
Tepat pukul setengah empat Queen sampai di kantor Daniel. Begitu melihat Queen datang, Devi langsung menyambut Queen.
“Selamat sore ibu Queen.” Sapa Devi.
Queen tersenyum, “Sore. Saya ingin bertemu dengan Daniel.”
“Mari saya antarkan bu, bapak sudah menunggu ibu di ruangannya.” Mengantarkan Queen ke ruangan Daniel.
Ketukan pintu terdengar.
“Silahkan masuk.” Ucap Daniel tanpa mengalihakan pandangannya dari berkas-berkas yang ia pegang.
Melihat itu Devi membuka suara, “Pak Daniel, ibu Queen sudah tiba.”
Daniel mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas yang dipegangnya melihat Devi dan Queen sudah berdiri di tengah ruangannya, buru-buru ia bangkit dari kursi.
“Maaf. Saya hampir lupa waktu. Devi tolong bilang ke pak Selamet siapkan mobil dan saya yang akan menyetir sendiri.”
“Baik pak.” Segera sekertarisnya itu keluar ruangan untuk segera melaksanakan perintah atasannya itu.
Daniel mengambil jasnya yang ada di kursi, “Mari Queen kita berangkat.”
~
Sesampainya mereka di dokter kandungan, Daniel mengantar Queen untuk duduk di ruang tunggu praktik. Selanjutnya Daniel pergi mengambil nomer antrian. Queen melihat banyak perawat dan pasien yang menatap dengan kagum kearah Daniel, ‘Ya Daniel lumayan tampan’ batinnya. Seketikan Queen sadar dan menggelengkan kepalanya ‘Aku tidak boleh berpikir begitu’ menyadarkan dirinya.
“Kamu kenapa Queen?” ucap Daniel melihat Queen yang menggelengkan kepalanya.
“Saya enggak apa-apa” Daniel beranjak duduk disamping Queen.
Mereka berdua hanya duduk diam tenggelam dengan pikiran masing-masing, sampai seorang suster keluar dari ruang praktik menyebut nama Queen. Daniel dan Queen segera masuk ke dalam ruangan. Selanjutnya Queen berbaring di ranjang pasien dan Daniel berdiri di samping Queen.
“Kita akan melihat calon anak kalian.” Kata dokter itu dengan ceria.
Daniel melihat Queen berbaring di ranjang pasien itu entah kenapa membuatnya resah. Daniel mengalihakan pandangannya ke monitor yang ada di depannya. Seorang suster menyelimuti kaki Queen sampai pinggul, lalu membuka baju Queen hingga perut Queen yang mulus terlihat.
Daniel salah tingkah melihat perut Queen yang terbuka.
Dokter itu terlihat menuangkan gel ke perut Queen lalu menyebarkan gel dan menggerak-gerakkan suatu alat diatas perut Queen.
“Lihat pak. Bulatan yang ini adalah anak bapak.” Tunjuk dokter itu kearah monitor yang ada di depan mereka.
Daniel terlihat terharu melihat gumpalan yang ditunjuk oleh dokter tersebut, sampai ia mendengar suara yang cukup kencang. Detak jantung! Detak jantung yang sangat kuat dan cepat. Daniel terlihat mengerutkan dahinya lalu matanya melebar tersadar, itu adalah detak jantung anaknya! Daniel sedikit panik mendengar detak jantung yang sangat cepat itu, “Dok, detak jantung secepat ini apakah normal?”
“Tentu saja normal pak.” Ucap dokter tanpa mengalihkan pandangannya dari monitor.
Daniel lega mendengar jawaban sang dokter, lalu ia kembali melihat kearah gumpalan kecil itu lagi. Daniel jatuh cinta melihat Anaknya! Rasa bangga, bahagia, terharu, dan tidak percaya campur aduk di hatinya.
Setelah Queen selasai di periksa, mereka kembali ke meja dokter. Dokter itu terlihat sedang membaca buku yang dia pegang lalu berkata, “Pak Daniel, anda harus lebih memperhatikan kesehatan istri anda. Karena dari data yang saya baca, berat badan istri anda kurang dari berat badan normal ibu hamil. Saya akan memberika obat anti mual agar meredakan mual ibu Queen di pagi hari dan vitamin untuk menambah napsu makannya. Anda juga harus menjaga emosinya karena itu sangat mempengaruhi kondisi janin.”
Daniel mengangguk, ia melirik ke arah Queen yang dari tadi hanya diam.
Queen menatap punggung Daniel yang berjalan ke apotik. Baru beberapa minggu mengenal dan tinggal bersama Daniel, Queen bisa melihat Daniel adalah pria yang baik dan juga bertanggung jawab. Queen yang dari tadi memperhatikan bagaimana raut wajah bahagia Daniel ketika melihat bayinya di layar monitor, raut wajah Daniel yang tampak khawatir mendengar suara detak jantung bayinya yang sangat cepat, dan dari itu semua Daniel tampak sangat senang dengan kehamilan Queen dan juga memperlakukan Queen dengan sangat baik. Tapi entah kenapa ada perasaan yang sulit Queen jelaskan ketika ketika bersama pria itu. Kehamilan ini dan juga Daniel membuat Queen bingung dengan perasaannya sendiri.
~
Didalam mobil keduanya hanya diam. Daniel masih belum percaya dia akan menjadi seorang ayah. Perasaan bangga dan bahagia kembali menyelimuti hatinya, Daniel berjanji pada dirinya sendiri kalau dia akan menjadi ayah yang bertanggung jawab untuk anaknya. Setelah selesai dari dokter kandungan mereka akan makan dulu sebelum kembali kerumah. Mereka sudah sampai di sebuah restoran dan memilih untuk duduk disebelah kaca transparan agar bisa melihat suasana di luar restoran itu.
Pelayan segera datang dan menanyakan pesanan mereka.
“Queen kamu mau makan apa?” tanya Daniel pada Queen.
“Samakan saja dengan pesanan kamu.” Queen terlihat tidak tertarik.
“Baiklah.” Daniel terlihat membacakan pesanan mereka kepada pelayan di sebelahnya. Sementara Queen menatap kosong ke luar kaca restoran itu.
Setelah pelayan datang mengantarkan pesanan mereka, mata Queen tertuju kearah Pizza jamur keju yang ada didepannya dengan air liur yang mengalir deras di mulutnya.
“Kenapa diam saja?” tanya Daniel yang melihat Queen hanya menatap pizza di depannya.
“Kamu enggak suka?” lanjut pria itu.
Queen menggeleng pelan.
Lalu Daniel meletakkan potongan pizza ke piring Queen. Queen memotong pizza itu menjadi bagian kecil dan memasukkan potongan kecil itu ke dalam mulutnya. Pizza ini sangat lezat, batin Queen.
Daniel senang melihat Queen makan dengan lahap. Queen makan otomatis anaknya juga ikut makan, perasaan hangat membanjiri hatinya. Tiba-tiba pertanyaan muncul dalam dirinya, ‘Apakah Queen juga merasa bahagia?’ Queen terlihat muram dari tadi mereka di dokter kandungan.
~
Queen terbangun lagi di tengah malam dengan perut lapar. Segera ia turun dari ranjang dan menyalakan lampu kamar, Queen berjalan kearah pintu kamar karena ia akan ke dapur untuk memasak sesuatu agar rasa laparnya hilang dan Queen bisa tidur kembali. Suara ketukan pintu membuatnya berhenti di depan ruang tamu kamarnya sambil memikirkan siapa yang tengah malam begini mengetuk pintu kamarnya. Apa itu ibu Mita? Benaknya. Lalu Queen kembali berjalan untuk membukakan pintu.
Sosok Daniel terlihat di balik pintu kamar Queen yang datang dengan membawa nampan di tangannya dan Daniel langsung masuk ke kamar Queen begitu ia membukakan pintu. Daniel duduk di sofa panjang yang ada yang ada di kamar Queen dan meletakkan nampan yang dibawanya itu di atas meja.
“Sini Queen.” Daniel menepuk tangannya di sofa itu agar Queen duduk di sampingnya.
“Kamu pasti lapar, saya bawakan pizza yang seperti kita makan tadi sore. Saya lihat kamu lahap sekali memakannya, jadi tadi saya order lagi untuk dibawa pulang.”
Queen terdiam mendengar perkataan Daniel yang perhatian kepadanya. Queen juga melihat ada segelas susu yang dibawa Daniel untuknya. Syukurlah Daniel membawakan makanan ini untuknya jadi Queen tidak perlu memasak lagi.
“Terima kasih Daniel.” Jawab Queen sambil tersenyum, Queen mulai memasukkan potongan pizza ke mulutnya.
“Queen sambil kamu makan, kamu bisa menaikkan kedua kakimu dan bersender di ujung sofa? Saya ingin mempraktikkan pijatan untuk ibu hamil yang tadi saya lihat dari YouTube.”
Lalu Queen mengatur posisi seperti yang diminta Daniel, sambil memegang piring kecil di tangan kiri dan pizza ditangan kanannya. Daniel meletakkan iPad di sampingnya sambil fokus memperhatikan video yang di putarnya, lalu mempraktikannya pada Queen. Daniel menarik kaki Queen hingga terjulur ke depan dan sejajar, lalu memijat pelan mulai dari jari kakinya hingga betis. Queen terkejut melihat perlakuan Daniel pada kakinya itu, lalu cepat-cepat Queen memakan sisa potongan pizza di tangannya dan segera meneguk habis susu yang dibawa Daniel agar nantinya ia tidak tersedak dengan sentuhan Daniel di kakinya.
Sementara Daniel terlihat sangat fokus pada kaki Queen dan itu membuat wajah Daniel tampak menggemaskan. Lalu tiba-tiba Daniel tersenyum dan memperhatikan lesung pipinya, membuat jantung Queen berdetak lebih cepat. Tanpa Queen sadari tangannya bergerak memegang lesung pipi Daniel. Daniel terkejut merasakan tangan halus dipipinya, lalu ia memegang tangan itu dan melihat kearah pemiliknya. Waktu seakan berhenti saat mata Daniel dan Queen bertemu, dan mereka saling bertatapan. Tanpa sadar Daniel mengecup telapak tangan Queen yang memegang pipinya. Lalu ia mengarahkan dan meletakkan tangan Queen ke dadanya, Daniel bergerak maju. Matanya tidak lepas dari mata Queen yang biru jernih yang sesekali berkedip indah, mata Daniel turun melihat bibir merah muda milik Queen yang sedikit terbuka dan mulai menutup mata mendekatkan wajahnya. Daniel mengecup bibir Queen dengan lembut, Queen masih tidak merespon kecupan Daniel. Karena tidak ada respon dari Queen, Daniel melanjutkan ciumannya terus sampai Daniel merasakan Queen membalas ciumannya. Meraka berciuman cukup lama sampai Daniel menghentikan ciuman mereka untuk mengambil napas tetapi masih dengan dahi dan hidung yang menempel satu sama lain. Keduanya terbawa suasana yang sulit dijelaskan, masih dengan napas yang naik turun Daniel mengecup dahi Queen. “Terima kasih.” Daniel memeluk Queen dan mengelus rambut Queen pelan, Queen dapat dengan jelas mendengar detak jantung Daniel yang berdetak kencang.
Daniel mengelus punggung belakang Queen, “Saya harus kembali ke kamar.” Daniel bangkit dari sofa.
“Selamat malam Queen.” Menatap Queen dengan tatapan yang sulit dijelaskan lalu berjalan kembali ke kamarnya. Queen masih dengan posisinya duduknya di sofa yang hanya bisa diam mematung. Bingung. Ada apa ini? Apa yang baru saja terjadi? Apa yang baru mereka lakukan?