Our Baby

Our Baby
19. 10 Facts About Me



" Hai Aluna..."


Bianca menyapaku yang sedang duduk di gazebo fakultas. Mau tak mau aku balik menyapanya. Dia dengan ragu duduk di sebelahku. Tangannya terulur memberikan aku selembar kertas kecil.


" Datang ya ke pesta ulang tahun gue" Ucapnya.


Tentu saja aku mengangguk dengan semangat. Aku senang dianggap teman.


Aku melihat tanggalnya dan terkejut saat melihat bahwa dua hari lagi adalah tanggal ulang tahunnya.


" Mau kado apa, nih?" Tanyaku dan Bianca menggelengkan kepalanya.


" Enggak perlu, Aluna. Ini cuma acara kecil-kecilan. Cuma makan-makan. Teman gue gak banyak, Na"


Walaupun dia bilang begitu, tentu saja aku akan memberikannya hadiah. Tidak afdol rasanya kalau datang ke pesta ulang tahun tanpa membawa hadiah sama sekali.


Aku melihat raut muka Bianca menegang. Karena perubahan ekspresinya yang mendadak, tentu saja aku curiga. Aku melihat ke arah dimana mata Bianca terfokus dan betapa tidak menyangkanya aku saat melihat Sebastian berjalan kearah kami.


Entah kenapa mendadak wajahku memerah mengingat apa yang kita lakukan beberapa hari yang lalu.


Eh, kenapa aku malah mengingat hal seperti itu, sih?


Lupakan. Yang terpenting sekarang adalah ekspresi Sebastian yang tampaknya tidak suka. Dia melirik sinis kearah Bianca, membuatku tidak enak hati pada Bianca.


" Aluna, dicariin sama Dina"


Sebastian berucap langsung menarik tanganku berdiri. Belum sempat aku berpamitan pada Bianca, dia sudah merangkulku untuk tidak menengok sama sekali.


" Ih Bas, belum pamit"


Aku mendengus namun Sebastian malah mengeratkan rangkulannya. Ia berbisik geram di telingaku.


" Kan gue udah bilang jangan dekat-dekat dia dulu"


Lagi-lagi aku mendengus. Tapi kemudian aku sadar bahwa banyak yang memperhatikan kita. Hal itu membuatku mencoba melepas rangkulan Sebastian namun ia malah semakin menjadi.


" Kita dilihatin"


" Ya terus?" Tanya Sebastian, tampaknya tidak terganggu sama sekali dengan mata-mata yang memperhatikan kita.


Namun kemudian matanya tertuju pada kertas yang aku pegang.


" Itu apa?"Tanyanya dan aku memutar otak aku dengan kecepatan cahaya, mencari ide untuk berbohong pada Sebastian tanpa menimbulkan rasa curiga.


" Bungkus vitamin"


Ya. Terdengar bodoh namun yang lebih bodoh adalah Sebastian karena dia ber-oh ria dan percaya padaku.


" Wih, pacar baru bro?" tanya Januar, kakak senior kita yang kebetulan berjalan berlawanan arah dengan kita di koridor.


" Yoi"


Jawaban Sebastian membuatku mau tak mau mencubit pinggang Sebastian dengan keras. Ia mengaduh dan menatapku kesal.


" Aluna!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


" Loh? Kita kerumah lo?" Tanyaku saat sadar bahwa mobil Sebastian melaju masuk ke dalam kawasan rumahnya.


Sebastian menganggukkan kepalanya.


Kenapa? Buat apa? Yang ada aku malah berbuat zina terus-terusan kalau ada di sebelahnya. Haduh.


Aku berjalan mengikuti Sebastian saat kami sudah masuk ke dalam rumahnya. Hal yang langsung aku tuju adalah sofa karena aku merasa sangat capek. Aku langsung menyandarkan tubuhku di sofa.


"Capek..." Aku menggumam.


Sebastian berdiri di sampingku dan menarik kedua tangan aku pelan dengan maksud menyuruh aku berdiri, membuat aku menatapnya


" Kemana?"


" Follow me"


Aku menurut saat Sebastian menuntun jalanku. Dia membuka sebuah ruangan dekat kamarnya dan mata aku berbinar seketika.


Ruangan musik!


" Jadi lo suka musik?" Tanyaku terkejut.


Aku tidak menyangka orang yang akademisnya sehebat Sebastian juga tertarik dengan seni.


Sebastian mengangguk dan menyuruhku untuk duduk di sofa depan piano bersama dengannya.


Aku tidak bisa menahan senyumku.


Kita punya ketertarikan yang sama!


" I wanna play music for my baby" Ucap Sebastian.


Ia meregangkan jemarinya kemudian mulai menekan tuts-tuts piano, memainkan melodi yang aku tahu ini adalah River Flows in You milik Yiruma.


Aku memejamkan mataku dan tanpa sadar menyandarkan kepalaku di bahu lebar Sebastian. Sebastian berjengit namun tetap melanjutkan bermain piano.


" Udah lama gue gak main alat musik. Jadi kaku" Ucap Sebastian sok merendah.


Aku mengangkat kepalaku. Entah kenapa naluriku untuk bermain musik meningkat. Aku berjalan ke tempat gitar akustik dan mengambil gitar, lalu duduk di sebelah Sebastian.


" Lo bisa main gitar?" Tanya Sebastian.


" Gue bisa main piano juga" Ucapku percaya diri tanpa bermaksud terdengar sombong.


Aku mulai memetik gitar tersebut dan menyanyikan lagu.


I like you, I like you, I like you


Sorry, I never meant to


But who're we kidding, it wasn't like I had a say


One look at you and I won't have it any other way


I want you, I want you, I want you


I want you to want me, too


I know that I signed up for this casually


But I fell for your tricks, I'm the casualty


Can we just reset, restart and then replay?


Take me back to when all


You wanted was to love on me everyday, yeah


I like you, I like you, I like you


Words I will never hear from you


Wishing I could turn back the hands of time


To when I feel your hands on me


And your lips on mine


Sebastian menatapku tanpa berkedip, membuatku malu dan menyembunyikan wajahku di balik gitar.


" I didn't expect you sing so well. You have amazing voice, I swear"


Wajahku semakin merah mendengarnya. Aku merasa Sebastian menarik gitar yang menghalangi wajahku.


" Gak usah malu. Lagian gue jujur, kok. Bagus banget"


Aku berdeham dan memutar otakku untuk mencaril topik agar rasa maluku hilang.


Sebastian tertawa hingga lesung pipinya terlihat. Dia memperhatikan perutku dan mendekatkan telinganya kearah perutku.


" Oh! Dia request lagu I Like Me Better, Al"


Sebastian berbicara dengan ekspresi terkejut seolah-olah bayi kita benar-benar merequest lagu itu.


Aku mau tak mau tertawa karena wajahnya benar-benar lucu.


Sebastian meregangkan tangannya dan memainkan lagu dari lagu I Like Me Better milik Lauv. Salah satu lagu favoriteku karena liriknya yang simpel namun romantis.


I don't know what it is but I got that feeling


Bait pertama dari verse kedua dan aku langsung tahu kalau Sebastian punya suara yang merdu. Gila. Laki-laki ini kenapa bisa melakukan semua hal?


Waking up in this bed next to you swear the room, yeah, it got no ceiling


If we lay, let the day just pass us by.


I might get to too much talking,


I might have to tell you something


Damn


I like me better when I'm with you


I like me better when I'm with you


I knew from the first time, I'd stay for a long time, 'cause


I like me better when,


Sebastian berhenti dan menatap mataku, sambil melanjutkan nyanyiannya dengan senyuman semanis gula.


I like me better when I'm with you..


Entah kenapa jantungku tidak bisa berhenti berdegup. Jujur, yang barusan itu sangat... manis. Kenapa sih dia bisa menjadi manusia semacam ini?


Aku bertepuk tangan dengan tulus.


" Wow. Suatu saat kita harus duet"


Iya. Harapanku sejak dahulu kala adalah bisa duet dengan pacarku. Waktu pacaran dengan Tristan dulu susah karena dia lebih suka lagu metal dan tidak serius setiap kali aku ajak untuk cover lagu. Soalnya dia suka teriak-teriak dan melebih-lebihkan kalau menyanyi, membuatku kesal. Apalagi ekspresi dia sangat mendukung untuk ditampar. Haduh, jadi teringat Tristan kan. Dia sudah sembuh belum ya?


Sebastian memberikanku acungan jempol.


Lalu lagi-lagi kita terdiam. Seolah-olah kaku dan bingung akan melakukan apa.


" Mendadak awkward gini ya? Haha"


Sebastian berucap dan aku tentu saja setuju. Otakku merancang skenario dan memikirkan hal apa yang dilakukan.


" Ayo main game" Ucapku membuat Sebastian mengangkat sebelah alisnya.


" What game?"


" Hmmm... 10 facts about me? Jadi... gue berhak menanyakan sepuluh fakta tentang lo, dan lo berhak tanya tentang gue juga"


Sebastian tampak mengangguk mengerti. Aku mengangkat kesepuluh jariku dan Sebastian mengikutinya.


" Siapa duluan yang tanya?" Aku bertanya.


" Gue. Siapa aja mantan lo?"


Pertanyaan Sebastian benar-benar tiba-tiba. Aku menekuk satu jari aku.


" Theo sama Tristan " Jawabku.


" T Semua ya, hm" Ucapan Sebastian membuat aku tersadar. Iya juga ya?


" Siapa mantan lo?" Tanyaku balas dendam.


" Kak Fani"


Aku ingin bertanya siapa Fani tapi Sebastian sudah keburu bertanya.


" Tanggal lahir?"


" 01 Februari"


" Wow you're older than me"


" Emang lo tanggal berapa?" Tanyaku balik.


" 31 Desember"


Lagi-lagi aku terkejut. Umur kita berjarak nyaris setahun rupanya.


" Pengalaman paling memalukan?" Tanyaku.


Sebastian tampak ragu buat menceritakannya namun aku paksa-paksa.


" Celana kebalik waktu upacara di SMA"


Ucapannya membuat aku tertawa terbahak-bahak. Ternyata Sebastian juga bisa kelihatan tolol.


" Gue buru-buru Al waktu itu dan temen-temen gue sengaja gak ngasih tahu gue!"


Sebastian menggerutu namun aku masih saja tertawa.


" Your first ***?" Tanya Sebastian membuat aku berhenti tertawa.


Gila, aku yakin kekurangan Sebastian salah satunya adalah tidak ada fitur filter dalam mulutnya.


" With you" Jawabku dengan suara kecil dan aku yakin aku dapat melihat seringaian di wajah Sebastian.


" And you? How about you?" Tanyaku penasaran. Tentu saja aku mengharapkan jawaban yang sama. Tapi entah kenapa wajahnya menjelaskan kalau jawaban kita berbeda.


Sebastian terdiam dan tampak ragu.


" You know... diam-diam gue nakal, Al. Beberapa kali sama cewek. Tapi gue gak pernah lagi kok semenjak sama lo. Gue serius"


Ucapan Sebastian entah kenapa membuatku kecewa tapi aku juga harus bisa menghargai kejujurannya. Tapi tetap saja rasanya amat sangat sedih.


" Gue sekarang yang tanya. Kenapa waktu itu lo ke club sendirian?" Tanya Sebastian.


Terlihat jelas sekali ia tidak ingin membahas lebih jauh soal dirinya dan dunia malamnya.


" Gue stress. Papa meninggal. Mama nangis terus. Gue juga belum lama putus. Mau nangis di kamar tapi capek, bosen. Gue ajak Dina, dia sibuk sama pacarnya. Jessi juga. Ya gue gak bisa nyalahin mereka, sih karena memang dasarnya aja gue jomblo. Jadinya gue sendirian ke sana. Minum sendirian dan gak sengaja ketemu lo yang juga sendirian. Ya terus gitu deh" Aku menjawab.


Sebastian mengangguk. Iya, entah kenapa kita bisa berakhir di ranjang padahal seingat aku awalnya saat kita bertemu malam itu kita hanya sekedar


' Loh, Sebastian kan?'


' Aluna ya?'


Dan mengobrol sambil minum. Mendadak kepalaku berdenyut saat mengingat kejadian malam itu. Ada sesuatu hal penting yang tampaknya baru aku ingat.


Sebentar.


Aku menatap Sebastian yang sibuk menatapku. Aku menatap matanya. Dan aku teringat kejadian itu.


Malam itu mata Sebastian berlinang airmata. Aku ingat dia menangis dan aku mencoba menenangkannya. Hal itu juga yang menjadi awal mula kita melakukan kontak fisik. Kita saling curhat. Tapi aku lupa dia curhat soal apa. Aduh.


Bukannya ini kesempatanku bertanya? Tapi aku takut dia tersinggung. Tapi kalau tidak bertanya, sepertinya aku akan lebih tidak tenang lagi.


" Bas.. Can you tell me your biggest secret?"


Oke.


Kita lihat apakah Sebastian akan jujur kepadaku sementara aku mengingat-ingat curhatannya malam itu.