
Daniel membuka matanya, Dilihatnya seorang wanita yang sedang tidur di sampingnya. Daniel diam sejenak memandangi wajah cantik wanita itu. Wajahnya yang halus, bulu mata yang lebat dan lentik, hidungnya yang mancung, dan bibirnya merah muda. Wanita itu sedang tertidur dengan damainya.
Apa ia sedang bermimpi? Lalu Daniel seperti tersadar ini bukan tempat tidurnya. Di liriknya lagi wanita itu, dan matanya melebar.
Queen!
Daniel tidur bersama Queen!
Daniel langsung bangkit dari posisi tidurnya, namun segera ia merasakan pusing yang sangat berat di kepalanya. Daniel menahan suara rintihannya, agar tidak membangunkan Queen. Pelan-pelan Daniel turun dari ranjang dan keluar dari kamar Queen.
Daniel buru-buru masuk ke kamarnya, sesampainya di kamar. Daniel duduk di atas tempat tidurnya sambil *** rambutnya. Apa yang telah ia lakukan semalam?
Lalu Daniel mulai mengingat-ngingat apa yang terjadi semalam. Setelah ia bangun dari mimpinya, Daniel langsung mengambil minuman beralkohol miliknya. Mulai meminumnya untuk menghilangkan suasana hatinya yang buruk. Setelah itu Daniel tidak mengingat apa-apa lagi sampai ia bangun sudah berada di ranjang Queen. Apa ia melakukan sesuatu yang buruk lagi pada Queen semalam? Daniel memasukkan tangannya ke dalam saku jas untuk mengambil sesuatu, tapi ia tidak menemukan apa yang ia cari. Daniel mencari-mencari lagi di kantong celananya tetapi ia tetap tidak menemukan benda itu. Nyeri di kepala Daniel tiba-tiba menyerang.
Kilasan ingatan ia memberikan sepatu bayi itu kepada Queen muncul di kepalanya. Lalu satu per satu kejadian semalam mulai muncul, Daniel mengusap wajahnya. Daniel menghembuskan napas berat, ia harus berbicara pada Queen nanti.
Ponsel Daniel bergetar, Daniel mengambil ponselnya dan melihat nama yang muncul di layar.
“Ada apa dev?” tanyanya begitu mengangkat panggilan dari sekertarisnya
itu.
“Selamat pagi pak, maafkan saya menghubungi anda pagi ini. Saya ingin mengingatkan anda, kalau ada rapat dengan Mr. Mario pagi ini jam 9 pak.”
“Bisa tolong kamu tunda dulu.”
“Maafkan saya pak, ini sudah ke tiga kalinya kita menunda rapat ini. Kalau kita harus menundanya lagi, saya takut pihak Mr. Mario akan membatalkan kerja sama dengan perusahaan kita pak.”
Daniel menghela napasnya “Baiklah saya akan segera berangkat.” Langsung mengakhiri panggilan itu.
Daniel harus bersiap-siap dan segera ke kantor. Setelah kurang lebih 30 menit Daniel selesai dan langsung buru-buru keluar kamar.
“Anda tidak sarapan dulu tuan?” Ibu Mita bertanya begitu melihat Daniel melewati ruang makan.
Daniel berhenti sebentar, “Tidak bu, saya buru-buru. Dan tolong siapkan sarapan untuk Queen di kamarnya. Katakan pada Queen saya tidak bisa menemaninya pagi ini karena ada rapat yang harus saya hadiri.” Ucap Daniel cepat.
“Baik tuan.”
~
Queen membuka matanya, dilihatnya Daniel sudah tidak ada lagi di sampingnya. Queen tersenyum mengingat kejadian semalam, Queen sangat tersentuh dengan perkataan tulus Daniel yang ternyata selama ini dia sangat memikirkan Queen.
Suara ketukan pintu menyadarkan Queen, lalu dilihatnya Ibu Mita masuk membawakan sarapan paginya. Sedikit kecewa karena ia pikir Daniel lah yang akan membawakan sarapan untuk Queen. Setelah itu Queen bangkit dari ranjang menuju meja di mana ibu Mita meletakkan sarapannya.
“Selamat pagi nyonya.” Ibu Mita berjalan kearah meja untuk meletakkan sarapan Queen.
“Selamat pagi bu.” Queen berjalan mendekat.
“Bagaimana keadaan nyonya pagi ini? Apa nyonya sudah merasa baikan?” tanya ibu Mita sambil menuangkan teh mint.
“Saya sudah merasa lebih baik hari ini bu.” Ucap Queen tersenyum sambil meminum teh mintnya.
“Syukurlah, saya sangat khawatir melihat keadaan anda beberapa hari ini.”
“Terima kasih ibu sudah mengkhawatirkan saya.” Ibu Mita dan Queen tersenyum.
“Nyonya, Tuan tadi pesan. Tuan tidak bisa menemani anda pagi ini karena tuan ada rapat yang harus tuan hadiri pagi ini.”
Queen diam sejenak, lalu menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada ibu Mita.
“Bu, boleh saya tanya sesuatu?”
Ibu Mita menoleh ke arah Queen, “Tentu saja nyonya.”
“Mengenai tuan Robin...” Queen diam sebentar melihat ke arah ibu Mita.
“Apa tuan Robin bukan ayah kandung Daniel.” Lanjutnya.
Ibu Mita menghela napasnya dan wajahnya berubah sedih.
“Tubuh tuan Daniel penuh luka dan lembam karena kekerasan yang di lakukan oleh tante tuan Daniel. Tuan Daniel sebelumnya tinggal bersama kakak dari ibu tuan Daniel, ibu tuan Daniel meninggalkan tuan dengan kakaknya karena ibu tuan Daniel sangat membenci tuan Daniel. Terlebih lagi karena tuan Daniel adalah anak dari hasil pemerkosaan. Lalu saat tuan Robin sedang ada tugas di luar kota, tidak sengaja tuan Robin melihat tante tuan Daniel sedang memukuli tuan Daniel yang masih anak-anak. Tidak terima melihat kejadian itu, tuan Robinpun membawa tuan Daniel dan menjadikannya anak angkat tuan Robin.” Queen terdiam mendengar cerita ibu Mita. Queen merasa sedih membayangkan Daniel kecil di perlalukan begitu kasar oleh keluarganya sendiri.
Ibu Mita melihat Queen melamun, “Nyonya tidak apa-apa?”
Queen tersadar dan melihat ke arah ibu Mita, “Saya tidak menyangka Daniel menerima perlakuan seperti itu dari keluarganya sendiri bu.” Queen sedih.
Ibu Mita memegang lengan Queen lembut, “Itu semua sudah menjadi masa lalu tuan nyonya. Dan dimasa depan saya yakin tuan Daniel akan sangat mencintai keluarganya nyonya.” Ucap ibu Mita dengan tersenyum meyakinkan.
~
Daniel berjalan turun dari mobil dengan melepaskan dasinya, ibu Mita segera mendatangi Daniel dan mengambil tas, jas, dan dasi Daniel.
“Apa Queen sudah makan malam bu?” tanya Daniel sambil melipat ke atas lengan kemejanya.
“Belum tuan, nyonya menunggu tuan pulang untuk makan malam.”
Daniel tertegun mendengar ucapan ibu Mita, “Kalau begitu tolong siapkan makan malam ya bu, saya akan ke kamar Queen.”
“Ya tuan.”
Daniel segera menaiki tangga menuju kamar Queen, ternyata pintu kamar Queen tidak tertutup. Lalu Daniel membuka pintu itu lebih lebar lagi agar ia bisa masuk. Dilihatnya Queen berdiri di depan jendela kamarnya, lalu Daniel masuk tanpa mengetuk pintu. Ada sedikit rasa canggung saat Daniel masuk melewati sofa dan potongan kejadian semalam terlintas di kepalanya membuat jantung Daniel berdetak kencang.
Daniel berjalan mendekati Queen.
Daniel berdiri di samping Queen, dengan memperhatikan Queen yang sedang melamun di depan jendela. Cantik sekali ibu dari anaknya ini, benaknya. Tanpa sadar Daniel tersenyum memperhatikan Queen.
Queen merasa ada orang yang berdiri di sebelahnyapun menoleh ke samping.
“Daniel.” Queen dan Daniel sama-sama terkejut sesaat.
“Maaf saya mengejutkanmu.” Daniel canggung.
“Tidak apa-apa Daniel, saya yang terlalu asik melamun.” Queen tersenyum.
“Kamu baru pulang?” tanya Queen melihat wajah lelah Daniel.
“Ya.” Daniel mengalihkan tatapannya dari Queen karena detak jantungnya yang sudah tidak karuan.
“Bagaimana kabar kamu hari ini Queen?”
“Sudah lebih baik Daniel.”
“Syukurlah.” Daniel canggung.
Hening.
“Queen, maafkan saya tadi pagi meninggalkan kamu. Saya harus menghadiri rapat yang tidak bisa di tunda lagi.” Ucap Daniel dengan menyesal.
Queen tersenyum, “Tidak apa-apa Daniel, itu sudah kewajiban kamu. Saya yang harusnya berterima kasih, karena kamu sudah mau tidak masuk kerja untuk merawat saya beberapa hari ini.”
Daniel terdiam mendengar perkataan Queen, “Sudah seharusnya tanggung jawab dan kewajiban saya untuk mengurus kamu Queen.” Lanjut Daniel.
Queen tertawa pelan mendengar Daniel berbicara seperti itu. “Queen....” Queen menoleh ke arah Daniel, di lihatnya Daniel yang tampak canggung dan ragu-ragu untuk berkata. Queen langsung menebak kalau Daniel ingin membahas tentang kejadian semalam.
“Saya....ingin..” lanjut Daniel.
“Daniel” Queen memotong ucapan Daniel.
Daniel terdiam dan langsung menatap Queen.
“Ya?” tanya Daniel.
“Bisa kita makan dulu? Kita akan melanjutkannya setelah makan nanti. Saya sudah lapar.”
Daniel tersenyum, “Maafkan saya lupa kalau kamu belum makan, Ayo kita makan malam dulu.” Ajak Daniel.