Our Baby

Our Baby
20. Firasat Buruk



Saat di rumah aku masih saja terpikir dengan perkataan Sebastian.


'Gue belum siap cerita. Tapi gue janji bakal cerita'


Memang rahasia apa sih? Sebastian memang bilang itu bukan hal besar, tapi entah kenapa aku merasa itu adalah hal yang sangat besar. Aku menggelengkan kepalaku. Oke, jangan dipikirkan dulu.


Sekarang saatnya membantu Mama memasak bubur ayam karena aku dan Vano ingin menjenguk Tristan.


Setelah aku cerita soal Tristan yang keracunan, Vano langsung tidak tahan ingin menjenguk Tristan. Maklum, mereka berdua memang sudah dekat karena game telah menyatukan dua sejoli ini. Dulu malah Tristan kalau main ke rumah lebih memilih menghabiskan waktu dengan Vano dibanding aku.


Mama menaruh bubur ayam tersebut ke dalam kotak makan. Tak lupa ditaburinya ayam suwir serta bawang goreng dan kecap.


Dengan telaten Mama memasukkan bubur ayam beserta jus buah ke dalam totte bag yang akan aku bawa. Aku yang sedang memakan suwiran ayam cemberut saat Mama menyuruh aku buru-buru berangkat.


" Buruan. Kasihan ini keburu malam takutnya dia udah makan malam"


" Iya Nyonya. Lagian Vano lagi panasin mobil tuh"


" Jangan nyemil mulu. Muka kamu tambah bengkak tuh"


Ucapan Mama membuat aku berhenti mengunyah. Aku panik. Apakah tubuh aku mulai menunjukkam perubahan?


" Iya Ma. Nana berangkat ketemu mantan dulu"


Aku mencium pipi Mama, berlari keluar rumah dan masuk ke dalam mobil.


Lagi-lagi aku kepikiran dengan ucapan Mama. Apa benar aku tambah gemuk?


" Tegang amat kak mukanya, kaya lagi Ujian Nasional" Ucapan Vano membuatku meliriknya sinis.


" Diam, Van. Lagi mikir nih gue. Lo mending fokus nyetir. Gue kempesin kepala lo kalau sampai kita kenapa-kenapa"


" Iya Kak Nana astaga galak banget. Kok mau ya Bang Sebastian sama lo. Kejam banget waktu itu ngusir-ngusir bang Sebastian"


Vano lagi-lagi membahas hal itu, membuat aku menatapnya kesal.


" Nyetir, Van. Bacotnya ditutup dulu"


" Iya Nana astagaaa"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


" TRISTAN!"


Aku berlari dan memeluk dia yang duduk di ranjangnya. Dia yang masih lemah tertawa dan memukul punggungku.


" Slow dong, nanti infus gue lepas"


Aku mendengus dan mendudukkan tubuhku.


" Gimana ceritanya bisa keracunan sih, Tristan"


Tristan menggelengkan kepalanya.


" Gak tahu. Gue langsung lemas. Gue pikir gue bakalan mati"


Vano yang baru masuk meletakkan makanan di meja.


" Kok bisa sih Bang? Vano bawain bubur ayam nih biar langsung sembuh"


" Bubur ayam? Wah mantap nih!"


Aku membukakan kotak makan tersebut kemudian menyuapi Tristan. Namun Tristan menarik kotak makannya sendiri.


" Gue makan sendiri. Emang gue bocah apa?"


Tristan memakan bubur ayamnya dengan wajah bahagia. Tak lupa dia memberikan acungan jempol kepada kita.


" Tristan, lo gak inget apapun soal siapa yang ngasih lo minuman?" Tanyaku dan Tristan menggelengkan kepalanya.


" Ketemu orang dijalan. Lo tau sendiri gue sukanya gratisan. Gue minum itu dikelas, eh gak lama kemudian mulut gue berbuih" Curhatnya sembari makan.


Otakku berpikir keras. Kenapa sih ada orang setega itu?


" Lo gak cari masalah sama orang, kan?" Tanyaku dan lagi-lagi Tristan menggelengkan kepalanya.


" Gue gak pernah cari masalah duluan"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


" Bagusan yang pink atau yang baby blue?" Tanyaku pada Vano saat aku memilih dress lucu untuk kado ulang tahun Bianca.


Vano memutar bola matanya sebal.


" Udah berapa jam gue nungguin kakak? Tadi nanya bagus yang merah atau peach, sekarang ganti lagi? Memang buat siapa sih? Kak Dina sama Kak Jessi mana mau pakai model kayak gitu. Mereka kan sama kaya Kak Nana, sukanya pakai baju kurang bahan"


Aku mendengus saat mendengar celotehan Vano. Anak ini benar-benar suka sekali menyindir pakaianku.


" Ini buat Bianca tau!" Aku menyahut dan kembali memilah-milah baju.


" Hah? Bianca?"


" Kenapa? Gak usah sok kenal"


Vano menggidikkan bahunya tidak peduli.


" Kayak pernah denger" Ucapnya dengan ekspresi mengingat-ingat.


" Ya iyalah, lo pikir yang namanya Bianca cuma satu apa?" Sahut aku ketus.


Vano mendengus dan keluar dari toko tersebut.


" Buruan belinya, gue tunggu di Starbucks. Pegel tahu berdirinya. Dasar cewek"


Aku mencebik dan kembali berjalan memilih baju. Aku berjalan berkeliling Mall dan mataku terhenti pada toko perlengkapan bayi. Entah kenapa hati aku tergerak untuk mampir.


Belum aku mendekati toko itu, aku melihat seseorang masuk ke dalam toko itu. Orang yang sedang aku carikan kado ulang tahun.


Bianca.


Aku bersembunyi dan mengintip dia dari jendela. Ia memilih beberapa pakaian dan sepatu-sepatu bayi. Wajahnya menunjukkan berbagai macam ekspresi. Terkadang tersenyum, terkadang ekspresinya marah, dan bahkan eskpresi sedih juga. Aku jadi merasa aneh melihatnya.


Aku bersembunyi di belokan toilet saat ia hendak keluar dari toko itu. Setelah dia pergi, aku mengikutinya dari belakang.


Tak lama kemudian dia bertemu dengan seorang wanita tua yang wajahnya sembab karena airmata. Entah kenapa aku merasa tidak asing melihatnya wanita tua itu namun aku tak bisa mengingatnya.


" Beli apa kamu? Buang, nak"


Wanita yang aku perkirakan adalah ibunya itu menarik paksa kantung belanja milik Bianca. Namun Bianca balik menariknya dengan paksa.


" Apaan sih, Ma! Mama gak tau ya aku butuh banget buat masa depan—"


" Sinting kamu"


Wanita tua itu menghapus airmatanya dan berlalu pergi meninggalkan Bianca yang menunduk. Namun kemudian gadis itu tersenyum lagi saat melihat kantong belanjanya.


" Kak!"


" Lupa bawa uang" Ujarnya.


Aku mendecak dan kembali menoleh kedepan, namun Bianca sudah lenyap dari pandanganku. Rasanya aku ingin memarahi Vano namun aku urungkan saat merasa ponselku berbunyi.


" Aluna, dimana? Gue ke rumah lo ya?"


" Iya tapi gue—"


Sambungan mati. Aku melirik ke arah ponselku. Sebastian ini niat menelpon tidak sih?


" Van, ayo buruan balik. Sebastian mau mampir"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aku buru-buru berlari setelah keluar dari mobil Vano. Apalagi aku sudah melihat mobil Sebastian terparkir disitu. Aku masuk ke dalam rumah dan mendapati Sebastian yang tengah meminum teh dengan kikuk di depan TV.


" Mama mana?" Tanyaku yang kemudian mengambil tempat di sofa untuk duduk di samping Sebastian.


" Mama lo tadi keluar. Dia nitip jagain rumah"


Sebastian menaruh cangkirnya kemudian menarik tubuhku agar mendekat kearahnya. Aku merasa tidak nyaman karena Vano masih berdiri di dekat kita dengan tampang mencebiknya.


" Van, lo..."


" Apa? Ke kamar aja? Hafal gue sama lo, Kak. Dari dulu gitu deh sama Bang Tristan kalo mau cium-cium”


Aku yang mendengarnya langsung memukul pantat Vano, membuat laki-laki itu lari.


" Hati-hati Bang, nanti bibir lo jadi tebel kaya Bang Tristan gara-gara di vacuum sama Aluna!" Teriak Vano.


" YA EMANG BIBIRNYA TRISTAN BENTUKANNYA GITU, VANO!!"


Aku mendengus sementara Sebastian di sebelah aku tertawa kecil.


" Aneh ya? Denger gitu aja gue cemburu"


Sebastian berucap tanpa melihat kearahku, membuat jantungku berdegup tak karuan. Anak ini memang jarang berbicara romantis. Tapi tanpa berbicara romantis pun dia sudah sanggup membuat perasaanku berantakan.


Dia bergerak menidurkan tubuhnya di sofa dan menaruh kepalanya di atas pahaku. Wajahnya menghadap kearah perutku. Tangannya bergerak menuju blouseku dan menariknya keatas, membuatku langsung memukul tangannya.


" Mau ngapain lo?" Tanyaku sinis dan menjauhkan tangannya untuk membuka-buka bajuku.


“ Mau lihat anak gue lah”


Aku mencoba menutup perutku namun Sebastian menahan kedua tanganku. Wajahnya mendekat kemudian mengecup perutku lama, rasanya geli namun entah kenapa perasaanku menghangat.


Aku tidak mengerti sebenarnya apa hubungan kita. Aku takut kalau ini hanya kebahagiaan sesaat. Rasanya aneh sekali untuk tidak disebut mimpi. Dan perlakuannya... aku takut ini hanya semu.


" Al, anak kita bilang dia mau makan seblak" Ucapan Sebastian membuatku mau tak mau tertawa.


" Bilang aja ngidam, iyakan?" Tanyaku.


Aku dapat dengan jelas melihat telinga Sebastian yang amat sangat merah.


" Enggak, bayinya tadi bisikin gue"


Kenapa Sebastian bisa menggemaskan seperti ini? Aku yang tidak tahan menundukkan kepala aku dan mencium lama pipinya.


" Kesini mau minta ditemenin makan seblak, kan? Ayo keluar, keburu malam" Ajakku.


Namun Sebastian menggelengkan kepalanya. Dia malah memelukku dengan kencang dan membenamkan wajahnya di perutku.


" Kita delivery aja"


" Kenapa?"


“ Udah posisi nyaman, hehe” Jawabnya membuatku mau tak mau mendengus. Meskipun begitu, aku tak bisa menahan senyumanku.


Akhirnya kita melakukan delivery tiga porsi seblak. Tentu saja Vano juga ikut dibelikan karena anak itu belum makan.


Sembari menunggu pesanan kami datang, kami menonton TV yang tengah menayangkan ulang film Harry Potter and The Goblet of Fire. Aku mengelus-elus rambut Sebastian yang tertidur.


“ Rambut lo udah mulai gondrong, kayak Profesor Snape” Ujarku berniat mengejek.


Sebastian menatapku dan memasang tampang sebalnya, namun kemudian tersenyum-senyum sendiri.


“ Kalau gue Snape, berarti lo Lily ya?” Tanya Sebastian. Aku awalnya ingin mengiyakan namun menggelengkan kepalaku.


“ Enggak mau!” Jawabku. Sebastian menatap aku aneh.


“ Kenapa? Padahal Snape mencintai Lily seumur hidupnya. Always” Ujar Sebastian, membuatku mengenang betapa banjirnya airmataku saat Snape mengatakan hal itu.


“ Tapi dia gak bisa sama Lily. Lily kan sama laki-laki lain”


Sebastian seketika mendudukkan tubuhnya.


“ Oh iya lupa! Gue gak mau jadi Snape kalau kayak gitu. Gue jadi James Potter aja biar sama Lily” Ujarnya.


Ia membenarkan posisi duduknya dan duduk di sampingku. Aku menyeringai, tampaknya ini waktu yang tepat untuk mengejek Sebastian.


“ Tapi gue gak mau jadi Lily. Gue maunya jadi Hermione Granger. Hehe” Ujarku membuat Sebastian tampak berpikir.


“ Yaudah. Gue jadi Ronald Weasley” Balasnya cepat.


“ Tapi Bas, Ronald Weasley kan rambutnya merah...” Ujarku. Sebastian tampaknya masih berpikir keras, berusaha membalas pernyataanku.


Kesel, kenapa lo gemes banget sih Bas?


“ Kalau gitu—“


Ucapan Sebastian terhenti saat mendengar bunyi bel. Oh, pasti makanannya datang. Dengan cepat ia berjalan membuka pintu. Tak lama kemudian ia kembali dengan satu plastik besar. Ia dengan cepat menaruh dan menata makanan itu di meja.


“ Sumpit...”


Sebastian mencari-cari sumpit di dalam kantung plastik. Namun ia terdiam dan mengambil secarik kertas dari dalam sana.


Aku dengan cepat merebutnya dan membacanya.


...What’s the funniest thing you’ve got recently?...


“ Memang ya strategi marketing sekarang aneh-aneh. Kalau dia tanya begitu terus kita jawab kemana dan untuk apa? Harusnya pakai kupon kan lebih masuk akal” Ujarku.


Sebastian mengambil kertas itu dan membacanya. Entah kenapa wajahnya terlihat tidak enak.


" Firasat gue gak enak, Al. Lo jangan kemana-mana ya" Ujar Sebastian setelah membaca kertas tersebut.


" Yaelah itu mah perasaan lo aja. Lagian itu cuma kertas undian gak penting doang”


" Gue serius, Al. Janji ya gak bakal kemana-kemana tanpa gue?"


" Janji"


" Lo udah janji, Aluna. Jangan menyesal kalau gue marah"