
Queen menatap kartu nama yang pria itu berikan kepadanya saat terakhir kali mereka bertemu dikamar hotel, Queen harus menelfon pria itu dan memintanya untuk bertemu. Dengan tangan gemetar Queen mengetik nomor yang tertera di kartu nama itu, lalu men-dealnya dengan perasaan yang campur aduk. Queen mendengar nada panggilan berbunyi dan setelah itu terdengar suara berat seorang pria menyapanya. Jantung Queen mangkin berdegup kencang, “Selamat pagi, bisa saya berbicara dengan Daniel?” akhirnya Queen mengeluarkan kata-katanya.
“Ya, saya sendiri. Maaf ini dengan siapa?” jawab pria itu pelan.
“Saya Queen.” Queen menggigit bibirnya gugup.
“Queen siapa?”
Dengan menghela napas berat Queen menjawab “Saya Queen, kita pernah bertemu satu bulan yang lalu di Bali.”
Hening.
Karena tidak ada tanggapan dari pria itu Queen melanjutkan ucapannya lagi “Kita bertemu di bar, kamu ingat? Lalu di hotel...mmm...malam itu...” Queen tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
“Iya saya ingat, ada apa ya?” tanya pria itu lagi.
“Bisa kita bertemu? Ada yang harus saya bicarakan dengan kamu.”
“Tentang apa?” desaknya.
“Kita tidak bisa membicarakannya lewat telpon, kita harus bertemu.” Queen sedikit kesal dengan pria itu.
Kembali hening.
“Baiklah.” Jawab pria itu singkat.
“Dimana saya bisa menemui kamu?” tanya Queen cepat. Semakin cepat ia menemui pria itu maka masalah ini akan semakin cepat selesai.
“Saat ini saya sedang ada pekerjaan diluar kota, mungkin sekitar dua atau tiga hari lagi selesai. Secepatnya saya akan menghubungi kamu.”
“Baiklah, kalau begitu kamu bisa menghubungi saya di nomor ini.” Queen menghela napasnya pasrah karena belum bisa menemui pria itu secepatnya.
“Baiklah.” Pria itu mengakhiri pembicaraan mereka.
Queen menghela napas setelah pembicaraannya dengan Daniel selesai. Tiba-tiba perasaan resah menghampiri Queen. Bagaimana kalau pria itu menuduhnya macam-macam dengan mengatakan bayi ini bukan miliknya. Atau bagaimana kalau pria itu tidak mau bertanggung jawab dengan bayi ini? Bagaimana kalau ternyata pria itu sudah
menikah? Dan lebih parah lagi bagaimana kalau sampai pria itu menyuruh Queen untuk menggugurkan kandungannya?
Meskipun Queen tidak menginginkan bayi ini, tapi Queen tidak mungkin untuk menggugurkan kandungannya. Tanpa sadar Queen mengelus perutnya.
“Baiklah, kita akan menunggu kabar dari ayahmu.”
~
Tadi malam sekitar jam delapan, akhirnya Daniel menghubungi Queen dan meminta mereka untuk bertemu
besok di salah satu cafe jam 1 siang. Sekarang baru jam 12.30 Queen sudah tiba di cafe yang Daniel sebutkan semalam. Queen duduk di meja pojok cafe itu dimana disamping mejanya ada kaca transparan besar yang memungkinkan Queen untuk melihat Daniel datang.
“Selamat siang, silahkan ini menu yang ada di cafe kami.” Seorang pelayan wanita dengan senyum ramah mendatangi Queen. Tanpa sadar Queen juga ikut tersenyum ramah kepada pelayan itu. Lalu mengambil menu yang diberikan kepadanya dan membaca isi menu tersebut sebelum menjatuhkan pilihan pada makanan yang akan ia pesan.
“Saya ingin pastry chicken mushroom dan air mineral.” Queen membacakan pesanannya. “Baik, akan segera kami siapkan.” pelayan itu membalas ucapan Queen masih dengan senyum ramahnya.
Tiba-tiba ponsel Queen bergetar, segera Queen mengecek ponselnya. “Ah, ternyata Silfa.” Jawabnya sendiri. Tadinya Queen mengira ia mendapatkan pesan dari Daniel tapi ternyata dari sahabatnya Silfa yang menanyakan keberadaannya saat ini. Setelah membalas pesan dari Silfa, tidak lama kemudian pesanan Queenpun datang.
“Silahkan dinikmati hidangannya. Jika anda memerlukan sesuatu lagi, anda bisa memanggil saya.”
“Iya, terima kasih.” Jawab Queen sambil tersenyum. Setelah pelayan itu pergi, Queen melirik jam digital
yang ada di ponselnya. Ini sudah jam 1 lewat apa dia datang terlambat? Pikir Queen. Selanjutnya Queen memutuskan untuk memakan hidangannya sambil menunggu Daniel datang.
Sebenarnya Daniel sudah berada di cafe itu beberapa jam sebelum Queen datang. Setelah mendapatkan telpon
dari Queen. Hati Daniel tidak tenang memikirkan apa yang ingin dikatakan wanita itu kepadanya, maka ia memutuskan untuk datang lebih cepat dari yang mereka janjikan semalam. Dari tadi Daniel duduk di sudut ruangan yang cukup jauh dari meja Queen dan tidak henti-hentinya memperhatikan Queen.
Wanita itu masih sama dengan yang terakhir kali diingatnya, tapi melihat Queen yang sekarang ternyata
jauh lebih cantik. Dengan mengenakan dress selutut, sneakers putih, rambut pirang panjang yang tergerai bebas, kulit putih, wajah halus tanpa riasan, bulu mata panjang dan lentik, hidungnya yang mancung dan mata birunya yang jernih. Sempurna! Satu kata yang mewakili dari apa yang dilihatnya sekarang. Setelah melihat Queen menyelesaikan makannya, Daniel segera beranjak dari mejanya.
Setelah menyelesaikan makannya, Queen menatap keluar kaca transparan itu sambil memikirkan kata-kata yang tepat untuk menyampaikan berita kehamilannya pada Daniel. Jantungnya mulai berdegup kencang saat memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Saat Queen lagi sibuk memikirkan kata-katanya, tiba-tiba seseorang menghampirinya.
“Selamat siang, maaf membuatmu menunggu terlalu lama.” Kata pria itu sambil menarik kursi di depan Queen. Queen menoleh pada pria di depannya, mata Queen seolah terpaku pada apa yang dilihatnya. Tubuh tinggi atletis terbalut kemeja yang lengannya sengaja di gulung ke atas, rambut coklat keemasan, alis mata yang tegas, wajah tampan yang sedikit ditumbuhi bulu-bulu halus dan aroama maskulin pria itu dapat membuat otak Queen seperti berhenti bekerja.
Bingung dengan reaksi dan tatapan Queen padanya, “Queen?” mencoba mendapatkan fokus Queen.
“Saya benar-benar minta maaf baru bisa menemui kamu sekarang, karena ada hal mendesak yang harus segera saya selesaikan kemarin.” Lanjut Daniel.
Sambil mengangguk,“Ya saya mengerti, harusnya saya yang meminta maaf karena sudah mengganggu waktu kamu.”
Daniel menggelengkan kepalanya, “Saya merasa tidak terganggu sama sekali.”
Hening.
“Lalu apa yang ingin kamu bicarakan kepada saya?” Daniel memecahkan keheningan mereka.
“Saya... hamil.” Bisiknya pelan.
Daniel membelalakkan matanya terkejut mendengarkan perkataan wanita didepannya ini.
Hening lagi.
Queen mendongak menatap Daniel yang tidak bereaksi.
“Kamu yakin itu anak saya?”
Queen terperangah. Ia merasa kesal, marah, dan kecewa bercampur aduk di dalam hatinya pada Daniel yang dengan tega bertanya seperti itu kepada Queen, padahal Daniel tau kalau dia adalah pria pertama Queen.
“Kamu tau kan, kamu pria pertama saya.” Jawabnya menatap kesal Daniel.
“Tapi bisa sajakan kamu melakukannya dengan pria lain setelah malam itu.”
Mata Queen melebar dan tubuhnya menegang.
“Sekali lagi saya tegaskan, bayi yang saya kandung ini adalah anak kamu dan tidak ada pria lain yang menyentuh saya selain kamu!” tegas Queen penuh emosi.
“Maafkan saya. Saya harus menanyakannya untuk memastikan kalau bayi itu memang milik saya. Saya tidak ber....”
“Bayi ini milik kamu.” Sela Queen terbakar emosi.
Mereka berdua kembali terdiam sambil sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Baiklah, kita akan menikah secepatnya.” Daniel membuka suara memberikan solusinya.
“Saya tidak ingin menikah.”
Dahi Daniel berkerut, “Kamu tidak mau menikah?”
Queen menggeleng lemah.
“Jadi, maksud kamu. Kamu ingin menggu....”
Lagi-lagi Queen memotong perkataan Daniel, “Saya tidak sekeji itu. Kalau dari awal saya ingin menggugurkan bayi ini. Saya tidak akan menemui kamu.”
“Saya...saya hanya ingin kamu mengetahui saya sedang mengandung bayi kamu, meminta kamu untuk membiayai saya sampai melahirkan dan setelah itu bayi ini akan menjadi milik kamu.” Jelasnya.
“Maksud kamu, kamu tidak mau mengasuhnya?”
“Tidak.” Sambil menggelengkan kepalanya.
“Saya tidak ingin menikah apa lagi punya anak.” Jawab Queen tegas.
Daniel tertegun mendengar perkataan Queen.
Queen tidak hidup dalam keluarga yang bahagia, ia sudah lama meninggalkan keluarganya untuk hidup mandiri. Queen bekerja keras demi memenuhi kebutuhan hidupnya dan tidak berminat menjalin hubungan dengan pria manapun setelah pria yang ia cintai memilih wanita lain. Selain itu tujuan hidup Queen hanya satu yaitu, bisa hidup mandiri dari hasil kerja kerasnya sendiri.
“Tapi bukannya lebih baik kita menikah? Kamu tidak akan jadi bahan pembicaraan orang-orang yang ada disekitarmu kalau kamu hamil karena memiliki suami.”
“Saya berencana untuk keluar dari tempat kerja saya dan pindah dilingkungan yang baru untuk menghindari gosip, itulah kenapa saya meminta kamu membiayai saya sampai melahirkan karena saya butuh dana untuk itu.”
Daniel terdiam mencerna perkataan Queen, “Baiklah saya setuju dengan syarat yang kamu minta, tetapi saya ingin membuat pernyataan hitam diatas putih. Apa kamu keberatan?”
“Tidak, silahkan kalau kamu mau begitu.”
“Baiklah saya akan menghubungi kamu kalau semuanya sudah siap.”
Queen mengangguk.
Daniel tampak merenungkan sesuatu.
Hening lagi-lagi menerpa keduanya.
Lalu Queen mengangkat tangannya memanggil pelayan dan memberikan sejumlah uang untuk membayar makanannya. Daniel masih terdiam memikirkan perkataan Queen yang tidak ingin mengasuh bayi mereka, perasaan sedih mulai merundung hati Daniel. Anaknya akan bernasip sama dengannya, sama-sama tidak diinginkan oleh ibu mereka.
“Mmm... itu saja yang ingin saya sampaikan.”
Perkataan Queen menyadarkan Daniel dari lamunannya.
“Maaf saya harus segera pergi.” Lanjut Queen dan beranjak dari kursinya.
“Saya pamit.”
“Hati-hati dijalan Queen, saya akan segera menghubungimu.” Daniel memang tidak menawarkan untuk mengantarkan Queen pulang. Selain Queen pasti menolak tawarannya, Daniel bisa merasakan Queen tidak nyaman dengannya. Ya itu hal yang wajar mengingat mereka dipertemukan dengan kejadian seperti ini. Selain itu, sikap penolakan Queen pada bayinya mampu membuat Daniel terguncang.
Queen mengangguk dan tersenyum tulus sambil beranjak pergi meninggalkan Daniel.