
Menikah katanya?
Dia gila?
Dia menikah hanya karena ingin having s*x dengan aku atau apa? Aku mendadak merasa marah.
" Hah?"
" Gue udah mikirin ini lama, Aluna. Ayah gue juga berharap lebih sama lo. Dan ya, gue sadar kalo lo itu tanggung jawab gue. Our baby needs their father”
Oke. Bukankah ini yang diam-diam aku harapkan? Pertanggungjawaban darinya?
Tapi entah kenapa aku masih belum bisa menerima apa yang terjadi padaku.
Aku menggelengkan kepalaku.
" Gak segampang itu, Sebastian. Gue merasa lo mau nikah sama gue cuma karena mau hs sama gue tau gak?"
Dia bilang sendiri tidak mau berurusan denganku dalam hidupnya. Dan sekarang dia berdiri di hadapanku mengajakku menikah.
Jujur, aku memang sedikit berharap ada sesuatu di antara kita. Tapi tampaknya tidak bisa. Salah satu alasannya adalah aku masih sakit hati dengan ucapannya waktu itu. Dan aku tidak mau dicap gampangan.
" Seriously? After everything you said to me? Gak bisa, Bas"
Memang dia sudah minta maaf soal perkataannya itu. Tapi bukan berarti aku memaafkannya sepenuhnya.
Aku sangat kesal sekarang. Yang awalnya tubuhku panas, sekarang berubah jadi mataku yang panas karena air mata.
Sebastian menangkup wajah aku dengan kedua tangannya, membuatku mau tak mau menatap mata sendunya. Aku tidak bisa menahan airmataku untuk menetes saat melihat mata dari ayah calon anakku.
" I'm so sorry for everything. I feel so bad everyday, Aluna. Gue tahu gue bukan lelaki baik yang semua orang mau. Gue munafik, brengsek, and I also have my dark sides. But please... kasih gue satu kesempatan, Aluna. I'll try to be a better person for you. Let me be ‘that’ person"
Aku semakin menangis mendengar penuturan Sebastian. Keterkejutan dalam diriku semakin menjadi-jadi. Segala hal terjadi secara mendadak, benar-benar diluar skenario dan terjadi disaat yang tidak tepat seperti ini.
" Kenapa lo mendadak banget? G-gue gak bisa mikir..."
Sebastian tersenyum kecil dan menghapus airmataku.
" You kissed me. It means everything to me. Dan saat itu juga gue pikir gue punya kesempatan untuk menyampaikan pendapat gue soal tanggung jawab bayi kita. Menurut gue ini saat yang tepat karena gue gak tahu apa besok-besok gue bakal berani bilang hal semacam ini tanpa ada 'moment' mendukung..."
Aku menatap matanya. Aku bisa melihat ketulusan dalam matanya.
" Gue akan menghargai apapun keputusan lo, Aluna. Tapi tolong beri gue waktu untuk membuktikan kalau gue bisa bertanggung jawab"
Setelah berkata seperti itu, terjadi keheningan sementara. Rasanya sangat canggung dan aneh. Aku dapat melihat wajah Sebastian yang memerah.
“ Muka lo mera—“
Ucapan aku terhenti saat Sebastian memelukku dan menyembunyikan wajahnya di bahuku.
" Gue malu ngomong beginian, Al"
Dan aku sadar bahwa sedari tadi telinganya merah.
Aku bingung. Seharusnya aku marah padanya tapi bagaimana bisa aku marah kalau dia sedang dalam mode seperti ini?
Dan lagi, dia memanggilku dengan Al. Tidak ada orang yang memanggilku dengan Al. Entah kenapa hal itu membuat perasaanku tergelitik.
Aku terdiam dan merasakan hembusan nafasnya dan saat itu juga aku menyadari sesuatu.
" O-okay, but can you wear your clothes first? G-gue rasa handuk lo melorot"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rasanya canggung secanggung - canggungnya.
Setelah kejadian tadi, aku memutuskan untuk menetralkan otakku dengan menonton TV. Tapi semua terasa sia-sia saat Sebastian yang tampaknya sudah memakai baju mengambil duduk di sampingku, ikut-ikutan menonton tv.
" Al, udah hampir tengah malam"
" I-iya. Lo balik aja, gue gak apa-apa sendirian"
Aku menjawab tanpa menoleh kearahnya. Malu.
" Beneran gak apa?" Tanyanya ragu dan aku mengangguk dengan mantap, masih fokus dengan TV didepanku. Aku yakin jika kejadian tadi tidak ada, dia akan ngotot untuk menginap disini.
Buruan pergi please buruan pergi.
" Oke. Jangan lupa kunci semua pintu"
" Hmm..."
Sebastian bangkit dari duduknya dan berjalan pergi.
Aku yakin tadi Sebastian sudah berjalan ke luar pintu namun saat ini aku melihat dia berjalan kembali kearahku dan berdiri di sampingku dengan wajah pucatnya
" A-Al..."
Wajah Sebastian semakin memucat dan aku tidak mengerti sama sekali.
" Kok belum pulang?"
Sebastian melirik kearah bawah. Aku mengikuti arah matanya dan mataku membulat saat melihat Sebastian memegangi perutnya. Tangan dan bajunya bersimbah darah.
" ASTAGA!"
Aku dengan cepat berlari dan menompang tubuh Sebastian.
" Kunci! Mana kunci mobil lo? Kita kerumah sakit, oke?"
Aku merogoh kantung celana Sebastian dan membantu Sebastian berjalan. Aku sangat panik dan belum siap menanyakan darimana Sebastian mendapatkan luka tusukan itu. Yang aku pikirkan sekarang adalah bagaimana cara membawa Sebastian ke rumah sakit secepatnya.
Aku membantu Sebastian memasuki mobil dan aku berlari untuk duduk di bangku pengemudi. Aku mencoba memasukkan kontak mobil dengan susah payah karena tanganku terus bergetar.
" Aluna—"
" Ssttt... Sabar Sebastian"
Airmataku tidak bisa dibendung lagi. Aku takut dan panik. Aku sesekali melirik ke arah Sebastian yang memejamkan matanya, mencoba menghilangkan rasa sakit.
Sebastian berucap dengan suara kecilnya, membuatku menggeleng-gelengkan kepalaku sambil menangis.
" Jangan ngomong dulu! Lo gak boleh kehilangan banyak energi"
Tapi aku malah mendengar Sebastian tertawa lemah.
" Gue gak bakal mati, Aluna... Luka ini gak dalem, cuma ya sakit aja. Jadi lemes deh"
Tapi tetap saja aku tidak bisa menahan airmata aku.
" Pasti sakit banget... Maafin gue, pasti gara-gara gue. Harusnya lo gak dateng kerumah gue.."
Rasanya malam ini benar-benar malam yang rumit. Dari insiden burung mati, ajakan menikah Sebastian, dan Sebastian yang tanpa ada prasangka apapun ditikam. Drama macam apa ini?
" Aluna... tadi pelakunya cowok"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah Sebastian mendapatkan perawatan, aku duduk di samping Sebastian yang terbaring dan tertidur karena pengaruh obat bius, mungkin.
Aku memperhatikan wajahnya dan tanpa sadar tanganku menyentuh pipi putihnya.
Namun aku buru-buru menarik dan memukul tanganku sendiri.
“ Jangan, Aluna! Tangan lo kotor! Nanti dia jerawatan!”
Lagi-lagi aku memperhatikan wajahnya. Bibirnya pucat, namun hal itu tidak mengurangi ketampanannya sedikitpun. Hidungnya mancung dan bisa digunakan para semut untuk berseluncur karena kelewat licin. Pipinya berwarna merah muda secara natural, mungkin karena kulit pucatnya.
“ Beautiful”
Hanya satu kata itu yang dapat terlontar dari bibirku. Dia sangat cantik, namun bukan cantik dalam artian feminim. Dia cantik karena dia begitu indah. Wajahnya benar-benar aset yang tampaknya hanya muncul sekali tiap dua puluh tahun.
Aku tanpa sadar menguap. Oke, aku bahkan tidak tahu sudah berapa lama aku memandangi wajah Sebastian.
Aku berjalan menuju sofa dan memutuskan untuk tertidur disana.
Aku yakin aku belum lama tertidur namun aku sudah merasakan alarm ponselku berbunyi. Aku membuka mataku dan melihat bahwa sekarang sudah jam tujuh pagi.
Gila, kenapa waktu cepat sekali berlalu, sih?
Dengan terpaksa aku mendudukkan tubuhku. Mata aku mengerjap, menatap lurus di depanku untuk melihat Sebastian yang sedang mencoba mendudukkan tubuhnya.
Oh, pasti dia juga terbangun karena mendengar alarmku.
Aku dengan refleks berjalan cepat menuju ranjangnya dan membantunya duduk.
“ Maaf udah bangunin lo” Ujarku yang dibalas angukkan olehnya.
Sebastian tersenyum lemah dan menatapku dengan wajah baru bangun tidurnya itu.
“ Morning, Al”
Suaranya serak. Dan entah kenapa aku suka mendengarnya. Aku mengecek suhu tubuhnya dan terkejut saat keningnya panas.
“ Lo demam” Gumamku khawatir. Sebastian mengecek suhu keningnya sendiri dan mengangukkan kepalanya.
“ Wajar. Imunnya lagi melawan virus dari luka” Balasnya santai. Aku hanya mendecih dan mengambilkan ia segelas air mineral.
“ Thanks” Ucapnya seraya menegak air mineral tersebut.
Sebastian menaruh gelas tersebut di meja dan menatapku, membuatku kikuk seketika.
Aku mencoba menoyor pelan wajahnya agar tidak menatapku namun lagi-lagi ia menoleh dan menatapku.
“ Stop looking at me!”
Aku mendengus, menahan rasa salah tingkah yang sudah tidak terbendung ini. Sebastian terkekeh melihat wajahku. Ia menurunan kakinya dari ranjang dan duduk menatapku.
“ Gue mau cerita soal semalem” Ujar Sebastian pada akhirnya. Aku yang sibuk menyimak hanya mampu berdeham.
“ Hmm”
" Jadi semalam pas gue buka pintu, orang itu kayaknya memang udah bersiap celakain gue. Tapi gue tahu dia gak berniat membunuh gue karena dia gak pakai tenaga waktu menghujam perut gue. Gue pikir dia ngasih semacam peringatan."
Aku yang mendengarnya merinding.
Bagaiamana kalau seandainya yang membuka pintu itu aku? Tiba-tiba rasa takut kembali menyelimutiku. Kalau pelaku itu ke rumahku, berarti target dia sebenarnya aku dong? Bukan Sebastian?
" P-pasti dia mau bunuh gue soalnya pelakunya cowok..."
Aku dapat melihat kalau Sebastian menggeleng.
" Gue gak tahu pasti dia kaki tangan atau memang benar-benar pelaku yang menyadap kita" Jelasnya.
" Dan sekarang kita mungkin diawasi...." Aku menggumam dan Sebastian tertawa kecil.
Aku mengernyit heran. Ini bukan saat yang tepat untuk tertawa. Aku menoleh dan mendapati Sebastian yang melihat kearahku.
" Kita harus balas dendam gak sih?" Tanya Sebastian, membuatku menatapnya bingung.
Tangannya perlahan mengambil alih tangan kananku dan menggenggamnya, membuatku gugup seketika.
" H-How?"
Dengan tiba-tiba Sebastian mendekatkan wajahnya kearahku. Aku sedikit memundurkan kepalaku namun Sebastian malah menahan tengkukku.
" Dia antara 'mau' sama gue dan 'mau' sama lo, Aluna. Let's show him or her or whatever, kalau kita milik satu sama lain. Bukan milik dia"
Dengan itu ia menarik tengkukku, mendaratkan bibirnya di bibir atas aku.
Aku menutup mataku, merasakan kelembutan yang membuat jantungku berpacu dengan cepat. Ia memiringkan kepalanya dan memperdalam ciuman kami. Entah kenapa sangat sulit untuk menolaknya.
Mungkin ini hari terakhir kita bisa seperti ini. Aku tidak tahu pasti besok Sebastian adalah orang yang seperti apa. Apakah besok kita teman, musuh, atau sesuatu yang lain. Aku tidak tahu pasti.
Yang aku inginkan adalah menciumnya dengan sepenuh hati, as if it my last.
“ Uhm, maaf mengganggu. Saya mau ganti perban pasien Sebastian”