
Daniel melangkah cepat ke ruang kerjanya. Ia segera membuka pintu dan matanya melebar saat melihat sosok wanita cantik, tinggi, langsing yang sedang tersenyum menggoda kepadanya. Laura!
“Daniel...” wanita itu mendekat kearah Daniel dan mengecup sekilas pipinya. Daniel hanya terpaku atas perlakuan Laura padanya.
“Kenapa kamu diam saja? Kamu enggak senang aku disini?”
“Ngapain kamu disini?” tanya Daniel dengan nada tidak suka.
“Aku mau ketemu kamu.” Jawab Laura dengan tenang.
“Apa yang kamu inginkan?”
Laura tersenyum menggoda, lalu membelai pipi Daniel, “Kamu. Aku mau kamu.”
Daniel menepis tangan Laura di wajahnya, “Kamu sudah menikah Laura.”
Laura tertawa mendengar perkataan Daniel, “Pernikahan itu hanya bisnis Daniel.”
Daniel mengerutkan dahinya, “Apa maksud kamu?”
Laura bergerak dan duduk di kursi.
“Aku menikah dengan Rangga untuk membayar hutang keluargaku.”
“Oh ya. Apa kamu yakin hanya itu alasan kamu meninggalkan aku?” Daniel menatap curiga wanita di depannya.
Raut wajah Laura tampak sedih, “Rangga menjebakku Daniel, dia ingin balas dendam kepadamu...” menatap kearah Daniel yang berdiri di depan meja kerja.
“...Rangga iri dengan apa yang kamu miliki termasuk aku. Kamu tau ternyata keluargaku memiliki hutang yang sangat besar pada keluarga Rangga, sehingga Rangga berjanji akan melunasi hutang keluargaku jika aku menikah dengannya.” Lanjut Laura.
“Lalu kamu menerimanya begitu saja.”
“Tentu saja aku menolak! Lalu ayahku jatuh sakit dan aku tidak kuasa untuk menolak permintaannya untuk menikah dengan Rangga.” Daniel kecewa dengan apa yang Laura katakan.
Daniel tersenyum sinis,”Kalau begitu kamu bisa mulai belajar mencintainya, apa lagi kalian sudah menikah. Bukankah seharusnya kamu mencintai suami kamu sendiri.”
“Bagaimana bisa aku mencintainya. Dia memperlakukan aku bagaikan sebuah pajangan di rumahnya, aku tertekan kalau harus terus hidup dengan pria seperti itu.” Ucap Laura penuh emosi.
Daniel melipat kedua tangan didepan dadanya, “Kenapa kamu tidak bercerai saja? Kalau kamu merasa tertekan hidup denganya.”
Laura menggelengkan kepalanya, “Kamu tidak mengerti Daniel, keluarga Rangga sangat berpengaruh pada bisnis turun-temurun keluargaku dan keluargaku akan membuangku kalau kami sampai bercerai.....”
Laura menatap kearah Daniel, “Kecuali kamu mau menikahiku setelah aku bercerai dengan Rangga.”
Daniel tertawa mendengar cerita Laura.
Laura mulai mendekat kearah Daniel dan menatap Daniel dengan tatapan menggoda, “Aku tidak perduli dengan keluargaku yang akan membuangku, asal kamu ada untukku sayang.” Mengelus pipi Daniel.
“Aku tidak mungkin bersamamu Laura.” Jawab Daniel dengan tatapan sinis sambil menghindar dari sentuhan wanita itu.
“Apa kamu sudah tidak mencintai aku lagi Daniel.” Kembali memegang wajah Daniel. Berharap Daniel akan luluh dengan sentuhannya.
“Aku akan memiliki anak.” Laura terdiam mendengar perkataan Daniel.
~
Sudah jamnya makan malam. Queen bergegas menemui Daniel di ruang kerjanya agar mereka bisa makan malam bersama. Queen hendak mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu ruang kerja Daniel sampai ia melihat pintu itu sedikit terbuka.
“Aku tidak mungkin bersamamu Laura.” Queen terdiam.
“Apa kamu sudah tidak mencintai aku lagi Daniel.” Siapa itu. Kekasih Daniel!
“Aku akan memiliki anak” Mata Queen melebar.
“Jangan berbohong padaku Daniel. Aku tau betul kamu belum menikah.”
“Kamu tau. Saat itu aku sedang berada di Bali untuk urusan bisnisku waktu aku mengetahui kamu menikah dengan sahabat baikku sendiri. Yang ada di kepalaku saat itu adalah kalian sudah berselingkuh di belakangku selama ini. Lalu aku dengan bodohnya pergi ke bar malam itu untuk menumpahkan kekesalan dan kekecewaanku pada kalian dengan minum-minum hingga mabuk. Keesokan paginya aku terbangun dengan seorang gadis di sampingku. Beberapa minggu setelah itu dia mengandung anakku.”
“Kamu yakin itu anakmu?”
“Tentu saja aku yakin itu anakku.”
“Baiklah kalau memang seperti itu, setelah kita menikah aku akan menjadi ibunya.”
Kenyataan itu membuat Queen merasa menjadi wanita murahan karena telah mengandung anak dari kekasih orang lain. Harusnya Queen tidak menerima tawaran Daniel untuk tinggal bersamanya. Karena wanita baik mana yang tinggal serumah dengan pria yang bukan suaminya. Harusnya setelah Queen memberitahukan kehamilannya pada Daniel. Mereka baru akan bertemu lagi setelah anak ini lahir dan Queen akan menyerahkannya pada Daniel. Memikirkan itu semua membuat Queen tambah bersedih.
“Queen kamu udah tidur?”
Suara ketukan pintu dan panggilan dari Daniel pun terdengar. Tapi Queen tetap diam, Queen benar-benar tidak ingin melihat Daniel. Tidak ada lagi ketukan, sepertinya Daniel telah pergi. Queen bangkit dari ranjang menuju kamar mandi untuk memcuci muka dan menggosok gigi. Setelah itu ia kembali berbaring di ranjang berharap segera tertidur, tapi ternyata Queen kembali menangis.
~
“Aku akan memiliki anak.”
Laura terdiam mendengar perkataan Daniel.
Dahinya berkerut menatap Daniel, “Jangan berbohong padaku Daniel. Aku tau betul kamu belum menikah.”
Daniel menghela napasnya berat “Kamu tau. Saat itu aku sedang berada di Bali untuk urusan bisnisku waktu aku mengetahui kamu menikah dengan sahabat baikku sendiri...” Daniel tampak menahan emosinya.
“...Yang ada di kepalaku saat itu adalah kalian sudah berselingkuh di belakangku selama ini. Lalu aku dengan bodohnya pergi ke bar malam itu untuk menumpahkan kekesalan dan kekecewaanku pada kalian dengan minum-minum hingga mabuk. Keesokan paginya aku terbangun dengan seorang gadis di sampingku. Beberapa minggu setelah itu dia mengandung anakku.” Terdengar suara penyesalan Daniel ketika mengingat kejadian itu.
“Kamu yakin itu anakmu?”
“Tentu saja aku yakin itu anakku” jawab Daniel dengan tegas.
Laura menghela napas dan dengan angkuhnya dia berkata, “Baiklah kalau memang seperti itu, setelah kita menikah aku akan menjadi ibunya.”
Daniel tertawa keras mendengar Laura menawarkan diri untuk menjadi ibu anaknya.
Daniel menatap Laura tajam, “Kamu pikir kamu pantas menjadi ibu anakku!”
Laura terdiam melihat tatapan tajam Daniel kepadanya.
“Kamu pikir aku bodoh. Hah!....”
“....Kalau kamu benar-benar mencintai aku dari awal, kamu pasti akan menceritakan masalah keluargamu kepadaku. Dan aku dengan senang hati akan membantu keluargamu untuk menulasi hutang-hutang kalian karena aku memang tulus mencintaimu....” Daniel menatap sinis Laura dari ujung kepala sampai ujung kaki wanita itu.
“....Tapi itu dulu! Kamu bisa membodohiku. Bukan seperti sekarang kamu baru datang menemuiku dan menggodaku agar aku kembali kepadamu.....”
Daniel mencengkram lengan Laura, “...Aku tidak akan pernah membiarkan anakku disentuh oleh wanita murahan sepertimu.” Lalu Daniel menyingkirkan tubuh Laura kesamping dengan kasar.
“Aku membencimu Laura. Tapi aku lebih membenci diriku sendiri. Hanya karena pata hati ditinggal wanita sepertimu aku sampai merusak gadis baik-baik.” Daniel mengepalkan tangannya menahan emosi.
Daniel menarik napasnya dalam-dalam dan membuangnya pelan untuk meredakan emosinya.
“Daniel aku...” Daniel mengangkat tangan kirinya agar Laura tidak mengeluarkan kata-kata lagi.
“Pergilah Laura dan jangan berani-beraninya kamu muncul di hadapanku lagi.” Ucapnya tegas.
Setelah itu Laura meninggalkan ruangan kerja Daniel dengan terburu-buru. Daniel menghela napas dan menyenderkan punggungnya di kursi. Pertemuannya dengan Laura sangat menguras emosi Daniel, apa lagi saat wanita itu dengan angkuhnya mengatakan dia akan menjadi ibu anaknya. Daniel sangat marah mendengarnya, mana mungkin Daniel akan terjebak lagi dengan wanita seperti itu.
Sudahlah, sekarang yang penting bagi Daniel adalah Queen dan anak mereka baik-baik saja. Tiba-tiba Daniel ingat ia akan makan malam bersama Queen, di liriknya jam tanganya. Ini sudah malam. Daniel buru-buru keluar ruang kerjanya menuju kamar Queen, dilihatnya lampu kamar Queen mati. Lalu untuk memastikan dugaannya Daniel mengetuk pintu, “Queen kamu udah tidur?” Daniel mengehela napasnya, tidak ada jawaban. Sepertinya Queen sudah tidur, lalu Daniel beranjak menuju kamarnya. Daniel butuh segera mandi dan istirahat.
Ditengah perjalanannya menuju kamar, ibu Mita mendatangi Daniel.
“Tuan makan malam sudah siap. Apa tuan ingin makan malamnya diantar kekamar?”
“Ya, tolong diantar ke kamar saja ya bu. Saya ingin mandi dulu.”
“Baik tuan, saya segera siapkan.”
“Oh ya bu, apa Queen sudah makan malam?”
“Belum tuan, sepertinya nyonya masih kelelahan.”
Daniel mengangguk.
“Saya permisi tuan.”
Setelah ibu Mita pergi, Daniel ingat Queen selalu lapar dan terbangun di tengah malam. Kalau begitu ia akan menemui Queen tengah malam nanti. Setelah itu Daniel bergegas ke kamarnya dan segera mandi.
Ini sudah jam 2 pagi, Daniel sudah berdiri di depan pintu dari tadi. Tapi belum ada tanda-tanda Queen akan keluar kamar untuk makan, biasanya Queen selalu lapar ditengah malam. Apa karena semalam mereka pergi dan hal itu membuat Queen terlalu kelelahan makanya dia tidak bangun tengah malam hari ini? Pikir Daniel. Lalu dengan kecewa karena tidak melihat Queen, Danielpun kembali ke kamarnya dan tidur. Semoga besok pagi ia bisa melihat Queen saat sarapan, harapnya.