Ramish

Ramish
Delapan



Saat Zia dan para santriwati sedang mengobrol dan becanda tiba-tiba mereka semua diam.


“Ada apa? Kenapa kalian semua diam?” tanya Zia


“Iii... Itu Zia belakang kamu.” Ucap salah satu santriwati


“Apa, ada apa dibelakang ku?” tanya nya lagi


Saat Zia memutarkan badan nya dan deg.


“Whatt, balok es ini lagi.” Batin Zia


Kemudian Zia memutarkan kembali badannya mengarah ke para santriwati yang sekarang menundukkan kepala nya.


“Assalamu’alaikum ukhti ukhti “ ucap Naufal


“Walaupun salam ustadz Naufal.” Jawab serempak para santriwati kecuali Zia yang sedang terkejut.


“Hahh ustadz!!!” gumam Zia


“Iya Zia mereka adalah ustadz Hamish dan ustadz Naufal.” Jawab Fatimah yang mendengar gumamnya Zia


“Kamu perempuan bercadar warna hitam urusan mu denganku belom selesai!” ucap Naufal


“Masalah apa huh? Aou merasa tidak pernah membuat masalah denganmu” kata Zia ketus.


Para santriwati dan Naufal pun hanya diam dan membatin dalam hati “baru kali ini aku melihat seseorang berbicara seperti itu kepada ustadz Hamish apa lagi membuat masalah dengannya.” Kira-kira itu lah yang ada dibenak mereka semua.


“Apa kamu lupa, baiklah akan ku ingatkan. Kamu melanggar aturan yang ada diponpes ini bahwa tidak boleh santri yang menggunakan handphone kecuali ada kepentingan.” Kata Hamish


“Aku pun begitu, aku mempunyai kepentingan hingga aku harus menggunakan handphone ku ini dan aku tidak bisa jika harus jauh dengan alat komunikasi ini karena itu penting.” Bela Zia tak mau kalah.


Ya iya lah seorang Zia mau kalah dalam perdebatan, cihhh bukan Zia namanya jika dia kalah.heeee


“Apa yang kamu lakukan tadi itu suatu hal yang penting huh, yang aku lihat kamu bercanda dan membicarakan hal-hal yanh tidak penting dengan orang-orang itu.” Ucap Hamish


“Asal kamu tahu itu sangat penting karena mereka sahabat ku, aku memberi kabar pada mereka apa salah nya hal itu. Oo ya jangan-jangan kamu tidak pernah mempunyai sahabat jadi kamu tidak tahu jika hal itu sangat lah penting.” Kata Zia dengan nada sinis


“Itu sama sekali bukan urusan mu, niatku datang kemari hanya ingin memberi konsekuensi atas apa yang kamu lakukan.” Katanya kepada Zia


“ Memang apa yang ku lakukan sampai aku harus mendapatkan konsekuensi nya, sungguh menyebalkan.” Jawab Zia


“Kau masih bertanya lagi, ahh sudah lah aku tak ingin berdebat dengan mu lagi sekarang berikan handphone mu padaku.” Ucap Hamish


“ Cihhh tak akan pernah ku berikan sesuatu berharga milikku ke sembarangan orang apa lagi itu kamu, tidak mungkin.” Kata Zia sinis


“Benarkah, tapi itu tidak akan berlaku karena kamu sendiri yang akan memberikan nya kepadaku.” Ucap Hamish


“Hahahahha kamu terlalu percaya diri” kata Zia


Hamish berhenti bicara menatap dalam mata Zia karena mereka sedari tadi saling memberikan tatapan tajam mereka.


“Atau apa huh” tanya Zia


“Atau mereka yang sekarang bersama mu para santriwati akan mendapatkan hukuman dariku” ucap Hamish


“Apa-apaan kamu ini, kamu punya masalah denganku jangan bawa-bawa mereka, mereka sama sekali gak salah dan gak tau apa-apa.” Kata Zia sedikit meninggikan suaranya


“Jadi... Berikan handphone mu atau mereka mendapatkan hukuman atas kesalahan mu.” Ucap nya kepada Zia


“ itu tidak adil,” kata Zia


“Aku sungguh tidak peduli, sekarang pilihan ada ditanganmu.” Ucap Hamish


Sekarang Zia mulai diam karena dia tidak mungkin memberikan handphone nya kepada balok es itu dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada handphone nya itu. Tapi dia juga tidak bisa harus mengorbankan santriwati itu karena mereka tidak tau apa-apa tentang hal ini. Kemudian Zia menatap wajah para santriwati itu nampak sekali rasa takut dan kecemasan di wajah mereka.


“Hmmm baik lah, aku berikan handphone milikku ini” ucap Zia


“Pilihan yang bagus, baiklah ku terima handphone mu ini dan kuharap kamu tidak akan mengulang hal ini lagi.” Kata Hamish


Akhirnya Zia memberikan handphone kesayangan nya kepada Hamish. Sementara disisi lain Hamish nampak tersenyum penuh kemenangan karena dapat mengalahkan Zia.


“Anna permisi, assalamu’alaikum” Ucap Hamish melangkah pergi


“Waalaikumsalam” ucap serempak para santriwati


Zia hanya menatap miris kepergian ustadz tersebut, bukan dia sedih karena ustadz itu pergi tapi karena handphone miliknya yang dibawa pergi oleh ustadz tersebut.


“Makasih Zia karena kamu mengorbankan handphone milik mu dibandingkan kami, padahal ini hari pertama kita bertemu “ ucap Fatimah


“Bukan masalah,” hanya itu yang keluar dari bibir zia


“Hmm apa kamu baik-baik saja Zia” ucap salah satu teman Fatimah


“Tidak, aku memikirkan nasip handphone bagaimana” jawab Zia lesu


“Maafkan kami tidak bisa bantu apa-apa, tapi aku tahu satu hal jiks handphone milik salah satu santri diambil oleh ustadz atau guru yang mengajar pasti akan dibawa ke ruang pertemuan dekat lapangan untuk dihancurkan dengan palu.” Kata Fatimah


“APA!! Dihancurkan!! Dengan Paa.. Lu” ucap Zia


Tanpa fikir panjang lagi Zia memutuskan untuk berlari menuju tempat yang dikatakan Fatimah tempat dimana handphone kesayangan nya akan di bumi hanguskan. Tanpa menghiraukan teriak dari Fatimah dan teman-temannya Zia terus berlari.


######


heeee penasaran keributan apa lagi yang akan Zia lakukan ya🤔🤔


ayu sahabat 😘 kakak-kakak yang baik tolong dukungan nya ya🙏❤