
Aku membuka mataku dan terkejut saat sadar ini bukan kamarku. Ini kamar Sebastian. Dan aku ketiduran karena kekenyangan tadi.
Aku menguap dan meregangkan tubuhku. Entah kenapa suara marah-marah terdengar dari luar, membuatku panik seketika. Aku memepetkan telingaku kearah pintu dan aku bisa dengan jelas mendengar keributan.
" Anak saya keracunan di fakultas Bapak! Mana tanggung jawabnya?!"
Jantungku berdegup dengan kencang saat mendengar suara wanita marah-marah. Aku tahu jelas suara itu siapa. Itu suara Ibu Tristan.
Haruskah aku keluar dan menenangkan Ibunya Tristan? Karena aku tahu, Ibu Tristan orangnya sensitif dan suka marah-marah tanpa sebab, apalagi ini ada sebabnya.
Baru saja aku memutar kenop pintu, seseorang menepuk pundakku.
" AAKH!!"
Aku berteriak histeris dan saking terkejutnya aku jatuh terjembab. Aku mendongak dan melihat Sebastian berdiri sambil menggaruk rambutnya.
" Gue ngagetin, ya?"
Aku yang masih shock berat mengangguk. Lagipula darimana dia muncul, sih? Perasaan hanya ada aku seorang dikamar ini. Namun kemudian aku melihat rambutnya yang basah. Oh, dia baru selesai mandi.
Aku mengambil kedua tangan Sebastian yang membantuku untuk berdiri.
" Diluar ibunya Tristan marah-marah sama ayah lo"
Sebastian mengangkat sebelah alisnya. Dia ikut menguping pembicaraan diluar.
" Tenang, Bu. Saya akan bantu usut kasus ini ke polisi"
" Saya pegang ya Pak ucapan anda. Pokoknya saya harus tahu siapa yang berani mencelakai anak saya. Gak akan saya maafkan!"
Setelah itu terdengan bunyi heels dan suara pintu dibanting. Sebastian dengan cepat membuka pintunya dan berjalan menuju ayahnya.
" Ada apa sih, yah?"
Tanya Sebastian pada ayahnya. Pak Wildan menghela nafasnya dan mendudukkan dirinya di sofa.
" Itu... teman kamu si Tristan kan keracunan. Ibunya pikir keracunan makanan di kantin. Tapi sudah Ayah check kalo Tristan belum makan di kantin pagi itu. Kayaknya ada yang ngasih dia minuman"
" Kopi.." Sahutku.
Pak Wildan menatapku terkejut.
" Iya benar. Kayaknya ada yang kasih racun ke kopi yang dia minum..." Timpal Pak Wildan namun sedetik kemudian dia menatap aku terkejut.
"Loh? Aluna? Sejak kapan kamu disini?" Tanya Pak Wildan heran.
Aku tersenyum kikuk. Apa daritadi dia tidak sadar kalau aku berdiri di belakang Sebastian?
" Belum lama kok Pak. Hehe"
" Sebentar... Tristan keracunan?" Tanya Sebastian terkejut.
Oh iya, dia tidak masuk kuliah tadi.
Aku mengangguk. Wajah Sebastian memucat seketika. Dia langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
" Bagas, lo dimana?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lagi-lagi aku, Bagas, dan Sebastian berkumpul. Bedanya kali ini di kamar Sebastian, buka di rumah Bagas.
" Iya, Aluna. Tadi gue emang ketemuan sama Bianca. Karena yang waktu itu gagal dan karena gue merasa gak enak, gue ajakin dia di lain hari. Dan iya, sesuai janji awal. Di kafe deket kampus. Dan dia beli satu lagi buat dibungkus" Jelas Bagas.
Aku mengangkat sebelah alisku.
" Really? Cuma karena hal itu kalian nuduh Bianca?” Tanyaku.
Bagas mendengus saat mendengar responku.
" Gue bakal buktiin kalau Bianca terlibat dalam kasus Tristan" Kata Bagas yakin, yang di balas anggukkan oleh Sebastian.
" Ayah gue bisa aja suruh polisi buat cari pelakunya, tapi kita juga butuh cari tahu sendiri. Siapa tau ada bukti lain"
" Bukti kalau dia penyebar rahasia kita?" Tanyaku.
" Maybe... Jadi sebaiknya lo harus jaga jarak sama dia" Ucap Sebastian.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
" Guys...Gue ketemu Bianca dirumah sakit" Ujarku membuat mereka berdua terkejut.
“ Dia ngapain?” Tanya Bagas penasaraan.
“ Dia bilang ibunya sakit”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
" Bagas, gue balik bareng lo ya?"
Aku berucap pada Bagas saat laki-laki itu hendak pamit dari rumah Sebastian. Kan lumayan karena kita satu arah. Bagas melirik kearah Sebastian kemudian menggeleng.
" Gak ah. Dipelototin Sebastian"
Bagas tertawa dan berjalan pergi meninggalkanku yang mendengus.
Aku menoleh kearah Sebastian. Lelaki itu balik menatapku. Cukup lama kita bertatapan akhirnya dia memutuskan untuk mengedipkan matanya.
" Mau pulang?" Tanya Sebastian yang aku balas oleh anggukan.
Dia tampak mengambil kunci mobilnya kemudian merangkulku keluar, menuju tempat mobilnya.
Rasanya aneh karena aku tidak merasa risih di sentuh-sentuh oleh Sebastian. Yang ada aku senang-senang saja. Sinting.
Aku memasuki mobil Sebastian dan entah kenapa rasanya letih sekali. Padahal baru bangun tidur.
" Lo gak apa-apa, Al?" Tanya Sebastian yang aku balas dengan anggukkan.
" Emangnya gue kenapa?" Tanyaku heran.
Sebastian memperhatikanku. Dia meletakkan tangannya di keningku.
" Muka lo pucet. Demam kayaknya"
“ Iya, ketularan lo. You kissed me when you were sick! Inget? Dirumah sakit!” Ucapku tanpa berpikir dua kali yang dibalas kekehan oleh Sebastian.
Sebenarnya bukan karena tertular Sebastian, sih. Akhir-akhir ini aku memang gampang demam ringan karena mudah lelah.
" But you liked it!" Tuding Sebastian yang membuat wajahku tanpa sadar memerah.
Entah kenapa setelah insiden di rumah aku bukannya semakin menjauh, kami malah semakin dekat dan seolah-olah nyaman satu sama lain. Dan entah kenapa sekarang ini aku merasa seperti baru ‘jadian’ dengan oknum Sebastian. Oke, mungkin hanya aku satu-satunya pihak yang berpikir demikian.
“ U-udah buruan jalan! Gue ngantuk” Pintaku mencoba mengalihkan topik.
Aku menguap dan memejamkan mataku, mencoba untuk terlelap selagi Sebastian mengendarai mobilnya.
Tapi pernyataan Sebastian tadi masih terngiang-ngiang di kepalaku. Tanpa sadar aku tersenyum.
Of course I like his kisses. It’s sweeter than cotton candy so I’m not complaining.
Aku menggelengkan kepalaku. Calon bulol. detected. Aku tidak mau jadi budak cinta tolol. Jangan sampai, deh.
“ Lo gila ya senyum-senyum sendiri?” Tanya Sebastian yang membuat senyumku luntur seketika.
“ Shut up”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aku mengerjapkan mataku saat merasakan ada yang menepuk-nepuk pipiku. Aku membuka penuh mata aku, mendapati Sebastian di dekat wajahku.
" Udah sampai" Ucapnya seraya mencopot seatbelt milikku.
Aku mengangguk dan menegakkan tubuhku. Rasanya benar-benar masih mengantuk. Beberapa kali aku menguap, mencoba memulihkan nyawaku. Aku menoleh kearahnya dan tersenyum lemah.
" Can I get something?"
Aku adalah pembaca cerita romantis dan pecinta drama Korea. Jadi aku paham betul apa maksud Sebastian.
" Apa? Bintang limanya mbak?" Tanyaku sok polos, meniru suara supir ojek online namun tampaknya Sebastian tidak paham. Dan ia tampaknya tidak peduli dengan omong kosongku.
Sebastian mendekatkan wajahnya kearahku bersamaan dengan bunyi jendela kamar Vano di tutup.
Refleks aku menoleh kearah depan, menyebabkan bibir Sebastian meleset dan malah mendarat di pipiku. Sebastian tertawa dan mengacak rambutku agak kesal.
" Udah ah, buruan masuk” Ujarnya, tampaknya menyerah dengan permintaannya malam ini.
Aku mengangguk dan keluar dari mobil Sebastian. Baru berjalan dua langkah aku berhenti dan berbalik, kembali masuk ke dalam mobil Sebastian.
Dengan cepat aku mengecup pelan pipi Sebastian. Membuat mochi berwarna putih itu menjadi merah merona. Sebastian menatapku dengan tampang bodohnya.
“ Goodnight, Bas”
Selepas berucap seperti itu, aku buru-buru berlari masuk ke dalam rumah dengan senyum selebar karakter urban legend berjudul Jeff the Killer.
Aku mengintip keluar jendela dan mendapati Sebastian yang masih termenung di dalam mobilnya sembari memegang pipinya yang baru saja dicium olehku. Dapat dengan jelas aku melihat senyumnya yang perlahan-lahan merekah.
“ BOO!”
Seseorang menepuk bahuku membuatku tersentak dan sedikit berteriak saking terkejutnya. Aku menoleh kearah Vano yang sekarang tengah tertawa tanpa suara, tampaknya puas melihat aku hampir mati jantungan.
“ Waktu itu belagu ngusir-ngusir Bang Sebastian. Eh, sekarang intipin diem-diem sampai dia minggat” Cibir Vano yang membuatku mau tak mau mendengus menahan malu.
“ By the way, gue lebih setuju kalau kakak sama Bang Sebastian daripada Bang Tristan” Ujar Vano membuatku mengangkat sebelah alisku.
“ Alasannya?” Tanya aku penasaran membuat Vano tampak berpikir.
“ Soalnya dia kalem-kalem pintar kayak pemimpin bangsa di masa depan kelak. Kalau Bang Tristan, ya kakak tahu sendiri lah ya”
Setelah berucap seperti itu, Vano masuk ke dalam ruang tengah tanpa merasa bersalah sama sekali. Memang ya, kultur menilai orang dari buku sudah melekat erat dalam diri kita.
Aku lagi-lagi mengintip dari balik jendela dan tampaknya dia sudah menjalankan mobilnya keluar dari pekarangan rumah aku.
“ BOO! KAN NGINTIP LAGI!”
Vano tiba-tiba menyembulkan kepalanya dari balik dinding, membuat aku geram dan memutuskan untuk memberinya pelajaran.
“ Vano! Sini kakak hajar dulu lo ya dek!"
Setelah puas menggelitiki Vano sampai dia hampir pipis di celana, aku memutuskan untuk membaringkan tubuhku di ranjang. Rasanya aku terlalu letih karena agak demam.
Aku meraba kantung celanaku untuk mencari ponselku. Aku berniat untuk browsing ‘cara cepat sembuh saat hampir demam’ . Namun seketika aku panik saat menyadari ponselku tidak ada. Aku berpikir keras mencoba mengingat-ingat dimana ponselku. Seketika aku mengacak rambut aku kesal.
Ponselku tertinggal di kamar Sebastian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi itu Sebastian mengembalikan ponselku. Namun dia mendiamkanku, membuatku bingung seketika.
Aku memperhatikannya yang tengah duduk bersama teman-temannya.
Kenapa dia kembali tidak peduli padaku? Entah kenapa rasanya agak sakit.
Aku menghela nafasku dan menyandarkan kepalaku ke pundak Dina.
" Liat tuh gue di cuekkin lagi. Apa gue tolak aja ya?" Tanyaku pada Dina.
Dina langsung memukul lengan aku.
" Tolak-tolak jidat lo. Tanyain dulu dong kenapa dia cuekin lo"
Aku berpikir keras. Aku tidak merasa melakukan kesalahan apapun. Apa dia marah karena semalam gagal menciumku? Masa hanya karena masalah sepele begitu dia marah?
Akhirnya—karena penasaran—, aku mengajaknya bertemu di perpustakaan. Awalnya dia menolak dan beralasan akan ke kantin dengan Bagas, namun aku menarik paksa tangannya.
" Ada apa?" Tanyanya saat kita duduk di perpustakaan.
Aku menatapnya, namun dia bahkan tidak menatapku sama sekali. Ia lebih memilih memainkan ponselnya, membuatku mendengus kesal.
" Lo kenapa?" Tanyaku heran.
Sebastian mengangkat bahunya.
" Gue gak kenapa-kenapa" Jawabnya tanpa melirik kearah aku bahkan sedetik pun.
Aku menghela nafasku. Aku mengambil ponselnya dan dia tampaknya tidak suka. Akhirnya dia menatapku, dengan wajah super menyebalkan. Membuatku jadi semakin kesal.
" Lo kenapa?" Aku bertanya padanya sekali lagi.
" Balikin" Ujarnya datar, merujuk pada ponselnya yang aku masukkan dalam kantung blouseku. Aku yakin dia tidak akan berani mengambilnya.
" Gue balikin kalau lo bilang dulu kenapa lo kayak gini"
Sebastian mendecak. " Bukan urusan lo"
Ucapannya entah kenapa membuat emosiku mendadak berada di puncak. Apa katanya tadi? Aku benar-benar tersinggung mendengarnya.
" Oh bukan urusan gue ya? Hahaha... gue pikir lo pegang benar-benar ucapan lo saat bilang mau jadi orang yang lebih baik demi gue. Nyatanya? Ternyata gue terlalu berekspektasi tinggi sama lo"
Aku menaruh ponselnya di meja, berdiri dan berniat meninggalkan Sebastian. Namun lelaki itu menahan tanganku.
Aku mencoba melepaskannya, tapi lelaki itu malah menarik tubuhku, membuatku terduduk di pahanya.
" Gue cemburu" Ucapnya, membuatku mengangkat sebelah alisku.
" Cemburu sama sia—"
Kemudian secara tak terduga Sebastian memelukku.
Dia gila apa ya? Ini kan di perpustakaan!
Aku menarik kepalanya dan wajahnya memerah, ia masih saja menunduk.
Aku memegang kedua pipinya. Wajah dan telinganya memerah. Sebentar... dia malu? Karena apa? Karena bilang kalau dia cemburu?
Entah kenapa aku menganggap kalau dia sangat menggemaskan. Tapi masalahnya, dia cemburu dengan siapa?
" Gue lagi gak deket sama cowok manapun. Lo cemburu sama siapa?" Tanyaku sambil menahan senyumanku.
Sebastian mengambil nafas dan memberanikan diri menatapku.
" Gue juga merasa bersalah udah buka-buka hape lo. Tanpa izin. Gue mau minta maaf soal itu" Ucapannya membuat aku seketika sadar siapa yang ia cemburui.
" Dia mantan gue" Ujarku enteng.
Sebastian menghela nafasnya dan menatapku.
" Lo bahkan masih simpen foto-foto kalian yang lagi cium-cium. Lo masih cinta sama dia?" Tanya Sebastian.
Aku menggeleng. Tapi kalau sayang, aku masih sayang Tristan. Tapi tentu saja aku tidak bilang hal itu pada Sebastian.
" Serius?" Tanyanya, dan aku mengangguk.
Sebastian melepaskan tanganku dari kedua pipinya kemudian memindahkanya untuk melingkar di lehernya.
Sebastian mendekatkan wajahnya dan aku menutup mataku, namun tak ada apapun yang terjadi. Aku membuka mata aku dan melihatnya yang tengah tersenyum mengejek, membuatku mendengus.
Tentu saja aku malu. Dia mengerjaiku!
Baru saja aku akan mengomelinya, ucapannya membuat aku terdiam.
" Gue pernah pacaran, tapi gue gak pernah tau apa itu cemburu"
Entah ada sihir apa dalam ucapannya itu, tapi itu membuat pipiku memerah bukan main. Lemah, padahal digombalin saja belum.
" And I never thought I want to kiss only one girl for the rest of my life"