Ordinary Girl

Ordinary Girl
bareng-bareng (POV elischia)



setelah diberi tugas kemarin, Gue dan Tristan memutuskan Melakukan penelitian hari ini.


"pake apa ya?" keluh gue di depan almari, sudah setengah jam mungkin gue mengotak -atik isi lemari mencari baju.


"pakai apa aja lagian mau ngerjain tugas doang bukan kencan." sahut Geena dari meja belajarnya.


"diam deh Lo itu kalau gak mau bantu." balas gua sambil mengeluarkan koper dari bawah kolong ranjang.


"emang, siapa yang mau bantuin elo." balas Geena sambil berjalan ke arah ranjang nya.


tak lagi gue hiraukan ocehan Geena, gue lebih fokus memilih pakaian. "ini aja deh" segera aku berganti pakaian.


beberapa saat kemudian. "gena coba lihat gue, Gimana?" gue menghampiri Geena yang sedang rebahan itu.


Geena bangun dari posisinya, menatap gue sejenak. "itu yang mau elo pakai?" oceh gena padaku.


"iya kenapa?" tanya gue tak suka saat melihat ekspresi Geena.


"gak jadi" ucap gena singkat lalu kembali berbaring.


"kenapa, jelek?" aku menarik Geena agar duduk. "jelasin kenapa?" ucap gue sekali lagi.


"maksa banget jadi manusia." Geena menepis tangan gue dengan kasar.


"jelasin gak?" ucap gue penuh penekanan.


"iya-iya" Geena membernarkan pakaiannya. "elo milih baju selama itu dan akhirnya cuma pakai kulot sama kaos kayak percuma aja"


"percuma apa?"tanyaku tak mengerti.


"waktu elo elischia, kalau akhirnya cuma begitu ngapain lama-lama nyari baju tadi" celoteh Geena.


"maksudnya baju gue jelek gitu?" ucap gue datar.


"gue gak ngomong gitu yaa" ucap Geena malas kemudian kembali tidur.


"dasar orang nyebelin!" umpat gue pada Geena sebelum pergi.


klekk..


pintu terbuka, nampak seorang Tristan sedang berdiri di depan gua. "ahh pasti cuma berhalusinasi." gumam gua sendiri membenarkan apa yang gua lihat.


"ini beneran gue, elo gak halu." ucap Tristan ke gua.


"oh ya." ucap gua singkat.


gimana nih bocah bisa tahu nomor kamar gua ya? Apa jangan-jangan dia nguntit gue nihh! batin gua bertanya-tanya.


Tristan melihat gua diam dan melamun. "gue tahu kamar elo dari temen-temen" terang Tristan, seolah dia mengerti apa isi pikiran gua sekarang.


"ouh yaa, yok pergi." gue berjalan mendahului tristan.


Selama perjalanan tak ada yang dibicarakan, hanya suasana hening yang tercipta.


"tanaman apa yang bakal kita amati nanti?" tanya gue membuka pembicaraan.


"apapun yang penting tanaman," jawab Tristan singkat lalu dia sedikit beralih ke depan dan berhenti di satu titik. "lihat tanaman ini" tunjuknya pada satu bunga mawar.


"bagus" ucap gua terkesima melihat ke indahan bunga itu.


"elo suka?" tanya Tristan sambil melihat gua.


"yaa indah." ucap gua.


"ini bunga mawar yang gue rawat selama ini disini" terang Tristan sambil memainkan daun bunga itu.


"kalau gitu bunga ini aja buat tugas penelitian?" usul gua pada Tristan.


"ya." ucap Tristan menyetujui.


kami berbagi tugas, gue bagian mencatat dan Tristan bagian melakukan penelitian.


Setelah beberapa saat, "apa yang kurang?"


"cuma cara perkembangbiakan tanaman." ucap gue setelah merevisi ulang catatan.


"gantian kerjain sisanya, gue pergi bentar" tristan beralih pergi meninggalkan gua sendiri.


Siall males banget gue harus ngerjain ini batin gue kesel.


gua duduk di salah satu kursi taman, dengan terpaksa gue membaca buku-buku ensiklopedia yang gue bawa.


Perasaan dari tagi gua udah baca tapi kok gak ada ya? Gue membatin sambil menutup buku.


"kalau cuma dibolak balik doang gak akan ketemu jawabannya." tiba-tiba satu tangan mengulur memberi satu kaleng minuman ke gua. "nih suka gak?" gue lihat orang itu ternyata Tristan.


"ngapain elo ngelihat gue kayak gitu?" tanya Tristan saat melihat gue melamun.


"eh gak-gak, makasih" gua meminum makanan itu.


"balik aja, sisanya gue kerjain nanti" ucap Tristan.


"yah okey." kita berdua bersama-sama berjalan ke asrama.


kami sedikit lebih akrab dari sebelumnya. "mampir caffe dulu gimana?" tawar gua pada Tristan.


Tristan mengerutkan dahinya. "suka kopi?" ucap Tristan dengan senyuman tipis.


"yah. gua suka kopi hitam" balas gua singkat.


"kopi hitam?" ucapnya mengulangi perkataan gua.


"ya, enak aja gitu" ucap gua lirih.


"gue juga suka kopi hitam." Tristan tersenyum tipis lalu mengusap kepala ku.


"dah yok tuh di depan." Tristan berlari mendahului gua yang sedang diam terpaku mendapati perilaku seperti itu.


ap-apa itu tadi,, dia pegang rambut gue? Amit-amit ucap gua dalam batin sembari memegangi kepala gua bekas tangan Tristan.


"hei! ngapain elo diam, ayo!" teriakan Tristan membuyarkan lamunan, segera gua berlari menghampirinya.


kami masuk dan memesan dua kopi hitam. "jarang ada orang yang suka kopi hitam di sekolah ini." ujar Tristan.


"ada, buktinya kita berdua." gua tersenyum lebar pada Tristan.


"aah ya benar. tapi selain itu gak ada." balas Tristan singkat.


"silahkan kopinya kak" pelayan caffe datang meletakkan dua cangkir kopi.


"terimakasih." ucap gua ramah.


Kami menikmati kopi sembari mengobrol-ngobrol sedikit.


......................


di sisih lain, Geena sedang mondar mandir gak jelas memikirkan kemana elischia pergi, pasalnya ini sudah malam dan sebentar lagi akan ada makan malam dan absen. "duh manusia ini kemana coba?" ucapnya sendiri gak jelas. "kalau nanti ada apa-apa gimana ya?" perasaan Geena semakin khawatir, ia takut terjadi sesuatu pada elischia.


tiing!


tepat pukul 19.00 dimana semua murid wajib ke aula untuk makan dan absen. Geena terpaksa berangkat terlebih dahulu tanpa Elischia bersamanya.


semoga elo cepetan balik, El. Geena membatin.


dari mengambil makanan hingga makan, Geena benar-benar tak fokus, dia melamun dan terus kepikiran tentang Elischia.


"lihat deh, itu si Geena temen sekamarnya anak baru kan?" bisik salah satu siswi.


"ya." balas risa singkat.


"kemana si Elis, biasanya kan mereka selalu berdua." ujar siswi tersebut sembari memperhatikan Geena dari jauh.


"gue gak peduli sih." Risa berjalan terlebih dahulu hendak ke meja makan.


"tunggu-tunggu" siswi itu menyamakan langkahnya dengan Risa. "tapi gelagat Geena mencurigakan menurut gue, lihat deh dia ngelamun and makanannya aja gak kemakan." seketika Risa pun mengalihkan pandangannya ke arah Geena, memang benar Geena tampak khawatir dan sedang cemas.


"jadi menurut elo?" tanya siswi itu lagi. Risa hanya diam memilih duduk dan memakan makan malamnya, sesekali dia memperhatikan ke arah Geena.


byurr..


ketika hendak minum tak sengaja airnya tertumpah, segera Geena bangkit dan membersihkan nya. "mereka memperhatiin gue." gumam Geena ketika sadar dirinya sedang di awasi Risa dan temannya.


gue harus bertindak senormal mungkin.. gena membatin.