
Hari ini adalah hari pertama untuk Zia belajar diponpes. Dihari pertama ini Zia akan mengikuti kelas bahasa Arab, sebenarnya Zia ingin sekali menolak tapi mau gimana lagi Zia harus mengikuti kelas itu.
“Assalamu’alaikum” ucap seseorang dari depan pintu
Semua santriwati langsung bersiap-siap dimeja masing-masing termasuk Zia.
“Waalaikumsalam” ucap para santri
Saat orang tersebut masuk betapa terkejut nya dua insan yang saling beradu pandang. “Apa mawar berduri ini ikut kelas bahasa Arab di kelasku?” batin Hamish. “Apa ini guru bahasa Arab nya, cihh kalo bukan gara-gara umma mungkin aku sudah bolos” batin Zia
Pembelajaran berlangsung dengan hikmat tanpa ada perdebatan antara Hamish maupun Zia sampai pembelajaran selesai. Setelah kelas selesai Zia memutuskan untuk kembali kerumah utama karena tidak ada kelas lagi setelah ini.
“Assalamu’alaikum” ucap Zia memasuki rumah utama.
“Waalaikumsalam neng” ucap ambu
Ambu adalah seorang yang membantu dirumah umma dan abi, panggilan ambu diberikan oleh keluarga umma.
“Umma dimana ambu” tanya Zia
“Ada dikebun belakang neng” jawab ambu
“Baik lah aku akan kesana” ucap Zia
“Apa neng Zia sudah tidak ada kelas hari ini” tanya ambu
“Tidak ambu, nanti ba'da ashar ikut pengajian di aula pesantren” jawab Zia
“Ehh iya ambu hampir lupa, ambu juga akan pergi kesana” ucap ambu
“Bagus kalo begitu, nanti kita berangkat bersama.oke” kata Zia
“Iya neng.” Ucap ambu
Setelah sampai dikebun belakang, akhirnya Zia menemukan umma nya. Dan Zia dibuat kagum akan tatanan beberapa sayuran, dan bunga yang begitu rapi dan indah.
“Assalamu’alaikum umma” kata Zia
“Waalaikumsalam nak Zia sudah pulang “ ucap ambu
“Sudah umma, apa ini semua umma yang menanam nya?” tanya Zia
“Benar sayang, daripada umma tidak ada pekerjaan lebih baik berkebun dan jujur umma dulu melihat mu berkebun membuat umma ingin ikut berkebun juga” jawab umma tersenyum
“Ahhh umma bisa aja” ucap Zia
“Tapi ini susunan dan dekorasi nya sangat rapi, aku suka umma” ucap nya lagi.
“Benarkah bagus kalo begitu, ini semua yang mendekor adalah Hamish ternyata kalian mempunyai selera yang sama” kata umma
“Hmm iya umma”ucap Zia
“Umma tanaman apa ini? “tanya nya kepada umma
“Entah lah tetapi tanaman ini milik Hamish, dan Hamish juga memberikan nama untum tumbuhan ini emmm apa ya namanya umma lupa tapi yang jelas ini milik Hamish.” Jawab umma
“Oo begitu, tapi yang aku tahu tanaman seperti ini tidak akan tumbuh subur dan lebat jika terus berada dalam pot kecil ini, dia harus ditanam ditanah langsung supaya akarnya dapat berkembang dengan baik” ucap Zia
“Itu benar juga, lalu apa yang harus dikita perbuat? Tanya umma
“Kalau boleh aku pindahkan tanaman ini“ jawab Zia
“Hmmm maka lakukan saja,” ucap umma
“Benarkah umma, tapi..” ucap Zia berhenti
“Tidak usah khawatir urusan Hamish biar umma yang bicara nanti” kata umma
“Baik lah umma aku akan memindahkan tanaman ini” ucap Zia
Siang itu mereka habiskan dengan bercocok tanam dan menceritakan tentang mereka masing-masing sesekali gelak tawa terdengar dari mereka berdua.
****
Sore hari dirumah utama sesaat begitu sepi karena umma dan abi harus pergi keluar kota untuk pekerjaan penting karena tidak mau harus selalu bertemu dengan Hamish, Zia memutuskan untuk ikut tinggal bersama para santriwati lainnya. Tetapi Zia akan sering mengunjungi rumah utama itu janji nya dan setiap jam 3 sore pasti Zia sempatkan untuk melihat-lihat kebun yang sekarang menjadi tanggung jawab nya.
Seperti sore ini Zia memutuskan untuk menanam beberapa tanaman cabai yang katanya super pedas didaerah nya tersebut. Saat Zia masih asik menanam pohon cabai dengan ditemani musik kesukaan nya tiba-tiba Zia dikagetkan dengan musik yang tiba-tiba berhenti.
“Amboyy siapa sih yang ganggu gue!” Grutu Zia
“Khemm” deheman seseorang yang berada dibelakang Zia
Dengan merasa kesal Zia membalikkan badan nya melihat seseorang yang berada dibelakang nya. “Sial kenapa ada mahluk balok es ini “ batin Zia
“Ada apa? Kenapa kamu disini? Kenapa kamu ganggu aku?” tanya Zia
“Banyak bertanya!” jawab Hamish dingin
“Cihhh untung saja nih cabai baru aku tanam jika sudah berbuah ku masukan semua buahnya” gumam Zia
“Kamu bicara apa huh?” ucap Zia
“Apa?” jawab Zia pura-pura tidak tau
“Lupakan! Oh ya aku kesini untuk......” ucap Hamish
Tiba-tiba Hamish berhenti bicara karena dia melihat sesuatu yang sangat mengejutkan.
"Dimana mellin milikku?" batin nya
“Untuk?” tanya Zia
Zia sangat terkejut mendengar apa yang ditanyakan oleh Hamish, Zia menaikan salah satu alis nya heran. “Sapa mellin?” batin Zia
“Mellin?? Siapa mellin” ucap Zia
“Apa umma tidak memberitahu mu tentang mellin?”
“Hmmm sepertinya tidak, aku tidak pernah mendengar umma menyebut nama mellin atau sesuatu yang berhubungan mellin”
“Cihhh lalu pohon apa ini, kenapa jadi pohon mawar dipot milikku ini huh siapa yang tanam ini?”
“Aku, kenapa?”
"Berarti benar julukanku Dia ini bener-bener seperti mawar cantik tapi galak nya minta ampun" batin Hamish
“Lalu kamu buang kemana mellin?”
“Mellin, mellin terus. Sebenarnya siapa mellim aku tidak mengerti?”
“Mellin itu pohon zaitun yang aku bawa jauh-jauh dari Turki saat aku akan pulang ke Indonesia!”
Bwaaahhhaaa
Tawa Zia akhirnya pecah, karena Zia baru tahu bahwa mellin yang dimaksud adalah tanaman yang waktu itu Zia pindahkan. Dan yang membuat Zia harus menahan tawa nya adalah reaksi dari wajah Hamish yang begitu panik seperti anak kecjl kehilangan ibu nya padahal ibu nya sedang dikamar mandi.
“Kenapa kamu ketawa? Apa yang kamu tertawakan? Apa ada yang lucu huh?” tanya Hamish
"Bagaimana tidak aku tertawa melihat wajahmu yang sungguh lucu sekali merah karena marah dan wajah bingung nya itu sungguh perpaduan yang menggelikan hahaha." batin Zia terkekeh
“Hmmmm tidak ada heeee.” Ucap Zia
“Lalu kenapa kamu tertawa seperti?”
“Ahh tidak, kamu mencari mellin kan?”
“Kan aku sudah katakan tadi apa telinga mu sudah tidak berfungsi huh”
“Enak saja jaga bicara mu itu. Kamu mau aku beritahu dimana mellin atau tidak aku tidak memiliki banyak waktu untukmu aku benar-benar sibuk”
“Cepat beritahu aku dimana mellinku”
“Cihhh tidak sabaran sekali, aku beritahu kamu tapi itu tidak lah gratis kamu harus membayar nya”
“Mau aku bayar dengan apa huh? Uang”
“Behhh sabar, hah uang aku tidak membutuhkan uangmu. Aku memiliki cukup uang di tabungan ku.”
“Lalu.....”
“Bantu aku. Bantu aku menanam pohon cabai ini, bantu aku ambilkan satu karung itu dan bawa kesini. Setelah itu bantu aku pindahkan pot-pot ini ketempat itu dan susun dengan benar. Itu saja tidak lah sulit kan”
“Aku Cuma minta kamu buat nunjukin dimana mellin kenapa kamu berbelit-belit seperti ini huh?”
“Ya sudah jika kamu tidak mau, aku bisa melakukan nya sendiri dan kamu bisa pergi dari sini lalu kembalikan handphone ku. Heran aku dengan kamu suka sekali memegang handphone milikku.”
“Bisakah kamu diam. Ayo aku akan membantu mu lalu kamu tepati ucapan mu itu. Dan ini handphone milikmu tidak akan pernah lagi aku memegang nya sedikit pun.”
Setelah mendapatkan handphone nya Zia memutar lagi musik kesukaan nya lalu mengeraskan volume suara nya.
“Bisa kah kamu mengecilkan volume suara nya!” kata Hamish
“Tidak, telinga ku setidaknya dua kali sehari harus mendengarkan lagu-lagu kesukaan ku. Jika kamu tidak ingin dengar tutup saja telingga mu” ucap Zia
“Terserah dirimu. Lalu apa yang harus aku lakukan?”
“Ambillah satu karung itu dan bawa kesini, lalu pindahkan tanah itu kedalam pot-pot ini terus bantu aku pindahkan pohon cabai kecil ini kedalam pot-pot itu”
“Sangat mudah, anak kecil saja bisa melakukan ini.”
Setelah Hamish memindahkan satu karung yang entah berisi apa ke tempat dimana Zia berada. Lalu Hamish mulai memindahkan nya kedalam pot-pot yang dikatakan Zia.
“Tanah apa ini? Kenapa bau dan warnanya seperti ini tidak seperti tanah biasa? “tanya Hamish
“Ahh ini, ini adalah tanah racikanku sendiri. Tanah yang aku campur kan dengan beberapa bahan lainnya seperti pupuk kandang/kotoran sapi bisa juga kambing lalu merang padi yang sudah dibakar tapi tidak sampai menjadi abu dan merang padi yang tidak dibakar.
Setelah iti aku tambahkan lagi tanah bekas bakaran daun-daun dan lainnya yang sudah membaur menjadi tanah. Jika semua dicampur kan dengan komposisi yang benar jadi lah tanah gambus yang baik untuk bercocok tanam.”Ucap Zia
Karena terkejut Hamish tiba-tiba berdiri dan menjauh. Sebenarnya Zia tahu bahwa Hamish paling anti dengan hal-hal kotor seperti itu, entah karena gengsi atau apapun yang hanya diketahui Hamish. Tapi Zia sengaja untuk membuat Hamish melakukan hal tersebut, Zia ingin sekali memberi pelajaran kepada Hamish yang telah meremehkan masakannya.
“Kamu kenapa, sini-sini ini belom selesai kurang dua pot lagi yang belom kamu isi lagipula kamu belum selesai membantu ku. Kamu bilang ini hal yang sangat mudah anak kecil pun bisa.” Ucap Zia tanpa bersalah
“Tidak, aku tidak akan menyentuh nya lagi” ucap Hamish
#
#
#
#
#
#
jangan lupa dukungan nya sahabat 🙏😍
tinggal kan jejak kalian!! like, koment dan vote nya sahabat 🙏😭