
Aku terdiam saat Jessi bahkan tidak menoleh kearahku waktu aku mencoba duduk disampingnya. Dina yang tampaknya paham akan keadaan langsung pergi ke kursi depan, bergabung dengan Bagas, Arlan, dan Agatha.
" Jess, gue minta maaf"
Tapi dia tak menggubrisku sama sekali. Dia malah sibuk dengan ponselnya, hanya scrolling pesan-pesan lama.
" Gue malu, Jess. Gue malu sama diri gue sendiri. Bukannya gue gak percaya sama lo"
Mataku mulai memanas. Mungkin dia akan menganggap ini airmata buaya, tapi aku benar-benar sedih kalau Jessi mendiamkanku seperti ini.
" Jessi... maafin gue"
Aku menggoyangkan lengan Jessi tapi dia malah menepisnya. Aku dapat dengan jelas melihat matanya yang juga berkaca-kaca.
" Maafin gue..."
Jessi menoleh kearahku.
" Kalo lo gue maafin, lo mau ceritain semua?" Tanya Jessi dengan suaranya yang menahan tangis.
Aku dengan cepat menganggukkan kepalaku.
" Kalo gue maafin, lo janji gak bakal menyembunyikan beban lo sendirian?"
Lagi-lagi aku mengangguk.
Tiba-tiba Jessi langsung menarikku dalam pelukannya.
" Gue khawatir sama lo, Aluna. Lo gak apa-apa kan? Lo masih semangat hidup kan? Gue sedih gue gak ada buat lo saat lo punya masalah seberat ini. Gue merasa bersalah karena gue gak ada buat lo. Gue malah terlalu sibuk sama pacar gue dan gak memperhatikan teman gue sendiri" Ucap Jessi sambil menangis.
Aku juga tidak bisa menahan untuk tidak terisak.
" Maafin gue…"
" Ih kalian..."
Dina juga menangis dan tiba-tiba ikut memeluk kita berdua. Memang benar, meminta maaf adalah hal yang paling ampuh untuk mengobati kerenggangan.
" Hey jangan main teletubies di belakang. Tristan anak kelas sebelah keracunan, sekarang kritis. Baru aja dibawa ambulans"
Suara Arlan membuatku membeku seketika.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aku panik sepanik-paniknya saat mendengar berita soal Tristan yang keracunan. Memang dia makan apa sih?
Akhirnya aku, Dina, dan Jessi memutuskan cabut dari kelas dan buru-buru berangkat menuju rumah sakit tempat Tristan dirawat.
Badanku benar-benar lemas. Kemarin sudah Sebastian, sekarang Tristan. Kenapa semua lelaki yang aku kenal ada yang mencelakakan? Apakah aku pembawa sial?
Saat sampai rumah sakit, kami bertiga buru-buru berjalan cepat menuju resepsionis rumah sakit untuk menanyakan dimana kamar Tristan.
Setelah menadapatkan informasi ruangannya, kami bertiga berlari lagi. Untung saja Tristan boleh dijenguk.
Aku dan Dina memasuki kamar itu dan melihat Tristan yang tertidur lemah. Rasanya aneh melihat Tristan sakit seperti ini, sakit terparah dia hanya pilek.
" Tristan..."
Aku memegang tangan Tristan. Tampaknya dia masih belum sadarkan diri. Tak lama ada dokter masuk mengecek keadaan Tristan.
" Dokter, dia keracunan apa?" Tanya Dina. Aku pun menanti penjelasan dari dokter tersebut.
" Gramoxone. Racun rumput"
" Hah?"
" Untung saja dia buru-buru dibawa kesini. Kalau telat sedikit lagi, udah fatal"
Kami bertiga lemas seketika mendengarnya. Tristan berniat bunuh diri?
" Saya rasa ini bukan percobaan bunuh diri. Saya menemukan kandungan kopi juga. Mungkin ada yang coba meracuni pasien"
Tubuhku merinding seketika. Rasanya geram sekaligus benci.
Siapa sih pelakunya?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aku pamit pulang setelah orang tua Tristan datang. Tristan belum juga sadarkan diri.
Akhirnya aku, Dina, dan Jessi memutuskan untuk makan di kantin rumah sakit. Kami bertiga memang belum makan siang dan perutku sudah meraung-raung.
Sembari memakan teriyaki, aku menceritakan segala kejadian dari awal sampai kejadian yang terakhir ini dengan detail. Mereka semua menutup mulut mereka tak percaya.
" Aluna. Ini level tinggi dari creepy. Lo gak aman sendirian, Aluna" Ujar Jessi yang tampak sekali terkejutnya.
" Gue gak ada petunjuk sama sekali soal siapa pelakunya. Sejauh yang gue tahu, yang menusuk Sebastian malam itu adalah cowok"
" Jadi pelakunya cowok?"
Aku mengangkat bahuku tidak yakin. Ya, bisa saja kan dia cuma kaki tangan?
" By the way, Aluna. Hubungan lo gimana sama Sebastian?" Tanya Jessi dan wajahku memerah seketika.
" Tuhkan! Mukanya merah, kalian ada apa?"
Aku menggigit jariku, ragu untuk menceritakannya karena aku sendiri juga bingung kita itu apa.
" Gak ada apa-apa..."
Mereka menatapku tidak puas.
" Ah, bohong. Gak mungkin! Gue emang sebel sama Sebastian, tapi gue tahu banget kalian ada apa-apa" Sungut Dina yang dibalas anggukan tanda setuju oleh Jessi.
Jessi dan Dina langsung teriak karena keterkejutan mereka.
" Jadi maksudnya lo gantungin dia? Aluna, for me, it's a big yes!"
Jessi berbicara dengan semangat. Aku hanya mampu berdecak. Mereka tidak tahu Sebastian itu tidak sebaik kelihatannya. Jessi dan Dina hanya tahu kalau Sebastian itu boyfriendable.
" Akhirnya dia paham apa yang harus dia lakukan. Merinding gue dengernya, Na. Gak nyangka lo bentar lagi nikah" Ujar Dina.
Aku paham betul Dina marah dengan Sebastian karena Sebastian pada awalnya tidak bertanggung jawab. Tapi aku lebih paham lagi kalau dia mendukung aku dengan Sebastian sejak lama.
" Ih! Gue bahkan belum terima! Lagian pernikahan gak segampang itu. Banyak yang harus dipikirin, mulai dari perasaan, keluarga, biaya, masa depan, dan lain-lain"
" Uuuuhh" Dina dan Jessi mengejekku, membuatku mau tak mau mendengus.
" Tapi Aluna, lo suka kan sama dia?"
Pertanyaan Dina membuatku terdiam.
Aku tidak tahu.
Aku terkejut saat mendengar suara sendok terjatuh. Aku menoleh kebelakang dan terkejut saat mendapati orang yang aku kenal.
" Loh? Bianca? Ngapain lo disini?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aku menatap keranjang buah di tanganku. Lalu aku menatap pintu besar di hadapanku. Aku ragu-ragu untuk mengetuk pintu itu.
" Aluna"
Aku nyaris berteriak saat mendengar suara Sebastian dari speaker. Aku hampir lupa kalau rumahnya ada fitur semacam itu.
Aku memberanikan diri mengetuk pintu dan tak lama pintu tersebut dibuka oleh Sebastian.
Dengan cepat aku menyodorkan keranjang buah-buahan itu padanya. Ini semua ide Dina dan Jessi, yang menyuruhku menjenguk Sebastian di rumahnya. Dan bodohnya aku sangat setuju. Aku tidak menyangka jadinya akan se-awkward dan sememalukan ini. Terlebih teringat kejadian di rumah sakit.
" Selamat makan!"
Aku berbalik dan hendak kabur pergi namun Sebastian menahan bahuku.
" Mau kemana lo? Ayo masuk"
Jadi berakhirlah aku berjalan mengikuti Sebastian dari belakang. Ia menaruh buah-buahanku di meja dapur. Dia menyuruhku untuk duduk di kursi depan countertop.
Gila, dapurnya sangat mewah, aku tidak bohong.
" Makanan favorite lo apa?" Tanya Sebastian dan aku berpikir keras.
Tentu saja aku sangat suka bubur ayam, soto ayam, nasi goreng, sate padang. Namun tentu saja makanan seperti itu tidak ada di sini. Dan aku yakin Sebastian tidak bisa memasaknya.
" Umm...Aglio Olio?"
" Oke, wait"
Sebastian nampak mengeluarkan bahan-bahan dari lemari dan kulkas. Aku tertawa.
" Lo bisa masak?" Tanyaku tak percaya. Sebastian menoleh dan mengeluarkan seringaiannya.
" Lihat aja"
Aku memperhatikan Sebastian yang entah melakukan apa karena aku benar-benar clueless soal memasak. Selagi merebus pasta, ia membuat saus yang aku tidak paham sama sekali.
Perutku mulai meraung saat mencium aroma spaghetti buatan Sebastian. Setelah lumayan lama menunggu, Sebastian meletakkan masakannya di meja, membuat mataku berbinar. Gila! Ini dia yang memasak?
" Woah!"
Aku menatapnya takjub dan bertepuk tangan saking terkejutnya. Sebastian tersenyum dan duduk di sebelahku.
" Buruan dimakan"
Sebastian mengambil garpu satu lagi untuk dirinya sendiri. Aku menggulung spaghetti tersebut dan berbinar saat rasa itu menyentuh lidahku.
" Woah"
Hanya kata-kata itu yang dapat terlontar dari mulutku. Sebastian tertawa dan ikut memakan masakannya sendiri. Aku terlalu fokus makan sampai tak menyadari kalau spaghettinya sudah hampir habis. Rasanya sedih sekali karena aku benar-benar suka, padahal aku sudah kenyang.
Aku menyodorkan gulungan terakhir kepada Sebastian, membuat pipi lelaki itu membulat karena penuhnya isi mulutnya. Aku yang juga tengah mengunyah menatap gemas lelaki itu. Rasanya ingin mencubit pipinya. Namun aku tahan-tahan, takut dia tersedak.
Tapi tidak tahan, aku sangat gemas.
Jadi aku mengecup super kilat pipinya yang sedang menggembung.
Please, ini bukan kemauanku.
Pasti ini kemauan dedek bayi, kan? Mana mungkin aku mau mencium Sebastian kalau aku masih punya otak? Iya, ini salah hormonku. Pasti.
Dia menatapku terkejut namun aku bisa lihat dari matanya kalau dia tersenyum.
Aluna, kayaknya lo udah kehilangan akal dan urat malu lo.
Tapi sekali lagi, ini bukan mau aku. Ini mau si jabang bayi.
Setelah selesai makan, Sebastian mencuci piring sementara aku berjalan mengitari rumahnya. Dia menyuruhku untuk menunggu di kamarnya dan selagi berjalan menuju kamarnya, aku melihat ke buffet dan tersenyum kecil saat melihat foto-foto masa kecil Sebastian.
Aku berdecak kagum saat memasuki kamarnya.
Woah.
Benar-benar konglomerat. Aku menghidupkan TV dan tidur di ranjang empuk milik Sebastian. Baru sebentar menonton, aku menguap dan mataku mulai terasa berat.
Aku samar-samar melihat apa yang terjadi setelahnya. Di pengelihatan aku yang mulai mengantuk ini aku melihat Sebastian masuk ke dalam kamar untuk menyelimutiku, dan aku tertidur.