Our Baby

Our Baby
BAB 5



Queen menerima pesan dari Daniel yang mengatakan bahwa pengacaranya sudah menyiapkan surat perjanjian mereka dan meminta Queen agar datang ke kantornya besok jam 9 pagi untuk menandatangani perjanjian tersebut. Keesokan harinya Queen sampai di kantor Daniel tepat jam 9 pagi seperti yang sudah disampaikan Daniel. Sekertaris Daniel langsung mengabarkan bahwa Queen sudah datang dan akan segera mengantarkan Queen ke ruangannya. Daniel yang mendengar kabar itupun langsung bersiap-siap untuk menyambut kedatangan Queen.


Dari dinding kaca transparan ruangannya, Daniel bisa melihat Queen. Daniel terpaku menatap Queen yang masuk ke dalam ruangannya, rambut yang diikat bulat keatas memperlihatkan leher Queen yang jenjang, mengenakan dress berpotongan sederhana dengan motif bunga-bunga selutut yang tidak dapat menyembunyikan lekuk tubuh Queen, tidak lupa dengan sneakers putihnya, Queen tampak segar dan anggun. Tanpa Daniel sadari ia tersenyum melihat pemandangan indah di pagi hari itu. Daniel berjalan mendekati Queen dan mempersilahkan Queen duduk.


“Pagi Queen. Apa kabar kamu hari ini?”


Sambil menganggukkan kepalanya, “Baik, seperti yang bisa kamu lihat.”


“Good.” Balas Daniel tersenyum dengan ucapan Queen.


Tangan Daniel mengambil sesuatu dari laci meja, “Jadi Queen ini surat perjanjian yang sudah dibuat oleh pengacara saya silahkan kamu baca dulu.” Menyerahkan berkas itu kepada Queen.


Queen membaca isi surat perjanjian tersebut dengan penuh perhatian, secara garis besar isinya tertulis Daniel akan membiayai kebutuhannya sampai Queen melahirkan dan sesudah itu bayinya akan diasuh sepenuhnya oleh Daniel. Tanpa ragu Queen menandatangani surat perjanjian tersebut. Setelah itu Queen menyerahkannya kembali kepada Daniel.


Hening.


“Apa kamu sebelumnya sudah memeriksakan kandunganmu Queen?”


Queen menggelengkan kepalanya.


Dari tadi Queen menghindari kontak mata dengan Daniel, pria tersebut entah kenapa membuat perasaan Queen gelisah.


“Apa kamu sudah makan?”


Queen menggeleng.


“Apa kamu punya kegiatan lagi setelah ini?”


Lagi-lagi Queen menggeleng.


Daniel menghela napas, “Baiklah saya akan meminta sekertaris saya menghubungi dokter kandungan dan membuat janji untuk bertemu siang ini. Dan sebaiknya kita pergi makan dulu.”


~


Dari tadi Daniel mengamati Queen yang duduk didepannya, Queen makan dalam diam. Mata birunya yang jernih, bibirnya yang penuh bergerak-gerak mampu membuat Daniel resah tanpa sebab.


“Queen boleh saya bertanya?” mengatakan sesuatu yang dari tadi membuatnya penasaran.


Queen mengangguk sambil tetap mengunyah makanannya.


“Pada saat pertemuan kita di cafe, kamu bilang berencana untuk keluar dari tempat kerja dan pindah dilingkungan yang baru. Apa keluarga kamu tidak tahu kalau kamu hamil?” tanya Daniel pelan dan hati-hati.


Queen menghentikan makannya lalu meneguk air putih.


“Saya tinggal sendiri jadi tidak perlu khawatir. Dan soal keluar dari kantor, saya sebenarnya sudah lama ingin keluar karena sudah tidak nyaman bekerja disana.”


“Apa keluarga kamu tinggal diluar kota?”


Queen menggeleng.


Sikap tubuh Queen menunjukkan dia tidak ingin membahasnya lagi membuat Daniel lebih waspada.


“Apa kamu sudah mendapatkan tempat tinggal yang baru?”


“Belum.”


Mata Queen melebar mendengar pertanyaan Daniel. “Apa muksud kamu?”


“Sungguh saya tidak bermaksud apa-apa Queen. Saya juga tinggal sendiri. Dirumah saya masih banyak kamar kosong dan juga ada beberapa pelayan yang tinggal dirumah, jadi kamu tidak perlu khawatir cuma ada saya dan kamu saja dirumah.” Mencoba meluruskan kata-katanya.


Queen diam.


Melihat Queen diam, Daniel pun melajutkan ucapannya. “Saya akan lebih tenang kalau kamu dalam pengawasan saya Queen.”


“Saya bisa sendiri.”


“Saya tau kamu wanita yang mandiri, tapi kamu sedang hamil Queen dan saya sebagai orang yang bertanggung


jawab atas kamu, akan merasa tidak tenang kalau kamu diluar pengawasan saya. Izinkan saya untuk mengurus kamu sampai kamu melahirkan Queen, dan setelah itu kamu bebas melakukan apa yang lamu mau.  Saya mohon Queen.” Daniel memohon.


Hati Queen tersentuh dengan cara Daniel memintanya untuk tinggal bersama. Sempat terbersit dihati Queen, Daniel ternyata tidak hanya tampan tetapi juga pria yang bertanggung jawab.


“Baik, saya akan mempertimbangkan tawaran kamu.”


Daniel tersenyum lega mendengar jawaban dari Queen, “Saya tunggu kabar baik dari kamu.”


Ya Tuhan, Queen baru melihat Daniel tersenyum dan terkejut ternyata Daniel memiliki lesung pipi di kedua pipinya. Seketika jantung Queen berdetak cepat dan perasaan gelisah menghampiri hati Queen yang terpesona melihat senyum pria itu.


~


Setelah mereka selesai makan, Daniel dan Queen langsung menuju dokter kandungan.


“Kamu duduk disini dulu ya.” Daniel meminta Queen duduk di ruang tunggu praktik sementara pria itu pergi untuk mengurus pendaftaran Queen dan mengambil nomer antrian. Tidak lama kemudian Daniel kembali dan duduk disamping Queen, “Sebentar lagi kita akan masuk.”


Queen mengangguk.


Sekitar lima menit kemudian dari dalam ruang praktik keluar seorang suster.


“Ibu Queen?” suster tersebut tampak menyapukan matanya ke ruang tunggu praktik untuk mencari nama yang disebutkannya.


Daniel dan Queen langsung melihat ke arah suster tersebut.


“Ya kami disini.” Jawab Daniel.


Suster tersebutpun tersenyum ramah, “Mari pak bu, silahkan masuk.” Daniel dan Queen masuk ke dalam ruangan.


“Silahkan duduk pak, dan ibu silahkan berbaring disini.” Sambut dokter dengan ramah sambil menepuk pelan ranjang pasien.


Daniel duduk menunggu Queen yang sedang di periksa kandungannya oleh dokter. Setelah selesai Queen turun dari ranjang dan duduk disamping Daniel.


Dokter melihat wajah Daniel, “Kandungan istri anda dan janinnya baik-baik saja pak, tetapi sebaiknya anda lebih menjaga kesehatan istri anda...” Queen resah mendengar dokter memanggilnya istri Daniel. “Istri anda tidak boleh melakukan aktivitas yang berat, tidak boleh terlalu lelah dan banyak pikiran. Istri anda harus mengkonsumsi makanan yang sehat, perbanyak minum air putih dan juga vitamin. Saya akan menuliskan beberapa vitamin yang bisa istri anda konsumsi.” Ucap dokter itu sambil menuliskannya dikertas kecil dan menyerahkannya pada Daniel.


“Terima kasih dok.” Daniel sambil beranjak dari kursi. Daniel dan Queen menyalami dokter tersebut dan melangkah keluar dari ruang praktik itu.


Setelah keluar dari ruang praktik, “Queen kamu duduk disini dulu ya, saya akan ke apotik sebentar untuk menembus vitamin ini.” Queen hanya diam dan mengangguk. Diam-diam hati Queen menghangat dengan perlakuan Daniel pada dirinya.


~


Setelah sampai di rumahnya dan berbaring di tempat tidur, Queen terus memikirkan tawaran Daniel yang memintanya untuk tinggal bersama pria itu. Queen terus menimbang-nimbang baik buruk atas keputusan yang akan di ambilnya dan akhirnya. Queen memutuskan menghubungi Daniel di malam harinya untuk mengabari pria itu kalau ia bersedia tinggal bersama Daniel sampai Queen melahirkan. Daniel sangat senang mendengar kabar yang disampaikan Queen dan menawari Queen bantuan untuk membantu wanita itu mengemasi barang-barangnya. Tetapi Queen menolak karena ia memang tidak memiliki banyak barang untuk di bawa, di karenakan rumah kontrakannya ini memang sudah di fasilitasi perabot rumah tangga yang cukup lengkap oleh pemiliknya sehingga Queen hanya perlu berkemas sedikit barang-barang pribadinya. Setelah mendengar penjelasan Queen itu Daniel tidak mau memaksakan kehendaknya dan memilih untuk menuruti perkataan Queen. Sampai pada kesepakatan mereka minggu depan Daniel yang akan menjeput Queen dirumah konrakannya.