
Queen bangun dengan kepala pusing dan perut mual, segera Queen menuju ke kamar mandi. Tertunduk di atas wastafel namun tidak ada yang keluar dari perut Queen, setelah mualnya berkurang Queen membasuh mulutnya lalu terpakau melihat wajahnya di cermin. Matanya sembab dan hidungnya yang merah karena menangis semalaman, ia teringat kembali kejadian semalam. Cepat-cepat Queen menggelengkan kepalanya, ia tidak mau memikirkan lagi kejadian semalam. Lalu Queen mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah keluar dari kamar mandi Queen mendengar suara mobil Daniel, Queen berjalan kearah jendela kamarnya dan membuka sedikit tirai kamar. Dari atas kamarnya Queen dapat melihat Daniel berangkat kerja. Baguslah kalau Daniel sudah pergi, Queen belum siap untuk bertemu dengan Daniel saat ini. Setelah mobil Daniel keluar dari gerbang rumah, suara ketukan dipintu kamar Queen terdengar. Dengan segera Queen mengikat tali kimono satinnya dan berjalan ke arah pintu.
“Maafkan saya telah membangunkan nyonya, saya sangat khawatir karena semalam anda melewatkan makan malam. Saya berpikir anda sangat kelelahan jadi saya tidak berani membangunkan anda untuk makan malam.” ucap ibu Mita begitu Queen membuka pintu kamarnya, dibalik kacamata ibu Mita Queen dapat melihat wanita itu mengkhawatirkannya membuat Queen tersentuh.
“Silahkan masuk bu.” Dengan tersenyum Queen mempersilahkan ibu Mita masuk.
Queen membantu ibu Mita meletakkan sarapan Queen di meja. Saat membuka penutup makanan yang di pegangnya, mata Queen melebar senang.
“Wah, bubur ayam jamur.” Ucapnya senang, lalu segera duduk dan mengambil sendok.
“Ibu Mita ini enak sekali.” Saat bubur itu masuk ke dalam mulutnya.
“Anda suka?” tanya ibu Mita sambil tersenyum memperhatikan Queen.
Queen tidak menjawab, ia hanya mengangguk.
Ibu Mita memperhatikan wajah Queen, mata Queen tampak sembab dan hidungnya memerah.
“Apa nyonya sedang sakit?” tanyanya khawatir.
Queen menghentikan makannya mendengar pertanyaan ibu Mita tersebut, lalu Queen mendongakkan kepalanya menatap ibu Mita.
“Tidak bu, kenapa?”
“Anda terlihat sedang tidak sehat.”
Queen memegang wajahnya, ia ingat kalau matanya masih sembab dan hidungnya yang memerah.
“Ah, saya hanya sedikit mual pagi ini.” Jawab Queen sambil tertunduk.
“Itu adalah hal bisa nyonya, ini saya bawakan teh mint. Teh ini akan meredakan mual anda.” Ucap ibu Mita sambil menuangkan air hangat ke dalam gelas yang berisi daun mint dan jeruk itu. “Terima kasih bu.” Queen melanjutkan makannya. “Sebenarnya teh ini tuan Daniel yang menyiapkannya dengan biskuit asin.....”
Daniel! Queen menegang mendengar nama pria itu lagi.
“...Tuan ingin mengantarkannya sendiri ke kamar nyonya pagi tadi, untuk meredakan mual anda di pagi hari. Tapi karena anda belum bangun sementara tuan harus segera berangkat, jadinya tuan meminta saya yang mengantarkannya setelah anda bangun.” Lanjut ibu Mita.
Mual di pagi hari! Yah tentu saja orang lain pasti tau Queen hamil. Queen adalah orang yang cuek tapi entah kenapa semenjak hamil dia sedikit sensitif.
Ibu Mita melihat perubahan raut wajah Queen menjadi murung.
“Anda tidak apa-apa nyonya?” menyadarkan Queen dari lamunannya.
“Ibu tau saya hamil?” Bodoh! Tentu saja semua orang dirumah ini tau kalau kamu hamil. Queen merutuki dirinya yang bertanya begitu.
Ibu Mita menghela napasnya, menarik kursi dan duduk disebelah Queen sambil menatap Queen sendu.
“Tentu saja saya tau...” dilihatnya Queen diam tertunduk.
“Apa ada perkataan saya yang membuat anda tersinggung?” tanya ibu Mita dengan nada pelan dan hati-hati.
Queen menggeleng. Semua orang dirumah ini pasti berpikir Queen adalah wanita murahan yang merebut kekasih tuan mereka, lalu menjebaknya agar hamil anak sang tuan untuk mengambil hartanya saja.
“Dirumah ini tidak ada yang berpikir buruk tentang anda nyonya.” Ibu Mita seperti mengetahui apa yang Queen pikirkan.
Queen menatap ibu Mita.
“Kami para pelayan rumah ini sedikitpun tidak berani mencampuri urusan pribadi majikan kami. Tapi kalau anda merasa tidak nyaman tinggal disini, kami akan merasa sangat bersalah karena tidak bisa melayani anda dengan baik sehingga anda merasa sedih.”
Queen menunduk diam mendengarkan perkataan ibu Mita.
Ibu Mita mengalihkan pandangannya dari Queen dan menatap lurus ke depan.
“Tuan Daniel sudah saya anggap seperti anak saya sendiri nyonya....”
Queen melihat kearah ibu Mita.
“Tuan adalah anak yang baik, ia selalu menghargai orang lain dan tidak membeda-bedakannya. Tuan Daniel adalah anak yang sangat cerdas, ceria dan mudah bergaul. Sampai akhirnya....”
Ibu Mita mengambil napas berat dan matanya mulai kelabu.
“Di umur tuan Daniel yang ke tujuh belas tahun. Tuan Robin meninggal, saat itu tuan Daniel sangat terpukul. Tuan Daniel tidak memiliki siapa-siapa lagi selain tuan Robin. Belum selesai dengan kesedihannya, tuan Daniel harus mulai memikul tanggung jawab yang besar di perusahaan. Padahal tuan hanyalah seorang anak remaja yang harusnya bersenang-senang. Tapi tuan Daniel tidak mau menyerah, tuan Daniel mulai mempelajari bisnis sejak saat itu dan tidak pernah bergaul lagi dengan teman-temannya. Tuan Daniel tumbuh menjadi anak yang pendiam, tertutup, dan selalu gila kerja. Sampai akhirnya, beberapa minggu yang lalu tuan Daniel mengatakan kalau ada seorang wanita yang akan tinggal di rumah ini.”
Ibu Mita memutar duduknya ke arah Queen dan tersenyum.
“Tuan Daniel terlihat sangat bahagia saat mengatakan hal itu. Tentu saja kami para pelayan tidak berani bertanya. Kami juga ikut senang melihat tuan yang kembali seperti dulu lagi. Tuan Daniel bahkan ikut membantu kami mempersiapkan kamar nyonya ini.” Jelas ibu Mita dengan tersenyum bahagia.
Queen juga ikut tersenyum mendengar perkataan ibu Mita.
“Lalu, beberapa hari sebelum nyonya datang. Tuan Daniel mengumpulkan semua para pelayan rumah ini dan mengumumkan dengan bangganya dia akan menjadi seorang ayah.” Air mata bahagia ibu Mitapun mengalir.
“Tuan Daniel meminta kami agar tidak berbicara, berpikir dan bergosip yang tidak-tidak tentang nyonya. Tuan Daniel tidak ingin ada hal sekecil apapun yang membuat anda merasa tidak nyaman di rumah ini. Tentu saja kami akan melayani anda dengan baik tanpa di minta, apapun hubungan anda dengan tuan Daniel.”
“Kami para pelayan juga sangat senang mengetahui tuan akan segera menjadi seorang ayah. Senang sekali rasanya bisa melihat tuan Daniel kembali tersenyum. Anda tau, tuan Daniel bahkan membeli banyak sekali buku-buku tentang kehamilan dan bayi.” Ucap ibu Mita sambil tertawa.
Ibu Mita menghela napas.
“Maka dari itu anda tidak boleh merasa sedih dengan keberadaan anda di rumah ini. Memang bukan urusan saya untuk mengetahui apa yang terjadi antara tuan dan nyonya, tapi saya mohon anda tidak berpikir yang tidak-tidak. Yang dapat membuat anda stres dan akan berdampak buruk pada kandungan anda.” Pinta ibu Mita tulus.
Queen tersenyum dan mengangguk.
Setelah mendengar cerita ibu Mita, sedikit membangkitkan semangat Queen.
Ibu Mita seperti teringat akan sesuatu dan segera bangkit dari kursinya.
“Maafkan saya nyonya, saya terlalu lama mengobrol dengan anda. Saya harus segera kembali ke dapur untuk mencatat bahan-bahan apa saja yang habis lalu segera membelinya. Selamat menikmati sarapan anda nyonya, saya permisi.”
“Ibu.” Panggil Queen.
Ibu Mita berbalik ke arah Queen.
“Ya nyonya?”
Ibu Mita terkejut dengan permintaan Queen.
“Tapi berbelanja membutuhkan waktu yang tidak sebentar nyonya, saya takut anda akan kelelahan.”
“Saya sangat bosan di kamar terus bu, saya janji kalau saya mulai lelah saya akan memberitahu ibu dan segera mencari tempat istirahat. Pleasee bu.”
Ibu Mita terdiam sebentar.
“Baiklah.” Ucapnya sambil tersenyum.
“Tapi anda harus menghabiskan sarapan anda dulu, tidak perlu terburu-buru nyonya. Saya juga masih harus mencatat keperluan yang harus di beli.”
Queen mengangguk senang.
“Saya akan menunggu anda di bawah. Saya permisi dulu nyonya.”
“Ya bu.” Queen tersenyum sambil melanjutkan makannya.
~
Setelah menyelesaikan sarapannya, ponsel Queen berbunyi. Segera Queen bangkit dari kursi menuju ranjang dan mengambil ponselnya, dilihatnya nama Daniel muncul pada layar ponsel. Queen mematung beberapa detik lalu mulai mengatur napasnya dan mengangkat panggilan dari Daniel.
“Halo.”
“Queen, kamu sudah bangun?”
Tentu saja aku sudah bangun, batin Queen.
“Bagaimana kabar kamu pagi ini? Apa kamu masih mual? Kamu sudah sarapan? Oh, iya. Apa ibu Mita sudah mengantarkan teh mint untuk meredakan mualmu?”
Queen menghela napasnya.
“Saya baik. Sudah tidak mual. Baru selesai sarapan. Sudah minum teh mint.”
“Syukur lah, saya sangat khawatir karena kamu semalam melewatkan makan malam dan kamu juga tidak bangun tengah malam untuk makan. Kamu semalam pasti sangat kelelahan ya? Maafkan saya Queen kalau saja saya tidak mengajak kam...”
Queen memotong ucapan Daniel, karena bukan itu alasan ia tidak makan malam.
“Bukan salah kamu Daniel, ini cuma hal yang biasa di alami ibu hamil. Menjadi lebih sering tidur. Saya justru akan sangat bosan di rumah ini kalau kamu tidak mengajak saya keluar semalam.”
“Apa tinggal di rumah saya sangat membosankan Queen?”
“Tidak Daniel, ini hanya karena saya terbiasa memiliki kegiatan.”
“Maafkan saya Queen.” Ucapnya penuh penyesalan.
Queen terdiam.
“Tidak apa-apa Daniel.”
“Maaf Daniel, apa ada lagi yang ingin kamu sampaikan? saya mau bersiap-siap.” lanjut Queen.
“Kamu mau pergi?”
“Iya, saya dan ibu Mita mau pergi ke pasar.”
“Ke pasar?” tanya Daniel dengan kening berkerut.
Queen mulai khawatir Daniel tidak mengizinkannya. Tapi. Siapa Daniel? sampai tidak boleh mengizinkannya pergi.
“Iya, saya bosan di rumah Daniel. Jadi saya ingin menemani ibu Mita membeli bahan-bahan dapur.”
Hening.
“Jangan sampai membuatmu kelelahan Queen.”
“Ya.”
Daniel menghela napasnya.
“Kalau begitu sempai bertemu nanti sore Queen.”
“Ya Daniel.”
Setelah mematikan
panggilan dari Daniel. Queen menatap dirinya di cermin. Queen harus sadar, semua yang Daniel berikan kepadanya itu semata-mata untuk anaknya yang sedang Queen kandung. Ia dan Daniel bukan siapa-siapa, dan setelah bayi ini lahir maka mereka akan kembali ke dunianya masing-masing. ‘Maka dari itu nikmatilah selagi bisa,’ ucap Queen pada dirinya sendiri. Lalu Queen masuk kedalam kamar mandi. Sekitar lima belas menit kemudian Queen selesai membersihkan diri dan langsung membuka lemari untuk memilih pakaian apa yang akan di kenakannya.
Setelah itu, Queen segera mengenakan pakaiannya dan berbandan. Lalu turun kebawah untuk menemui ibu Mita. Ternyata ibu Mita sudah berdiri di teras rumah dengan pak Selamet yang siap mengantar mereka pergi. Senyum Queen pun mengembang.
“Mari kita berangkat bu.”
Ibu Mita tersenyum dan mengangguk.
Sekitar 30 menit perjalanan akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Queen turun dari mobil dan melihat banyak sekali buah-buahan segar yang dijajakan dipasar itu, tiba-tiba rasa asam buah-buahan itu muncul di lidah Queen.
“Mari nyonya kita ke toko buah yang itu dan nyonya bisa memilih sendiri buah yang anda suka.”
~
Setelah pembicaraannya via telpon dengan Queen selesai, Daniel tampak murung. Jauh di hati Daniel, ia sangat merasa bersalah kepada Queen. Kalau saja ia bisa bersikap lebih dewasa dan profesional dalam menghadapi masalah perasaannya waktu itu dan tidak pergi ke bar. Mungkin sekarang Queen masih menjadi gadis suci yang penuh semangat dan canda tawa menikmati hidupnya, tidak harus berhenti dari pekerjaannya, tidak harus pindah rumah untuk menghindari gosip karena dia hamil diluar nikah.
Daniel menghembuskan napas berat dan mengusapkan kedua telapak tangan ke wajahnya yang penuh sesalnya dan dengan mata yang berkaca-kaca, Daniel menarik kesimpulan. Karena kecerobohannya ia telah merusak hidup Queen!!!. Dan dengan tidak tau dirinya, Daniel malah mulai menikmati keberadaan Queen di sisinya. Bahkan kehadiran Laura yang dulu ia pikir adalah wanita yang sangat ia cintai, nyatanya ke hadiran Laura semalam malah membuatnya muak dengan wanita itu. Daniel benar-benar bingung dengan dirinya sekarang.
“Pak Daniel kita sudah sampai.” Supirnya menyadarkan Daniel, lalu ia mengusapkan kembali tangan ke wajahnya, menarik napas dan segera turun dari mobil.
“Silahkan pak.” Mempersilahkan Daniel turun.
“Terima kasih.” Ucapnya sambil berlalu masuk ke dalam gedung kantornya.