Ramish

Ramish
Tiga



Setelah tiga bulan kemudian, Zia dan kawan-kawan nya sudah selesai melaksanakan segala macam pertanyaan, soal-soal, lembaran-lembaran yang membuat sakit kepala dan akhirnya sudah dilewati dengan usaha dan hasil yang memuaskan tentunya.


Pagj hari itu rutinitas Zia setiap hari yaitu menyirami tanaman-tanaman nya bukan hanya menyirami Zia juga mengajak bicara tanaman-tanaman miliknya. Kalau ada orang lewat pasti mengira Zia itu sudah gila ya mau gimana lagi dia menyukai nya, jadi “bodoamat hidup-hidup gue, mau gue ngomong sama tumbuhan, batu, hewan atau yang lainnya terserah gue lah” kata-kata itu lah yang selalu diucapkan bila ada yanh menegur kan dan berkata jika dia itu gila.


Setelah menyirami tumbuhan yang Zia miliki dia mulai membersihkan rumput-rumput liar yang menurut nya mencuri pupuk tanaman miliknya.


“Ehh lo ya udah gue bilang gak usah mucul lagi masih aja muncul, bikin gue ilfil aja” gerutunya sambil membumi hanguskan rumput liar itu


“Ini juga lo ya udah numpang, gak tau terimakasih lagi, liat nih lo lebih subur dibandingkan pohon cabe gue dasar gak tau diri lo ya.” Begitu lah kata-kata yang akan keluar dari mulut Zia kalau sudah berada di kebun mini nya.


“Ziaa..” suara yang sangat familiar ditelinga Zia, siapa lagi kalo bukan mama tercinta nya.


“Yes ma, I'm came in” jawan Zia sambil membereskan sisa-sisa pekerjaan nya.


“Astaghfirullah nak, ada apa ini lihat baju kamu” teriak mama Zia yang terkejut bukan main karena tampilannya yang tidak jauh dari berbeda dengan orang gila.


“Heee maaf ma, aku buru-buru kesini “ ucap Zia cengengesan.


“Ganti bajumu dulu dan bersih kan tubuh mu itu, ya ampun bau nya” maki mama Zia, ya seperti itu lah mama Zia.


“Oke ma” jawab Zia sambil meninggal kan mama nya yang sedang ngomel-ngomel karena ulah Zia.


“Amboyy nih anak, stres lama-lama kalo terus seperti ini kerjaan nya.” Omelan mama Zia. Gimana gak ngomel dilihat kebun samping rumah sudah seperti terkena angin ****** beliung berserakan kemana-mana. Terkadang Zia bisa membereskan semua nya hingga terlihat sangat indah dipandang, tapi hari ini semua nya berantakan.


------------


“Iya pa, ada apa?” ucap Zia yang sudah selesai membersihkan diri nya.


“Ini ada pak ustadz dan istri nya datang” kata papa Zia.


“Apa kabar Om,tante” sapa Zia sambil mencium tangan kedua orang tersebut


“ Jadi begini nak mereka kesini untuk menjemput mu” ucap papa Zia


Tentu hal itu membuat Zia terkejut, bagaimana tidak tiba-tiba mereka datang tanpa sepengetahuan Zia dan akan menjemput nya.


“Iya nak, sore ini kita akan kembali ke pesantren jadi kira-kira kita akan tiba disana pukul tiga pagi.” Ucap istri ustadz


“Huuumm baik lah” jawab Zia pasrah dengan apapun kemungkinan yang akan terjadi.


“Bersiap lah nak, kemasi apa yang akan kamu bawa dan keperluan yang kamu butuh kan.” Kata papa kepada Zia


“Ayo sayang mama akan membantu mu untuk berkemas.” Ajak mama Zia


“Iya ma.” Jawab Zia dengan senyuman yang tak pernah pudar dari bibir nya. Padahal dalam hati nya ingin sekali berteriak “Zia gak mau ke pesantren ma, huuwaaaaa😫”


---------