuhnya kurus, dan tenaganya tidak sekuat dulu. Namun Erika heran, mengapa tadi, nasi itu tertelan sangat banyak saat ada Ade?


“Kenapa disaat seperti ini?” gumamnya putus asa. Jalan pikirannya buntu. Ia tidak bisa berfikir jernih karena semua sudah terlanjur berlalu di arah yang salah.


Hampir enam tahun, dia dan Ade menantikan ini.


Hampir enam tahun, mereka berjuang agar dia ada.


Dan mengapa justru dia hadir disaat semua sudah berantakan.


Dan sekarang, dia semakin gencar menunjukkan eksistensinya pada Erika. Ia tertunduk menatap bagian perutnya, mencoba merasakan keberadaannya yang masih tidak teraba.


“Kenapa baru sekarang?”


Bukan menyesal, bukan. Tapi Erika hanya tidak menduga jika dia hadir di saat seperti ini. Disaat si pemilik sudah memiliki yang lain.


Menyadari hal itu, setetes airmata kembali jatuh.


“Maafkan aku.” bisiknya lirih, lalu mendongak menatap langit-langit kamar mandi agar airmatanya tidak jatuh semakin deras. “Maafkan aku.” bisiknya, lagi. Kali ini ia kembali mengusap perutnya yang terasa perih. Ia butuh makan, tapi eksistensi didalam sana, seolah menghukumnya karena telah membuat keputusan sepihak yang menyakiti banyak pihak.


Mata Erika terpejam erat dengan suara tangis yang sudah tidak lagi dapat ia bendung. Kesedihan itu kembali datang dan Erika tidak bisa berbuat apa-apa.


“Maaf ... ”


Erika kembali mengarahkan dirinya diatas westafel. Mual itu kembali menyiksa, dan dirinya harus memuntahkan apa yang tersisa di dalam lambungnya. Namun bukan asam lambungnya sedang naik, bukan itu. Penyebabnya tak lain karena ... ada kehadiran makhluk kecil di dalam rahimnya.


Ya. Erika hamil.[]


...Bersambung...


...🌼🌼🌼...


###


Main-main ke cerita baru Othor yuk, judulnya ‘Hey You! Marry Me!’Mana tau suka, ya kan? 😁 Genre-nya Romansa. Cuma, Othor juga lagi coba selipin komedi tipis-tipis disana.


Klik profil author aja untuk tau bagaimana kisah Nina dan Andra yang harus menikah muda karena kemauan sang kakek kaya raya nya.


Jangan lupa juga untuk meninggalkan jejak biar authornya semangat


Terima kasih


❣️❣️❣️