Ramish

Ramish
Delapanbelas



*Ku hanya bisa berharap kau bahagia disana


Dengan dia pilihanmu walau dia sahabatku


Biar aku yang pergi biar aku yang tersakiti


Biar aku yang berhenti


Berhenti mengharapkanmu


Oh tuhan kuatkan aku menerima semua ini


Jika dia memang untukku


Ku harap kembalikan dia padaku


Lagu milik Aldi Maldi – Biar aku yang pergi*


Alunan lagu yang terdengar dari ponsel milik Zia yang terhubung langsung ke mobil milik Hamish sebenarnya bukan Zia yang memutar lagu tersebut tetapi lagu tersebut menyanyi dengan sendirinya mengutarakan isi hati pemilik handphone.


Didalam mobil Zia hanya diam menatap keluar kaca mobil entah apa yang akan dilakukan nya saat menghadiri pesta pernikahan sahabat nya itu.


“A’a mampir ke minimarket ya, anna lapar heee” ucap Naufal


“Hmmm” hanya itu yang keluar dari mulut Hamish


“Dek Zia mau ikut anna tidak mencari makanan atau sesuatu yang anta butuhkan!” aja Naufal


“Ya bang! Boleh” reflek Zia menjawab padahal Zia tidak mendengar apa yang diucapkan Naufal


“Ya sudah ayo keluar atau mau disini nemenin a’a Hamish “ ajak Naufal


“Kemana? Tapi ya sudah aku ikut bareng bang ufal aja daripada disini"kata Zia


“Pergi lah kalian, cepat jangan terlalu lama jika tidak ingin ku tinggal” ucap Hamish


“Siap!” ucap Naufal


Setelah berkeliling memilih beberapa makan ringan, minuman Zia dan Naufal menuju kasir untuk membayar belanjaan nya.


“Dek abang beli air panas ya untuk kita makan mie instan ini!” ucap Naufal


“Apa bang ufal mau aku bantu” tanya Zia


“Ya sudah ini kamu bawa dua cup mie nya dan aku bawa satu cup mie instan dan berlanjaan kita!” kata Naufal


Setelah mereka berdua menyelesaikan kegiatan belanja nya dan kembali menuju parkiran karena mereka tau bahwa Hamish sudah menunggu lama.


“Kalian belanja atau kencan mengapa lama sekali!” hardik Hamish


“Bukan! Kita berdua sedang berenang didalam sana!”ucap Zia kesal


“Aihhh kalian berhenti lah berdebat, maaf a’a ku sayang yang tampan nya gak ketulungan tadi kita cari air panas untuk masak mie instan karena bukan hanya anna dan Zia yang laper anta pasti juga lapar” kata Naufal


“Ini ambil lah aku sedang berbaik hati pada mu atau tidak aku akan memakan nya semua!” kata Zia


“Aku tidak lapar!” ucap Hamish


Kruyukk kruyukk


Suara itu membuat Naufal menahan tawa nya, karena perut Hamish meruntuhkan keangkuhan nya bukan hanya didepan Naufal tetapi Zia juga tidak bisa menahan tawa nya.


Hal tersebut membuat wajah Hamish memerah merasa malu, untung saja penerangan disana tidak begitu terang.


“Benar kah kamu tidak lapar, coba tanyakan kepada perut mu itu tadi suara apa yang keluar darisana!” ucap Zia menyeringai


“Sudah lah a’a buang sedikit egomu itu, perutmu lapar!” kata Naufal


Tiba-tiba tanpa permisi Hamish mengambil satu cup mie yang ada ditangan Zia. Hal itu membuat Zia hanya melongo, setelah itu Zia memutuskan untuk makan didalam mobil.


“Ngapain kamu masuk!” teriak Zia


Melihat Zia membuka cadar nya membuat Hamish diam seperti patung terkesima dengan kecantikan Zia.


“Woyyyy!” teriak Zia


Membuyarkan lamunan Hamish, dengan gugup Hamish keluar dari mobil dan kepala nya sempat mengenai pintu mobil nya. Zia yang melihat hal tersebut hanya bisa menertawai kegugupan Hamish.


****


Mereka melanjutkan perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya mereka sampai dirumah yang selalu menjadi tempat singgah keluarga nya saat pergi kekota itu. Mereka semua langsung pergi menuju kamar yang sudah disiapkan oleh pembantu disana yang terlebih dahulu dihubungi oleh umma.


Pagi hari nya Hamish, Naufal dan Zia melanjutkan perjalanan mengantarkan Zia kerumah Alya meninggalkan Zia lalu Hamish dan Naufal pergi menuju perusahaan nya.


“Dek nanti kalau mau pulang telfon bang ufal aja atau nelfon a’a Hamish ya!” kata Naufal


“Nelfon gimana bang! Nomor kalian berdua aja aku gak punya kok!” ucap Zia


“Heee iya bang ufal lupa kita belum bertukar nomor telfon!” Kata Naufal cengengesan


“Ya sudah mana handphone dek Zi a!” lanjut Naufal


Tanpa menjawab lagi Zia langsung memberikan handphone Zia kepada Naufal. Sedangkan Hamish sedaritadi hanya fokus mengemudi tanpa tertarik dengan obrolan Naufal dan Zia.


“Turun!” kata Hamish tiba-tiba


Naufal dan Zia hanya melempar pandang tanpa tau apa maksud dari ucapan Hamish.


“Apa kamu tidak ingin turun huh? Jika tidak aku sudah terlambat untuk datang ke kantor ku” Kata Hamish lagi


“Memang kita sudah berada dimana?” tanya Zia polos


“Aku tidak tau harus menghantar kamu kemana jadi turun saja kamu disini!” Kata Hamish


“Kau ini benar-benar menyebalkan! Salah mu sendiri tidak bertanya lalu sekarang menyalahkan aku dasar tidak tahu malu!” ejek Zia


“Kamu menyalahkan aku asal kamu tau sedaritadi kalian hanya berbicara hal yang tidak penting tanpa memberitahu alamat rumah temanmu itu!" kata Hamish


“Cehhh ngomong aja kalau kamu ingin ku ajak berbicara hingga kamu seperti ini!” ucap Zia sengit


“Jaga bicara mu! Aku sama sekali tidak tertarik oleh pembicaraan yang tidak bermanfaat itu!” kata Hamish


“Stopp!! Kalau kalian tidak berhenti berdebat akan ku nikahkan kalian saat ini juga!” teriak Naufal geram sekali dengan mereka berdua


“Tidak mau aku menikah dengan manusia macam dia!” ucap Zia


“Kamu kira siapa yang mau menikah dengan mu huh!” kata Hamish


“Bisa kalian berhenti berdebat! Astaga aku bisa benar-benar sakit kepala jika berada disini!” grutu Naufal


“Sekarang beritahukan dimana alamat temanmu dek Zia agar perdebatan ini selesai dan aku tidak akan sakit kepala!” lanjut Naufal


Setelah memberikan alamat rumah Alya dan menempuh jarak yang lumayan jauh akhirnya mereka sampai di rumah Zia tempat yang akan diadakan resepsi pernikahan antara Alya dan Zidan.


#


#


#


#


jangan lupa like, koment, dan vote sahabat!🙏