
Setelah Queen pergi, Daniel masih duduk termenung di kursinya. Matanya menatap kosong ke dinding cafe, Daniel menghela napas panjang. Ia resah. Kabar bahwa ia memiliki bayi dari wanita yang tidak dikenalnya membuat ia terkejut, bingung, resah, semuanya campur aduk di benaknya. Ditambah lagi dengan kenyataan wanita itu tidak menginginkan bayinya meskipun dia tidak berniat untuk menggugurkannya tapi sama saja secara tidak langsung wanita itu membuang anaknya. Hati Daniel tiba-tiba nyeri mengingat kisahnya terulang lagi. Daniel kembali menghela napas panjang.
Kenangan pahit masa kecilnya terlintas di benaknya. Daniel kecil tidak mengenal ayah dan ibu kandungnya, Daniel tinggal bersama dengan kakak ibunya. Daniel kecil sering di pukuli oleh tantenya tanpa sebab yang jelas, tante Daniel selalu memanggilnya dengan anak haram yang di buang oleh ibunya.
“Dasar anak haram. Harusnya kau berterima kasih karena aku merawatmu. Ibumu saja membencimu bahkan dia meninggalkanmu.” Tidak ada yang bisa dilakukannya selain menangis sambil menerima setiap pukulan yang diberikan tantenya kepada Daniel. Daniel kecil selalu iri setiap kali melihat anak-anak yang lain mendapatkan kasih sayang dari orang tua mereka. Daniel menarik napas panjang dan membuangnya dengan berat. Daniel tidak mau anaknya kelak merasakan hal yang sama dengannya.
~
Queen sedang berada di dalam taksi, ia menatap kosong ke luar jendela. Kenangan pahit masa kecilnya terlintas di benak Queen. Queen ingat setiap hari ayah Queen selalu pulang larut malam, tidak jarang Queen yang masih sangat kecil itu menyaksikan ayah dan ibunya bertengkar hebat. Setelah pertengkaran hebat kedua orang tuanya, ibu Queen selalu menangis dan ayahnya yang pergi entah kemana. Queen tidak tau apa yang menyebabkan kedua orang tuanya selalu bertengkar tetapi pertengkaran seperti itu terjadi setiap hari. Sampai pada akhirnya ayah dan ibu Queen bercerai.
Setelah perceraian ke dua orang tuanya Queen tinggal bersama ayahnya. Lebih tepatnya tinggal dirumah ayahnya. Yah, kenyataannya ayah Queen sangat jarang berada di rumah. Bisa dihitung dalam setahun ayah Queen pulang hanya sekali atau dua kali saja, itupun mereka jarang bertemu karena ketika ayahnya pulang ke rumah selalu di malam hari. Queen pasti sudah tidur dan keesokan paginya Queen hanya akan mendapatkan kabar dari pelayan mereka bahwa tadi malam ayahnya pulang tapi sudah pergi lagi pagi-pagi buta. Dirumah yang besar itu Queen hanya tinggal dengan pelayan, sementara ibu Queen tidak pernah terlihat lagi semenjak orang tuanya bercerai. Queen sangat kesepian dan bingung kenapa ayah dan ibunya meninggalkan Queen, padahal Queen kecil tidak pernah berbuat nakal.
Seiring berjalannya waktu perasaan bingung dan kesepian itu berubah menjadi kebencian dihati Queen. Queen benci melihat orang tua yang memiliki anak tapi tidak bertanggung jawab dan menelantarkan mereka. Trauma itu menjadikan Queen tidak mau menikah, apa lagi memiliki anak karena Queen saja tidak pernah mengenal dan mendapatkan kasih sayang orang tuanya jadi bagaimana ia bisa menjadi orang tua yang baik. Kenyataan sekarang Queen hamil sangat membuat Queen bingung dan resah, hamil tidak pernah ada di daftar tujuan hidup Queen. Apa lagi kehadiran bayi ini dengan cara yang salah. Tapi tetap saja bayi ini berhak untuk hidup. Itulah kenapa Queen akan menyerahkannya kepada ayah bayi ini ketika dia lahir, karena Queen tidak bisa menjadi orang tua yang baik. Setidaknya Queen tidak jadi pembunuh karena harus menggugurkan bayi yang tidak ia harapkan ini.
~
Queen sampai dirumah kontrakannya, sebelum turun dari taksi Queen melihat Silfa sudah menunggu di depan rumah.
“Akhirnya lo sampe juga, hampir sejam gue disini.” sapa Silfa begitu Queen turun dari taksi.
“Maaf ya, jalan macet banget tadi.” ucap Queen sambil mengambil kunci rumah dari dalam tasnya dan segera membuka pintu.
“Queen, gue nginap dirumah lo dulu ya hari ini? Bosen gue enggak ada yang bisa diajak ngobrol kalau dikosan gue.”
“Iya, santai aja lagi Sil. Kayak lo baru pertama kali nginap disini aja.” Jawab Queen sambil tersenyum melihat sahabatnya yang uring-uringan. Pasti Silfa mau curhat tentang mantannya lagi tebak Queen dalam hati.
“Queen lo laper enggak? Kalau laper kita gofood yuk?” tanya Silfa sesampainya dikamar Queen.
“Gue udah makan tadi Sil, kalau lo laper gofood sendiri aja gih.” Sambil meletakkan tasnya diatas meja yang ada dikamarnya.
“Enggak ah, gue juga sebenernya belum laper banget. Gue Cuma basa-basi aja sama lo.” Silfa tersenyum jail.
“Dasar lo, sama gue pake acara basa-basi segala. Eh, gue mandi dulu ya Sil. Gerah nih. Lo istirahat aja dulu ya anggep rumah sendiri.” Queen sambil mengedipkan matanya dan tersenyum kepada Silfa.
~
Setelah Queen masuk ke dalam kamar mandi. Silfa pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Saat membuka kulkas tidak sengaja Silfa melihat ada sekotak susu hamil dimeja makan, lalu karena penasaran Silfa mendekati meja makan dan mengambil sekotak susu hamil tersebut dan membacanya dengan dahi berkerut. “Susu hamil siapa nih?” gumamnya sendiri, setelah itu dia mengangkat bahu tanda tak peduli dan berlalu meninggalkan susu hamil tersebut dimeja makan dan kembali ke kamar. Sesampainya di kamar, Silfa mengecek ponselnya yang ternyata baterainya tinggal 10% lagi, segera Silfa membuka tasnya untuk mengambil charger, tetapi dari tadi mencari sampai mengeluarkan isi tasnya Silfa tidak juga menemukan chargernya, lalu ia menghampiri kamar mandi dan mengetuk pintunya. “Queen, gue pinjam charger lo dong? Punya gue ketinggalan.”
“Ambil aja dilaci sebelah kanan samping tempat tidur.” Jawab Queen dari dalam kamar mandi. Silfapun berjalan ke laci yang Queen maksud dan membongkar isi laci Queen untuk menemukan charger yang dia cari, saat Silfa mau mengambil charger itu mata Silfa tidak sengaja melihat sebuah benda pipih putih yang menarik perhatinnya. Silfa pun segera mengambil benda itu. Dahi Silfa tampak berkerut saat memegang benda pipih putih itu.
Tiba-tiba ingatan Silfa pun berputar, mengingat Queen adalah anak tunggal yang sudah lama hidup sendiri dan Silfa juga tau Queen tidak punya kerabat dekat atau teman dekat yang pernah ke rumah kontrakannya ini kecuali Silfa tentunya. Jadi, tidak mungkin sekotak susu di meja dapur dan benda pipih putih yang ada ditanganya ini milik orang lain. Silfa masih sibuk mencerna bukti-bukti yang ada sampai dia menarik kesimpulan, dengan mata melebar dan mulut terbuka. Silfa sampai pada kesimpulan yang mengejutkan dirinya.
Pada saat yang bersamaan, Queen keluar dari kamar mandi dan melihat Silfa yang berdiri didepan laci samping ranjang dengan membelakanginya. “Sil, udah ketemu charger...” Silfa membalikkan badannya.
“Lo hamil?” sambil menunjukkan test pack yang dipegangnya.
~
“Lo hamil?”
Dahi Queen berkerut mendengar Silfa mengatakan itu dan seketika mata Queen melebar melihat benda yang di pedang Silfa. Queen langsung cepat-cepat mengubah ekspresi terkejutnya.
“Ya enggaklah...” suaranya bergetar sambil berjalan ke sudut kamar mengambil handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya. Silfa berjalan mendekati Queen dan membalikkan badan sahabatnya tersebut.
“Lo enggak bisa bohongi gue Queen.” Dengan suara pelan dan mata sayu yang mulai tergenang air mata. “Ini punya lo kan?” lanjut Silfa sambil menunjukkan test pack itu kehadapan Queen.
Queen yang menyembunyikan air matanya sambil mununduk itupun akhirnya mengangguk pelan.
“Kenapa lo enggak cerita sama gue?” Queen mengabaikan pertanyaan Silfa sambil berjalan ke arah ranjang dan duduk diatasnya.
“Queen please jawab gue.” Ikut duduk disamping Queen.
Queen menghapus air matanya dan mengambil napas dalam-dalam menguatkan hatinya.
“Iya gue hamil Sil.”
“Siapa yang hamilin lo?” tanya Silfa pelan sambil mengusap punggung belakang Queen.
“Lo ingat waktu kita liburan di Bali. Terus malam terakir kita di Bali, kita sempat ke bar hotel.”
“Iya gue inget.”
Silfa kembali mengingat-ingat kejadian di bar malam itu. Hati Silfa sangat kacau selama di Bali karena ia diputuskan oleh pacarnya saat itu. Saat Queen keluar dari bar, Silfa memesan vodka dan meneguknya berkali-kali berharap disetiap tegukannya itu Silfa dapat melupakan kegalauannya, ia begitu menikmati minumannya dengan alunan musik yang menggema sehingga tanpa sadar Silfa ikut menggerakkan tubuh mengikuti hentakan musik. Pada saat Silfa bangkit dari kursinya, Silfa tidak sengaja menabrak seorang pria yang tanpa Silfa sadari minuman yang ia pegang tumpah membasahi kemeja pria itu. Melihat itupun Silfa langsung meminta maaf dan segera berlalu dari pria itu. Silfa tidak mengingat dengan jelas kejadian malam itu karena pengaruh vodka yang Silfa minum membuatnya linglung. Selanjutnya yang Silfa ingat sepertinya pria tersebut tidak memaafkannya dan mereka beradu argumen lalu entah siapa yang memulai, akhirnya mereka adu minum. Keesokan paginya ia bangun dengan nyeri kepala dan berakhir dikamar mandi dengan muntah hebat yang tidak henti-hentinya. Silfa tidak melihat Queen pagi itu. Silfa pikir Queen sedang pergi untuk sarapan dibawah. Sampai pada akhirnya Queen masuk ke dalam kamar dengan wajah sembab. Entahlah, waktu itu Silfa tidak bisa mengingat dengan baik. Tapi yang Silfa sadari semenjak pulang dari Bali Queen lebih banyak melamun dan berdiam diri.
“Lo ngotot terus lanjutin adu minum itu, gue enggak tega liat lo yang udah mabuk banget. Jadi gue yang gantiin lo buat adu minum sama cowok itu, sampai akhirnya kami berdua sama-sama mabuk dan....” Queen tidak bisa melanjutkan kata-katanya dan menangis kembali.
“Maafin gue Queen.” Silfa memeluk sahabatnya itu, “Gara-gara gue lo sampe kayak gini. Gue bener-bener minta maaf.” Ucap Silfa dengan tulus sambil ikut menangis, gara-gara kebodohannya ia mencelakai sahabatnya sendiri.
“Harusnya gue enggak kebawa emosi, harusnya gue enggak minum, harusnya gue....”
Queen menghapus air matanya “Enggak Sil, udah jalannya begini. Sekeras apa pun kita menyesal dan menyalahkan diri, semuanya percuma. Semuanya udah terjadi.” Silfa memeluk Queen lebih erat dengan tidak henti-hentinya meminta maaf.
~
Setelah menghabiskan hapir setengah jam menagis, Silfa akhirnya bertanya dengan hati-hati. “Jadi apa
rencana lo buat bayi ini Queen?”
“Sebenarnya tadi siang gue ketemuan sama cowok itu.” Silfa langsung menatap Queen.
“Oiya. Terus dia bilang apa? Dia mau tanggung jawabkan?”
Queen mengangguk. Silfa menghela napas lega, “Jadi kapan kalian nikah?” lanjutnya.
“Kami enggak nikah Sil.”
Silfa bingung dengan ucapan Queen “Hah! Maksud lo?”
“Dia mau tanggung jawab, tapi kami enggak nikah.”
“Dia enggak mau nikahin lo?” dengan nada emosi.
Queen menggelengkan kepalanya.
“Terus maksudnya apa?” cacar Silfa yang bingung sekaligus penasaran.
Queen menghela napasnya.
“Gue yang enggak mau nikah Sil.”
“APA!” kerutan didahi Silfa semakin mendalam.
“Gue yang nolak untuk dinikahin. Lo kan tau gimana perasaan gue tentang keluarga. Pernikahan dan anak bukan tujuan gue Sil.”
“Terus bayi ini?”
“Gue minta dia buat biayain gue sampe lahiran lalu setelah itu bayi ini seutuhnya milik dia dan gue akan lajuntin hidup gue.”
“Lo enggak mau merawat bayi lo?”
Queen menggeleng kuat. “Gue enggak mau. Gue aja lupa gimana rasanya punya ibu. Yang gue paham adalah rasa sakit, kecewa dan kebencian untuk ke dua orang tua gue. Dan udah pasti gue bukan ibu yang baik buat bayi ini. Tapi setidaknya gue enggak jadi pembunuh karena harus menggugurkan bayi yang tidak gue harapkan.” Silfa menatap bingung sekaligus sedih melihat sahabatnya. Tapi lama kelamaan Silfa mengerti dengan perasaan Queen.
“Kalau lo enggak mau nikah sama dia, lo tau kan kedepannya bakal berat hamil tanpa suami. Orang-orang bakalan ngomongin lo.”
“Gue tau. Gue bakal keluar dari kantor dan pindah dari lingkungan ini.”
“Apa? Kenapa harus keluar dari kantor? Kenapa lo enggak cuti aja?”
“Sebenarnya, gue hamil atau enggak gue emang udah lama kepikiran buat keluar dari kantor itu tapi ketunda mulu. Gue udah enggak betah disana.”
Perasaan menyesal kembali menghampiri hati Silfa, “Queen maafin gue ya, gue nyesel gara-gara gue lo sampe kayak gini.”
“Please stop Sil, ini bukan salah lo. Oke.” Sambil menggenggam tangan Silfa. Sahabatnya itu pun mengangguk.
“Tapi lo harus janji sama gue, kapan pun lo perlu bantuan gue. Lo harus secepatnya kabarin gue.” Queen pun mengangguk setuju.
“Makan yuk? Gue laper nih.” Queen memecah suasana haru yang menyelimuti mereka.
“Lo mau makan apa? Tenang aja, lo mau makan apa aja gue yang bayar.” Ucap Silfa dengan antusias. Tanpa sadar Queen tertawa melihat tingkah sahabatnya itu.