
Daniel memandang kosong keluar gedung kantornya, berkali-kali ia menghembuskan napas berat, wajahnya
terlihat muram.
“Selamat siang pak Daniel.” Suara seorang wanita menyadarkannya.
“Pertemuan hari ini di The Ritz-Carlton Hotel jam 2 dan anda akan berangkat tiga puluh menit lagi.” Sekretaris Daniel kembali mengingatkannya.
Daniel memutar tubuh menghadap lawan bicaranya. “Apa kamu sudah menemukan wanita itu?”
“Maafkan saya pak Daniel, tapi saya belum berhasil menemukannya.”
Daniel terlihat frustasi mendengar jawaban dari sekertarisnya.
Melihat raut wajah Daniel, sekertaris itu segera melanjutkan perkataannya. “Saya akan berusaha lebih keras lagi untuk menemukannya pak.”
Daniel mengangguk lemah.
Daniel memutar kembali tubuhnya menghadap dinding transparan gedung. Matanya tertutup, dahinya berkerut, napasnya berat dan raut wajah yang muram. Ingatan Daniel berputar kembali pada saat satu bulan yang lalu ketika ia berada di Bali.
~
Daniel sedang berada di Bali untuk menghadiri pembukaan hotel yang dimana ia menjadi salah satu investor di hotel tersebut. Daniel baru saja turun dari atas panggung setelah ia menyampaikan pidatonya dan langsung disambut beberapa rekan bisnisnya untuk sekedar bercengrama. Acara pembukaan itu berlangsung sangat meriah yang dihadiri oleh berbagai kalangan yang tentunya orang-orang penting di bidangnya dan juga beberapa selebritis terkenal sebagai tamu spesial diacara pembukaan hotel tersebut. Disela-sela acara yang meriah, Daniel mengecek ponselnya yang sudah bergetar dari tadi. Mata Daniel terlihat bergerak-gerak membaca pesan yang ia terima dan beberapa detik kemudian matanya melebar. Betapa terkejutnya Daniel saat beberapa artikel yang dikirimkan padanya tengah membahas tentang pernikahan sahabat baiknya dengan kekasihnya! Hari ini!. Panik! Membaca berita yang ia terima. Daniel segera bergegas pergi keluar ruangan itu menuju rooftop lalu segera menghubungi
kekasihnya untuk segera mengetahui kebenaran dari berita tersebut. Tetapi sebanyak apapun Daniel mencoba menelfon kekasihnya, wanitanya itu tetap tidak mengangkat panggilannya. Daniel tidak mau putus asa. Ia mencoba menghubungi sahabatnya, tapi hasilnya tetap sama. Mereka berdua tidak ada yang merespon panggilan
darinya.
Dengan perasaan yang campur aduk Daniel langsung menghubungi salah satu orang kepercayaannya untuk
memeriksa berita tersebut.
“Segera selidiki kebenaran berita itu!” dengan nada tinggi, begitu orang yang diseberang telfon
mengangkat panggilan Daniel.
“Baik pak.”
Daniel mengusap wajah paniknya dengan gusar, otaknya sudah tidak bisa diajak bekerja sama lagi untuk berpikir positif tentang hubungan yang dimiliki kekasihnya dengan sahabatnya sendiri. Beberapa menit kemudian nomer yang tadi dihubungi Daniel tertera di layar ponselnya. Segera Daniel mengangkat panggilan itu. Wajah Daniel terlihat pucat dan rahangnya mengeras mendengar jawaban dari orang yang memberikan informasi kepadanya.
“Dasar BAJINGAN!” umpatnya penuh amarah sambil menendang-nendang besi pembatas gedung untuk meluapkan emosinya.
Perlakuan Daniel menarik perhatian orang-orang yang ada disekitar area tersebut. seakan sadar dengan perlakuannya, cepat-cepat Daniel menenangkan diri dengan menarik napas dalam-dalam dan merapikan kerah jasnya untuk menutupi raut wajahnya. Daniel melangkah masuk kedalam gedung hotel dimana pesta masih berjalan dengan sangat meriah dan mendekat kearah rekannya untuk berpamitan dengan alasan ia akan menghadiri pertemuan dengan rekan bisnisnya yang lain. Mereka terlihat berjabat tangan dan setelah itu Daniel melangkah keluar hotel dengan wajah penuh emosi yang sudah tidak bisa di tahannya lagi.
“Kembali ke hotel.” Ucapnya tegas begitu masuk ke dalam mobil.
“Baik pak.” Supir pribadinya segera melajukan mobil.
Selama di perjalanan kembali ke hotel dimana ia menginap, Daniel masih tetap terus berusaha untuk menghubungi kekasihnya. Tapi lagi-lagi tidak membuahkan hasil. Daniel mengusap wajahnya dan melepaskan ikatan dasi yang seakan mencekiknya. Setelah sampai dihotel, Daniel langsung berjalan menuju bar yang ada di hotel tersebut. Ia butuh minum sekarang!
“Selamat datang pak Daniel, silahkan anda ingin minum apa hari ini?” tanya manager bar yang langsung menghampiri Daniel begitu dilihatnya Daniel masuk kedalam area bar mereka.
“Seperti biasa.” Ucap Daniel dingin.
Daniel terlihat mengusap wajah muramnya, dua kancing kemejanya terbuka, lengan kemejanya ia tarik keatas, diletakkannya jas dan dasinya diatas meja bar. Daniel duduk dengan wajah yang tertunduk lemah memikirkan kejadian ini. Daniel tidak habis pikir. Ia dan Kekasihnya─Laura, selama ini memang tidak pernah mempublikasikan
hubungan mereka kepada orang lain karena Daniel tidak mau hubungan pribadinya menjadi konsumsi orang banyak. Tetapi bukan berarti sahabatnya─Rangga, tidak mengetahui hubungannya dengan Laura, sampai harus kekasih Daniel yang dia nikahi. Pasti mereka berdua sudah berhubungan selama ini dibelakangku! Kesimpulan itu membuat Daniel bertambah emosi dan berkali-kali menegak cairan beralkohol, seakan apa yang ia lakukan saat ini bisa menyelesaikan masalahnya.
Tiba-tiba seseorang menabrak punggung Daniel dan menumpahinya dengan minuman yang dipegangnya. Pandangan Daniel mulai kabur saat ia menatap kearah si pelaku. Dilihatnya pelaku itu adalah seorang wanita, yang dengan cueknya segera berlalu begitu saja dari hadapan Daniel. Tidak terima dengan perlakuan wanita tersebut. Daniel segera menarik lengan wanita itu dan mereka terlibat percekcokan. Lalu dengan angkuh, wanita tersebut menantangnya dengan adu minum. Dengan senang hati Daniel menerima tantangan wanita angkuh itu. Mereka terlibat adu minum sampai ada seorang wanita lain yang mendatangi meja mereka, Daniel tidak ingat jelas apa yang mereka bicarakan. “Oh ya. Pengecut anda bilang? Lalu apa sebutan yang pantas untuk pria yang mengajak seorang wanita adu minum?” lalu Daniel melupakan apa yang terjadi selanjutnya.
Suara tangisan mengusik tidur lelapnya. Daniel mengerutkan dahi, dengan berat hati membuka mata dan langsung mencari sumber suara yang mengganggunya. Daniel bangun dan menatap bingung kearah seseorang disampingnya.
“Kenapa kamu menangis?” tanya Daniel dengan suara serak sambil mengucek matanya yang masih mengantuk.
Daniel mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan wanita tersebut, matanya mulai melihat kearah tubuh polosnya yang hanya ditutupi oleh selimut. Daniel terdiam. Matanya terlihat bergerak-gerak memikirkan sesuatu dan beberapa detik kemudian ia mulai memahami apa yang terjadi pada mereka berdua.
“Sudahlah, jangan menangis.” Daniel mulai posisi duduk di atas ranjang.
“Ini pertama kalinya aku tidur dengan seorang pria.” Jawabnya dengan nada suara bergetar dan isak tangis yang semakin pilu sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
Mata Daniel semakin melebar mendengar perkataan wanita tersebut, “Jadi...jadi kamu masih...” suara Daniel
bergetar tidak mampu melanjutkan kata-katanya.
Wanita itu mengangguk.
Daniel menggeram kesal merutuki kebodohannya yang melampiasakan emosinya dengan minum-minuman
beralkohol di bar semalam. Daniel menoleh ke arah wanita disebelahnya yang masih menangis.
“Sudahlah jangan menangis terus.” Pintanya memelas.
Tetapi wanita itu tetap tidak menghiraukan perkataan Daniel. Daniel menarik napas dan menghelanya pelan. “Saya akan bertanggung jawab jika sesuatu terjadi padamu.”
Namun, wanita itu tetap saja terus menangis dan mengacuhkan Daniel. Daniel kembali menghela napasnya. Ia memilih bangkit dari ranjang dan segera memakai pakaiannya yang berserakan dilantai. Setelah itu Daniel mengambil dompet dari saku jas dan meletakkan kartu namanya di samping wanita itu.
“Kamu bisa menghubungi saya kapan saja.” Kata-kata trakhir yang Daniel ucapkan pada wanita asing yang masih menangis diatas ranjang, lalu ia melangkah keluar dari kamar hotel.
~
Daniel keluar dari kamar hotel lalu turun ke lobi. Daniel bisa melihat supirnya yang telah menunggu di teras lobi hotel, ia mempercepat langkahnya dan segera masuk ke dalam mobilnya lalu pergi meninggalkan area hotel. Daniel terlalu pusing memikirkan ini semua. Baru semalam ia dikhianati oleh kekasih dan juga sahabat baiknya,
lalu pagi ini ia dikejutkan dengan tidur seranjang bersama wanita yang tak dikenalnya.
Kedua tangan Daniel mencengkram kuat rambutnya untuk menghilangkan pusing dikepalanya.
“Ini pertama kalinya aku tidur dengan seorang pria.” Kata-kata wanita itu terlintas di kepala Daniel. Daniel menundukkan wajahnya, cengkraman dirambutnya bertambah kuat saat perkataan wanita itu kembali terlintas di
benaknya. Jantungnya berdetak cepat, Daniel mengusap wajah gelisahnya.
“Balik ke hotel.” Ucap Daniel tegas pada supirnya. Mobil itu mengerem mendadak, langsung berbalik arah
dan melaju kencang. Decitan ban terdengar begitu mobil Daniel berhenti di depan lobi hotel. Daniel segera turun dari mobil dan berlari kencang menuju kamar hotel yang baru beberapa menit ia tinggalkan. ‘Semoga wanita itu masih disana’ Daniel penuh harap.
Setelah sampai dilantai kamarnya, Daniel segera mengambil key card kamar itu didalam saku celana dan dengan segera membuka pintu kamar hotel dengan tergesa-gesa. Daniel masuk kedalam kamar dan mendapati ranjang itu
kosong, lalu ia segera mengecek kamar mandi yang ternyata juga kosong, tidak mau putus asa Daniel terus mencari ke setiap sudut ruangan. Tetapi lagi-lagi ia mendapati hasil yang sama. Daniel menarik rambutnya frustasi sambil mengarahkan pandangannya ke seluruh ruangan, sampai matanya menangkap noda merah di atas
seprai putih yang berantakan. Seketika tubuh Daniel lemas dan terduduk tak berdaya di lantai kamar hotel.
Sekarang Daniel sudah menjadi seperti orang yang ia benci selama ini. Pergi begitu saja setelah merusak wanita baik-baik dan menghancurkan hidupnya! Bahkan tadi ia tidak mengucapkan kata maaf pada wanita itu!
~
“Pak Daniel.” Suara sekertarisnya menyadarkan Daniel dari ingatannya saat kejadian satu bulan yang
lalu.
Daniel kembali mengusap wajah murungnya dan membalikkan badan.
“Mobil anda sudah siap dan sekarang sedang menunggu anda dibawah pak.” Daniel hanya menganggukkan
kepalanya membalas ucapan sekertarisnya.