Ramish

Ramish
Satu



“ Zia.. Nak kemarilah.!” Panggil wanita paruh baya yang tak lain mama dari Zia.


“ Ya ma,.” Terdengar sautan dari kamar ya itu adalah Razia Ananda Putri.


Terdengar langkah kaki menuju ruang tamu dan tak lain keberadaan mama nya memanggil. Dan ternyata disana bukan hanya ada mama nya saja akan tetapi ada satu pria parubaya berpakaian rapi seperti ustadz, dan disamping nya wanita yang mungkin seumuran dengan mama Zia kalau dipikir-pikir mungkin itu istri dari pria itu. “Hmmm ada apa ini” Satu pertanyaan yang muncul dibenak Zia.


“ Ini Pak Buk, Razia putri sulung ku” mama memperkenalkan ku kepada mereka.


“Apa kabar om tante.” Sapa ku dengan mencium tangan kedua orang yang berada didepanku.


“ Alhamdulilah baik” Jawab mereka serempak.


Setelah berbasa-basi dilanjutkan dengan pembicaraan yang menurut ku membosankan dan akhirnya aku putuskan untuk pergi dari sana. Ya kemana lagi kalo bukan kehalaman samping rumah yang aku sendiri menyulap nya menjadi tempak berkembang biak segala macam tanaman.


Malam harinya disaat sedang menonton televisi ibuku mengutarakan apa yang menjadi topik pembicaraan mereka tadi.


“APA!! aku harus belajar dipesantren.” Ucap Zia yang terkejut dengan apa yang didengar nya.


Ya kedua orang yang mendatangi rumah mama Zia yaitu seorang ustadz yang sangat digemari oleh ibu nya. Mereka meminta Zia untuk belajar di pondok pesantren meraka, bukan tanpa alasan mereka meminta Razia. Tapi itu masih menjadi rahasia, entah apa itu??


“Kenapa harus Zia ma,, kan masih banyak orang lain yang ingin belajar dipesantren.” Ucap Zia yang menolak ide tersebut. Ya memang Razia anak yang penurut tapi kali ini dia tidak bisa mengikuti apa yang diinginkan kedua orang tua nya.


“ Sayang mama sudah memikirkan nya, dan itu bukan hal yang buruk jika kamu hiduo dipesantren kan” sanggah mama Zia.


“Tapi kan ma, coba geh pikirin lagi mana ada coba cewek kaya Zia ini hidup dipesantren jadi apa nanti aku, heeee” rayu Zia kepada mama nya dengan senyum yang memperlihatkan gigi rapi nya.


“Mama yakin kamu pasti jadi anak yanh sholeh, dan membanggakan.” Kata mama Zia dengan lembut.


“Iya nak papa setuju dengan ucapan mama mu itu” akhirnya papa Zia ambil suara.


---------


Di suasana hingar bingar dikelas yang sangat jauh dari kata rapi dan tertip. Zia, Alya, Dina dan Ria yang sedang duduk melingkar dengan dua meja ditengah yanh dipenuhi makanan dan minuman.


“Apa!!! Lo badgirl mau belajar dipesantren “ jawab serampak ketiga teman Zia.


“Please,, bisa gak sih dikecilin tuh suara kalian,” ucap Zia yang berusaha mebuat ketiga temannya berhenti teriak, ya kali pamor seorang Razia akan hilanh jika seluruh sekolah mendengar hal itu.


“Loh kok bisa, nyokap lo minta buat lo ke pesantren.” Tanya Alya yang hampir tersedak minuman nya karna mendengar Zia yanh berkata jika dia diminta mamanya untuk belajar dipesantren.


“Gue gak tau, Tiba-tiba aja tuh nyokap ngomong gitu” ucap Zia lesu, gimana gak lesu Razia seorang badgirl masuk ke pesantren.


Bwhaaaaaa


Gelak tawa dari ketiga sahabat Zia memenuhi seisi kelas mereka. Gimana gak ketawa gadis bentukan seperti Zia masuk pesantren, bukan Zia yang mereka kasiani tetapi pesantren nya bakal jadi apa tuh pesantren didatangi oleh seorang Zia.


“Stop laughing!!” Pekik Zia kesal mendengar mereka tertawa.


Dan akhirnya gelak tawa mereka berhenti karena Zia tiba-tiba pergi dengan tas yang berada dipundak nya.


“Woyyy lo mau kemana hah, bolos lo ya.” Teriak Dina


“Maka nua kalo punya telinga dipakek bukan buat pajangan doang, gak denger tuh bell udah bunyi waktu nya pulang.” Jawab Zia melangkah meninggal kan kelas.


---------