Our Baby

Our Baby
BAB 13



“Queen.” Suara seorang wanita memanggil nama Queen dan Daniel pun berhenti. Daniel berada tepat di balik rak sebelah Queen berdiri. Dari sela-sela tumpukan barang, Daniel dapat melihat wanita yang memanggil nama Queen. Di sebelah wanita itu terlihat seorang pria.


Daniel menyipitkan mata untuk memperjelas pengelihatannya. Dimas!. Daniel dan Dimas tidak saling mengenal tetapi Daniel tau Dimas adalah mantan kekasih terakhir Queen dari data yang ia peroleh saat Daniel mencari informasi tentang Queen. Mata Daniel tertuju pada istri Dimas, ternyata istrinya sedang hamil. Daniel masih berdiri diam mendengar pertanyaan basa-basi dari istri Dimas tersebut. Daniel bukan tidak mau langsung menemui Queen. Tapi bila Daniel menemui Queen sekarang, istri Dimas itu pasti akan usil bertanya apa hubungan Daniel dan Queen. Dan itu pasti akan menyudutkan Queen. Daniel tidak mau hal itu terjadi. Daniel berharap pasangan itu segera pergi.


Lalu pertanyaan istri Dimas itu mengejutkan Daniel “Kamu hamil ya?” Daniel tidak mendengar jawaban dari Queen sampai Dimas ikut bertanya.


Selanjutnya entah kenapa Daniel hanya diam mendengar kata-kata dari istri Dimas yang melecehkan Queen dan Dimas yang membela Queen. Sampai pada istri Dimas mengatakan, “Oh, jadi kamu lebih belain mantan kamu di banding aku. Atau jangan-jangan kamu masih cinta sama perempuan ini.”


Daniel sudah tidak tahan lagi mendengar Queen di sudutkan. Lalu Daniel segera menemui Queen dan merangkulnya.


“Maafkan saya meninggalkan kamu Queen.” Queen terlihat pucat dan Daniel dapat merasakan tubuh Queen lemas dan bergetar. Emosi langsung menguasai Daniel yang tidak terima Queen seperti ini.


Lalu Daniel menatap istri Dimas dengan marah, “Maafkan saya sebelumnya. Tetapi anda sebagai seorang wanita yang juga sedang hamil, harusnya lebih mengerti terhadap perasaan wanita lain dan tidak menuduhnya dengan kata-kata kasar anda.” Ucap Daniel tegas.


Setelah itu Daniel langsung menggendong Queen. “Queen kamu enggak apa-apa?” tanya Daniel cemas.


“Pulang, aku mau pulang.” Ucap Queen lemah. Perasaan Daniel campur aduk melihat keadaan Queen sekarang.


“Ya kita akan pulang sayang.” Daniel berusaha menenangkan Queen sambil mengecup kepala Queen.


Sesampainya Daniel dan Queen di rumah. Daniel menggendong Queen ke kamarnya. Dengan perlahan Daniel meletakkan Queen di ranjang dan menyelimutinya, Daniel duduk di pinggir ranjang sambil menatap sendu Queen yang tertidur. Daniel duduk di sofa yang ada di samping ranjang Queen, Daniel memutuskan untuk tetap menemani Queen sampai Queen bangun.


~


Sudah seminggu ini Queen berdiam diri terus di kamarnya. Queen selalu menatap lurus dengan pandangan kosong.


“Queen kamu makan dulu ya?” Daniel membujuk Queen, tetapi Queen hanya diam tidak menanggapinya.


Daniel menghela napasnya.


Ia sangat mengkhawatirkan kondisi Queen ini. Dokter sudah datang memeriksa kesehatan Queen dan kandungannya, syukurnya fisik Queen baik-baik saja.


”Kalau gitu kamu minum susunya ya?” Daniel memegang segelas susu di hadapan Queen, dengan harapan Queen setidaknya sedikit saja mau meminum susu itu.


Queen sedikit menundukkan kepalanya ke arah gelas yang di pegang Daniel.


Daniel tersenyum.


Queen akhirnya mau minum susu itu. Sudah seminggu ini juga Daniel merawat Queen di rumah dan tidak bekerja. Daniel menatap wajah Queen. Seperti ada batu besar yang mengganjal di dada Daniel setiap kali melihat Queen. Daniel sangat merasa bersalah karena telah melukai Queen.


“Kamu pasti ngantuk, ini sudah jam tidur kamu. Kamu tidur ya?” ucap Daniel sambil menyelimuti Queen.


Setelah itu, Daniel beranjak dari kamar Queen menuju ruang kerjanya. Ada beberapa hal penting yang harus ia periksa.


“Tuan ingin makan sekarang?” ibu Mita langsung bertanya ketika ia melihat Daniel turun dari tangga.


“Tidak bu, saya belum lapar.” Ibu Mita langsung menunduk dan Daniel berlalu masuk ke ruang kerjanya.


~


Di dalam ruang kerjanya Daniel terlihat serius memeriksa beberapa file penting dan setelah itu mengirimkannya kepada sekertarisnya Devi via email. Setelah pekerjaannya selesai, Daniel berjalan ke arah jendela besar dengan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana dan memandang keluar jendela. Daniel tidak bisa berhenti memikirkan Queen, ia sangat merasa bersalah kepada Queen.


Lalu Daniel duduk di sofa ruang kerjanya, memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk bisa membuat Queen merasa bahagia.


“Apa aku harus menggugurkan bayiku?” ide itu terlintas di benak Daniel, bukan tanpa alasan. Toh usia kandungan Queen baru dua bulan dan dengan tidak ada bayi itu lagi, Queen akan kembali seperti sebelum mengenal Daniel. Queen akan kembali bisa bergaul dengan teman-temannya tanpa ada gosip, bekerja dengan semangat, bahkan Queen bisa menjalin kasih dengan pria yang di cintainya, menikah, memiliki anak dan hidup bahagia dengan pria yang dia cintai.


Daniel mengusap wajahnya yang tampak muram dan menghela napasnya berat. Mana mungkin Daniel tega membunuh anaknya meskipun baru berusia dua bulan. Tapi ini demi Queen, Queen sudah banyak menderita karena Daniel. Lalu entah kenapa Daniel merasa sangat mengantuk. Mungkin ia kelelahan, batinnya. Lalu ia merubah posisi menjadi berbaring di sofa.


~


“Papaa, ayo sini.” Seorang anak kecil mengajak ayahnya bermain. Sang ayah menoleh ke arah anak kecil berambut pirang yang memanggilnya.


“Kamu mau main apa?”


“Mau main kuda-kudaan di gendong papa di atas situ.” Tunjuknya kearah bahu sang ayah. Lalu sang ayah menunduk, agar anak kecil itu bisa naik ke atas punggungnya dan naik lagi ke atas bahunya.


“Yeee horeee.” Sang anak tampak gembira.


“Hati-hati nanti kamu jatuh.”


“Kan ada papa, papa enggak mungkin biarin aku jatuhkan?” tanyanya dengan cara bicara khas anak kecil yang belum berbicara sempurna.


“Tentu saja, papa enggak akan biarin kamu terluka sedikitpun sayang.”


“Pa, turunin aku.” sang ayahpun menurunkan anak kecil itu.


Sang ayah tertawa melihat tingkah laku anaknya. “Oke, bener ya kalau papa berhasil menangkap kamu. Kamu mau makan sayur mulai sekarang”.


Anak itu mengangguk dan mulai berlari.


Ayah dan anak itu terlihat berlarian. Lalu entah kenapa setiap sang ayah ingin menggapai anaknya rasanya susah sekali. Hal itu membuat sang ayah mulai merasakan ada yang tidak beres dan mulai khawatir. Bahkan anak itu seakan menjauh, menjauh dan menjauh.


“TIDAKKK” Daniel terbangun dengan tangan yang terangkat. Daniel bergerak bangkit dari posisi tidurnya menjadi duduk, ia mengusap wajah gelisahnya.


Ternyata itu mimpi.


~


Queen terbangun di tengah malam, lalu ia bangkit dari posisi tidurnya dan duduk di atas ranjang. Kejadian seminggu yang lalu sangat membekas di hatinya, akhirnya ia bertemu lagi dengan Dimas. Dulu Queen fikir ia bisa dengan tegar menghadapi tanggapan orang lain saat mereka tau Queen hamil. Tetapi menghadapi pertanyaan itu langsung, bahkan yang bertanya adalah pria yang pernah Queen cintai. Ternyata cukup membuat Queen sangat terkejut.


Queen mengambil air minum yang ada di meja sampingnya dan meneguknya. Lalu Queen bangkit dari ranjang menuju jendela kamarnya, Queen berdiri termenung melihat rintikan hujan di luar dari jendela kamarnya.


Suara ketukan pintu mengalihkan Queen dari jendela ke arah pintu kamarnya. Queen menyipitkan matanya, beberapa detik kemudian mata Queen melebar.


“Daniel.” Queen terkejut melihat Daniel masuk ke dalam kamarnya dengan jalan yang linglung, bajunya kusut, rambut berantakan, wajahnya yang memerah.


Queen mempercepat langkahnya dan membopong Daniel agar tidak jatuh ke lantai. Bau alkohol yang sangat menyengat dari Daniel membuat Queen mual.


“Daniel kamu mabuk.” Queen meletakkan Daniel ke sofa dan duduk disamping Daniel.


“Daniel kamu apa-apaan sih sampai mabuk kayak gini.” Ucap Queen dengan nada marah dan khawatir.


Lalu Daniel turun kebawah sofa dan duduk bersujut sambil membungkukkan badannya, Daniel meraih tangan Queen.


Queen bingung dengan apa yang dilakukan Daniel.


“Queen maafkan saya. Saya tau semua ini salah saya...” dengan raut wajah penyesalan.


“Kalau saja waktu itu saya tidak emosi dan pergi ke bar. Kalau saja saya bisa bersikap lebih lebih dewasa dan tidak mengikuti adu minum. Kalau saja saya tidak mabuk...” nada suara Daniel memelan.


“Kalau saja saya tidak mengajak kamu ke hotel waktu itu...” suara Daniel bergetar.


“Kamu pasti tidak akan seperti sekarang. Kamu pasti akan menjadi Queen yang bebas dan mandiri, bekerja dengan penuh semangat, bercanda tawa dengan teman-teman kamu, atau mungkin kamu sekarang sedang berkencan dengan kekasih yang kamu cintai.” Daniel sambil tersenyum membayangkan Queen yang bahagia.


Lalu wajah Daniel tampak muram kembali dan mengumpulkan napasnya. Mata Daniel tampak berkaca-kaca, “Tidak seperti sekarang. Mengandung anak saya. Sampai harus rela keluar dari tempat kerja dan kontrakan kamu, tidak bergaul agar menghindari gosip.”


“Maafkan saya Queen, karena saya hidup kamu hancur. Saya benar-benar menyesal. Saya mohon maafkan saya.” Daniel menangis.


Queen terdiam mendengar perkataan dan melihat Daniel menagis. Tidak terasa air mata Queen juga ikut keluar melihat Daniel seperti ini.


“Tadi saya sudah memikirkan untuk menggugurkan saja bayi ini...” Daniel mengelus perut Queen yang masih rata.


Queen menegang mendengar perkataan Daniel.


“Agar kamu bisa kembali menjadi Queen yang dulu.” Lajut Daniel.


“Tapi saya enggak bisa Queen.” Daniel dan Queen bertatapan.


“Saya tau, saya egois. Tapi ternyata saya enggak bisa membunuh anak saya sendiri.” Air mata mengalir deras di wajah Daniel.


Daniel mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya.


Mata Queen melebar melihat benda di tangan Daniel. Sepatu bayi!


Dengan warna coklat keemasan dan pita berwarna senada. Lalu menyerahkan sepatu bayi itu kepada Queen.


“Saya memimpikannya tadi. Seorang anak kecil yang memanggil saya papa...” Daniel tersenyum.


“...Meminta bermain bersama saya. Saya ingin memiliki anak itu Queen. Selama ini saya tidak pernah mengenal ayah dan ibu kandung saya karena mereka membenci dan membuang saya, karena saya anak yang tidak diinginkan oleh orang tua saya sendiri. Sampai akhirnya tuan Robin mengangkat saya sebagai anaknya dan merawat saya, tetapi itu tidak lama. Akhirnya tuan Robinpun pergi meninggalkan saya juga, saya selalu ditinggalkan dan kesepian Queen...” menarik napas.


“...Saya tau saya egois. Tapi saya mohon bertahanlah dan lahirkan dia untuk saya Queen, saya mohon.” Pinta Daniel tulus.


Queen menangis mendengar perkataan Daniel.


Lalu Queen mengangguk dan memegang wajah Daniel untuk menghapus air mata Daniel.


Masih dengan posisi Queen yang duduk diatas sofa dan Daniel duduk di bawah. “Terima kasih Queen.” Ucap Daniel, lalu memeluk Queen dan mencium perut Queen berkali-kali.


Queen tersenyum bahagia merasakan Daniel mencium perutnya. Queen yang memeluk kepala Danielpun dapat merasakan rambut halus dan harum Daniel, lalu Queen juga mencium Daniel tepat di kepala pria itu.