Ramish

Ramish
Dua



Malam hari nya ustadz dan ustadzah datang kembali kerumah Zia. Untuk apalagi kesana kalo bukan untuk menanyakan keputusan apakah Zia bersedia atau tidak.


“Jadi gimana sayang, kamu setuju atau tidak.” Tanya mama kepada Zia.


Zia memejamkan mata nya sebentar, lalu menarik nafas dan dia hembus kan dengan kasar.


“ Iya, aku mau tapi dengan syarat.” Jawab Zia menatap satu persatu orang yang ada disana.


“Syarat apa nak, coba katakan.” Ucap istri dari pak Yai


“Aku mau ikut kalian ke pesantren, aku mau belajar disana. Tapi nanti setelah aku menyelesaikan SMA ku, dan yang kedua aku gak bisa jauh-jauh dari handphone ku.” Jawab Zia dengan keyakinan penuh.


“Kalo umma setuju-setuju saja, karena kamu disana akan umma jadi kan putri umma jadi kamu akan tinggal satu rumah dengan umma dan Abi. Kamu juga bisa lanjutkan sekolah mu disana jika kamu ingin melanjutkan nya, umma tidak keberatan sama sekali dengan syarat mu itu.” Jawab umma istri Pak ustadz


“Iya umma, abi juga setuju karena tujuan kita kesini bukan hanya untuk meminta anak gadis orang untuk belajar dipesantren kami, kami juga meminta kamu untuk menjadi bagian keluarga kami.” Tegas pak ustadz


Zia hanya diam mencerna ucapan dari pak ustadz itu yang mengatakan bahwa dia akan menjadi bagian keluarga nya, bagian keluarga yanh seperti apa?? Aku jadi anak angkat nya atau apa? Itu yang ada dipikiran Zia saat ini.


“Jadi kapan kita bisa membawa mu untuk ikut bersama umma dan abi nak.” Ucap lembut umma istri ustadz kepada Zia.


“Tiga bulan lagi aku akan menyelesaikan sekolah ku,” jawab Zia


“Nak apa kamu nyakin dengan pilihan mu, mama kira kamu bakal menolak nya?” tanya mama kepada Zia


Senyuman hangat dibibir Zia yang memegang tangan mamanya. Dan berkata...


“Aku yakin ma, insyaallah Zia menjalani nya dengan ikhlas. Zia tau mama dan papa pasti sudah memikirkan nya dengan baik, dan aku yakin ini pasti jalan yang terbaik buat Zia. Apabila ini jalan satu-satunya membahagiakan dan membanggakan mama dan papa pasti Zia akan lakukan. Insyaallah Zia ikhlas ma.” Senyum Zia tidak pudar dibibirnya padahal dadanya merasa sesak sekali.


“Kamu anak yang baik nak, mama bangga sama kamu.” Ucap mama Zia sambil menarik Zia kedalam dekapan nya.


---------


“Assalamu’alaikum umma, abi” teriakan manja dari anak kedua ustadz sembari mengglayuti tangan abinya, siapa lagi kalau bukan Naufal Ibnu Al Jarish


“Waalaikumsalam “ jawab serampak abi dan umma


“Umma Naufal rindu sekali dengan umma” ucap Naufal yang masih mengglayuti tangan sanh umma.


“Ihh dedek berjenggot kaya anak kecil aja, gak malu sama umur hahahaha.” Ledek sesorang yang berjalan menuruni satu persatu anak tangga. Siapa lelaki itu tampan itu ya itu a’a nya Naufal Hamish Ibnu Al Jarish anak tertua keluarga ustadz.


“Biarin, aku tau A’a pasti iri dengan ku, huuuh” grutu Naufal kepada A’Anya.


“Umma juga rindu dedek berjenggot” jawab umma mengusap pucuk kepala putra nya itu


“Apa kamu Cuma rindu umma mu, apakah kamu gak rindu pada abi mu ini” tanya abi Yai kepada Naufal yang masih bermanja dengan umma nya.


“Tentu, aku juga rindu sangat sama abi.” Ucap Naufal menyalami tangan abi nya.


Setelah selesai melepas kerinduan mereka, akhirnya nya mereka lanjutkan dengan makan bersama.


“Oo ya umma, aku dengar umma ingin mengajak seseorang untuk tinggal bersama kita saat umms kembali kesini.” Tanya Naufal kepada ummanya


“Benar, tapi dia ingin menyelesaikan pendidikan nya terlebih dahulu” Jawab umma sembari menyiapkan makanan untuk mereka.


“Lalu..” tanya nya lagi.


“Lalu apa, sudah lah makan saja itu urusannya umma dan abi kalian kerjakan saja pekerjaan kalian ya” jelas umma kepada Naufal


“Iya umma.” Jawab nya lagi


--------