
Aroma pancake dan teh mint membangunkan Queen, dilihatnya sarapan pagi sudah ada di atas meja tetapi cuma ada Queen di kamarnya. Segera Queen bangkit dari ranjang mengambil kimono satin dan mengikat talinya, lalu ke luar dari kamarnya.
Queen tidak melihat Daniel, Queen segera turun ke lantai bawah. Queen melihat ada seorang pelayan yang sedang membersihkan debu di tirai, “Apa kamu melihat Daniel?” tanya Queen.
Segera pelayan itu mematikan alat pembersih yang dipegangnya, “Tuan sudah berangkat ke kantor nyonya.”
Queen mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ibu Mita yang melihat Queen, segera menemui Queen.
“Ada yang bisa saya bantu nyonya?” tanya ibu Mita.
“Tidak bu, saya hanya mencari Daniel tadi. Tapi ternyata Daniel sudah berangkat kerja.” Jawab Queen.
“Iya nyonya, tuan sudah berangkat pagi-pagi sekali.” Queen mengangguk.
“Apa nyonya sudah sarapan?”
“Belum bu...” sambil tersenyum.
“Kalau begitu saya kembali ke kamar dulu ya bu.” Lanjut Queen.
~
Queen menikmati sarapan paginya ini sambil tersenyum-senyum, mengingat kejadian semalam. Semalam adalah salah satu hari yang paling indah dalam hidup Queen, Daniel dan Queen bisa sama-sama saling mengungkapkan isi hati masing-masing. Yang paling penting Queen tau, kalau ia dan Daniel saling mencintai satu sama lain. Membayangkan itu membuat pipi Queen memanas.
Setelah sarapan Queen membuka leptopnya untuk meneruskan menulis novel yang pernah ia buat. Hari ini Queen sedang banyak ide dan sayang kalau ia tidak tumpahkan dalam tulisan. Queen sangat asik mengerjakan novelnya sampai tidak terasa sudah jam 12 siang dan ia belum mandi. Queen meletakkan leptopnya di atas meja, lalu bangkit dari sofa untuk merenggangkan tubuhnya yang kaku saat mengetik sebelum ia mandi. Suara ketukan pintu terdengar. “Masuk.” Ucap Queen. Seorang pelayan masuk ke dalam kamar Queen. Pelayan itu memegang dua kotak besar, dahi Queen berkerut melihatnya.
“Nyonya, ini ada kiriman dari tuan. Pesan dari tuan, nyonya di minta untuk bersiap-siap sekarang dan menggunakan barang-barang yang ada di dalam kotak ini.” Jelas pelayan itu dengan sopan.
“Untuk saya?” tanya Queen tidak percaya.
“Ya nyonya.” Pelayan itu meyakinkannya.
Queen masih terdiam.
“Kalau begitu saya permisi nyonya.” Sambil meletakkan kotak-kotak itu di atas meja.
“Ya, terima kasih.” Pelayan itu mengangguk lalu pergi keluar kamar Queen.
Queen masih berdiri memandangi kotak-kotak itu, lalu perlahan tangan Queen mengambil kotak yang paling atas dan ukurannya lebih kecil dari kotak yang di bawahnya. Queen menarik pita yang mengikat kotak itu dan membuka tutup kotak tersebut, Queen terkejut melihat isinya.
Sepasang high heels! sangat cantik. Selanjutnya Queen membuka kotak yang satunya lagi. Lagi-lagi Queen di buat terkejut dengan isi kotak itu, sebuah gaun berwarna senada dengan high heels . Gaun tanpa lengan dengan potongan sederhana tetapi terkesan elegan. Ponsel Queen bergetar saat ia memegang gaun itu, Dilihatnya nama Daniel tertera di layar ponselnya. Buru-buru Queen mengangkat panggilan Daniel sambil tersenyum senang.
“Halo Daniel.”
“Hai Queen, kamu sudah terima paket dari saya?”
“Sudah, high heels dan gaun yang kamu berikan sangat indah.” Queen senang.
“Kamu suka?”
“Tentu saja suka, terima kasih Daniel.”
“Sama-sama Queen, saya senang kalau kamu suka dengan pemberian dari saya. Oh iya Queen, kalau begitu kamu sekarang siap-siap ya. Nanti pak Selamet akan mengantarkan kamu ke suatu tempat dan kita akan bertemu disana.”
“Ya Daniel.” Ucap Queen senang.
“Sampai bertemu nanti Queen.” Selesai berbicara dengan Daniel, Queen langsung buru-buru mandi, berdandan, lalu mengganti bathrobenya dengan gaun yang diberikan Daniel, memakai sepatu dan melihat pantulan dirinya di depan cermin. Memastikan bahwa ia telah siap untuk bertemu dengan Daniel.
Queen segera turun dari kamarnya, ternyata Pak Selamet sudah menunggu Queen di teras rumah. Lalu Queen segera masuk ke dalam mobil dan segera berangkat. Sekitar satu jam perjalanan akhirnya mobil yang ia tumpangi masuk ke dalam area hotel bintang lima yang ada di kota ini. Ternyata Daniel telah menunggu di depan lobi hotel, Setelah mobil berhenti. Daniel membukakan pintu mobil dan membantu Queen keluar. Daniel terpana melihat penampilan Queen.
“Kamu cantik sekali Queen.” Bisik Daniel.
Queen tersipu malu mendengar pujian Daniel. Daniel membawa Queen masuk ke dalam hotel sambil menggenggam tangan Queen, mereka menuju lounge hotel. Sesampainya di lounge, Queen kagum melihat pemandangan malam hari yang begitu indah dengan lampu-lampu yang menyala. Daniel menarik kursi untuk Queen duduki, Mata Queen tidak teralihkan dari pemandangan malam di depannya. Queen terhipnotis dengan keindahan lampu dari gedung-gedung yang menyala tampak seperti titik-titik warna-warni yang indah.
“Indah sekali.” Ucap Queen tanpa sadar.
Daniel menoleh mendengar perkataan Queen, lalu Daniel membuka jasnya dan memakaikannya pada Queen. Queen tersadar langsung melihat ke arah Daniel. “Terima kasih.” Daniel mengangguk.
“Mari kita makan Queen.” Ajak Daniel. Queen melihat hidangan di depannya dan langsung membuat perutnya keroncongan. Queen melewatkan makan siangnya tadi, karena ke asikan berdandan. Queen memasukkan potongan steak ke mulutnya, lalu ia merasakan tekstur lembut daging dengan saus jamur yang langsung lumer di mulutnya. Steak ini sangat lezat sekali, batinnya. Selanjutnya Queen makan dengan lahap. Daniel tersenyum memperhatikan Queen menikmati makan malamnya, Daniel tau kalau Queen sangat menyukai jamur. Maka dari itu Daniel memesan hidangan itu untuk Queen.
“Bagaimana keadaan kamu hari ini Queen.” Tanya Daniel.
“Luar biasa.” Jawaban Queen membuat Daniel tertawa.
“Oh ya, ceritakan kepada saya.”
“Hari ini saya melanjutkan mengerjakan novel yang sempat saya buat karena tiba-tiba saja banyak ide di kepala saya hari ini, lalu mendapatkan hadiah yang luar biasa dari kamu dan sekarang saya bisa makan malam bersama kamu di tempat yang luar biasa indah.” Daniel tersenyum mendengar cerita Queen.
Lalu Daniel meminum winenya. Sambil menatap kearah Queen yang tengah asik menyantap hidangannya, “Saya berharap bisa selalu membuat hari-hari kamu terasa luar biasa Queen.” Ucap Daniel.
Queen menatap Daniel dengan raut wajah bingung.
“Selamat ulang tahun Queen.” Bisik Daniel. Lalu Queen ingat hari ini tanggal 9 September, Hari ulang tahunnya. Queen menatap Daniel dengan mata terharu, ternyata Daniel mengingat ulang tahunnya.
“Ayo, tiup lilinnya.” Kata Daniel lembut.
Queen menatap kue ulang tahunnya, Queen sangat bahagia. Daniel menyiapkan ini semua untuk Queen, pada hal Daniel sangat sibuk. Lalu Queen memejamkan matanya, mengucapkan terima kasih kepada Tuhan karena telah mempertemukan Queen dengan Daniel, memohon semoga bayinya sehat dan hal-hal yang baik lainnya untuk hidup mereka. Setelah itu Queen membungkuk dan meniup semua lilin hingga padam.
“Semoga harapan kamu terkabul.” Daniel senyum dengan tulusnya.
Daniel merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna biru muda. Lalu Daniel berlutut di hadapan Queen sambil membuka kotak itu. Terlihat sebuah cincin berlian yang di tengahnya terdapat berlian besar berbentuk hati yang berkilau indah. Queen tidak bisa berkata-kata lagi dengan semua hal luar biasa yang Daniel berikan padanya.
“Maukah kamu menikah dengan saya Queen?” tanya Daniel. Queen terpaku mendengar apa yang Daniel katakan. Queen tidak bisa berkata-kata.
“Saya mencintai kamu Queen, saya ingin menikah dengan kamu. Kamu sudah menjadi ibu dari anak saya Queen, dan saya ingin kamu menjadi istri saya. Karena saya sangat mencintai kamu.” Ucap Daniel tulus.
Queen tersentuh mendengar permintaan tulus Daniel. Air mata Queen mulai mengalir.
“Maukah kamu menikah dengan saya Queen?” tanya Daniel lagi.
Queen sudah tidak bisa membuka mulutnya lagi, lalu Queen menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Daniel. Air mata bahagia membanjiri wajah Queen. Daniel tersenyum lega, lalu Daniel berdiri, memeluk Queen, menghapus air mata Queen dan mencium kepala Queen lembut. Setelah itu, ia memasangkan cincin berlian itu di jari manis Queen dan mencium lembut tangan Queen.
“Terima kasih Queen.” Bisik Daniel pada Queen yang masih di dalam dekapannya.
Satu bulan kemudian.
Hari ini pesta pernikahan mereka berlangsung dengan sangat megah di salah satu hotel bintang lima milik Daniel. Semuanya telah Daniel persiapkan dengan sangat indah. Gaun pengantin yang luar biasa indah ini dibuat khusus untuk Queen yang sedang hamil agar tidak membuat Queen kelelahan pada saat memakainya, sampai dengan dekorasi pernikahan yang sangat luar biasa fantastis indahnya bak negeri dongeng.
“Apa kamu bahagia?” tanya Daniel menatap kearah Queen.
Queen tersenyum mendengar pertanyaan Daniel.
“Sangat...” Queen menatap mata Daniel.
“...Saya sangat bahagia karena kamu. Terima kasih Daniel.” Mata Queen yang terus menatapnya.
Daniel mendekatkan wajahnya ke telinga Queen.
“Saya sangat mencintai kamu istriku.” Bisiknya.
Queen tertawa dengan ucapan Daniel. Lalu menatap mata Daniel dengan dalam. Dan perlahan saling mendekatkan wajah mereka. Daniel merengkuh tubuh Queen dan mereka berciuman pelan, lembut dan tulus. Setelah itu Daniel mencium dahi Queen dan memeluknya. Mereka berpelukan sambil melihat kearah para tamu yang memberikan tepuk tangan sangat meriah untuk mereka.
~
Queen menatap menara Eiffel dari kamar hotel mereka. Sambil tidak henti-hentinya bersyukur karena Tuhan telah menghadirkan Daniel di hidupnya. Setelah pesta pernikahan mereka selesai, Daniel dan Queen langsung terbang ke Paris untuk berbulan madu.
Queen merasakan Daniel memeluknya dari belakang, mencium pundak Queen lalu mencium lehernya.
Memutar pelan tubuh Queen dan mengecup dahinya, Daniel perlahan membuka kancing belakang dress dengan masih tetap mencium Queen.
“Saya sangat mencintai kamu istriku.” Ucap Daniel di sela-sela ciumannya. Tanpa sadar Queen mendesah dengan perlakuan Daniel di tubuhnya, Queen merasakan tubuhnya lemas. Lalu Daniel membopong tubuh Queen ke ranjang.
“Daniel..” Queen tampak sedikit resah.
Daniel melihat kearah istrinya yang sekarang sedang berbaring menggoda di bawahnya.
“Apa...Apakah yang kita lakukan ini aman untuk...” Queen bertanya khawatir sambil mengelus perutnya.
Daniel tertawa pelan melihat raut wajah khawatir Queen, ternyata istrinya itu mengkhawatirkan anak mereka. Lalu kepala Daniel turun kearah perut Queen dan mengucupnya berkali-kali dengan lembut. Sampai Queen tertawa dan menghentikan Daniel karena geli. Setelah itu Daniel berbaring disamping Queen dan menatapnya.
“Tentu saja sebelumnya saya sudah berkonsultasi dulu dengan dokter sayang.” Daniel tersenyum jail.
“Asal kita melakukannya dengan perlahan dan tidak sampai membuat kamu lelah. Maka semuanya akan baik-baik saja.” Daniel mengedipkan sebelah matanya menggoda Queen.
Queen yang melihat itu langsung mencubit pelan perut Daniel. Mereka tertawa bersama.
Daniel memegang tangan Queen dan mengecupnya, “Saya tidak mungkin melakukan sesuatu yang akan melukai kalian.”
Daniel dan Queen saling bertatapan.
“Queen...” Daniel menatap Queen dengan segenap perasaannya.
“Kamu harus tau. Tidak peduli bagaimana awalnya ini semua terjadi, yang pasti...” tangan Daniel mengelus perut Queen “...dia adalah milik kita. Karena kita saling mencintai... I love you my Queen.” Daniel menecup dahi Queen tulus, lembut dan lama. Perlahan ciuman Daniel turun ke mata, hidung, pipi, melumat pelan bibir Queen dan terus kebawah sampai ritual cinta dimulai dan pada akhirnya membawa keduanya ke puncak kebahagian mereka.
THE END