
Setelah melakukan perjalanan jauh sampai lah mereka didepan rumah dimana resepsi pernikahan dilaksanakan.
"Turun!" Ucap Hamish
"Dek Zia apa kamu baik-baik saja?" Tanya Naufal
Sedangkan yang sedari tadi dipanggil hanya menatap kosong luar jendela, entah apa yang sedang difikirkan.
"Razia Ananda Putri, kamu mau keluar atau tidak!" Teriak Hamish
"Hmm ya! Ada apa?" Tanya Zia
"Turun atau tidak!" Tegas Hamish
"Sabar a'a! Kenapa a'a jadi emosian seperti ini!" Ucap Naufal
"Dek Zia mau turun atau tidak, kita sudah sampai di depan rumah resepsi pernikahan nya." Tambah Naufal
"Hmm aku bingung harus bagimana!" Ucap Zia ragu
"Kamu!! Benar-benar menguji kesabaran ku," Kata Hamish frustasi
"Maaf!" Gumam pelan Zia yang masih terdengar oleh Hamish dan Naufal.
Mendengar permintaan maaf Zia membuat Hamish diam seketika. Entah apa yang membuat Hamish diam. Tidak berbeda jauh dengan Naufal yang juga terdiam, selama ini setiap kali Hamish dan Zia berdebat selalu tidak ada kata maaf dari mereka berdua tapi apa ini! Mengejutkan!. Dan entah apa yang terjadi pada Zia saat ini.
"Baiklah! Sekarang jawab pertanyaan ku lagi! Kamu mau keluar atau tidak dan kita akan pergi dari sini!" Kata Hamish sedikit lembut
Mendengar itu Zia langsung menegakkan kepala nya yang sedari tadi menunduk dan sekarang menatap dalam mata Hamish.
"Aku.. Aku.. Aku takut untuk masuk kedalam sana!" Ucap Zia menundukkan kepala nya
"Apa yang kamu takut kan! Sepertinya ini bukanlah dirimu! Kamu hari ini berbeda dengan kamu yang dulu pertama kali aku bertemu dengan mu. Kamu yang selalu membuat masalah dengan ku dan selalu membuat onar diponpes." Kata Hamish
Naufal yang mendengar itu hanya terkejut, sejak kapan a'a nya mau berbicara panjanh lebar dengan orang lain apa lagi ini untuk perempuan. Seorang yang dingin seperti a'a nya ini bicara panjang untuk memenangkan kegundahan seorang perempuan.
"Enak saja aku suka buat masalah, bukannya kamu yang selalu cari masalah dengan ku. Dan ya aku tak pernah membuat onar diponpes." Ucap Zia kesal
"Benarkah!" Kata Hamish dengan nada mengejek
"Kamu, kenapa kamu begitu menyebalkan huh!" Ketus Zia
"Jika kamu sedang menghadapi masalah maka hadapilah, jangan pernah berfikir untuk lari dari masalah atau menghindari nya. Mau bagaimana pun juga masalah akan pasti datang tergantung kita bisa menghadapi atau tidak. Masalah akan selalu datang dan masalah lah yang akan mendewasakan kita. Sudah lah, jadi apa pilihan mu?" Tanya Hamish
"Baiklah aku akan turun! Dan ya apa kalian mau menunggu ku?" Kata Zia
"Tidak! Aku harus pergi karena ini sudah hampir terlambat. Aku usahakan menyelesaikan dengan cepat dan menjemput mu!" Ucap Hamish
"Baiklah, kalau begitu aku turun. Terima kasih! Assalamu'alaikum!" Ucap Zia tersenyum
Beruntung Zia memakai cadar saat ini, jika tidak mungkin Hamish akan menjadi patung mendadak.
Setelah kepergian Zia, Hamish menjalankan mobil nya. Karena merasa ada yang aneh hamish pun menoleh kearah naufal yang duduk di samping kemudi nya.
"Ada apa dek?" Tanya Hamish heran dengan diam nya Naufal
"Apakah ini benar a'a anna, a'a Hamish Ibnu Al Jarish." Tanya Naufal frontal
"Apa lah anta ini! Anna tidak mengerti?" Ucap Hamish menggelengkan pelan kepala nya
"A'a tadi emosional dan dengan kata maaf dek Zia membuat a'a menjadi sedikit lembut, dan a'a bicara panjang lebar untuk Zia. Ini benar dirimu a' anna benar-benar tidak percaya, anna bersama a'a sudah bertahun-tahun dan baru kali ini anna melihat a'a seperti ini apalagi dengan perempuan!" Kata Naufal
"Apaan sih dek ufal, anta terlalu berlebihan. Anna cuma tidak tega melihat Zia seperti itu, walaupun ya a'a tidak tau akar masalah nya apa!" Ucap Hamish
"Engga a', jika umma dan abi tau pasti mereka juga terkejut!" Kata Naufal
Sedangkan Hamish hanya diam dan menggelengkan kepalanya pelan. Jila mengingat hal yang terjadi beberapa menit lalu, membuat Hamish tersenyum geli sejak kapan dia seperti itu.
***
Di tempat lain sekarang Zia berada tepat didepan pintu rumah Alya, Zia bingung harus kah dia masuk kedalam sana atau balik badan pergi lari seperti seorang pengecut.
"Bagaimana ini? Aku masuk atau tidak! Ya Allah gini amat hidup ku! Balik lah balik! Tapi balik kemana? Jelas mereka sudah jalan menuju kantor dan aku harus gimana? Ahh sudahlah masuk aja Zia ucapkan selamat beri kado ini lalu pulang! Tapi aku tak enak hati dengan teman-teman ku yang lain dan tante Nina (ibu Alya)! Sudah lah balik aja, tapi aku pasti akan ditertawakan oleh balok es itu karena aku sepengecut ini!" Grutu Zia di dalam hati.
Saat Zia sedang bergulat dengan pikiran nya tiba-tiba ada anak kecil menghampiri Zia.
"Kakak sedang apa disini? Kenapa kakak gak masuk kesana?" Tanya polos anak laki-laki tersebut
"Hmm ya, sebenarnya kakak sedikit tidak nyaman masuk kedalam sana" Jawab Zia
"Bukannya disana yang menikah itu teman kakak ya, teman kakakku juga!" Ucap anak laki-laki itu
"Benar dek, tapi.." Sebelum Zia melanjutkan ucapannya dia sudah ditarik tangan nya oleh anak kecil itu.
"Kak Rere!!. Kak Rere!!" Teriak anak kecil itu
"Dek tunggu! Berhenti kamu mau ngajak kakak kemana?" Tanya Zia
"Kesana kak, ketemuan sama kak Rere biar kakak ada temennya karena kak Rere juga sendiri gak ada temen!" Ucap anak kecil itu
"Rere! Rere siap lagi nihh anak! Waduh malu banget kaya gini jadi pusat perhatian!" Gumam Zia
"Kak Rere nihh aku bawain temen buat kakak, soal nya kakak ini juga sendirian!" Ucap anak itu
Anak kecil itu menarik tangan Zia dan sekarang Zia didorong pelan oleh anak itu dan melihat sosok laki-laki tampan dengan wajah babyface yang manis tidak jauh berbeda dengan anak kecil itu. "Aku kira Rere itu perempuan tapi dia laki-laki yang manis,heee menggemaskan!" Gumam hati Zia
"Dio apa yang kamu lakukan, cepat kesini! Kamu ini tidak sopan sama kakaknya!" Kata laki-laki itu
"Maaf ya atas kelakuan adik saya! Dia memang benar-benar nakal!" Tambah nya lagi dengan senyuman yang manis
Sementara yang diajak bicara hanya diam mematung menatap laki-laki didepannya. Lamunan Zia membuyar ketika tangan kecil menarik tangan milik nya.
"Ahh ya tidak masalah!" Ucap Zia
Rasanya pipi nya kini panas memerah merona, jika tidak ada cadar maka pasti dia akan sangat malu.
"Maaf saya permisi!" Ucap Zia lagi
"Kakak ayo!" Ucap anak kecil itu
"Kemana lagi Dio kakak sudah lelah mengejar mu kesana-kemari!" Jawab laki-laki itu
"Kakak ini kan laki-laki apa kakak tidak kasian sama kakak cantik ini jika harus berjalan sendiri!" Ucap anak kecil itu
"Tidak masalah aku bisa sendiri! Dan ya namamu Dio kan, kamu sangat lah manis Terima kasih atas tawaran nya tapi kakak bisa sendiri kok!" Ucap Zia lembut
"Siapa nama kakak?" Panggil Dio
Dengan langkah sedikit gemetar Zia berjalan menuju para sahabat nya yang sedang berbahagia dan tertawa bebas. Zia lalu menarik nafas panjang dan dihembuskan nya pelan, dan sekarang dia sudah berdiri tepat dibelakang mereka.
"Assalamu'alaikum!" Ucap Zia sedikit keras agar terdengar dengan mereka
"Waalaikumsalam!" Jawab mereka serempak. Mereka sama sekali belum menyadari siapa wanita bercadar dibelakang mereka tersebut
"Apa kalian sudah melupakan aku! Kalian tidak ingat siapa aku! Sungguh kalian jahat sekali! Baik lah jika kalian semua lupa gue pergi. Bye!" Kata-kata terakhir Zia membuat mereka ingat siapa wanita bercadar ini.
"Zia!!" Ucap mereka serempak
"Haii gaess!" Teriak Zia sambil merentangkan tangannya menyambut para sahabat nya.
"Gue kangen banget sama lo Zia!" Ucap Dewi
"Kita semua rindu lo Zia gak cuma dewi doang!" Sahut Ria
"Iya aku tau kok, aku juga kangen kalian" Jawab Zia
Mereka bertiga berpelukan erat tanpa mereka sadari mereka sekarang sedang menjadi pusat perhatian para tamu undangan dan lainnya. Sampai satu suara buat mereka melepaskan pelukan nya.
"Lo gak kangen gue apa Zi!" Kata perempuan yang mengenakan baju kebaya yang dirias cantik nan anggun.
"Aku juga kangen kamu Al." Ucap Zia sambil berjalan menghampiri Alya
"Selamat ya! Sekarang kamu udah sah jadi istri orang! SaMaWa ya!" Tambah nya lagi sambil memeluk Alya
"Thanks ya!" Jawab Alya
Acara melepas rindu mereka tetap berlanjut tanpa menghiraukan para tamu undangan yang lainnya. Walaupun ada rasa sakit dihati Zia dia tetap memaksakan untuk tersenyum bahagia untuk sahabat-sahabat nya itu.
"Zi lo kesini sama siapa?" Tanya Dewi
"Aku diantar sama bang Ufal dan manusia balok es!" Jawab Zia spontan
"Manusia balok es! Siapa Zia? Lo gak papa kan! Lo gak diapa-apain kan Zi?" Tanya khawatir Ria
"Aku baik-baik aja kok, mereka gak bakal macem-macem sama aku tenang aja!" Ucap Zia menenangkan sahabat nya itu.
"Bagus deh! Siapa juga yang berani macem-macem sama lo secara lo pemegang sabuk hitam!" Kata Dewi
"Apa kabar Zi!" Kata laki-laki yang sedang berdiri disebelah Alya
"Baik!" Jawab Zia cuek
"Lo masih aja cuek ya Zi, aku kira lo sekarang diponpes udah berubah!" Kata Zidan
Didalam hati Zidan memuji kecantikan yang tertutup cadar disertakan keanggunan yang terpancar alami walaupun dia cuek.
"Hmmmm" Gumam Zia
Entah lah Zia merasa malas sekali bicara dengan Zidan. Karena sudah terlalu lama disana dan melihat adegan mesra antara Alya dan Zidan membuat hati Zia merasa panas dan ingin langsung lari dari sana. Tapi apa daya dia tidak bisa melakukan itu, apa kata orang nanti. Akhirnya dengab sopan Zia berpamitan dengan orang tua dari Alya dan berpamitan dengan sahabat nya dan memutuskan untuk pulang.
"Aku pulang duluan ya,!" Pamit Zia
"Lo kok buru-buru banget sih Zi padahal kan kita baru ketemu!" Ucap Dewi
"Iya bener tuhh disini dulu lah, cowok gue juga belum dateng nihh" Kata Ria
"Kamu punya pacar! Hati-hati jangan lama-lama pacaran nya gak baik loh! Nikah langsung aja tuhh kaya Alya." Kata Zia
"Baik bu ustazah!" Jawab Ria disambut gelak tawa yang lainnya.
" Ya udah aku pulang duluan ya! Assalamu'alaikum!" Ucap Zia
Zia memang sengaja tidak berpamitan dengan Alya karena dilihat nya Alya masih sibuk dengan beberapa tamu dan masih dalam dekapan suami nya itu.
Setelah sampai didepan rumah Alya, Zia memutuskan untuk menelpon Naufal dan minta untuk dijemput karena sudah tak tahan berada disana.
"Assalamu'alaikum bang!" Ucap Zia
"Waalaikumsalam dek! Dek Zja udah selesai kondangan nya" Ledek Naufal
"Sudah bang. Bang bisa jemput aku tidak, aku sudah tak nyaman disini!" Kata Zia
"Sebentar nya bang Ufal ngomong dulu sama a'a Hamish. Nanti bang Ufal segera hubungi dek Zia kok!" Jawab Naufal
"Baiklah bang, assalamu'alaikum maaf mengganggu!" Ucap Zia
"Iya dek tidak apa-apa, waalaikumsalam!" Jawab Naufal
***
Dikantor Naufal menghampiri a'a nya yang sedang fokus dengan berkas-berkas didepannya.
"Assalamu'alaikum a'a!" Kata Naufal
"Waalaikumsalam dek!" Jawab Hamish
"A'a barusan dek Zia menelfon anna kata nya minta dijemput sekarang a'" Ucap Naufal
"Kenapa dia tidak menelpon anna?" Tanya spontan Hamish membuat Naufal membulat kan mata nya
"Dek Zia mungkin tidak memiliki nomor ponsel a'a mungkin!" Jawab Naufal
"Bukannya tadi anta masukan nomor ponsel anna ke dalam ponsel milik dia!" Kata Hamish
"Hee aku belum masukan nomor ponsel nya a'a, aku takut a'a tidak menyukai nya" Jawab polos Naufal dengan cengiran kuda nya
"Ya sudah ayo jemput Zia sekarang, jangan buat dia menunggu lama atau kita akan mendengarkan ocehannya" Kata Hamish berjalan menuju pintu
Naufal yang melihat keanehan a'a nya hanya bisa diam melongo dibuat nya. Kemudian Naufal mengikuti langkah kakak nya keluar untuk pergi menjemput Zia.
#
#
##
mohon maaf untuk para pembaca karya saya karena saya baru sekarang up dikarenakan ada sedikit kendalaπ
jangan lupa dukungan nya ya!π
like.. koment.. dan vote nya!!π