
Sudah satu jam Queen berada di kamar mandi. Dengan perasaan gelisah ia memegang alat itu, ia takut pada kenyataan yang akan di lihatnya. Queen mengambil napas dalam dan dengan perlahan Queen membalikkan alat pipih putih yang di pegangnya. Matanya membelik melihat tanda yang tertera pada alat itu.
Ia hamil!!!
Pandangan Queen buram. Perasaan Queen tidak karuan. Sedih, takut, panik, dan bingung semuanya campur aduk menjadi satu. Ia masih berharap bahwa tanda positif yang tertera pada test pack itu hanyalah khayalannya saja.
Queen memiliki cerita yang tidak bahagia dengan keluarganya dan Queen membenci keluarganya, karena itu pula Queen sudah lama keluar dari rumah dan pergi meninggalkan keluarganya untuk hidup mandiri. Selama ini Queen bekerja keras demi memenuhi kebutuhan hidupnya dan tidak berminat untuk menjalin hubungan dengan pria manapun untuk saat ini dan beberapa tahun ke depan. Tujuan hidup Queen hanya satu yaitu, bisa hidup mandiri dari hasil kerja kerasnya sendiri sehingga tidak bergantung pada orang lain.
Lalu, apa yang harus ia lakukan sekarang?
Air mata Queen mengalir deras. Queen tidak dibesarrkan dengan orang tua yang baik jadi ia tidak memiliki memori yang baik juga untuk menjadi orang tua, maka dari itu tidak mungkin Queen sanggup menjadi ibu yang baik. Sempat terlintas dalam pikirannya untuk menggugurkan kandungannya saja agar masalah ini selesai dan Queen bisa hidup normal kembali, tetapi itu bukan pilihannya. Baginya menggugurkan kandungan itu adalah perbuatan yang terlalu keji, masuk dalam kategori Pembunuhan!. Queen menarik napas dalam-dalam untuk menenagkan hati dan pikirannya. Queen harus fokus pada masalahnya sekarang. Haruskan Queen menelfon pria itu dan mengatakan dirinya sedang hamil? Queen menghela napas panjang. Queen tidak mungkin melakukan itu, ia harus menemui pria itu dan mengatakannya langsung. Tapi ia takut!
Masih Queen ingat dengan jelas, reaksi yang timbul di dalam dirinya ketika melihat pria itu. Tubuhnya yang tinggi dan atletis, rambutnya yang coklat keemasan, alis mata yang lebat dan tegas, hidungnya yang mancung, rahang tegas dengan wajah tampannya yang mampu membuat jantung Queen berdetak kencang dan membuat perut Queen seperti digelitik. Tatapan matanya yang tajam sekaligus dingin mampu membuat hati Queen berteriak. Dengan semua kelebihan fisiknya, pria itu memang sangat mempesona, tetapi Queen tidak tertarik untuk terlibat lebih jauh lagi dengan pria itu.
Tapi bayi ini membutuhkan pria itu! Terpaksa Queen tidak bisa tutup mata dengan semua ini dan harus kembali berhubungan dengan pria itu lagi. Queen menghapus air matanya dan berkali-kali menghela napas berat, Pria itu adalah pria pertama yang tidur dengan Queen dan ia sangat ingat jelas kejadian itu. Tiba-tiba, amarah melanda hati Queen. Queen marah pada dirinya sendiri karena ia mau saja terpancing emosi, lalu Queen mabuk dan
merelakan pria itu menyentuhnya!. Queen tertunduk lemah, seandainya waktu bisa di ulang. Pasti ini semua tidak terjadi.
~
Queen sedang berdiri di depan jendela kamar dengan secangkir teh hangat ditangannya, lalu ditariknya kursi dan diletakkannya ditengah jendela. Queen duduk dikursi itu sambil menatap lurus keluar jendela yang sedang hujan sore itu, ia meneguk teh hangatnya pelan. Ingatan Queen terlempar kembali pada saat ia pertama sekali bertemu dengan ayah bayinya di Bali.
Saat itu Queen dan sahabatnya Silfa sedang berlibur di Bali, mereka sudah bersahabat sejak duduk dibangku SMA. Sejak mereka masih remaja Queen dan Silfa sudah lama memimpikan untuk pergi berlibur ke Bali dan sekarang setelah mereka bekerja, mereka selalu menyisihkan penghasilan mereka untuk pergi liburan bersama. Dan untuk sekarang pergi berlibur merupakan salah satu agenda yang wajib untuk melepaskan beban pikiran mereka selama ini yang disibukkan dengan pekerjaan menumpuk dikantor masing-masing. Lalu dengan perasaan suka cita mereka akhirnya memutuskan pergi berlibur ke Bali untuk menikmati panorama alam indah di daerah itu dan mengeksplor tempat-tempat yang menarik lainnya yang ada di Bali. Baru satu hari mereka berada di Bali, niatan itupun akhirnya pupus di tengah jalan karena Silfa bertengkar hebat dengan pacarnya via telfon dan berakhir dengan kata putus!
Sudah dua hari Silfa habiskan dengan menangis dan berdiam diri dikamar hotel dan membiarkan Queen untuk menikmati sendiri liburan mereka, malam itu adalah malam terakhir mereka di Bali sebelum besok sore mereka pulang dan kembali kerutinitas yang membosankan lagi. Merasa tidak mau berlarut-larut dalam kesedihannya dan tidak mau merugikan Queen dengan masalah pribadinya, maka malam terakhir mereka di Bali Silfa mengajak Queen ke bar yang ada di hotel tempat mereka menginap.
Sesampainya mereka di bar, tiba-tiba Queen merasakan ponselnya bergetar dan segera melirik nama yang muncul di layar ponselnya tersebut. Queen ingin mengangkat panggilan itu, tetapi merasa tidak enak dengan Silfa.
Silfa yang melihat gelagat Queen pun langsung berkata, “Udah lo angkat aja, gue tunggu lo disini sambil gue pesen minum dulu. Lo mau gue pesenin apa?”
“Samain aja sama pesenan lo, gue keluar dulu ya” Queen tersenyum.
Lalu Queen bergegas keluar bar yang berisik dengan musik bervolume tinggi itu untuk menjawab panggilan tersebut. Tadinya Queen tidak ingin menjawab panggilan telfon selama mereka berlibur, tetapi yang menelfon ini adalah boss Queen dan yang pasti ada hal penting yang ingin boss Queen sampaikan padanya. Setelah menjawab telfon sekitar kurang lebih dua puluh menit, Queen buru-buru masuk ke dalam bar dan segera menuju meja dimana ia meninggalkan Silfa. Namun, saat menuruni tangga dan kembali kemeja mereka. Queen tidak menemukan Silfa. Lalu Queen berdiri mematung dan memandang ke sekeliling ruangan mencari-cari keberadaan Silfa. Akhirnya mata Queen menangkap keberadaan Silfa, tetapi sahabatnya itu tidak sendiri. Dia sedang bersama dengan seorang pria. Mata Queen melebar saat menyadari Silfa dan pria tersebut sedang adu minum! Tanpa membuang waktu Queen segara menghampiri mereka.
“Silfa! Apa-apaan ini?” tanya Queen bingung begitu sampai dimeja mereka.
Silfa mendongakkan kepala untuk melihat siapa orang yang memanggilnya dan saat itu Queen bisa melihat dengan jelas wajah Silfa yang memerah akibat terlalu banyak minum alkohol.
“Lo tau ini orang belagu banget” tiba-tiba tubuh Silfa terhuyung, Queen segera menangkapnya.
“Lo mabuk Sil! Udah kita balik aja” Queen mulai khawatir melihat sahabatnya itu.
Silfa menggelengkan kepalanya, “Lo namanya ngejatuhin martabat diri gue Queen. Gue enggak mau kalah dari cowok belagu ini” tunjuk Silfa pada pria yang ada di depannya itu.
“Udah Sil kita balik aja yuk?” bujuk Queen lagi.
“Kalian cewek semuanya sama aja! Kalian duluan yang mulai terus di tengah jalan dengan seenaknya kabur gitu aja. Itu Pengecut namanya!” cela pria itu sambil tersenyum sinis.
Queen terkejut dengan kata-kata kasar pria itu yang mengatai mereka pengecut, Queen yang mulai terpancing emosinya karena Silfa yang sudah mabuk di tambah lagi dengan kata-kata kasar dari pria arogan ini.
“Oh ya. Pengecut anda bilang? Lalu apa sebutan yang pantas untuk pria yang mengajak seorang wanita adu minum?”
“Kamu bisa menggantikan temanmu kalau menurutmu tidak adil seorang wanita saja yang melawanku minum” dengan senyum meremehkan.
Queen terdiam, ia hanya menatap Silfa dan pria itu bergantian. Lalu tangan Silfa menyentuhnya, “Please Queen, lanjutkan pertandingan ini. Gue enggak mau di remehin lagi sama cowok, cukup cowok berengsek yang cuma bisa bilang putus lewat telfon aja yang remehin gue.” Kali ini raut wajah sedih Silfa membuat Queen bingung.
Akhirnya Queen mengangguk ragu menerima permohonan sahabatnya itu.
“Lo emang sahabat sehidup semati gue Queen” Silfa langsung memeluk Queen sambil tersenyum dengan mata yang nyaris tertutup itu.
Queen memanggil salah satu pegawai wanita bar itu untuk mengantarkan Silfa kembali ke kamar mereka. Sebelum Silfa berjalan kembali ke kamar, “Lo bakalan kalah lawan sahabat gue” ucap Silfa sambil mengarahkan jarinya menunjuk pria itu.
Mata Queen melebar mendengar ucapan Silfa itu, bagaimana bisa Queen mengalahkan pria ini sedangkan ia saja tidak kuat minum. Sedetik Queen mulai meragu, tetapi cepat-cepat ia buang perasaan ragu tersebut dan mulai berkata, “Lo tenang aja Sil, serahin ke gue. Sana lo balik ke kamar, biar ini cowok gue yang urus.” Setelah itu Queen melihat punggung Silfa menjauh dan Queen kembali menatap pria yang menjadi lawannya.
Pria itu menuangkan vodka ke dalam sloki di hadapan Queen. Queen memandang sloki di hadapannya dengan ragu. Tapi Queen tidak mau diremehkan oleh pria itu dan dengan gerakan cepat ia meraih sloki didepannya dan meneguk isinya dalam satu kali tegukkan. Sampai pada sloki kelima. Queen sudah menyerah. Kepala Queen sudah terasa berat setelah meneguk vodka sebanyak lima sloki.
Queen mengangkat tangannya menandakan ia menyerah. Queen sudah tidak kuat lagi dan tidak peduli apakah ia menang atau kalah dari pria tersebut.
“Aku benar-benar tidak habis pikir, kenapa sahabatku sendiri melakukan ini” gumam pria di samping Queen.
“Aku tidak mengerti mengapa mereka melakukan ini padaku.”
“Kamu bicara apa?” Queen memijat kepalanya yang teresa berat.
“Aku tidak mengerti mengapa wanita yang kucintai tega berselingkuh dengan sahabat baikku sendiri.”
Queen mengangkat sebelah sudut bibirnya tersenyum sinis, “Mantanku juga memilih orang lain, padahal kami pacaran sudah bertahun-tahun tapi ujung-ujungnya dia menikah dengan wanita pilihan keluarganya.”
“Hah, keluarga!” pria itu tertawa getir “Aku bahkan tidak mengenal siapa ayah dan ibu kandungku sampai sekarang” lanjut pria itu.
Queen membayangkan mantannya, “Egois sekali dia meninggalkan aku sendiri dan memilih wanita itu.”
“Dasar wanita berengsek!” umpat pria itu.
Percakapan Queen dengan pria itu semakin tidak jelas. Sampai seorang manager bar mendatangi mereka, “Maafkan saya Pak Daniel, tapi bar ini sudah tutup. Apakanh anda perlu bantuan untuk kembali ke kamar anda Pak Daniel?”
“Tidak perlu, aku bisa sendiri.”
“Baik Pak, selamat malam.”
Lalu manager bar itu pun pergi meninggalkan mereka berdua. Dalam hati Queen berkata “Ternyata nama pria ini Daniel”, sambil memusatkan pandangannya yang kabur menatap ke arah pria bernama Daniel tersebut. Tiba-tiba pandangan mereka bertemu dan pria itu tersenyum lembut kepadanya, “Ayo kita keluar dari sini” sambil menjulurkan tangannya kepada Queen.
“Mau kemana?” Queen heran.
“Kemana saja, yang penting tidak disini” berjalan sambil memapah Queen.
Mereka berjalan sempoyongan hingga akhirnya mereka berhenti di depan sebuah kamar hotel. Pria itu memapah Queen memasuki kamar dan menutup pintu. Tiba-tiba pria itu merengkuh tubuh Queen dan merapatkannya ke
tubuh pria itu, “Kamu wangi” bisiknya lembut. Queen mendongak dan menatap pria itu. Tampan! Satu kata untuk menggambarkan pria yang dilihatnya sekarang.
“Aku ingin menciummu” ucap pria itu. Belum sempat Queen mencerna kata-katanya, pria itu sudah menempelkan bibirnya ke bibir Queen dan melumatnya pelan. Entah kenapa sesuatu dalam diri Queen bergejolak dan tanpa ragu Queen membalas perlakuan pria itu padanya. Merekapun semakin terhanyut dan lupa akan segalanya.
~
Mata Queen perlahan terbuka, ia mencoba bangkit tetapi nyeri di kepalanya seakan berlomba-lomba untuk memecahkan kepalanya. Lalu dilihatnya sekeliling kamar mewah yang tampak asing baginya ini dan mendapati seorang pria sedang tidur di sebelahnya dan Telanjang!
Oh Tuhan apa ini! Dilihatnya, tubuhnya yang hanya ditutupi oleh selimut putih dan dengan panik Queen segera melihat kedalam selimut untuk memastikan keadaan tubuhnya dibalik selimut itu. Queen juga tidak memakai apa-apa dibalik selimut putih itu! Lalu perlahan kejadian semalam berputar di kepalanya dan mulai menyadarkan Queen akan tindakan bodoh yang telah ia lakukan. Panik! Kepalanya seakan berputar, penglihatannya kabur dan mata Queen mulai berkaca-kaca, tangis Queenpun pecah. Membuat pria yang disebelahnya terbangun dan menatapnya bingung.
“Kenapa kamu menangis?” tanya pria itu dengan suara seraknya sambil mengucek matanya yang masih mengantuk.
“Apa yang kamu lakukan kepadaku?” Queen bertanya sambil menangis.
Pria itu terlihat terkejut dengan ucapan Queen dan mulai melihat kearah tubuhnya yang telanjang lalu pria itu memahami apa yang terjadi pada mereka berdua.
“Sudahlah, jangan menangis” pria itu mulai posisi duduk di atas ranjang.
“Ini pertama kalinya aku tidur dengan seorang pria” tangis Queen semakin parah sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
Pria itu terlihat terpaku beberapa saat untuk mencerna kata-kata wanita didepannya, “Jadi...jadi kamu masih?” tanyanya dengan suara bergetar.
Queen mengangguk.
Pria itu menggeram kesal dan mengacak rambutnya asal. Lalu dia menoleh pada wanita disebelahnya.
“Sudahlah jangan menangis terus” pintanya memelas.
Dengan putus asa “Saya akan bertanggung jawab jika sesuatu terjadi padamu.”
Namun, Queen tetap saja menangis terus dan mengacuhkannya. Pria itu menghela napasnya dan memilih bangkit dari tempat tidur segera memakai pakaiannya yang berserakan dilantai. Setelah itu ia mengambil dompet dari saku jasnya dan meletakkan kartu namanya di samping Queen.
“Kamu bisa menghubungi saya kapan saja.” Sambil terisak Queen mengambil kartu namanya. Setelah itu pria itu melangkah keluar kamar.
~
Queen menyeka air matanya, ia menangis karena kejadian di Bali terulang kembali dibenaknya. Queen menghapus air matanya dan menghela napas, tidak ada lagi gunanya mengingat dan menyesali semuanya. Sekarang yang harus ia lakukan adalah menemui pria itu dan mengatakan apa yang terjadi padanya.