Our Baby

Our Baby
BAB 6



Sudah seminggu berlalu setelah Queen memutuskan untuk tinggal bersama Daniel, hari ini ia akan menunggu Daniel menjemputnya sekitar jam 3 siang. Sambil menunggu, Queen membereskan sedikit lagi barang yang ingin dibawanya, lalu setelah itu membersihkan diri, berpakaian dan berdandan seadanya.


Terdengar suara ketukan pintu, Queen segera melihat siapa tamunya. Ternyata ibu yang punya rumah kontrakan, “Ibu terima kasih sudah datang.” Sambut Queen ramah.


“Seperti yang saya katakan di telpon semalam bu, hari ini saya akan pindah. Saya sangat berterima kasih kepada ibu atas bantuannya selama ini.” Selanjutnya mereka berdua lanjut mengobrol di ruang tamu. Sekitar setengah jam kemudian ketukan pintu menghentikan obrolan Queen dengan ibu kontrakannya. Itu pasti Daniel, batin Queen. Lalu berjalan kedepan. Ternyata bukan. Seorang wanita dan Queen mengerutkan dahinya. Queen mengenali wanita itu, sekertaris Daniel.


“Selamat siang ibu, perkenalkan saya Devi. Saya sekertaris pak Daniel. Saya diminta untuk menjemput ibu karena pagi tadi pak Daniel harus pergi ke Amerika selama kurang lebih lima hari karena ada urusan mendadak bu.” Ucapnya ramah.


“Oh begitu.” Menganggukkan kepalanya pelan.


“Kalau begitu saya akan panggilkan supir untuk membantu mengangkat barang-barang ibu.”


“Ya terima kasih.” Tercengang dengan mobil Rolls-Royce di depannya.


Setelah semua barang-barang Queen diangkut ke dalam mobil, Queen berpamitan dengan ibu kontrakan. Devi membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Queen masuk, “Terima kasih.” Ucap Queen. Selama di perjalanan menuju rumah Daniel Queen hanya diam, hampir sekitar satu jam perjalanan dan langit tampak mulai mendung. Akhirnya mobil yang Queen tumpangi mulai masuk kedalam perumahan mewah, Queen menatap kagum dengan rumah-rumah yang dilewatinya. Di bagun dengan asitektur yang sangat indah dan berkelas. Sampai akhirnya mobil yang Queen tumpangi berhenti didepan sebuah gerbang yang sangat besar dan tinggi, lalu terbuka secara otomatis memperlihatkan isi di dalamnya. Sebuah rumah yang besar dan luas dengan gaya eropa modern.


Queen meneguk ludahnya sendiri sambil terdiam menatap kagum rumah Daniel yang luar biasa indah itu dari dalam mobil. Sampai akhirnya Devi membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Queen turun.


“Silahkan ibu.”


Queen turun dan berjalan sambil masih terkagum-kagum dengan bangunan di depannya. Queen disambut oleh puluhan pelayan dengan seragam yang sama dan mereka mengucapkan selamat datang kepada Queen sambil menuduk memberi hormat. Dengan mata berbinar Queen tersenyum tulus dan mengucapkan terima kasih. Setelah itu puluhan pelayan tadi pergi.


“Ibu Queen, ini ibu Mita kepala pelayan disini.” Devi memperkenalkan wanita paruh baya berkaca mata yang berdiri didepan mereka. Dengan senyum keibuan yang melekat di wajahnya, ibu Mita memperkenalkan diri, “Selamat datang nyonya. Saya Mita, saya adalah kepala pelayan dirumah ini.”


“Terima kasih bu. Saya Queen dan ibu bisa panggil saya dengan Queen saja.” Jawab Queen sambil tersenyum.


“Ibu Queen, maaf saya harus pamit.” Sekertaris Daniel itu undur diri.


“Terima kasih atau bantuannya Devi.” Queen menatap kearah Devi.


Devi mengangguk dan mengucapkan, “Selamat malam ibu Queen dan ibu Mita.”


~


Setelah Devi pergi dan meninggalkan mereka berdua. “Mari nyonya saya antar ke kamar anda.”


“Ibu Mita, panggil saya Queen saja.”


“Mohon maaf nyonya, tapi suatu kebanggaan bagi saya memanggil anda dengan sebutan itu, saya harap anda tidak keberatan.” Ucap ibu Mita tulus.


Melihat ketulusan itu Queenpun tersenyum, “Baiklah.”


“Mari ikuti saya, kita akan ke kamar nyonya.”


Mereka berjalan dan menaiki tangga menuju lantai dua. Lalu berjalan menuju pintu yang tinggi dan lebar. Ibu Mita membukakan pintu tersebut.


Seketika mata Queen melebar, kagum melihat kamarnya, “Silahkan masuk ini kamar anda nyonya.” Queen berjalan masuk dan masih terkagum-kagum melihat kamarnya yang luas di dominasi warna putih dan emas di dinding kamar dan prabotan lainnya, pilar-pilar di dalam ruangan dengan detail yang indah seakan kamar ini sebuah istana, tirai kamar, seprei, dan sofa ruang tamu di dalam kamarnya berwarna biru muda dengan motif emas membuat kamar ini terkesan feminim.


“Silahkan anda istirahat dulu, saya akan menyiapkan makan malam anda nyonya.” “Ya terima kasih bu.” Queen yang masih terkagum-kagum menatap setiap sudut kamarnya.


~


“Ya terima kasih ibu Mita”, Daniel memutuskan sambungan telponnya.


Daniel menyenderkan punggungnya ke kursi, matanya memandang lurus ke depan. Daniel tidak bisa menjeput Queen karena pagi-pagi sekali ia sudah berangkat ke Amerika karena apa rapat yang harus Daniel hadiri, ia tidak menghubungi Queen karena takut akan mengganggu tidur wanita itu. Maka Daniel meminta sekertarisnya Devi untuk menjemput Queen di rumah kontrakkannya dan mengantarkan Queen ke rumah Daniel.


Tiba-tiba bibirnya tersenyum memikirkan Queen. Ya Tuhan, jantung Daniel selalu berdetak kencang setiap kali memikirkan Queen. Daniel baru saja menelpon ibu Mita untuk menanyakan kabar Queen, hati Daniel lega saat menerima kabar Queen sudah tiba di rumahnya. Sebenarnya Daniel diam-diam sudah mencari tau latar belakang Queen.


Queen memang lebih beruntung dari pada Daniel karena tidak di besarkan dalam lingkungan kekerasan dan kemiskinan. Tapi Queen tumbuh dengan perasaan kesepian, diabaikan bahkan di tinggalkan oleh kedua orang tuanya. Daniel bisa mengerti mengapa Queen tidak ingin menikah dan memiliki anak. Itulah sebabnya kenapa Daniel meminta Queen untuk tinggal bersamanya. Selain tanggung jawab, ia ingin memastikan Queen baik-baik saja dan tidak merasa kesepian menghadapi ini semua. Dan satu yang pasti bahwa dia mulai tertarik dengan ibu dari anaknya itu. Daniel kembali tersenyum semangat, lalu ia bangkit dari kursi dan mengancingkan jasnya. Daniel harus cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya disini agar ia bisa segera pulang menemui Queen.


~


Sudah beberapa hari ini Queen tinggal di rumah Daniel, para pelayan dirumah ini memperlakukan Queen dengan baik. Sangat baik malah! Sampai-sampai kadang Queen merasa tidak enak diperlakukan begitu baik padahal Queen bukan siapa-siapa dirumah ini.


“Bukannya aku tadi sudah makan malam, kenapa aku bisa lapar lagi?” tanya Queen pada dirinya sendiri sambil memegangi perutnya yang berbunyi. Sudah beberapa hari ini Queen selalu mual dipagi hari dan mulai merasa lapar di tengah malam. Queen mengambil ponselnya, “Ini sudah jam sebelas lewat, para pelayan pasti sudah tidur.” Queen mulai bangkit dari tempat tidurnya, “Baiklah kita lihat ada bahan makan apa saja didapur.” Berjalan keluar kamar. Queen berjalan menuruni tangga dengan hati-hati, karena sedikit saja ia bersuara maka para pelayan akan bangun dan mereka akan merasa bersalah karena Queen tidak membangunkan dan meminta para pelayan saja yang menyiapakan makanan untuknya, dan Queen tidak mau itu terjadi.


Sesampainya di dapur Queen membuka lemari dan melihat isinya sangat lengkap, begitu pula dengan kulkas isinya juga sangat lengkap sampai membuat Queen bingung harus masak apa.


“Mmm... spaghetti saja lebih praktis.” Lalu Queen memakai apronnya dan Queen mulai menuangkan air ke dalam panci, setelah itu ia mengambil bahan-bahan lain di dalam kulkas.


“Queen?” Queen terkejut. Tomat yang dipegangnya jatuh dan sudah bergelinding entah kemana di lantai dapur.


Queen menatap orang yang mengejutkannya, “Ya tuhan. Daniel kamu hampir membuatku terkena serangan jantung.” Jawab Queen sambil mengatur napasnya.


Daniel panik dan segera menghampiri Queen, “Maafkan saya Queen, saya tidak bermaksud membuat kamu terkejut.”


“Kamu enggak apa-apakan?” kedua tangan Daniel memegang kedua lengan Queen.


Queen menggelengkan kepalanya.


“Kenapa kamu berkeliaran tengah malam begini?”


Daniel tersenyum dan mengelus puncak kepala Queen, “Kenapa kamu tidak meminta pelayan menyiapkan makananmu?”


“Ini sudah tengah malam Daniel, mereka pasti sudah tidur.”


“Baiklah, kamu ingin makan apa? Biar saya yang membuatkannya untuk kamu.”


“Kamu bisa masak?”


Daniel hanya tertawa pelan mendengarkan pertanyaan Queen.


Queen melirik ke arah Daniel. Jasnya yang sudah dilepas, dua kancing kemeja atasnya yang sudah terbuka, lengan kemeja yang dilipat keatas dan wajah pria itu yang tampak lelah. Bukannya Daniel baru saja pulang dari perjalanan jauh, kenapa dia tidak langsung istirahat saja? Benak Queen memperhatikan Daniel yang mulai memakai apron.


“Bukannya kamu baru pulang dari Amerika? Pasti kamu lelah. Kamu istirahat saja. Saya bisa masak sendiri.” Tolak Queen sambil bergerak mengambil tomat-tomat yang jatuh dilantai.


Deniel ikut memungut tomat-tomat tersebut, “Sedikitpun saya tidak merasa lelah Queen dan sekarang saya juga lapar. Bagaimana kalau kita masak spaghetti? Kamu juga boleh membantu saya kalau kamu mau.” Ucapnya meyakinkan Queen. ‘Ternyata dia juga punya pemikiran yang sama.’ Benak Queen.


“Baiklah kita akan masak bersama, saya akan memcuci tomat-tomat ini.” Queen mulai mengambil wadah untuk menampung tomat-tomat tersebut.


“Oh iya. Daniel kamu suka jamur?” tanya Queen.


“Ya, saya menyukainya.”


“Boleh kita membuat spaghettinya dengan banyak jamur? Saya sangat menyukai jamur.” Pinta Queen.


“Tentu saja, saya juga sangat menyukainya.”


Queen tersenyum mendengar jawaban Daniel.


Sambil memotong bawang Daniel tersenyum dan berkata dalam hati ‘Pantas saja dia memesan pastry chicken mushroom waktu itu, ternyata dia sangat menyukai jamur.’ Ada perasaan hangat dihati Daniel mengetahi fakta itu.


Mereka memasak bersama di dapur, sementara itu di sudut ruangan ibu Mita terlihat sedang tersenyum menyaksikan keduanya tengah asik memasak bersama. Dia sangat bahagia melihat tuannya bisa tersenyum kembali, selama ini ia hanya melihat tuannya yang selalu memasang wajah serius.


“Biarkan mereka berdua. Sebaiknya kita kembali ke kamar.” Kata ibu Mita kepada para pelayan.


Sekitar lima belas menit kemudian masakan mereka telah selesai. Terlihat wadah berisikan spaghetti dengan saus tomat dan jamur, potongan-potongan jamur kancing yang banyak dan tidak lupa parutan keju diatasnya membuat hidangan itu tampak menggoda.


“Wahhh kelihatannya enak sekali.” Ucap Queen dengan mata berbinar.


Daniel tersenyum melihat reaksi Queen itu. “Saya ambilkan piring dulu Queen.”


Queen mengangguk.


“Astaga aku belum minum susu malam ini.” Ucap Queen pada dirinya.


“Kenapa Queen?” Daniel datang dengan kedua piring dan garpu di tanganya.


“Saya lupa minum susu malam ini.”


“Dimana kamu meletakkan susunya?”


“Di lemari yang itu.” Tunjuk Queen dan mulai bangkit dari kursinya.


“Jangan. Kamu disini saja. Biar saya yang buatkan untuk kamu.” Daniel segera pergi kearah lemari yang Queen tunjuk dan menyiapkan susu untuk Queen.


“Ini susunya.”


“Terima kasih Daniel.” Daniel mengangguk.


“Mari kita makan, keburu dingin spaghettinya.”


Queen mengangguk.


“Ini enak sekali Daniel” ujar Queen saat suapan pertama masuk kemulutnya dan langsung merasakan gurih dari bumbu-bumbu yang di racik Daniel ditambah dengan potongan jamur kancing yang sangat Queen suka.


“Ternyata kamu pintar masak juga ya.” Puji Queen.


Daniel hanya tersenyum mendengarkan pujian dari Queen.


“Besok kamu tidak lupakan ada jadwal bertemu dengan dokter kandungankan?” tanya Daniel.


Queen menggelengkan kepalanya sambil tetap mengunyah, “Jam empatkan?”


Daniel mengangguk, “Besok kita akan pergi bersama, jam tiga kamu akan diantar supir ke kantor saya dan dari kantor saya kita akan pergi bersama ke dokter kandungan.”


“Oke.” Jawab Queen.


Daniel tersenyum senang.