
Ibu Mita tersenyum melihat Daniel dan Queen turun bersama. Sesampainya di ruang makan, Daniel menarik kursi untuk Queen duduk dan Daniel duduk di samping Queen. Mereka mulai makan malamnya dalam diam.
Daniel telah menyelesaikan makannya. Lalu dilihatnya Queen yang sedang meminum vitamin dan susu hamilnya, Queen menoleh ke arah Daniel.
“Saya sudah selesai.” Queen tersenyum.
“Apa yang ingin kamu bicara kan?” lanjut Queen.
“Tidak di sini Queen...” Daniel bangkit dari kursi, dan mengulurkan tangannya kepada Queen.
“Ada sesuatu yang ingin saya tunjukkan kepada kamu.” Queen menerima uluran tangan Daniel.
Lalu mereka berjalan ke lorong rumah. Dan berhenti di sebuah pintu. Daniel dan Queen saling bertatapan.
“Ruangan apa ini?” tanya Queen. Daniel tidak menjawab, lalu di bukanya pintu itu dan mempersilahkan Queen masuk.
Queen terkejut melihat isi ruangan itu. Queen masuk, melihat, dan mulai menyentuh benda-benda yang ada di dalam kamar itu. Ranjang bayi, baju-baju bayi, dan boneka-boneka, yang semuanya tampak menggemaskan. Queen menoleh ke arah Daniel yang berjalan di belakangnya.
“Daniel ini..” mata Queen yang mulai berkaca-kaca terharu bahagia.
“Ini hadiah dua bulanan kandungan kamu. Kamu suka?” tanya Daniel.
Queen mengangguk, tanpa terasa air mata Queen mengalir.
“Hei, kenapa menangis? kamu tidak suka.” Daniel menghapus air mata Queen.
Queen menggeleng, “Suka, saya sangat suka Daniel. Ini sangat indah sampai membuat saya menangis.” Queen tersenyum.
“Syukurlah kalau kamu suka.” Daniel ikut tersenyum bahagia.
“Queen...” Daniel menarik Queen untuk duduk di sofa kamar bayi itu.
“Queen, ada yang ingin saya katakan.” Lanjut Daniel sambil menggenggam tangan Queen. Daniel menarik nafas dan mulai berbicara pada Queen.
“Saya tau, saya sudah menghancurkan hidup kamu dengan keadaan kamu yang sekarang tengah mengandung anak saya Queen. Saya juga sadar kalau semalam saya mabuk dan menemui kamu untuk mengatakan semuanya yang ada di hati saya, meski dalam keadaan mabuk saya tetap mengingat kejadian semalam. Saya tau kejadian ini sangat membuat kamu terpuruk terutama saat bertemu dengan Dimas satu minggu yang lalu. Kamu boleh mengatakan saya pria yang egois, Kamu tau Queen? Saya tidak pernah menyesali kamu mengandung anak saya, sama sekali tidak. Yang saya sesali adalah saya meninggalkan kamu pagi itu, membiarkan kamu pergi dan terlalu lama menemukan kamu setelah pagi itu...” Dilihatnya mata Queen yang melebar mendengar apa yang ia katakan.
Daniel menghela napasnya berat. “...Ya, saya sangat menyesal meninggalkan kamu begitu saja di kamar hotel itu Queen. Setelah itu saya kembali lagi ke kamar hotel untuk menemui kamu, tetapi kamu ternyata sudah tidak ada. Saya sudah memeriksa cctv hotel, mencari kamu ke hotel-hotel dan tempat penginapan yang lain tetapi saya tetap tidak menemukanmu. Lalu sebulan kemudian kamu menghubungi saya, kamu tidak tau betapa senangnya saya waktu itu. Ingin sekali saya segera menemui kamu hari itu juga, tetapi sayangnya saya sedang berada di luar kota.” Queen terkejut mengetahui kenyataan Daniel mencarinya.
“Lalu saya menyuruh sekertaris saya untuk melacak keberadaan kamu dari nomer ponsel kamu dan mencari semua informasi tentang kamu Queen. Sebelum kamu tiba di cafe itu, saya sudah lebih dulu tiba di cafe dan duduk sambil memperhatikan kamu dari pojok cafe. Kamu jauh lebih cantik dari yang terakhir saya ingat Queen.” Queen tersenyum mendengar pujian Daniel.
“Setelah itu kamu memberitahukan kehamilan kamu kepada saya, lalu kamu menolak saya untuk menikahi kamu.” Daniel dan Queen tertawa.
“Kamu adalah gadis yang menarik Queen. Saya sangat menikmati hari-hari bersama kamu, sampai akhirnya kamu bertemu dengan Dimas dan itu membuat kamu sangat terpuruk. Saya mulai berfikir betapa beratnya yang kamu rasakan karena perbuatan saya. Saya tidak tega melihat kamu seperti itu, lalu saya mulai berfikir untuk menggugurkan saja bayi ini agar kamu bisa menjadi Queen yang dulu lagi. Tetapi egoisnya saya, saya tetap tidak ingin kehilangan kamu dan juga bayi ini.” Daniel menyentuh lembut perut Queen.
Daniel mulai menangis.
“Queen, saya adalah anak haram...”
“Jangan bilang begitu.” Sanggah Queen yang mulai ikut menangis.
“Saya tidak punya ayah, di buang oleh ibu saya sendiri dan di besarkan oleh tante saya yang sering memukuli saya.”
“Hentikan Daniel.” Queen tidak sanggup mendengar Daniel berbicara tentang keluarganya.
“Yang lebih egoisnya lagi, saya sudah jatuh cinta sama kamu sejak saya memperhatikan kamu di cafe itu.”
Queen terdiam.
Daniel tertunduk, “Saya sadar, saya tidak pantas mengatakannya setelah apa yang sudah saya lakukan kepada kamu. Tatapi saya tidak ingin menyesal nantinya karena tidak mengatakan ini sama kamu Queen.” Daniel Menatap mata Queen.
“Queen. Saya sungguh-sungguh minta maaf atas semua perbuatan saya yang telah menyakiti kamu. Dan, kamu harus tau saya mencintai kamu Queen. Sungguh saya sangat mencintai kamu. Saya tau, saya bukan pria yang baik dan tidak pantas mendapatkan cinta dari kamu. Sudah cukup bagi saya, kamu mengetahui saya mencintai kamu Queen.” Ucap Daniel tulus.
“Lalu Laura?”
Dahi Daniel berkerut, “Kamu mengenal Laura?” Queen menggelengkan kepalanya.
“Setelah kita pulang dari nonton film waktu itu, saya ke ruang kerja kamu untuk mengajak kamu makan malam bersama. Lalu saya mendengar percakapan kamu dan Laura.”
Daniel menggenggam kedua tangan Queen sambil menggelengkan kepalanya.
“Tidak Queen, kamu salah sangka. Laura sudah menikah dan saya tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Laura. Saya bersumpah Queen, saya tidak ada perasaan apa-apa lagi pada Laura. Sungguh. Saya mencintai kamu Queen dan tidak ada perempuan lain.” Daniel mantap.
Queen menangis sambil tersenyum lega mendengar perkataan Daniel, lalu Queen mulai menarik napasnya dan berkata perlahan, “Saya juga mencintai kamu Daniel.”
Daniel terdiam.
“Kamu bohongkan?”
Queen menggeleng.
“Apa kamu merasa kasian kepada saya? Maka dari itu kamu berkata seperti ini untuk menghibur saya, begitukah?”
Queen menggelengkan kepalanya dan tersenyum kepada Daniel.
Mata Daniel melebar melihat Queen tersenyum dan jantungnya berdetak cepat.
“Sejak kapan?”
Queen tersenyum dan menggigit bibirnya sambil mengingat-ingat kapan ia mulai mencintai pria ini, “Saya tidak tau pasti, mungkin saya mulai mencintai kamu sejak kita tinggal bersama.” Queen tersenyum menatap Daniel yang terdiam.
Daniel langsung memeluk Queen dan berkata, “Terima kasih tuhan.”
Lalu merenggangkan pelukannya dan menatap mata Queen “Terima kasih Queen.”
Queen mengangguk dan tersenyum bahagia.
Lalu Daniel menundukkan kepalanya ke perut Queen dan mengecupnya berkali-kali dan berkata “Terima kasih sayang sudah hadir untuk mempertemukan papa dan mama.”
Queen tersenyum mendengar perkataan Daniel.
Lalu Daniel menegakkan kepalanya dan bergerak perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Queen. Menatap mata Queen seakan meminta izin, lalu Queen menutup matanya. Daniel tersenyum lalu mulai mencium bibir Queen dengan lembut dan tulus, setelah itu menyatukan dahi mereka sambil berkata.
“Terima kasih Sayang, saya sangat mencintai kamu.” Lalu mereka berpelukan dengan perasaan lega dan bahagia di kamar bayi mereka.