Our Baby

Our Baby
BAB 12



Pukul 6.30 pagi Queen keluar dari kamarnya, sambil sesekali melirik ke kamar Daniel. Lalu ia turun ke bawah menuju meja makan.


“Selamat pagi nyonya.” Sapa ibu Mita melihat Queen turun dari tangga.


“Pagi bu.”


“Nyonya ingin sarapan di bawah atau saya antarkan ke kamar?”


“Daniel sudah berangkat ya bu?” tanya Queen.


“Belum nyonya, sebentar lagi tuan turun untuk sarapan.”


“Oh, kalau begitu saya sarapan di bawah juga ya bu.”


“Mari, silahkan duduk nyonya.” Ibu Mita menarik kursi dan mempersilahkan Queen duduk.


“Anda ingin sarapan apa pagi ini?”


“Saya ingin smoothie, dengan toping nanas, kiwi, strawberry dan Blueberry di atasnya ya bu.”


“Baik akan saya siapakan nyonya.”


“Terima kasih bu.”


“Sama-sama nyonya.”


Ibu Mita ke dapur untuk menyiapakan sarapan Queen. Setelah ibu Mita ke dapur, seorang pelayan datang mengantarkan teh mint untuk Queen minum dulu. Tidak perlu menunggu lama, beberapa menit kemudian smoothie Queen siap.


“Wah, terima kasih bu.” Ucap Queen sumringah.


“Sama-sama nyonya, selamat menikmati.”


Queen mulai menyendokkan Smoothie dengan toping blueberry dan memasukkannya ke mulut, langsung rasa segar dari buah itu terasa di dalam mulut Queen.


“Queen...”


Mendengar namanya di panggil, Queen refleks menoleh ke arah suara tersebut. Dilihatnya Daniel turun dari tangga bagaikan model yang sedang turun dari atas panggung.


Ya Tuhan, Daniel tampan sekali.


“Senang sekali melihat kamu pagi ini Queen.” Daniel tersenyum kearah Queen.


Pelayan menarik kursi yang ada di depan Queen dan Daniel segera duduk. Lalu para pelayan mengantarkan sarapan Daniel, kopi hitam dan pancake.


“Bagaimana kabarmu pagi ini Queen? Apa kamu merasa mual?” tanya Daniel.


“Saya baik-baik saja pagi ini. Entahlah, tapi pagi ini saya tidak merasakan mual sama sekali.” Jawab Queen.


“Oh ya, kabar baik kalau dia tidak rewel pagi ini.” Daniel tersenyum mendengar perkataan Queen.


Dia? maksud Daniel anaknya? batin Queen. Tiba-tiba Queen juga ikut tersenyum memikirkan bayi mereka.


“Queen kamu tidak lupa kan, kalau  nanti sore kita ada jadwal check-up ke dokter kandungan?” tanya Daniel sambil memotong pancakenya.


“Ya saya ingat.” Sejujurnya Queen lupa. Melihat Daniel yang mengingat jadwal check-upnya, membuat Queen tersentuh.


Setelah sarapan bersama Queen mengantarkan Daniel ke depan.


“Hati-hati di jalan Daniel.”


“Ya Queen, sampai ketemu nanti sore.” Setelah melihat mobil Daniel keluar dari gerbang rumah, baru Queen masuk ke dalam.


~


Di dalam mobil, Daniel tersenyum senang karena pagi ini ia bisa melihat dan sarapan bersama Queen. Ingatan Daniel kembali ke tadi malam setelah mengantar Queen ke kamarnya, Daniel tidak langsung kembali ke kamarnya. Tetapi Daniel di bantu para pelayan menyiapkan kejutan dua bulanan Queen, berupa kamar bayi mereka. Daniel membayangkan ekspresi Queen melihat kamar bayi mereka nanti setelah pulang dari dokter kandungan.


~


Queen sudah sampai di kantor Daniel. Ternyata Daniel sudah menunggu Queen di lobi kantor. Daniel menyambut Queen dengan senyum dan membukakan pintu mobil untuk Queen turun.


“Queen, kamu sudah makan siang?”


“Kalau begitu kita makan siang dula ya.” Queen mengangguk.


Mereka pergi ke sebuah restoran jepang untuk makan siang, setelah itu mampir ke supermarket sebelum ke dokter kandungan untuk membeli susu hamil Queen, cemilan dan barang yang di butuhkan lainnya. Saat mereka sampai di rak susu, mereka baru sadar kalau tidak mengambil keranjang belanjaan.


“Kamu tunggu di sini ya, saya akan segera kembali.” Queen mengangguk.


Setelah Daniel pergi mengambil keranjang belanjaan, Queen memilih susu dan mengambil susu hamil dengan rasa mangga dan coklat.


“Queen.”


Queen langsung menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Queen terkejut ternyata itu Melati. Melati adalah istri dari mantan pacar Queen dan di sebelah Melati berdiri ada, Dimas mantan Queen. Queen mematung melihat pasangan itu. Queen melirik kearah pasangan itu dengan canggung. Dilihatnya perut Melati yang membesar.


“Hai Queen.” Sapa Dimas canggung.


“Hai Dim.” Jawab Queen yang tidak kalah canggungnya, sambil melirik kearah Melati yang bergelayut manja pada Dimas.


“Apa kabar Queen?” tanya Melati dengan nada yang di buat-buat sok akrab.


“Sehat. Sudah berapa bulan kandungan kamu Mel?” Queen basa-basi.


“Sudah masuk sembilan bulan, ya kan sayang.” Jawab melati yang masih tetap bergelayut pada Dimas.


“Wah, selamat ya buat kalian.” Queen tertawa sumbang.


Queen mulai merasa tidak enak terjebak di dalam situasi ini. Melati memperhatikan grak-gerik Queen itu, lalu mata Melati tertuju ke arah susu yang di pegang oleh Queen dari tadi, dan tiba-tiba Melati menarik kesimpulan.


“Kamu hamil ya?” tanya Melati.


Queen terkejut dengan pertanyaan melati dan bingung harus menjawab apa, Queen hanya terdiam. Dimas yang terkejut dengan ucapan Melati, langsung melihat ke arah Queen dan memperhatikan Queen baik-baik.


Queen masih diam dan tidak menjawab pertanyaan Melati. Lalu karena penasaran Dimas mulai memberanikan diri bertanya.


“Queen kamu hamil?” tanya Dimas pelan.


Queen menatap ke arah Dimas dan mata mereka bertemu. Ada gejolak di hati Queen yang tidak bisa di jelaskan saat melihat Dimas.


“Kamu hamil?” tanya Dimas lagi karena Queen belum menjawab pertanyaannya tadi.


Queen mengangguk pelan.


Dimas dan Melati terpaku melihat Queen yang mengangguk.


“Tapi kamu kan belum menikah.” Celetuk Melati. Queen hanya bisa diam mendengar pernyataan Melati.


“Atau jangan-jangan kamu hamil di luar nikah.” Dengan nada yang melecehkan.


“Kamu bicara apa Mel. Queen itu wanita baik-baik.” Ucap Dimas yang tidak terima Queen disudutkan istrinya.


“Buktinya dia tidak membantah kalau dia hamil di luar nikah. Itu yang kamu bilang wanita baik-baik.” Ucap Melati dengan nada mencemooh.


Queen benar-benar kehilangan suaranya dan hanya bisa berdiri diam, tubuhnya seakan tidak bisa bergerak lagi.


“Jaga ucapan kamu Melati!” bentak Dimas, geram dengan sikap Melati yang merendahkan Queen.


“Oh, jadi kamu lebih belaian mantan kamu di banding aku. Atau jangan-jangan kamu masih cinta sama perempuan ini.” Nada suara Melati mulai meninggi.


Tubuh Queen mulai gemetar mendengar kata-kata melati. Ia ingin segera pergi dari sini tapi kakinya tidak bisa bergerak. Tolong keluarkan aku dari sini, benak Queen.


“Maafkan saya meninggalkan kamu Queen.” Daniel merangkul Queen.


Dimas dan melati terdiam melihat Daniel yang tiba-tiba datang dan berdiri di samping Queen.


Lalu Daniel menatap tajam kearah Melati.


“Maafkan saya sebelumnya. Tetapi anda sebagai seorang wanita yang juga lagi hamil, harusnya lebih mengerti terhadap perasaan wanita lain dan tidak menuduhnya dengan kata-kata kasar anda.” Tegas Daniel.


Daniel merasakan tubuh Queen yang lemas, langsung menggendong Queen dan pergi meninggalkan Dimas dan Melati.